Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 119 - Mencemaskannya [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby diam-diam memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Dia berniat akan menyelamatkan Ryan, meskipun dirinya masih tidak tahu caranya.


Tanpa sepengetahuan Ruby, Gaby mengintip dari balik pintu. Ia dapat menyaksikan segala apa yang dilakukan Ruby. Gaby tidak mau Ruby melakukan sesuatu yang nekat. Apalagi dalam keadaan kandungan sedang jalan lima bulan. Perut Ruby bahkan sudah cukup membesar. Bagaimana bisa dia kelayapan dalam keadaan seperti itu?


'Maafkan aku, Ruby...' batin Gaby. Dia mengambil kunci kamar Ruby, lalu menutup pintu kembali.


Ruby bingung harus menghubungi siapa. Henry sudah tidak ada. Dia tidak punya orang lain untuk diandalkan. Alhasil dirinya tidak punya pilihan lain selain turun tangan sendiri.


Sambil menarik kopernya, Ruby berjalan menuju pintu. Anehnya, pintu kamarnya mendadak terkunci.


"What the fu*ck, Gabe! Apa kau yang melakukan ini? Kau keterlaluan!" geram Ruby sembari menggedor-gedor pintu.


"Maafkan aku Ruby. Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" sahut Gaby dari luar.


"Aku hanya ingin menyelamatkan Ryan! Apakah salah?!" timpal Ruby. Raut wajahnya tampak masam. Dia merasa sangat kesal dengan Gaby.


"Apa kau mau ikut bersamanya tinggal di penjara?! Kau pikir lelaki dan perempuan di campur dalam sel yang sama? Tidak, Ruby!" balas Gaby. Ia ingin Ruby mengerti.


"Dari mana kau yakin aku akan tertangkap? Aku bahkan belum mencoba. Cepat bukalah pintunya!" seru Ruby. Dia masih tidak berhenti menggedor pintu.


"Kau lebih baik beristirahat. Kehamilanmu sudah hampir lima bulan. Kumohon, ini semua untuk kesehatanmu dan anak dalam perutmu!" ujar Gaby seraya terus menatap pintu kamar Ruby yang tertutup.


"Aku baik-baik saja!" Ruby mencoba meyakinkan Gaby. Namun pintunya tetap bergeming.


Ruby akhirnya menyerah. Dia duduk ke kasur. Kemudian mengambil ponsel. Ruby berusaha melihat-lihat nama yang ada di dalam kontak. Jujur saja, Ruby yang tidak memiliki keluarga dan banyak teman, hanya punya beberapa nama di kontak telepon.


"Inilah resiko kalau malas bersosialisasi," gumam Ruby. Atensinya terfokus kepada salah satu nama di kontak telepon. Megan, entah kapan Ruby menyimpan nomor telepon gadis pirang tersebut.


"Haruskah aku meneleponnya?" Ruby menggedikkan salah satu kaki sambil gigit jari. Seberapa keras dirinya mencari nama lain, Ruby tetap tidak menemukan siapapun lagi. Hanya Megan satu-satunya orang yang bebas di luar sana.


"Baiklah... tidak ada salahnya mencoba." Ruby akhirnya menghubungi Megan. Bunyi dering langsung menyambut pendengarannya. Pertanda nomor telepon Megan masih aktif.

__ADS_1


'Katanya mau menghilang. Tapi kenapa nomor teleponnya masih aktif? Jangan-jangan dia masih berharap Ryan kembali menghubunginya? Atau mereka berhubungan di belakangku?' segala praduga terlintas dalam benak Ruby.


"Ah, tidak! Tidak! Kenapa aku berpikir begitu." Ruby lekas memperingatkan dirinya. Dia tidak mau meragukan cinta Ryan. Segala apa yang telah dilakukan Ryan, sudah membuktikan kesetiaan cintanya.


"Halo? Siapa ini?" Megan akhirnya mengangkat panggilan Ruby.


"Megan?" Ruby memastikan.


Megan terdiam sejenak. Seakan sedang memikirkan sesuatu. "Hmmm... suara yang tidak asing," ujarnya dari seberang telepon.


"Ya, aku Ruby!" jawab Ruby mengaku.


"Ada apa, Ruby? Apa kau bertengkar dengan Ryan? Kalau begitu, biarkan aku saja yang memilikinya," ujarnya dari seberang telepon.


"Tentu tidak! Aku hanya butuh bantuanmu. Aku--"


"Apa ini mengenai Ryan? Tidak ada hal buruk yang menimpanya bukan?" timpal Megan yang tidak sabaran. Tanpa sengaja dia memotong ucapan Ruby yang belum selesai.


"Dia..." Ruby tiba-tiba membisu. Dia merasa enggan memberikan informasi kepada Megan. Terutama jika Megan seolah seperti masih menyimpan rasa kepada Ryan. Namun jika Ruby tidak memberitahu, maka kemungkinan Ryan akan berada di dalam sel lebih lama.


"Ryan tertangkap polisi bersama John dan Ethan. Ryan tidak menyarankan anggota The Shadow Holo untuk menyelamatkannya. Gaby bahkan sengaja mengurungku!" jelas Ruby panjang lebar.


Ruby menunggu tanggapan Megan. Tetapi Megan tidak kunjung mengucapkan apapun. "Megan? Apa kau masih di sana?" tanya-nya.


"Ya, aku hanya sedikit kaget. Kau tahu, tentu saja Ryan tidak memperbolehkanmu dan yang lain melakukan sesuatu. Jika kalian melakukannya, maka kalian juga akan ikut dimasukkan ke dalam penjara. Percayalah, prajurit yang dimiliki pemerintah lebih banyak dan kuat dari pada komplotan anak buah mafia." Megan memberikan keterangan dengan serius.


"Aku tahu. Tapi aku hanya ingin Ryan selalu berada di sisiku..." ungkap Ruby, yang direspon Megan dengan tawa kecil ambigu.


"Aku juga ingin dia ada di sisiku. Terima kasih, Ruby. Aku akan segera mencari Ryan secepat mungkin," balas Megan. Sepertinya dia cemburu dengan ungkapan Ruby tadi. Perkataannya menyebabkan mimik wajah Ruby seketika berubah menjadi cemberut.


"Dia tidak akan kembali kepadamu, bit*ch! Ryan hanya mencintaiku seorang!" Ruby menggertakkan gigi. Dia menggenggam erat ponsel miliknya.


"Apa salahnya mencoba. Ini kesempatan emasku bukan? Kau lebih baik khawatirkan saja cabang bayimu. Oke, goodbye sweetheart...muuach!" jawab Megan. Dia sengaja membuat Ruby kesal. Lalu mengakhiri panggilan telepon lebih dahulu. Ruby reflek menghempaskan ponsel ke kasur. Dia mencengkeram rambut dengan perasaan sebal.

__ADS_1


Di waktu yang sama, Megan juga melakukan hal serupa. Bedanya, amukan Megan lebih parah dari Ruby. Ia melemparkan beberapa barang yang ada di dekatnya. Selanjutnya, Megan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi. Dia tidak punya rencana apapun selain menemui Ryan.



Ryan baru menikmati sarapannya dengan tenang. Setelah dipikir-pikir, ternyata hidangan yang dimakannya tidak seburuk perkiraannya. Atensinya perlahan teralih ke arah keributan yang mendadak terjadi. Terlihat seorang pria berbadan besar memukuli pria kurus di samping Ethan. Pria tersebut tidak sendiri. Ada dua antek-anteknya yang berdiri di belakang bak pengawal.


"Beraninya kalian duduk di tempatku!" sekarang si pria berbadan besar mencengkeram kerah baju Ethan. Apa yang dilakukannya sukses membuat kaki Ethan terangkat. Setelahnya, pria berbadan besar itu menghempaskan Ethan ke meja yang dipenuhi makanan.


Bruk!


Ethan terjatuh persis ke atas meja Ryan. Menghamburkan makanan yang baru saja dinikmati oleh Ryan.


Ethan tidak ingin kalah. Dia bergegas bangkit, kemudian langsung meninju wajah pria besar yang sering disapa dengan sebutan Andreas itu. Sayangnya tinjuan Ethan tidak berhasil membuat Andreas tumbang. Andreas bahkan tetap berdiri tegak. Serangan Ethan tadi memicu kemarahan dalam dirinya.


Ryan segera berdiri. Dia ternyata tidak terima kegiatan makannya di ganggu. Alhasil Ryan ikut bergabung bersama Ethan untuk melakukan perlawanan.


Andreas sudah mengarahkan bogem ke arah Ethan. Sebelum sempat melakukannya, Ryan lebih dahulu menendang kuat dada Andreas. Kini Andreas benar-benar tumbang. Dia terjatuh menghantam meja yang ada di belakang. Badan besarnya membuat meja kayu tersebut hancur berkeping-keping.


Ryan mengambil sebuah garpu. Dia melangkah cepat menghampiri Andreas. Namun suara pluit yang dibunyikan polisi, mengharuskan Ryan berhenti.


"Cukup! Kalian sebaiknya kembali ke sel masing-masing!" titah polisi yang bertugas. Dia menyuruh tahanan yang terlibat perkelahian untuk kembali ke jeruji besi.


"Tidak untukmu, Mr. Martin. Kau ikut denganku!" pengecualian diserukan untuk Ryan. Polisi menuntunnya pergi ke suatu tempat.


"Kami menunggumu di sel," imbuh John dengan tatapan cemas. Padahal Ryan tampak santai saja.


"Tentu saja kita akan menunggu di sel," sahut Ethan yang berjalan lebih dahulu menuju ruang penjara.


Ryan dibawa ke ruang kunjungan. Ruang itu memiliki dinding pembatas kaca di antara tamu dan tahanan yang bertemu.


"Siapa yang menemuiku? Apa dia seorang perempuan?" tanya Ryan kepada polisi yang mendampinginya.


"Ya." Sang polisi menjawab singkat.

__ADS_1


Ryan lekas-lekas menemui sosok yang tengah mengunjunginya. Dia menduga gadis tersebut adalah Ruby. Namun kala menyaksikan siapa yang datang, ekspresi Ryan seketika berubah menjadi datar.


__ADS_2