Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 31 - Rencana Pembalasan Ruby


__ADS_3

...༻❀༺...


Semua orang telah kembali ke markas utama di Las Vegas. Ruby sedang berada di dalam kamar. Gadis itu berdiri di depan cermin. Memperhatikan penampilannya dengan teliti.


'Gayaku memang terkesan biasa saja. Aku harus lakukan sesuatu agar bisa menarik perhatian Ryan,' batin Ruby. Tangannya mengaitkan helaian rambut ke daun telinga.


Tok!


Tok!


Tok!


"Ruby?" Bunyi ketukan yang di iringi dengan suara Mike mengalihkan atensi Ruby. Gadis tersebut bergegas membukakan pintu. Tampaklah Mike yang menyambutnya dengan senyuman tipis.


"Aku dengar kau mencariku," ujar Mike.


Ruby mengangguk. "Iya, aku ingin kau membantuku!" ungkapnya berterus terang.


"Apapun itu, Ruby." Mike membusungkan dada percaya diri.


"Ajari aku bela diri!" Ruby menatap penuh harap.


Mike terdiam untuk sesaat. Dia sebenarnya merasa tidak mampu menjadi seorang pelatih bagi Ruby. Lelaki berbadan kekar itu mencoba mengusulkan seseorang kepada Ruby.


"Tidak! Aku tidak mau diajari oleh orang lain selain kau. Satu-satunya orang yang membuatku tidak canggung di tempat ini, adalah dirimu, Mike!" Ruby menepuk pelan dada Mike. Ada ketegasan dalam tutur katanya.


"Baiklah kalau begitu..." Mike tersenyum kecut. "Tetapi Ruby, aku tidak bisa memastikan kau akan jadi yang terhebat," tambahnya, memberitahu dengan ekspresi sendu.


"Kenapa kau berkata begitu? Jelas-jelas badanmu besar begitu. Aku lihat kamu satu-satunya orang yang memiliki badan paling besar di sini," ucap Ruby.


"Ini hanya kelihatannya. Tapi jika bertanding, aku selalu kalah. Aku sudah cukup tua, Ruby," tutur Mike. Dia mengakhiri pembicaraan dengan cara melangkah lebih dahulu. Di ikuti Ruby dari belakang. Mereka beranjak pergi ke ruang latihan.


Kebetulan ruang latihan tengah sepi. Hanya ada Ruby, Mike dan Gaby di tempat tersebut. Mike menyarankan Ruby untuk pemanasan terlebih dahulu. Dari mulai melakukan push up hingga pull up.

__ADS_1


"Coba seratus kali push up!" titah Mike, yang sontak membuat mata Ruby terbelalak. Dia yang jarang berolahraga, tentu merasa kaget mendengar seberapa banyak dirinya harus melakukan push up.


"Bisakah dikurangi untuk seorang pemula sepertiku?" Ruby mencoba merubah pemikiran Mike.


"Tidak, Ruby. Lakukanlah, jika kau ingin cepat menguasai ilmu bela diri!" Mike bersikeras. Dia tidak peduli, walau Ruby adalah majikannya sendiri. Meskipun begitu, Ruby tetap menuruti Mike. Hubungan di antara keduanya menjadi terbalik. Kini Mike-lah yang mendominasi.


Ruby melakukan push up. Dia memang dipenuhi tenaga ekstra diawal hitungan. Lama-kelamaan, rasa lelah mulai menggerogoti. Gerakan Ruby mulai melambat.


"Sembilan puluh delapan... Sembilan puluh sembilan..." Tangan dan kaki Ruby terlihat gemetaran. Peluhnya bercucuran memenuhi beberapa titik tubuhnya.


"Satu kali lagi, Ruby..." Gaby berusaha memberikan semangat. Dia sedari tadi menonton sambil memakan keripik kentang kemasan.


"Sera... tus... hah... hahhh... Ini sangat melelahkan, Mike..." Ruby tengah mengatur deru nafas akibat kelelahan. Dia dalam keadaan tengkurap di atas matras. Mike yang menyaksikan tampak tergelak kecil.


"Istirahatlah, aku harus ke toilet!" Mike tampak melangkah ke luar ruangan. Dia langsung menghilang ditelan pintu.


"Terima kasih, Ruby. Karena dirimu aku merasa jati diri kakakku kembali," celetuk Gaby, tiba-tiba.


"Hah? Maksudmu?" Ruby merubah posisi menjadi duduk. Menatap heran Gaby dengan dahi yang berkerut.


Ruby perlahan berdiri. Dia berjalan mondar-mandir sembari memainkan ponsel.


"Kau kenapa, Ruby?" tanya Gaby, terheran.


"Emmm... aku sedang mencari penampilan yang cocok untukku. Sesuatu yang akan membuatku lebih cantik dari sekarang!" Ruby memutar badan menghadap Gaby. Menjelaskan sedikit rencana kepada gadis keturunan negro yang tengah duduk di hadapannya.


"Ya ampun, Ruby. Kamu sudah cantik!" Gaby terperangah. Dia masih tidak mengerti.


"Gaby... aku serius!" balas Ruby.


"Aku juga serius!" sahut Gaby. Mengangkat kedua tangannya ke depan.


Ruby terdiam sesaat. Dia berpikir kalau dirinya harus menceritakan rencananya kepada Gaby. Menurutnya Gaby adalah sosok yang dapat dipercaya.

__ADS_1


"Gaby, apa kau sudah mendengar cerita tentang misi kapal pesiar kemarin?" tanya Ruby, memastikan.


"Iya, aku dengar kau..." Gaby memasang raut wajah penuh iba. Sebab dirinya sudah tahu cerita mengenai insiden Ruby ditinggalkan oleh Megan dan Sarah. Dia merasa tidak enak membicarakannya. Makanya sedari tadi Gaby tidak berani berbicara mengenai hal terkait misi kapal pesiar.


"Bagus kalau kau sudah tahu!" Ruby menepuk pelan pundak Gaby sekitar dua kali. Dia merekahkan senyuman. "Berarti kau akan bersedia membantuku kan?" lanjutnya kembali bertanya.


"Tentu saja!" jawab Gaby yakin. "Tunggu, tunggu. Biar aku tebak, apa kau akan balas dendam kepada Megan dan Sarah?" Gaby mencoba menerka.


Ruby mengangguk tegas untuk mengiyakan. Dia segera memberitahukan rencananya. Membisikkan sesuatu ke telinga Gaby.



Malam yang tenang telah tiba, semua orang kebetulan tetap berada di markas. Baik itu Megan dan Sarah, mereka sama-sama sedang tidak mempunyai rencana apapun. Sementara Ryan masih berupaya beristirahat dari misi melelahkan beberapa hari yang lalu.


Ruby dan Gaby baru saja keluar dari mobil. Mereka berjalan sambil membawa kotak besar ditangan masing-masing. Keduanya langsung melangkah masuk ke kamar Ruby.


"Pakailah ini, Ruby. Aroma harumnya membuat siapapun candu untuk menciumnya." Gaby memberikan sebuah cologne untuk Ruby.


"Thanks, Gabe!" Ruby menyambut cologne pemberian Gaby. Dia langsung mengusapkannya ke beberapa titik tubuhnya.


Gaby terpaku mengamati gelagat Ruby. "Apa kamu benar-benar mencintai Ryan?" ujarnya. Gaby duduk di ujung kasur. Mendongakkan kepala untuk menatap Ruby.


"Emmm... Aku tidak tahu." Ruby tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku hanya khawatir dengan rencanamu sekarang. Jika kau tidak menyukai Ryan, lebih baik batalkan saja rencana ini. Kau bisa menyusun rencana baru." Gaby memberikan usulan.


"Aku menyukai Ryan. Dan aku yakin ingin melakukannya. Aku juga, memang selalu melakukannya dengan Ryan," jelas Ruby yang disertai senyuman tipis.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita mulai rencananya!" Gaby merubah posisi menjadi berdiri. Dia segera membuka kotak besar yang tadi sempat dibawa olehnya dan Ruby. Tampaklah dua buket bunga mawar merah besar nan harum.


"Aku akan menulis catatannya dahulu." Ruby meraih pulpen dan buku. Dia menuliskan sesuatu di sana. Selanjutnya, Ruby merobek dua lembar kertas dari buku itu. Kemudian memberikannya kepada Gaby.


"Oke, bersiaplah. Aku akan mengantarkan ini kepada dua targetmu!" imbuh Ruby. Dia mencoba beranjak pergi. Namun Ruby mendadak menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Gaby sontak bertanya-tanya terhadap maksud Ruby.


"Aku perlu salah satu bunga mawar ini." Ruby menarik salah satu bunga yang ada di buket. Gaby yang menyaksikan tingkahnya sontak terkekeh geli.


__ADS_2