
...༻❀༺...
Ryan melajukan langkahnya. Maka Sebastian juga harus ikut melangkah cepat. Sampai Ryan akhirnya berhasil menghilang dari balik pintu toilet.
Sebastian mengikuti Ryan masuk ke dalam toilet. Namun ketika baru masuk, Ryan langsung melakukan serangan. Ryan mengapit leher Sebastian dengan sikunya.
"Kkkk... Kkkk..." Sebastian merasakan tenggorokannya tercekat hebat. Ia mencoba melakukan perlawanan, tetapi tidak mampu. Sebab tenaganya telah terkuras oleh siksaan yang diberikan Ryan. Sebastian lantas tumbang tanpa adanya suara. Matanya memerah, lalu perlahan tidak sadarkan diri.
Ryan segera menyembunyikan Sebastian ke bilik toilet. Kemudian menyiram seluruh badan Sebastian dengan air. Ryan melakukannya agar sidik jarinya tidak bisa teridentifikasi. Dia hanya berjaga-jaga, takut kalau kantor polisi tidak dapat terbakar secara menyeluruh.
Setelah mengurus Sebastian, Ryan mencuci tangannya sebentar. Kemudian keluar dari toilet. Ia mencari ruangan yang sepi, agar bisa menjalankan rencana.
Tibalah Ryan di sebuah ruangan yang nampaknya adalah gudang. Tanpa pikir panjang dia segera mengambil alat pemantik dari saku celana. Lalu mengarahkannya kepada alat pendeteksi kebakaran yang tersedia di langit-langit pelafon. Ryan naik ke atas meja, demi bisa menggapai langit pelafon.
Dalam sekejap, alarm kebakaran berbunyi. Alat pendeteksi yang ada di langit pelafon, secara otomatis mengeluarkan air. Tetapi Ryan tidak berhenti di situ. Dia membakar salah satu barang yang mudah terbakar.
Ketika api sudah dipastikan lumayan membesar, Ryan segera keluar dari gudang. Keributan yang di inginkan Ryan benar-benar terjadi. Semua penghuni kantor polisi berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka bahkan juga tidak lupa membawa tahanan yang ada di dalam penjara.
Sementara itu, Ethan langsung berdiri saat mendengar suara alarm pendeteksi kebakaran berbunyi. Dia sangat yakin, kalau semuanya adalah ulah Ryan. Sekarang Ethan hanya perlu bersiap untuk melarikan diri bersama Frans.
"Ayo! Kita harus keluar dari sini! Api terlihat telah membesar!" seorang polisi tiba-tiba masuk. Ia memekik dan memberikan peringatan. Ethan sontak mengajak Frans untuk mengikutinya. Keduanya berlari beriringan menuju pintu keluar.
Ethan mengedarkan pandangan sambil berlari. Dirinya memang melihat ada api dari arah belakang. Suara riuh dari penghuni lapas yang meminta diselamatkan terdengar begitu mengerikan. Mereka ingin saling berdahuluan keluar dari penjara.
Frans yang kebetulan berada di ruang pertemuan sangat beruntung. Dia dan Ethan berjalan dengan mulus keluar dari kantor polisi. Mereka memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin untuk berlari menjauh.
"Bagaimana dengan Bos?" tanya Frans disela-sela larinya.
"Dia akan menyusul!" jawab Ethan. Ia mengajak Frans masuk ke toko baju. Ethan bermaksud mengganti pakaiannya dan Frans. Dia melakukannya agar sulit ditemukan oleh polisi.
Ethan dan Frans tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengganti pakaian. Akan tetapi keduanya tidak langsung beranjak dari toko. Ethan mendaratkan pantatnya di sebuah tempat duduk lebih dahulu.
__ADS_1
"Apa Bos akan ke sini?" Frans ikut duduk di samping Ethan.
"Ya, dia akan menjemput kita sebentar lagi!" sahut Ethan sembari memeriksa jam yang ada di pergelangan tangannya.
Di waktu yang sama, Ryan baru saja masuk ke dalam mobilnya. Ia tetap menjalankan mobil, meski ada polisi yang menghalanginya. Ryan bahkan tidak tanggung-tanggung untuk menabrak siapa saja yang sengaja berdiri di depan mobilnya.
Pelarian Ryan berjalan lancar. Dia segera mengarahkan mobil menuju toko dimana Ethan dan Frans berada. Setibanya di sana, Ryan langsung membuka topeng dan mengganti pakaian. Dia mengganti kumisnya dengan kumis palsu berwarna hitam. Seterusnya, Ryan lantas mengajak Ethan dan Frans masuk ke mobil. Mereka akan melakukan perjalanan menuju bandara.
"Terima kasih, Bos. Aku tidak menyangka kau akan menyelamatkanku. Padahal tadinya aku sudah merasa pasrah tinggal di penjara," ungkap Frans seraya menatap Ryan yang sibuk menyetir.
"Tidak perlu berterima kasih kepadanya. Karena Bosmu tidak akan menyelamatkanmu, jika Ruby tidak memintanya!" Ethan memberikan jawaban untuk Frans. Ucapannya mengharuskan Ryan melayangkan pukulan ke kepalanya. Ethan sontak mengaduh sambil memegangi bagian kepalanya yang sakit.
"Tidak apa-apa. Aku tetap berterima kasih, kau juga, Ethan." Frans berucap kembali. Ia tampak menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Merasa lega bisa keluar dari jeruji besi yang begitu menyesakkan.
Ryan, Ethan dan Frans dapat melewati pemeriksaan di bandara. Ketiganya dapat melaluinya dengan baik karena telah merubah penyamarannya menjadi berbeda. Sekarang mereka melanjutkan perjalanan menuju markas di kota Chicago.
Akibat ulah Ryan, sebagian kantor polisi terbakar oleh kemarahan si jago merah. Beberapa penjahat yang tadinya di penjara, bahkan dapat melarikan diri. Polisi tidak hanya panik untuk menyelamatkan diri serta kantornya, tetapi juga mengejar tahanan yang berusaha kabur.
Kedatangan Frans ke markas, disambut girang oleh semua anggota The Shadow Holo. Ryan hanya berdiri memperhatikan dari jauh. Mulutnya mengembangkan senyuman tipis. Atensi Ryan segera tertuju kepada Ruby yang ikut bergabung menyambut Frans.
Ruby mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Ryan. Terjadilah pertukaran pandang di antara Ruby dan Ryan. Namun hal tersebut harus berakhir, ketika Zac mendadak menghampiri Ryan.
"Bos, bukankah harusnya kita berpesta untuk merayakan keberhasilanmu dan kembalinya Frans?" Zac menatap Ryan penuh harap. Hal serupa juga dilakukan oleh anggota The Shadow Holo yang lain.
"Terserah saja. Jika ingin mengadakan pesta, lakukanlah di lantai dua!" ujar Ryan sembari melenggang meninggalkan gerombolan bawahannya.
Ryan memutuskan untuk beristirahat ke kamar lebih dahulu. Dia langsung telentang di kasur karena merasa kelelahan. Sedangkan semua orang sudah sibuk bersenang-senang dengan pesta dadakan.
"Apa Ryan baik-baik saja?" tanya Ruby kepada Ethan. Ia juga salah satu orang yang ikut bergabung memasuki lokasi pesta. Suara sorak-sorai serta musik yang gaduh mulai terdengar.
__ADS_1
"Bukankah Ryan memang tampak baik-baik saja? Kau melihatnya datang bersamaku tadi." Ethan menjawab dengan nada ketus. Kemudian menenggak alkohol dari gelas.
"Aku hanya memastikan. Kenapa kau malah menggerutu!" balas Ruby. Ia merubah raut wajahnya menjadi cemberut.
"Karena kau hanya menanyakan keadaan Ryan. Padahal aku juga ikut dengannya untuk melakukan misi. Sepertinya keberadaanku memang tidak pernah dianggap di sini!" Ethan menghempaskan gelasnya ke meja dengan kuat. Dia sedang kesal, karena sebagian besar orang hanya membicarakan tentang keberhasilan Ryan dan kedatangan Frans. Ethan tentu merasa gusar.
Ruby terkekeh menyaksikan Ethan yang sedang menekuk wajahnya. "Ternyata kau bisa juga merajuk," komentarnya.
"Kalau begitu, bisakah kau menghiburku? Aku pikir, kau satu-satunya orang yang bisa melakukannya," kata Ethan.
"Apa yang kau harapkan dariku? Lelucon?" Ruby bertanya seraya melipat tangan di depan dada.
"Ugh! Aku yakin kau tidak pandai melakukannya," respon Ethan remeh. Menyebabkan Ruby harus melayangkan pukulan ke wajahnya.
"Dari mana kau tahu, kalau aku memang tidak pandai?" Ruby penasaran. Dia sedikit menampakkan barisan giginya, akibat berupaya menahan tawa.
"Ouch! Kau tidak perlu menamparku. Aku sedang tidak mood untuk bercanda." Ethan memasang mimik wajah merengut. Satu tangannya sibuk mengelus pipi yang tadi sempat terkena tamparan Ruby.
Ruby memajukan bibir bawahnya. Perhatiannya tertuju ke arah seorang wanita yang berdiri di panggung. Wanita itu cantik dan hanya mengenakan bikini. Dia menari di tiang dengan menggeliatkan tubuhnya yang seksi. Jelas sudah kalau wanita tersebut adalah penari striptis.
"Lihatlah, Ethan! Aku pikir kau akan menyukainya!" Ruby memutar wajah Ethan ke arah panggung. Ethan sontak terpaku menyaksikan sang penari striptis.
"Dasar, kau ternyata tertarik juga. Bergabunglah sana!" Ruby memaksa Ethan bangkit dari tempat duduk. Lalu mendorongnya untuk bergabung dengan bawahan Ryan yang berada di dekat panggung.
Ruby memindai penglihatannya ke sekeliling. Orang yang sedari tadi ingin dilihatnya baru saja memasuki ruangan. Siapa lagi kalau bukan Ryan. Ruby yang tadinya hendak pergi, akhirnya memilih duduk kembali.
Sesuai harapan Ruby, Ryan berjalan menghampiri. Ryan sedikit membungkukkan badan agar bisa memeluk Ruby yang masih duduk. Ryan memeluk dari belakang, dan menenggelamkan wajahnya dalam keadaan memejamkan mata. Seolah dirinya telah menemukan tempat ternyaman.
Catatan kaki :
Penari Striptis : penarinya yang menari dengan gerakan merangsang, secara berangsur-angsur menanggalkan pakaiannya.
__ADS_1