Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 22 - Efek Sosok Pengkhianat


__ADS_3

...༻❀༺...


Sebelum Ethan sempat melakukan pembalasan, Ruby sudah lebih dahulu mengambil sebuah vas bunga. Dia lalu memukulkan benda itu ke kepala Ethan. Menyebabkan lelaki tersebut sontak terhuyung ke belakang. Ethan masih kuat berpijak. Sepertinya serangan Ruby tidak berarti apa-apa untuk tubuhnya.


Ethan terdengar tergelak. Dia terlihat sudah pulih dari rasa sakit. Perlahan matanya menatap ke arah Ruby. "Kau semakin membuatku tertarik. Maka dari itu, malam ini aku tidak akan melepaskanmu!" ujarnya, bertekad. Kemudian langsung melangkah menghampiri Ruby.


Belum sempat melakukan apapun kepada Ruby, Ethan malah mendapat panggilan telepon tak terduga. Awalnya dia mengabaikan panggilan itu, dan lebih memilih menghadapi Ruby. Ethan sudah berhasil memegang erat kedua tangan Ruby.


Ruby berusaha sekuat tenaga melakukan perlawanan. Matanya melotot tajam. Dia jelas menolak keinginan Ethan yang terbilang memaksa. Lelaki tersebut bahkan nekat semakin mendekatkan wajahnya. Ethan membidik bibir Ruby yang dipoles dengan warna peach mengkilap.


"Lepaskan!" Ruby berupaya kembali menyerang area pribadi Ethan. Tetapi kali ini serangannya bisa ditebak oleh Ethan. Sehingga lelaki itu bisa mengatasinya dengan baik.


Ponsel terus-menerus berdering. Ethan terpaksa melepaskan Ruby. Dia merasa ada seseorang yang melakukan panggilan mendesak. Ethan akhirnya mengangkat panggilan itu.


Ruby yang berpikir kalau dirinya punya peluang untuk melawan, mencoba mencari benda yang dapat membantunya. Atensinya langsung tertuju kepada sebuah tongkat bisbol. Ruby lantas mengambilnya, lalu bergegas mendekati Ethan.


"Aku sangat menghargai bantuanmu. Aku berjanji akan membayar imbalan lebih besar dari pimpinan mafiamu itu. Aku jamin, kau tidak akan menyesal terhadap pilihanmu." Pembicaraan Ethan dengan seseorang ditelepon membuat Ruby tertarik.


"Untuk wanita berambut pirang yang bersama Mr. June, beritahu saja kepada Mr. June untuk menjebaknya. Biarkan kita jebak lebih dahulu sebelum wanita itu menjebak." Ethan kembali berucap. Sedangkan Ruby masih memasang telinganya baik-baik.


"Untuk orang-orang yang menyusup, sepertinya mereka mencoba mengambil barang milik kita di bunker. Biarkan saja mereka masuk dengan mulus, barulah kalian lakukan serangan!" Ethan terdengar memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Dia mendadak merubah ekspresinya menjadi tegang. Nampaknya ada kabar lain yang membuat Ethan kaget.


"Tunggulah! Aku segera ke sana! Kita atasi semuanya bersama-sama." Ethan segera menutup panggilan telepon. Dia langsung berbalik menatap Ruby.


"Jangan coba-coba!" Ruby mengangkat tongkat bisbol. Dia mengarahannya kepada Ethan.


"Ini, bukalah pintunya dan keluarlah!" Ethan melemparkan kunci kamar ke lantai. Benda tersebut terjatuh tepat di dekat kaki Ruby.

__ADS_1


"Kau tahu, aku tidak akan melupakan perlakuan kasarmu tadi!" geram Ruby sembari mengambil kunci yang tergeletak di lantai. Dia bergegas membuka pintu.


"Baguslah, aku senang kau tidak akan melupakannya!" sahut Ethan dengan senyuman miringnya. Dia terlihat sedang mengenakan pakaian.


Ruby cemberut dan beranjak pergi ke kamarnya sendiri. Dia tidak bisa mengambil resiko untuk kembali ke pesta. Dirinya terlalu enggan berhadapan dengan sosok Clara. Ruby memilih tidak ikut campur dalam misi. Gadis itu menyerahkan segalanya kepada Sarah dan Megan.


"Mereka pasti senang aku kalah. Huhh... Ruby, sampai kapan kau akan terus menjadi pecundang?" gumam Ruby seraya menghela nafas panjang. Dia telah rebahan di kasur. Menatap langit pelafon yang dihiasi satu cahaya lampu.


Di sisi lain, Sarah beserta lima orang bawahan Ryan, tengah menyelinap ke gudang penyimpanan. Mereka berusaha mencari bunker milik The Drugs. Jujur saja, mereka telah berhasil menyerang dua orang The Drugs secara diam-diam.


Sarah menyuruh timnya untuk berpencar. Kebetulan mereka semua sama-sama mengenakan earpiece. Alat tersebut berfungsi sebagai alat komunikasi untuk mereka.


Sarah mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia mencoba mencari lambang khas The Drugs di setiap bunker yang ada. Hingga kemunculan sosok seorang pria dari kejauhan menarik perhatiannya. Sarah lantas mengendap-endap untuk mendekat. Gadis tersebut memperhatikan lebih dahulu, dan melihat sosok pria yang diamatinya sedang mendatangi sebuah bunker.


'Sepertinya ada yang aneh...' batin Sarah. Dia segera memberitahukan rekan timnya untuk berkumpul. Nihil, tidak ada satu pun orang yang menjawab perintahnya.


"Berjalan majulah!" titah suara seorang lelaki. Menyebabkan Sarah mau tidak mau harus mengikuti.


Sarah dan semua timnya dikumpulkan. Kedok mereka ketahuan oleh para The Drugs. Ternyata salah satu bawahan Ryan yang bernama Liam, telah berkhianat. Dialah yang membeberkan rencana Sarah kepada kubu musuhnya.


"Dasar kurang ajar! Jika Ryan mengetahui semua ini, dia pasti tidak akan mengampunimu!" geram Sarah. Dia beserta ke-empat rekan tim lainnya sudah di ikat dengan tali. Kecuali Liam, yang sedari awal berada di kubu musuh.


"Aku tahu. Tetapi dia tidak akan tahu, jika kau tidak berhasil kembali kepadanya," balas Liam sambil sedikit membungkukkan badan untuk melotot kepada Sarah.


Sarah ingin sekali melakukan perlawanan, dan menggunakan ilmu bela dirinya. Tetapi dia tidak akan bisa, jika dua senjata api lebih sedang ditodongkan ke arahnya. Andai Sarah melakukan perlawanan, kemungkinan gadis tersebut akan langsung mendapat luka tembak.


Tidak lama kemudian, datanglah Megan. Dia tampak dibawa oleh Mr. June, dan segera disuruh bergabung bersama Sarah.

__ADS_1


"Kita apakan mereka?" tanya Mr. June kepada para anggota The Drugs yang lain.


"Tunggulah, bos kita akan tiba ke sini," jawab Liam, memberitahu.


Saat Liam dan Mr. June saling berinteraksi. Sarah mendekatkan diri kepada Megan. Dia menanyakan perihal keberadaan Ruby.


"Aku tidak tahu. Kemungkinan besar gadis itu sudah mabuk berat sendirian di pesta," ungkap Megan dengan dahi mengerut. "Apa-apaan ini Sarah, kenapa rencana kita bisa berantakan begini?" tanya-nya. Megan dan Sarah saling bicara dengan nada berbisik.


"Semuanya tidak akan berantakan, jika kita tidak memilih Liam untuk ikut dalam misi ini." Sarah menatap kesal ke arah Liam. Dia tidak akan memaafkan tindakan mantan rekan timnya itu.


"Kau harusnya lebih teliti memilih orang-orang dalam timmu!" keluh Megan. Menyalahkan semuanya kepada Sarah. "Sekarang, bisakah kau gunakan keahlian bela dirimu, lalu kita kabur saja dari kapal ini..." sambungnya. Melanjutkan pembicaraan.


"Itulah yang aku--"


"Diamlah kalian!" salah satu orang The Drugs memberikan teguran kepada Megan dan Sarah. Dia semakin mendekatkan senjata ke kepala Sarah. Parahnya lelaki tersebut memegang machine gun ditangannya. Senjata berbahaya yang bisa ditembakkan bertubi-tubi. Membuat Sarah semakin ragu untuk melakukan perlawanan.


Dari arah pintu, sosok seorang pria muda muncul. Dia segera bergabung dengan anggota The Drugs yang lain. Sudah jelas dia adalah ketua dari The Drugs. Sebab ketika pria itu tiba, semua orang The Drugs langsung memberikannya ruang. Termasuk Mr. June sendiri.


"Dia pasti ketua The Drugs..." imbuh Sarah dengan nada sangat pelan. Dia bicara tanpa menoleh ke samping. Tepat dimana Megan berada.


"Ya, aku tidak menyangka. Orang semuda itu bisa menjadi ketua," komentar Megan. Menggunakan nada bicara yang tidak kalah pelan.


Pria yang dicurigai sebagai ketua The Drugs tersebut menghampiri Sarah dan Megan. Dia tersenyum dan berkata, "Hai, senang bertemu dengan kalian. Aku Ethan, ketua The Drugs yang sebenarnya. Sebentar lagi kalian akan kami buang ke laut."


"Itulah yang kami inginkan." Megan menyahut tanpa rasa takut sedikit pun.


"Benarkah?" Ethan mendekatkan wajahnya ke arah Megan. "Kalau begitu, tunggulah sebentar lagi. Aku akan membuangmu di wilayah ikan hiu sibuk berkumpul!" tambahnya dengan ukiran seringai percaya diri.

__ADS_1


Megan sontak terdiam seribu bahasa. Dia menenggak salivanya sendiri. Megan menyesali keberaniannya.


__ADS_2