
...༻❀༺...
Ryan terdiam seribu bahasa. Dia segera membuang muka dari Megan. Namun tangan Megan dengan sigap menangkup wajahnya. Memutar pelan agar bisa saling berhadapan lagi. Kemudian memagut lembut bibir Ryan. Belum sempat lima detik, Ryan sudah melepaskan tautan bibirnya dari Megan.
"Aku harus pergi," ucap Ryan sembari berbalik badan. Lalu meraih bajunya.
Megan memutar bola mata malas. Seringai terukir diparasnya. "Oh, sekarang aku tahu. Kau jatuh cinta kepada Ruby," ujarnya. Badannya menyandar ke lemari yang ada di samping kanannya.
Mendengar perkataan Megan, Ryan sempat terkejut. Jari-jemarinya berhenti menyematkan kancing baju. Meskipun begitu, lelaki tersebut berusaha tetap tenang. Dia lagi-lagi terdiam dan tidak mengucapkan apapun kepada Megan.
"Makanya kau begitu terobsesi dengannya. Bahkan aku dengar, kau sampai mengeluarkan banyak uang untuk membuatnya kembali. Itukan yang membuat Ruby lebih spesial dibanding diriku dan Sarah? Jawab saja Ryan," timpal Megan. Dia kini memasang gaya tangan yang menyilang didada.
Ryan masih memilih membisu. Dia sepenuhnya telah selesai mengenakan pakaian. Sebuah mantel panjang dan tebal tentu tidak lupa untuk dipakai.
"Jika kau tetap tidak mau menjawab, bagaimana bila aku beritahu Ruby, kalau orang-orang yang melakukan pengejaran terhadapnya adalah suruhanmu." Megan berucap sambil memandangi kuku-kukunya seperti biasa.
Akhirnya Ryan berbalik badan, lalu menghampiri Megan. Tatapan tajamnya segera terpasang dari sorot matanya. "Bisakah kau diam?!" Ryan memegang kuat pundak Megan.
"Kau tidak menjawab, karena takut aku akan pergi? Tenang saja, Ryan. Di dunia ini aku sudah tidak memiliki siapapun selain dirimu. Kau tahu itu. Semua orang juga mengetahui cerita tentang pernikahan berdarahku..." mata Megan tampak getir. Dia mulai berkaca-kaca kala mengingat masa lalu.
"Aku harus pergi!" Ryan melingus begitu saja melewati Megan. Dia hendak lekas-lekas pergi agar tidak di timpali semakin banyak pertanyaan.
Megan sekarang sendirian. Dia tidak punya pilihan selain ikut keluar dari kamar. Gadis berambut pirang itu langsung memanggil pengawal pribadinya.
"James!" pekik Megan. Akan tetapi orang yang dipanggilnya tak kunjung datang. Megan berinisiatif menghubungi James melalui panggilan telepon. Belum sempat satu menit, James sudah tiba di hadapan Megan.
"Ada apa, Miss?" tanya James gelagapan.
"Apa pencarianmu telah selesai? Apa ada sesuatu yang mencurigakan tentang Ruby?" Megan menagih jawaban dari James. Sebab pengawal pribadinya tersebut memang mendapat tugas untuk mencari identitas Ruby yang sebenarnya.
__ADS_1
James kebingungan harus menjawab apa. Sebab dia akan mendapat pelajaran dari Ryan, jika nekat melakukan pencarian. James akhirnya terpaksa menjawab dengan kalimat yang disarankan Ryan. Yaitu mengatakan bahwa Ruby hanyalah seorang gadis biasa.
"Benarkah? Kau yakin?" tanya Megan meragu.
James berupaya menunjukkan ekspresi meyakinkan. Satu anggukan tegas dilakukannya. "Aku yakin!" katanya menambahkan. Agar Megan dapat semakin percaya.
"Baiklah kalau begitu. Kau bisa lanjutkan aktifitasmu!" ujar Megan seraya melakukan pose mengusir dengan tangannya. Alhasil James pun memisahkan diri dari Megan.
Ryan sedang berada di dalam mobil. Dia kebetulan duduk di depan setir. Memainkan sebuah benda antik yang memiliki gambar serupa dengan tatonya. Tidak lama kemudian, sosok lelaki masuk ke dalam mobil. Dia memakai topi fedora dan memegang segelas karton berisi kopi hangat. Lelaki itu langsung mengamati gerak-gerik Ryan.
"Kau kenapa? Baru kali ini aku melihat seorang bos mafia terlihat gelisah," tegur lelaki yang tidak lain adalah John.
Ryan seketika tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke samping. Tepat dimana James berada. "Ketiga istriku sedang mengalami kekacauan." Ryan memberitahu John apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
John terkekeh sesaat. Dia menyesap kopi hangatnya terlebih dahulu, kemudian menjawab, "Sekarang kau bisa melihat kesulitan, akibat memiliki banyak perempuan. Ngomong-ngomong, ada seseorang yang paling kau sayangi?"
"Maksudmu gadis yang aku kejar kemarin. Kalau tidak salah namanya..." John mencoba mengingat nama istri ketiga Ryan. Nama yang hendak dia sebutkan rasanya sudah berasa di ujung lidah.
"Ruby." Ryan menyebutkan nama gadis yang sedari tadi membuat John bertanya-tanya.
"Benar, Ruby. Bukankah dia adalah gadis--"
Syut!
Kalimat John terhenti, saat Ryan menginjak rem secara tiba-tiba. Badannya sontak tersentak akibat hal tersebut. Suara klakson mobil-mobil yang ada disekitar terdengar saling bersahut-sahutan. Mereka tentu melakukan aksi protes kepada Ryan yang mendadak menghentikan mobil.
"Maaf, aku seharusnya tidak membicarakannya." John lekas-lekas menarik ucapannya.
__ADS_1
Ryan memasang wajah serius diwajahnya. Dia yang sempat melotot tajam, kembali menjalankan mobil dengan tenang.
"Bagaimana aku beri masukan kepadamu. Kau beritahu saja kepada Megan dan Sarah, kalau kau tidak mencintai mereka. Biarkan mereka memilih untuk pergi atau tidak." John kembali bersuara. Dia memberikan saran terbaiknya.
"Aku ingin melakukan itu. Tapi, aku takut Megan dan Sarah akan menyakiti Ruby dibelakangku. Seperti yang pernah mereka lakukan tempo hari. Apa kau tahu? Jika aku tidak cepat datang, Ruby bisa saja terbunuh!" terang Ryan dengan dahi yang mengerut dalam.
"Jika Megan dan Sarah nekat melakukan itu. Berarti mereka cemburu kan?" respon John dengan lirikan seriusnya.
"Megan baru saja mengungkapkan perasaannya tadi pagi. Dia bilang sudah jatuh cinta kepadaku. Mengenai Sarah, aku rasa tidak. Dia hanya tergila-gila dengan jabatan dan misinya." Ryan menjelaskan sembari fokus menatap lurus ke depan.
"Terdengar sangat rumit. Kau sebaiknya lakukan saja yang aku sarankan kepadamu. Karena perselisihan yang terjadi dalam kubu lebih berbahaya, Ryan. Kau tahu itu!" John kembali meminum kopinya. Menghabiskannya hingga tidak ada yang tersisa.
"Kau benar. Aku tidak bisa terus memaksa mereka untuk tetap tinggal. Kecuali Ruby, aku ingin dia tinggal disisiku selamanya!" ungkap Ryan menegaskan. Mobilnya berjalan memasuki sebuah gang. Kemudian berhenti di depan sebuah gedung terbengkalai.
"Apa yang telah diperbuat gadis itu kepadamu, Ryan?" John menggeleng tak percaya.
"Kita sudah sampai." Ryan keluar dari mobil lebih dahulu. Di iringi oleh John setelahnya. Dia bergabung bersama komplotannya yang ada di dalam gedung.
Semua gerombolan yang ada adalah bawahan Ryan. Mereka berjumlah sekitar lima belas orang. Mereka baru saja menuntaskan misi sederhana. Yaitu menangkap target Ryan yang tidak lain adalah Ethan.
Ethan tampak terkulai lemah di lantai yang dingin. Lebih dingin dari cuaca yang ada di luar. Beberapa titik badannya dipenuhi lebam dan luka. Hidung dan mulutnya terlihat mengeluarkan cairan merah berbau amis. Melihat kedatangan Ryan, dia berseringai.
Ryan melepaskan mantel dan melemparkannya kepada salah satu bawahannya. Tangannya langsung mencengkeram erat kerah baju Ethan. Mengangkatnya, hingga wajah Ethan bisa berhadapan dengannya.
"Lihat apa yang kau dapat setelah berkhianat kepadaku!" tukas Ryan. Tersenyum sampai menampakkan deretan gigi bagian atas.
"Oh... hai, Ryan. Senang bertemu dengan ketua mafia paling cabul sedunia!" balas Ethan. Mengukir senyuman tak bersalah.
"Keparat!" Ryan menghempaskan Ethan ke dinding. Membuat darah otomatis semakin banyak keluar dari mulut Ethan.
__ADS_1
"Kau pasti ingin mati. Baiklah jika itu pilihanmu." Ryan mengambil pistol yang disodorkan langsung oleh bawahannya. Menyebabkan mata Ethan membulat sempurna.