Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 15 - The World Of Mafia


__ADS_3

...༻❀༺...


Gaby membawa Ruby ke kamar. Mencoba memberikan segelas air putih untuk menenangkan. Sedangkan Ruby hanya duduk dipinggiran kasur dengan tatapan kosong. Masih terbayang dalam pikirannya, bagaimana cara Ryan membunuh Evan.


"Tidak apa-apa. Sebenarnya itu adalah hal biasa di sini," ungkap Gaby.


"Apa? Hal biasa? Mengambil nyawa seseorang kau bilang hanya hal biasa?!" Ruby membalas dengan mata melotot dan nada tinggi.


"Dunia mafia adalah dunia yang keras," ujar Gaby. Tetap berusaha tenang. "Aku yakin dari awal, kamu pasti sadar tentang hal itu," tambahnya.


Ruby terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa membantah pernyataan Gaby. Yang namanya dunia kejahatan, memang sulit lepas dari adanya kekerasan bahkan pembunuhan. Hukum seolah tidak berlaku pada mereka. Namun sebagai penjahat kelas teri, Ruby benar-benar belum bisa menerima adanya hukum yang ada di dunia mafia.


"Bos memang akan melakukan hal itu, jika menemukan ada bawahannya yang berkhianat. Sebenarnya semuanya sama saja dengan hukuman mati di sebuah negara. Ditembak... wush!" Gaby membentuk jari-jemarinya seperti pistol, lalu memperagakan seakan dirinya ditembak dikepala.


"Aku butuh istirahat. Bisakah kau meninggalkan aku sendiri?" imbuh Ruby.


"Oke, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku atau Mike." Begitulah ucapan Gaby sebelum keluar dari kamar.


Kini Ruby sendirian. Masih dalam posisi duduk yang sama dengan tadi. Perlahan dia merebahkan dirinya. Mencoba untuk tidur. Tetapi sepertinya, tidur adalah hal yang sulit untuk dilakukannya sekarang.



Tiga hari berlalu, kemarahan Ryan masih belum pudar. Dia sangat sibuk. Pulang pergi dari markas dengan wajah merengut. Nampaknya kelompok mafia The Black Cindicate telah berhasil membuat Ryan kalah telak. Entah tentang apa itu.


Megan dan Sarah saling bergantian mencoba menemuinya. Akan tetapi ketika sudah berhadapan, Ryan hanya diam dan mengabaikan mereka. Lelaki tersebut lebih memilih menghibur dirinya dengan minuman beralkohol.


"Ryan, aku akan mencari tahu pengiriman The Drugs selanjutnya. Menurutku kita tidak perlu lagi menempuh cara baik-baik." Sarah yang kebetulan menemui Ryan seorang diri, mengemukakan pendapatnya. Dia dan Megan sudah tahu masalah apa yang di hadapi suaminya.


"Ide bagus. Tetapi tindakan seperti itu perlu rencana yang matang." Untuk yang pertama kalinya, Ryan akhirnya berbicara. Menyebabkan mulut Sarah seketika mengembangkan senyuman.


"Serahkan saja kepadaku. Kau tahu kalau aku ahli menciptakan strategi!" balas Sarah yakin. Dia bangkit dari tempat duduk, dan mendekati suaminya. Berusaha memberikan sebuah ciuman ke pipi. Namun belum sempat bibirnya menyentuh, Ryan sudah melakukan penolakan.

__ADS_1


Menyebabkan mimik wajah Sarah langsung berubah datar. Dia lantas berbalik dan mencoba pergi.


"Sarah!" Panggilan Ryan sontak membuat langkah kaki Sarah berhenti. Gadis itu berbalik dan mendekat lagi.


"Kemana Ruby? Dia satu-satunya orang yang tidak peduli kepadaku," ujar Ryan dengan dahi yang mengerut dalam. Kemudian menenggak minuman dari gelas.


"Aaah... Ruby. Aku pikir dia masih merasa syok dengan apa yang telah kau lakukan terhadap Evan," terang Sarah memberitahu. Saat itulah Megan mendadak datang, dan ikut masuk ke dalam pembicaraan. Nampaknya sedari tadi dia menguping di depan pintu.


"Pecundang. Itulah gelar yang pantas untuk gadis seperti Ruby. Ayolah Ryan, kita harus mengusirnya dari sini!" Megan bersuara sambil menyilangkan tangan didada. Nada bicaranya terdengar sinis.


"Sarah, panggilkan Ruby. Suruh dia untuk menemuiku ke sini!" titah Ryan. Mengabaikan keluhan dari Megan.


"Kau mengabaikanku?!" timpal Megan sembari menghentakkan kesal kakinya. Berbeda dengan Sarah, yang memilih bergegas pergi untuk melakukan perintah Ryan.


"Pergilah Megan. Selagi aku menyuruhmu baik-baik." Ryan menatap tajam Megan. Tatapan yang tentu membuat Megan seketika ciut. Dia tidak punya pilihan selain keluar dari ruangan.


Di sisi lain, Sarah tengah mengetuk pintu kamar Ruby. Tetapi gadis tersebut tidak kunjung membuka pintu. Alhasil Sarah nekat membuka pintu tanpa izin sang pemilik. Dia sama sekali tidak melihat keberadaan Ruby di kamar. Menyebabkan dahinya sontak mengernyit heran.


"Ya... dimana dia?" tanya Sarah.


"Dia ada di ruang belakang. Bermain..." Gaby menjawab dengan nada enggan. Dia seharusnya merahasiakan kegiatan Ruby, karena sudah berjanji. Namun sepertinya dia tidak mampu berbohong ketika berhadapan dengan Sarah.


"Apa?! Bermain?" Sarah merasa tidak percaya. Dia bergegas melangkah menuju ruang belakang. Tempat dimana beberapa bawahannya sering berkumpul.


Sementara Ruby sendiri, benar-benar sedang asyik bermain. Dia bermain kartu poker bersama tiga orang bawahan Ryan. Dan salah satunya adalah Mike.


Ruby sudah tiga kali kalah. Dia sudah kehabisan uang tunai yang telah dipinjamnya dari Gaby dan Mike.


"Yes, kau kalah lagi, Ruby! Makan itu, hahaha!" ejek Max salah satu orang yang menjadi lawan main Ruby.


Sepertinya Ruby telah mengenal separuh bawahan Ryan. Itu dilakukannya karena dia semakin akrab dengan Mike dan Gaby. Bahkan beberapa bawahan Ryan, sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan nama.

__ADS_1


Ruby perlahan mendekatkan mulut ke telinga Mike dan berbisik, "Mike, apa kau masih ada uang. Aku berjanji akan membayarnya nanti."


"Tidak, Ruby." Mike menggeleng tegas. "Cukup sampai di sini, kau sudah bermain terlalu banyak!" tambahnya, berupaya mengingatkan.


"Ini baru empat kali. Aku mohon!..." Ruby menohon sambil mengatupkan kedua tangannya menjadi satu. "Aku janji ini yang terakhir!" sambungnya lagi.


"Kenapa kamu tidak pinjam uang dengan bos. Aku yakin kau tidak akan kehabisan uang!" Pungkas Max. Sebilah rokok terlihat diapit oleh bibirnya.


"Cih! Tidak. Aku sedang tidak ingin melihat wajah bosmu itu!" sahut Ruby sinis.


Ceklek!


Pintu tiba-tiba terbuka. Muncullah Sarah yang di iringi Gaby dari belakang.


"Sorry..." ucap Gaby tanpa suara dengan mulutnya. Dia menatap penuh harap ke arah Ruby.


Ruby yang menyaksikan tentu bingung. Dia tidak mengerti kenapa Gaby meminta maaf kepadanya.


"Ruby, inikah yang kau lakukan sekarang?!" timpal Sarah. Mimik wajahnya tampak marah. Menyebabkan semua bawahan Ryan bangkit dari tempat duduk. Berdiri menghadap ke arahnya.


"Apa maksudmu, Sarah?" Ruby benar-benar tidak mengerti kalimat timpalan Sarah. Dia bahkan satu-satunya orang yang duduk santai dikursi.


"Ryan sedang kesulitan sekarang. Dan kau malah bermain-main di sini?! Istri macam apa kau!" Geram Sarah. Dia melangkah lebih dekat dengan Ruby.


"A-apa? Kesulitan kau bilang?" Ruby terperangah. Dia memutar bola mata, kemudian berdiri berhadapan dengan Sarah. "Kesulitan untuk mendapatkan uangnya, maksudmu? Bukankah hal yang hanya dipikirkan lelaki itu adalah uang dan kemenangan?!" Tukasnya, tidak ingin kalah.


Sarah berdecak kesal. Dia sebenarnya tidak ingin membuat pertengkaran. Apalagi dengan Ruby.


"Oke, terserah apa yang ingin kau pikirkan tentangnya. Tetapi jika kau masih ingin tetap tinggal di sini, lebih baik kau temui dia sekarang!" ucap Sarah disertai nada penuh penekanan.


"AKU TIDAK MAU!" Sahut Ruby. Menegaskan dengan suara keras. Lalu beranjak pergi menjauh dari Sarah.

__ADS_1


__ADS_2