Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 98 - Berkunjung Ke Panti Asuhan [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan dan Ruby sedang dalam perjalanan menuju panti asuhan. Ruby kebetulan tidak jadi bertanya kepada Andrew. Dikarenakan Ryan bersikeras ingin menemukannya sendiri. Ryan semakin percaya diri, saat salah satu bawahannya Zac, mengetahui lokasi panti asuhan yang ingin dikunjungi Ruby. Alhasil Zac bertugas mengantarkan Ryan dan Ruby ke panti asuhan. Jadi kini dua pasangan suami istri itu duduk di kursi belakang.


"Kau aneh sekali. Kenapa tiba-tiba ingin memakan burger?" timpal Ryan. Dia dan Ruby baru saja membeli banyak burger. Bukan saja dengan tujuan untuk dimakan sendiri, tetapi juga agar dapat diberikan kepada anak-anak di panti asuhan.


"Aku tidak mau mengingat supku yang gosong!" Ruby menjawab, setelah selesai menghabiskan satu porsi burger. Dia kemudian minum, dan menyomprotkan pewangi mulut. Tidak lupa juga untuk mempoles bibir dengan lipcream berbau buah cerry.


Ryan memperhatikan Ruby sambil menopang kepala dengan satu tangan. Dia terhipnotis dengan segala tindakan Ruby.


"Kau kenapa sangat berlebihan?" pungkas Ryan.


"Berlebihan? Aku melakukannya agar kau merasa nyaman saat berciuman denganku. Aku pikir, itulah alasanmu terus tergoda untuk menciumku," sahut Ruby percaya diri.


Ryan tergelak mendengar ucapan Ruby. Tawanya tersebut secara alami juga menular kepada Ruby. Tidak lama kemudian tibalah mereka di tempat yang dituju.


Zac segera mengambil burger dari bagasi. Ryan membeli lebih dari seratus bungkus burger. Dia melakukannya atas dasar permintaan Ruby.


Seorang penjaga panti asuhan menyambut ramah kedatangan Ruby dan Ryan. Sean dan Erick segera dipanggil untuk menghadap Ruby. Kedua anak itu berlari dan langsung memeluk Ruby di waktu bersamaan. Ryan yang melihat hanya bisa meringiskan wajah.


"Sean, kenalkan ini Ryan. Suamiku yang sebenarnya." Ruby menggandeng lengan Ryan. Berniat memperkenalkan sang suami kepada Sean dan Erick.


"Lalu lelaki yang bersamamu dulu, dia--"


"Dia hanya teman!" Ruby lekas menjawab. Supaya Ryan tidak merasa gusar.


"Apa dia membicarakan Ethan?" Ryan bertanya dengan nada berbisik. Namun Ruby malah merespon dengan cubitan yang menyelingat di lengannya. Ryan hanya bisa menggertakkan gigi untuk menahan rasa sakit yang diberikan Ruby.


"Oh... baiklah kalau begitu. Kenalkan aku Sean dan dia Erick. Kami cukup dekat dengan Ruby," Sean memperkenalkan dirinya kepada Ryan.


Ryan tersenyum kecut. Ia tidak berminat memperpanjang interaksinya dengan Sean ataupun Erick. Akan tetapi Ruby terus menyenggol bahu Ryan. Agar suaminya tersebut melakukan sesuatu.


Melihat Ryan tidak kunjung berbuat apapun, Ruby lantas berbisik ke telinga Sean. Menyuruh anak itu agar segera mengajak Ryan bermain. Sean mengangguk setuju. Dia mengajak Erick untuk menarik Ryan.


"Ayo ikut kami!" seru Sean sembari menarik paksa tangan Ryan.

__ADS_1


"Cepatlah, Ryan! Kau tenang saja, aku juga akan ikut bersamamu," ucap Ruby. Dia memaksa Ryan untuk bergerak dan mengikuti arahan Sean. Mereka pergi ke halaman teras belakang. Terdapat ruangan khusus di sana. Ruby juga melihat ada permainan tembakan alien yang pernah dimainkannya dulu.


"Kau harus mencobanya. Buktikan kalau kau ahli menembak!" Ruby memberikan pistol mainan kepada Ryan.


Ryan melirik malas Ruby. Lalu mendekatkan mulut ke telinga istrinya itu. "Aku sudah sering menggunakan pistol asli, bagaimana aku bisa tidak ahli dengan versi mainannya?" ujarnya dengan nada pelan.


"Kalau begitu, ayo kita bersaing!" Ruby mengambil pistol mainan yang satunya. Sementara Sean dan Erick sibuk menikmati burger mereka. Kedua anak tersebut menonton di pinggir sambil bertugas menjadi juri.


Ryan dan Ruby menembak ke arah sasaran secara bersamaan. Keduanya terlihat sama-sama pecaya diri. Ryan membuktikan keahlian menembaknya. Bagaimana tidak? tembakan Ryan terus mengenai sasaran secara beruntun. Sean dan Erick otomatis berdecak kagum.


Berbeda dengan Ruby, yang sudah beberapa kali membuat tembakannya meleset. Dia hanya bisa mengerutkan dahi, akibat kalah telak dari Ryan.


"Kau hebat sekali! Tidak ada tembakan yang meleset!" puji Sean kepada Ryan. Ia berjalan mendekat dan melakukan high five dengan Ryan.


"Terima kasih, Erick!" ujar Ryan. Kali ini senyumannya mengembang alami. Ryan mulai menikmati waktunya sekarang.


"Namanya Sean, Babe." Ruby berbisik ke telinga Ryan. Mengoreksi perkataan Ryan yang tadi salah menyebutkan nama.


"Ah, maksudku Sean." Ryan lekas memperbaiki. Sean sama sekali tidak peduli dengan kesalahan Ryan. Dia mendesak untuk diajarkan menembak pistol mainan oleh Ryan.


"Aku akan memberimu hadiah, Ryan." Erick turun dari tempat duduk. Dia memiliki cara yang berbeda dari Sean. Dirinya kemudian berlari entah kemana. Kemungkinan dia sedang mengambil hadiah yang dimaksudnya.


Ryan dan Ruby pulang saat hari sudah sore. Zac yang lama menunggu, harus kembali menjadi sopir untuk Ryan dan Ruby.


"Menyenangkan bukan?" tanya Ruby sambil mencondongkan kepala dari samping Ryan.


Ryan tidak kuasa menahan senyuman bahagia. "Ya, aku tidak bisa membantah kalau tadi memang menyenangkan!" ungkapnya.


"Kau sadar bukan? Kalau anak kecil tidaklah seburuk yang kau duga selama ini," imbuh Ruby sembari melipat kedua tangan di depan dada.


"Thanks, Babe." Ryan membelai rambut panjang Ruby. Sudut pandangnya terhadap anak kecil perlahan berubah. Meskipun dirinya tidak akan pernah melupakan kenangan buruk yang terjadi di masa lalu. Ruby benar-benar seperti obat bagi Ryan, bahkan lebih dari itu.


"Aku merasa sangat bahagia. Apalagi bila anak kita sudah lahir nanti." Ruby menyandarkan kepala ke pundak Ryan. Dalam sekian detik, dia mengangkat kepalanya lagi. "Kau tahu Ryan, aku sangat ingin berlatih bela diri. Entah kenapa keinginanku tidak tertahan saat sedang hamil sekarang. Aku hanya bisa melihat video-video yang ada di youtube. Selain itu, aku banyak menonton film action," ungkapnya menuturkan.


"Kenapa kau tidak bilang kepadaku? Kau padahal bisa berlatih jika pergi ke markasku yang baru," respon Ryan.

__ADS_1


"Aku tidak mau ke Chicago. Perjalanannya terlalu jauh!" Ruby menggeleng tegas.


"Baiklah, kalau begitu aku akan segera menyiapkan tempat untuk latihanmu di tempat yang dekat. Tapi sebelum itu, kau harus membayarnya." balas Ryan. Ia mendekatkan diri ke arah Ruby, kemudian memajukan sedikit bibirnya. Meminta sebuah ciuman dari istrinya.


Ruby merasa sangat senang. Dia merasa kagum dengan segala perhatian Ryan yang memanjakannya tanpa harus berpikir banyak. Ruby tentu langsung mencium bibir Ryan. Dia hanya bermaksud memberikan kecupan singkat.


Ryan tidak terima. Ia ingin mencium Ruby lebih lama. Sehingga ciuman intens pun terjadi. Memperdengarkan suara kecup mengecup. Membuat Zac yang kebetulan menyetir, harus menenggak ludahnya sendiri. Suasana panas di kursi belakang, membuat Zac mengalirkan keringat dingin.


Tangan Ryan mulai merambah bagian tubuh intim Ruby. Sedangkan bibirnya terus bermain di sekitaran leher. Perlakuan Ryan menyebabkan Ruby sedikit terangsang dan sedikit mengangakan mulut.


Ruby membuka matanya yang tadi sempat terpejam akibat terbuai dengan sentuhan Ryan. Dia baru tersadar kalau ada orang ketiga di dalam mobil. Sial! Seharusnya Ruby dapat menyadarinya sejak awal. Tanpa pikir panjang, Ruby segera membuat Ryan menghentikan cumbuannya.


"Ryan! Ada Zac di depan!" seru Ruby dengan keadaan mata yang agak membulat.


"Aku tahu! Jangan pedulikan dia," sahut Ryan. Dia tak acuh dengan peringatan Ruby. Ryan malah kembali lanjut memberikan sentuhan.


Zac menghembuskan nafas dari mulut. Dia merasa canggung sekaligus penasaran. Akan tetapi dirinya sama sekali tidak berani mengganggu kegiatan intim bosnya.


Sesampainya di rumah, Zac langsung turun dari mobil. Dia bergegas meninggalkan Ruby dan Ryan berduaan. Dua sejoli itu masih asyik bercumbu. Kebetulan hari sudah agak gelap. Matahari hanya menampilkan secuil sinarnya dari arah barat. Ryan tidak perlu menghabiskan tenaga untuk berpindah tempat.


Suara lenguhan Ruby mulai terdengar. Pertanda Ryan sedang bergerak. Mobil berguncang mengikuti pergerakan intim mereka.


"Ryan! Akh!" Ruby tidak berhenti mengelu-elukan nama suaminya. Menyebabkan hasrat Ryan semakin menggebu. Dia akhirnya ikut mende*sah bersama Ruby. Dua pasangan tersebut saling terhubung sampai mendapatkan kepuasan satu sama lain.


Sekian menit berlalu, Ryan dan Ruby akhirnya keluar dari mobil. Penampilan mereka acak-acakan, akibat hasil kegiatan intim tadi.


"Ryan, ini yang terakhir dalam satu minggu dari sekarang. Kita tidak bisa terlalu sering melakukannya. Aku masih hamil muda," kata Ruby seraya merapikan rambutnya yang berantakan.


"Aku tidak bisa berjanji," jawab Ryan yang lebih dahulu berjalan memasuki rumah.


"Kalau begitu, sebaiknya kau melakukan misimu saja. Berbahaya jika kita terlalu sering bersama." Ruby kembali memperingatkan Ryan.


"Terserah apa katamu, Babe!" respon Ryan. Ia terlihat meletakkan ponsel ke atas meja. Kemudian beranjak menaiki tangga.


Ruby menyisir rambutnya dengan jari-jemari. Perhatiannya harus tertuju ke arah layar ponsel Ryan yang mendadak menyala. Ruby otomatis memeriksa ponsel Ryan. Dia melihat ada pesan dari salah satu bawahan Ryan yang masih mencari mansion.

__ADS_1


Entah kenapa Ruby penasaran dengan pesan-pesan yang dikirim oleh Ryan. Dia ingin tahu apa saja yang dilakukan Ryan untuknya. Dengan rekahan senyuman dan semangat, Ruby memeiksa pesan-pesan yang ada. Hingga ada satu pesan yang membuat senyuman Ruby langsung pudar. Yaitu mengenai rencana Ryan untuk menggugurkan kandungannya.


Walau dipesan itu Ryan telah membatalkan rencananya, namun tetap saja Ruby merasa sakit hati. Ruby langsung meletakkan kembali ponsel Ryan. Dia membekap mulutnya dengan perasaan hancur. Ruby tidak bisa membendung air matanya.


__ADS_2