Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 28 - Perdebatan & Nasib Malang


__ADS_3

...༻❀༺...


Sarah menyarankan semua orang untuk berpencar. Dia juga tidak lupa mengingatkan, agar berhati-hati terhadap orang-orang The Drugs. Jika ada yang tertangkap maka akan sulit melarikan diri. Sebab dalam penangkapan yang kedua kalinya, komplotan The Drugs pasti akan melakukan penjagaan lebih ketat dari sebelumnya.


Sarah sebenarnya bisa saja menanyakan keberadaan helikopter kepada awak kapal. Namun tidak dilakukannya, karena dirinya mengetahui kalau awak kapal bekerjasama dengan ketua The Drugs.


Kini Ruby sedang berupaya menemukan helikopter. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Gadis itu akhirnya memilih memeriksa lantai paling atas. Sebab dirinya yakin, biasanya helikopter akan diparkirkan di area paling atas. Namun ternyata dugaannya salah. Ruby tidak menemukan helikopter di sana.


Ruby memanfaatkan posisinya untuk memperhatikan segalanya dari atas. "Aku tidak ada menemukan apapun di sini." Ruby memberitahukan informasi melalui earpiece yang telah diberikan Sarah kepadanya.


"Aku pikir aku sudah menemukannya, tetapi aku melihat banyak orang The Drugs di sekitaran helikopter. Kemungkinan mereka sudah tahu, kalau kita melarikan diri!" Sarah menjawab dari seberang telepon. Dia juga memakai earpiece disalah satu telinga.


"Berapa banyak orang yang menjaga helikopter?" tanya Max. Salah satu bagian dari tim. Ada sekitar tujuh orang yang terhubung melalui earpiece.


"Tiga orang!" jawab Sarah.


"Kalau begitu, kita lebih baik berkumpul dan jatuhkan mereka, sebelum orang yang menjaga helikopter semakin bertambah!" ujar Max mengusulkan. Sarannya langsung disetujui semua anggota tim. Ruby lantas bergegas menyusul ke tempat dimana Sarah berada. Lokasinya berada di bagian belakang kapal. Posisi tersebut berdekatan dengan gudang penyimpanan yang terletak di bawah.


Ruby dalam perjalanan ke lantai bawah. Dia sedang berada di dalam lift sendirian. Menggerak-gerakkan salah satu kakinya akibat sudah merasa tidak sabar.


Lift perlahan berhenti, lalu perlahan membuka pintu. Bukan di lantai tujuan Ruby, melainkan karena ada seseorang yang hendak ikut naik. Mata Ruby terbelalak saat menyaksikan sosok yang akan menaiki lift. Ternyata dia adalah Ethan.


"E-ethan!" kata Ruby tergagap. Dia merasa tidak percaya, Ethan berhasil keluar dari kamar. Bahkan sembuh dari rasa mabuknya. 'Bagaimana bisa?' benak Ruby bertanya-tanya.


"Hai, Helen!" Ethan berseringai sambil memiringkan kepala. Dia segera masuk ke dalam lift. Kedua tangannya langsung mencengkeram erat lengan Ruby.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu!" ancam Ethan. Dia semakin mengeratkan cengkeramannya. Menyebabkan Ruby meringis kesakitan.


Ethan yang dapat melihat earpiece ditelinga Ruby, langsung merebut alat komunikasi tersebut. Lalu menginjaknya dengan kaki. Earpiece Ruby hancur berkeping-keping dalam sekejap.


Di sisi lain, Sarah, Megan dan yang lain telah berkumpul. Hanya Ruby yang tidak kunjung datang. Orang-orang The Drugs yang melakukan pencarian semakin bertambah.


"Lebih baik kita rebut helikopter itu dulu!" saran Megan seraya menunjukkan jari telunjuk ke arah helikopter. Sarah lantas setuju. Karena jika dilakukan lebih cepat, maka akan semakin baik. Masalah Ruby, Sarah berniat memikirkannya nanti. Yang ada dalam pikiran gadis berambut pendek sebahu itu hanyalah keberhasilan mengenai misi utamanya.

__ADS_1


Sarah menyuruh Max untuk memencet tombol pembuka gerbang gudang penyimpanan. Di sana ada bunker hijau yang berisi barang berharga orang-orang The Drugs.


"Hei! Berhenti!" beberapa orang The Drugs mulai berdatangan. Salah satu di antara mereka terlihat memegangi pistol.


Tanpa basa-basi, Sarah langsung beraksi. Dia melakukan serangan kepada lelaki yang memegang pistol. Menendang betis lelaki itu, lalu merebut pistol. Kini senjata api ada dalam genggaman Sarah. Aksi saling tembak-menembak pun terjadi. Orang-orang awam yang berada di sekitaran segera berteriak dan berlarian.


Frans salah satu anggota tim Sarah, telah berhasil melepaskan tali yang menjerat helikopter dari kapal. Dia bergegas masuk dan menyalakan mesin. Sarah memang sengaja menugaskannya untuk mengendarai helikopter. Karena hanya Frans yang mempunyai pengalaman menerbangkan alat transportasi udara. Sekarang Frans sudah berada di kursi kokpit. Memasang penutup telinga dan siap menjadi pilot.


Megan yang melihat helikopter sudah siap terbang, segera naik lebih dahulu. Setelahnya baru tiga orang bawahan Ryan lainnya.


Sementara Sarah, baru saja selesai mengalahkan komplotan The Drugs. Dia perlu mengambil alat pengait agar dapat membawa bunker hijau.


"Sarah! Lupakan bunker bodoh itu! Lihat! Orang-orang The Drugs berdatangan ke sini!" pekik Megan. Dia sudah tidak sabar untuk pergi. "Lagi pula, aku tidak yakin helikopter ini bisa membawa bunker itu. Isinya pasti berkilo-kilo gram!" tambahnya lagi. Membuat Sarah otomatis memegangi kepala. Dia mencoba menoleh ke belakang. Benar saja, orang-orang The Drugs tampak berdatangan.


Sarah tidak punya pilihan selain berlari menghampiri helikopter. Dia harus membuang egonya demi keselamatan diri. Namun sebelum masuk ke dalam helikopter, dirinya mendadak teringat dengan Ruby.


"Megan, kita harus menunggu Ruby!" imbuh Sarah dengan nada penuh penekanan. Dia berdiri tepat di depan pintu helikopter. Celingak-celingukan ke berbagai arah. Berharap indera penglihatannya mampu menemukan Ruby. Tetapi seberapa keras dia mencari, batang hidung Ruby sama sekali tidak terlihat.


"Frans, jalankan helikopternya! Kita tidak punya banyak waktu!" titah Megan. Frans pun mulai menyalakan tombol mesin. Baling-baling helikopter perlahan berputar menjadi cepat.


"Tidak! Hentikan Frans! Kita harus menunggu Ruby!" kali ini Sarah yang memberikan perintah. Membuat Frans sontak merasa kebingungan harus menuruti suruhan siapa.


Dor!!


"Jalankan saja, Frans! Jika tidak, peluru dalam pistol ini akan menembus kepalamu!" Megan sengaja menembakkan timah panas ke lantai. Menyebabkan Frans tersentak kaget, dan terpaksa menuruti perintahnya. Helikopter pun mulai terangkat ke udara.


Di sisi lain, Ruby baru saja keluar dari lift bersama Ethan. Salah satu tangan Ethan mencengkeram erat lengan Ruby. Gadis itu terus berpikir untuk kabur dari Ethan, sebelum lelaki tersebut mengurungnya di suatu tempat.


"Ethan!" panggilan Ruby berhasil membuat Ethan menoleh. Saat itulah Ruby melakukan serangannya. Dia menghantam mata Ethan dengan tangannya. Kemudian melayangkan tendangan ke area pribadi lelaki itu untuk yang kedua kalinya. Cengkeraman Ethan sontak terlepas dari lengannya. Ruby langsung melarikan diri.


Ruby berlari menuju lokasi Sarah berada. Atensinya tertuju ke arah helikopter yang telah terbang ke udara. Posisinya masih belum jauh dari kapal.


"Sarah!!! Megan!!!" Ruby berteriak sekuat tenaga. Dia berlari sampai berhenti di pagar pelindung kapal. Berharap helikopter kembali menjemputnya. Akan tetapi sayang, helikopter malah tambah jauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Fu*ck YOU!!!" Ruby mengumpat untuk Sarah dan Megan. Wajahnya memerah padam akibat merasa saking kesalnya. Sebelah kakinya menghentak kuat ke lantai. Dia sekarang hanya mampu mengepalkan tinju dikedua tangannya. Tingkat kemarahan Ruby langsung berada di level tertinggi.



Sementara di dalam helikopter. Terjadi perdebatan kecil di antara Megan dan Sarah.


"Megan! Serahkan pistolnya kepadaku, kita harus membawa Ruby. Jika kau ingin menyingkirkannya, aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat!" Sarah berusaha merubah jalan pikiran Megan.


"Tidak, Sarah! Malah inilah waktu paling tepat. Aku yakin dia akan mati dalam sekejap di sana. Kumohon, kali ini turuti perintahku!" sahut Megan. Masih dalam keadaan menodongkan pistol ke arah Sarah.


"Tetapi Ryan dalam perjalanan--" Sarah menjeda ucapannya ketika menyaksikan Megan mengambil ponsel. Lalu berbicara kepada Ryan melalui telepon.


"Ryan, kami dalam perjalanan pulang sekarang. Kami semua selamat. Tetapi Ruby..." ungkap Megan dengan nada yang seolah kecewa.


"Kenapa dengan Ruby?" tanya Ryan dari seberang telepon.


"Dia bersekongkol dengan Liam. Mereka bergabung bersama komplotan The Drugs!" jelas Megan. Ryan terdengar tidak bersuara sama sekali. Dia terdiam cukup lama.


"Ryan?" panggil Megan, mendesak Ryan untuk merespon.


"Baiklah jika kalian sudah selamat. Berhati-hatilah!" ucap Ryan. Lalu mengakhiri panggilan telepon lebih dahulu.


"Apa ada masalah, Bos?" tanya Kevin. Salah satu bawahan andalan Ryan. Keduanya tengah berada di dalam helikopter. Dalam perjalanan menuju kapal.


"Tim kita selamat!" Ryan memberitahu.


"Benarkah? Syukurlah... Kalau begitu, apa perjalanan ini akan dibatalkan?" tanya Kevin.


"Tidak. Aku harus menjemput istriku yang tertinggal," jawab Ryan sembari menatap keluar jendela. Helikopter yang dinaikinya sudah terbang di atas lautan.


Catatan Author :


Gimana guys, udah double up nih. Puas kan? :v

__ADS_1


__ADS_2