Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 123 - Kembali Pulang [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Sekali lagi Ryan mencoba melakukan penyisiran dengan matanya. Dari kejauhan, Ryan sukses memergoki Ethan yang terlihat melangkah pergi. Tanpa basa-basi, Ryan langsung mengejar. Hingga akhirnya dia dapat menyentuh pundak Ethan.


"Jangan berlagak sok keren, bedebah!" ujar Ryan, saat Ethan berbalik badan untuk menghadapnya.


"Maaf, apa aku mengenalmu?" Ethan menaikkan salah satu alisnya. Bersikap seakan baru pertama kali bertemu dengan Ryan.


"Sialan!" Ryan melayangkan tendangan ke arah Ethan. Ia sengaja memelesetkan tendangannya agar Ethan tidak kesakitan.


Ethan tergelak kecil. Selanjutnya, dia perlahan menghentikan tawanya. "Aku akan pergi, Ryan. Sampaikan kepada Ruby, kalau aku sudah jatuh cinta pada gadis lain saat berada di penjara, oke?" ucapnya santai. Ethan terlihat mengenakan kemeja motif kotak-kotak, serta celana jeans biru. Entah dari mana dia mendapatkannya.


"Kau yakin ingin pergi?" tanya Ryan.


"Kenapa? Apa kau sedih sekarang?" Ethan mencondongkan wajahnya ke arah Ryan. Dia memperjelas ekspresi Ryan yang terlihat kecewa.


Ryan lekas-lekas berbalik badan, lalu membalas, "Ya sudah, pergilah sana!"


Ryan berucap tanpa menoleh ke belakang. Sampai dia kembali depan truk kecil hasil curiannya. Di sana dia menoleh, dan menyaksikan Ethan benar-benar pergi. Alhasil Ryan dan John memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Masing-masing dari mereka akan kembali ke orang-orang tercinta.


Kabar tentang selamatnya Ryan, sudah tersebar ke seluruh anggota The Shadow Holo. Sekarang mereka berkumpul di bandara untuk menemui Ryan. Mereka akan terbang bersama-sama menuju Swiss.


Ryan melangkah semakin mendekat. Para bawahannya yang tengah duduk, langsung berdiri. Mereka menyambut kedatangan Ryan dengan bersemangat.


"Bos, kau harus mengganti bajumu!" seru Frans. Sebab Ryan masih mengenakan pakaian lusuh hasil curiannya.


"Ya, aku tahu." Ryan tersenyum sembari berjalan memimpin lebih dulu


"Aku lihat di berita, kau berhasil menghilangkan jejakmu. Semua orang menganggapmu telah mati sekarang." Mike menyelaraskan jalannya dengan Ryan. Hal serupa juga dilakukan Frans.


"Ya, sekarang tinggal menghilangkan jejak orang-orang yang tersisa. Ruby sudah mengatakan mengenai rencanaku bukan?" Frans menatap Ryan dengan sudut matanya.


"Sudah. Tapi kita lakukan nanti saja. Aku ingin fokus dengan proses kelahiran Ruby." Ryan menepuk pelan pundak Frans. Dia melenggang lebih dahulu memasuki pesawat pribadi.


__ADS_1


Ruby duduk di teras bersama Gaby. Tatapanya terus saja tertuju ke arah pintu gerbang. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya.


"Ruby, perjalanan dari Amerika ke Swiss memakan waktu beberapa jam. Kau tahu itu." Gaby geleng-geleng kepala melihat sikap Ruby.


"Kau benar." Ruby mendengus kasar sembari menyandarkan punggung ke kursi. Matanya menatap langit cerah berhiaskan awan putih.


"Apa kau mau memakan sesuatu?" tawar Gaby.


"Hmmm... buah-buahan mungkin." Ruby bicara tanpa membalas tatapan Gaby. Dia masih tampak mendongakkan kepala sambil memegangi perutnya yang sudah membesar.


"Aku akan ambilkan." Gaby segera pergi ke dapur. Meninggalkan Ruby duduk sendirian di teras.


Ruby berhenti menatap langit. Kini dia duduk tegak dan meraih ponsel. Saat itulah telepon genggamnya tersebut berdering. Nama Megan tampak tertera jelas di layar. Ruby tersenyum tipis dan segera mengangkat telepon.


"Katakan kepadaku kalau Ryan baik-baik saja! Aku baru melihat berita kalau dia jatuh dari pesawat!" sambar Megan dari seberang telepon. Suaranya sedikit bergetar. Menandakan kalau dia sedang merasa cemas.


"Ya, Ryan baik-baik saja. Dia sedang dalam perjalanan untuk menemuiku." Ruby menjawab dengan tenang.


"Ah... syukurlah..." tanggap Megan lirih. Dia tetap terdengar kecewa, walau dirinya telah mendengar Ryan selamat. Megan membisu selang beberapa detik.


"Ya, sampaikan kepada Ryan kalau aku masih mencintainya!" kata Megan. Kemudian mengakhiri panggilan secara sepihak.


Ruby yang hendak menanggapi dengan amarah, tidak sempat lagi memberikan balasan. Gadis itu sekarang hanya bisa melampiaskan kekesalan kepada makanan yang baru disuguhkan Gaby.


"Aku dengar Ethan tidak ikut. Mike memberitahuku, kalau dia bukan lagi bagian dari The Shadow Holo." Gaby memberitahu. Menyebabkan Ruby otomatis berhenti menyuap potongan buahnya.


"Kenapa dia melakukan itu?" dahi Ruby berkerut.


"Aku tidak tahu. Setidaknya dia juga selamat. Ryan sudah memastikan itu. Mungkin Ethan ingin memulai hidup baru." Gaby memegangi pergelangan Ruby. "Dia tidak bisa terus-terusan berada di antara dirimu dan Ryan," sambungnya.


"Kau benar. Tapi Ethan pernah mengatakan, bahwa dia akan berada di sisiku sampai aku melahirkan. Dasar pembelot!" raut wajah Ruby nampak masam. Dia tiba-tiba merasa kesal dengan Ethan. Rasanya dirinya ingin memukuli Ethan sampai puas.


Gaby terkekeh. Dia merasa gemas melihat Ruby. Apalagi dengan keadaan tubuh yang lebih berisi dari biasanya. Semuanya disebabkan efek dari masa kehamilannya.


"Sudahlah, ayo kita masuk. Kau bisa tidur dahulu. Lagi pula kedatangan Ryan masihlah lama," ajak Gaby seraya membantu Ruby untuk berdiri. Kali ini Ruby mengangguk, dan menuruti ajakannya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian. Ruby telah terlelap di kasurnya yang nyaman. Pintu perlahan terbuka. Ryan yang baru saja tiba, segera menghampiri Ruby. Matanya terfokus ke perut Ruby yang terlihat sangat besar.


Ryan duduk ke samping Ruby. Mengusap lembut perut Ruby yang berisikan buah hatinya. Kemudian merebahkan diri dan tertidur di sebelah istrinya itu. Ryan terlelap dalam keadaan memeluk Ruby dari samping.


Setelah beberapa menit Ryan tertidur, barulah Ruby terbangun. Ia dikejutkan dengan pelukan hangat dari seseorang di sampingnya. Dari bau cologne yang khas, Ruby yakin bahwa orang itu adalah suaminya.


Ruby tersenyum lebar sembari menatap wajah yang sangat dirindukannya. Satu tangannya perlahan menyentuh wajah Ryan. Memastikan kalau apa yang dilihatnya adalah nyata.


"I miss you..." bisik Ruby. Ia tidak mau membangunkan suaminya.


Ryan mendadak membuka mata. Lalu menggenggam tangan lentik yang bertengger di salah satu pipinya.


"I miss you too..." Ryan balas berbisik. Membuat Ruby tidak kuasa menahan senyuman bahagianya. Ryan segera memenuhi punggung tangan Ruby dengan beberapa kecupan. Lalu barulah dia beralih ke bibir milik Ruby. Sebuah ciuman tulus penuh haru terjadi.


Ryan dan Ruby saling memejamkan mata. Tenggelam dalam sentuhan yang sangat dirindukan. Ketika sudah puas melakukannya, Ryan segera melepas tautan bibirnya dari mulut Ruby.


"Aku kagum kepadamu. Kau menjaga anak kita dengan baik," ucap Ryan. Dia membiarkan jidatnya bersentuhan dengan dahi Ruby.


"Kumohon... jangan pergi lagi," imbuh Ruby. Ryan lantas menanggapi dengan anggukan pelan.


Sementara itu, di ruang tengah. Mike, Gaby, Frans dan anggota The Shadow Holo lainnya, sedang bermain kartu. Mereka mencoba bersenang-senang untuk sekedar merayakan dan menghilangkan penat.


"Ngomong-ngomong, kenapa Ethan tiba-tiba memutuskan pergi?" celetuk Gaby seraya fokus pada kartu-kartu poker yang dipegangnya.


"Mungkin dia mencoba mencari kubu mafia lain." Mike menjawab asal.


"Ugh! Dasar pengkhianat. Jika akhirnya akan pergi, lalu untuk apa dia berusaha mati-matian mempertahankan posisinya di Shadow Holo, menyebalkan sekali!" gerutu Gaby. Menyebabkan Mike dan yang lain sontak saling melemparkan pandang penuh curiga.


"Kenapa kau peduli? Apa kau menyukai Ethan?" Frans menimpali dengan nada mengejek.


"Kau benar, Frans. Sepertinya begitu." Zac setuju dengan pendapat Frans. Ia tertawa kecil sambil menyenggol Mike dengan sikunya. "Lihat, Mike! Adikmu sepertinya jatuh cinta. Hahaha!"


"Benarkah itu Gabe?" tanggap Mike. Bertanya kepada adiknya.


Bruk!

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" bantah Gaby sambil memukul meja dengan satu tangan. Kemudian beranjak dalam keadaan wajah yang cemberut.


__ADS_2