
...༻❀༺...
Ryan menurunkan Ruby dari gendongannya. Keduanya memutuskan beristirahat di pom bensin terdekat. Mereka singgah ke mini market untuk membeli obat dan air minum.
"Apa yang terjadi kepada kalian berdua? Kalian terlihat sangat berantakan," tegur kasir yang berjaga. Mengamati Ryan dan Ruby secara bergantian.
Ryan memilih bungkam. Dia malas berbasa-basi. Apalagi kepada orang asing.
"Hanya masalah rumah tangga, suamiku suka meledakkan sesuatu di rumah. Dan beginilah jadinya." Ruby mengarang cerita untuk menjawab pertanyaan sang kasir.
"Itu mengerikan..." kasir wanita itu menatap takut ke arah Ryan.
"Terima kasih atas pujiannya." Ryan melayangkan tatapan tajam. Membuat si kasir wanita menciut. Dia tampak lekas-lekas menghitung harga barang yang dibeli Ryan.
Ruby segera mencubit lengan Ryan, agar suaminya tersebut berhenti bersikap mengerikan. Akan tetapi, Ryan sama sekali tidak menghiraukan cubitan Ruby. Bagi Ryan, rasa sakit yang diberikan Ruby sama sekali tidak berarti. Ruby kini hanya cemberut dan membiarkan sang suami berbuat sesuka hati.
Setelah membayar semua barang di meja kasir. Ryan dan Ruby berjalan keluar mini market. Kali ini Ryan membiarkan istrinya berjalan sendirian.
"Keterlaluan!" gerutu Ruby sembari memaksakan diri untuk melangkah.
Ryan berkacak pinggang. Memperhatikan sebuah mobil cadillac yang baru berhenti di pom bensin. Kebetulan pemiliknya adalah seorang lelaki paruh baya yang tampak menggunakan topi koboi. Dia memilih pergi ke toilet sebentar.
Ryan berseringai, kemudian menembakkan peluru ke kamera CCTV. Kelakuannya sontak membuat kasir wanita dan tukang bersih yang berjaga terkejut. Bahkan Ruby sekali pun.
"What the fu*ck, Ryan!" protes Ruby.
Ryan berlari masuk ke dalam mobil cadillac. Mengemudikannya, lalu berhenti tepat di depan Ruby.
"Ayo masuk, Babe! Kita tidak punya waktu!" titah Ryan. Ruby yang akhirnya mengerti, bergegas masuk ke dalam mobil. Saat itulah pemilik mobil cadillac yang asli keluar dari toilet.
"Hei! My car!!!" teriak Lelaki bertopi koboi tersebut. Dia hanya bisa berlari untuk mengejar mobilnya yang dicuri. Usahanya tidak membuahkan hasil sedikit pun. Ryan malah semakin melajukan mobil kian menjauh darinya.
Tiga hari berlalu. Ryan dan Ruby memilih tinggal di kota Arizona sebentar. Sebelum itu, Ryan tidak lupa untuk mengambil briefcase pentingnya di markas. Dia melakukannya saat Ruby sedang berobat di sebuah klinik.
"Aku sudah mengirimkan imbalan kepada semua orang yang terlibat dalam misi pembalasan. Termasuk Ethan dan Henry. Beritahu juga kepada kubu-kubu mafia yang sudah membantuku, kalau aku siap bekerjasama, ketika pencarian besar-besaran polisi telah selesai. Satu hal lagi, bersembunyilah dan berhati-hatilah dimana pun kalian berada." Ryan memberitahukan pesan itu melalui sebuah aplikasi di ponselnya. Dia baru menyudahi urusannya di bank. Ryan mengirimkan banyak uang kepada seluruh anggota yang tersisa.
Ponsel Ryan mendadak berdering. Dia lantas mengangkat panggilan tersebut.
"Ryan? Aku sedang dalam perjalanan keluar negeri sekarang. Ethan dan Henry mengajakku untuk ikut bersembunyi. Mereka sangat menyebalkan! Beritahu aku kau ada dimana?" sosok yang menelepon ternyata adalah Megan. Suaranya terdengar begitu pelan. Kemungkinan dia masih mencoba menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Kau pergi saja bersembunyi bersama Ethan dan Henry. Jaga dirimu," jawab Ryan.
"Tapi--" suara Megan tidak terdengar lagi, karena Ryan memutuskan sambungan telepon lebih dahulu.
Ryan pergi ke klinik untuk menjemput Ruby. Istrinya itu sudah sepenuhnya sehat. Perawat baru saja mengganti perban yang ada dikaki Ruby.
Ceklek!
Pintu terbuka. Ryan muncul sambil membawa satu kantong berbahan kertas. Dia membawakan burger untuk makan malam Ruby.
"Istrimu sudah bisa pulang sekarang," ujar perawat cantik keturunan negro. Dia bersiap hendak pergi keluar ruangan.
"Terimakasih, Suster." Ruby menjawab dengan senyuman tipis. Membuat Ryan otomatis ikut mengucapkannya juga. Mereka membiarkan perawat itu berlalu pergi.
"Aku membawakan pesananmu. Makanlah!" Ryan memberikan tas kertas berisi burger kepada Ruby. Gadis tersebut langsung melahap hidangan dengan roti yang di isi oleh daging serta sayuran itu.
"Bagaimana kabar Mike dan Gaby? Mereka bersembunyi dimana?" tanya Ruby. Dia baru selesai menelan kunyahan burger pertama.
"Aku dengar mereka pergi ke Kanada. Mereka baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," jelas Ryan sembari duduk menghadap ke arah Ruby. Dia menatap lekat istrinya yang sedang sibuk menikmati makanan.
"Lalu Megan dan Ethan?" Ruby membalas tatapan Ryan. Baru terlintas nama Henry dalam ingatannya. Dia tentu juga harus menanyakan lelaki yang telah dianggapnya seperti ayah kandungnya itu. "Ah benar, Henry memilih pergi kemana? Aku kehilangan ponselku. Jadi tidak bisa menghubunginya," sambungnya. Kembali menimpalkan pertanyaan.
"Tapi--"
"Halo, kami dari kepolisian. Kami harus memeriksa klinik ini, karena menurut informasi, buronan kami sedang berada di wilayah ini."
Suara bariton seorang lelaki sukses memotong pembicaraan Ruby. Sosok tersebut sepertinya tengah berada di meja resepsionis. Tidak begitu jauh dari posisi kamar Ruby.
Baik Ruby atau pun Ryan, sama-sama membisu. Setelah mendengar seluruh perkataan lelaki dari kepolisian tersebut, Ryan dan Ruby lekas-lekas melarikan diri. Mereka kabur melalui jendela yang ada di kamar.
Ryan memegang erat jari-jemari Ruby. Membawanya untuk berlari bersamanya melewati jalanan trotoar yang dipenuhi banyak orang. Kebetulan musim dingin sudah berakhir. Musim semi yang penuh akan bunga, mulai menyapa suasana.
"Itu mereka!" Ryan dapat mendengar suara teriakan polisi dari belakang. Dia dan Ruby sontak melajukan larinya.
Menyadari ada beberapa polisi yang mengejar. Ryan dan Ruby memilih bersembunyi sebentar. Keduanya berlindung di balik tembok pagar sebuah apartemen tua. Mereka menenggelamkan badannya saat polisi berhenti berlari tepat di hadapan.
Dua orang polisi yang ada, sepertinya mempunyai insting luar biasa. Mereka terlihat masuk ke lingkungan apertemen tua tempat Ruby dan Ryan bersembunyi.
Ryan dan Ruby lantas diam-diam berdiri. Lalu berjalan mengendap-endap untuk melanjutkan pelarian. Usahanya berjalan lancar, sampai akhirnya salah satu polisi menyadari keberadaan mereka. Alhasil dua polisi itu kembali melakukan pengejaran.
"Aku tidak tahu kenapa. Tetapi ini sangat menyenangkan..." ungkap Ryan sembari tergelak kecil.
__ADS_1
"Ya, tapi aku tidak boleh terlalu banyak berlari..." Ruby berbicara disela-sela kegiatan larinya. Dia sempat terkekeh bersama Ryan. Nafasnya mulai bergerak naik turun dalam tempo cepat. "Kata dokter, luka dikakiku bisa berdarah lagi..." tambahnya.
Ryan yang mendengar, menghentikan larinya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hingga atensinya tertuju ke arah sebuah bar yang berkedok klub malam. Tempat tersebut terlihat besar. Ryan yakin, polisi pasti akan kesulitan mencarinya di sana.
"Ayo, ikut aku!" Ryan menyeret Ruby masuk ke area klub malam. Tangan keduanya masih bertautan erat. Mereka bergegas masuk ke dalam salah satu sisi gelap klub malam. Tempat itu sangat minim akan cahaya. Hanya dipenuhi oleh beberapa pasangan yang asyik bercumbu.
Ruby menyandarkan punggungnya ke dinding. Belum sempat dirinya mengatur nafas, Ryan tiba-tiba saja menyambar bibirnya dengan ganas. Bukannya bernafas lega, kini nafas Ruby malah semakin sulit di kontrol. Meskipun begitu, Ruby tidak mampu menolak sentuhan dari Ryan.
Ryan dan Ruby mulai bergulat intens dengan indera pengecap mereka. Sesekali keduanya harus memiringkan kepala agar dapat berciuman lebih leluasa. Mereka bercumbu cukup lama, hingga Ryan perlahan melepaskan tautan bibirnya, kemudian berkata, "Aku pikir, kita butuh kamar motel!"
Ruby mengangguk beberapa kali, dan membalas, "Ya, tetapi aku ingin melakukannya sekarang!" Setelah berucap begitu, dia memagut bibir Ryan kembali. Satu tangannya mengacak-acak rambut Ryan. Sedangkan tangan yang lainnya, sibuk menarik kerah baju suaminya itu.
..._______...
Hai semua. Tidak terasa cerita ini selesai ya 🤗. Dan, sebenarnya aku sudah mempersiapkan kerangka untuk season dua. Tetapi aku nggak tahu kalian tertarik atau tidak. Takutnya pas aku lanjutin, orang-orangnya pada menghilang entah kemana. Hehehe...
Pokoknya aku ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, buat pembaca yang masih setia sampai sini. Terutama buat pembaca yang bersedia memberikan jejak, baik itu lewat like, komentar, hadiah dan juga vote.
Maaf kalau ada kesalahan, baik itu dari segi penulisan dan kata-kata dalam cerita.
Salam cinta, Auraliv 😘♡.
Oh iya, aku mau kasih bocoran sinopsis buat season dua. Ini bakalan aku lanjutin kalau banyak yang tertarik ya.
...***...
Sinopsis Istri Muda Tuan Mafia Season 2 :
Setelah melakukan misi pembalasan besar-besaran, Ryan dan Ruby memilih bersembunyi. Mereka menjadi pasutri buronan yang paling dicari polisi.
Ryan dan Ruby memutuskan menyamar dan berbaur di sebuah lingkungan harmonis di kota Virginia. Keduanya berpura-pura menjadi pasangan normal. Tetapi bagi Ryan, itu sama sekali tidak mudah. Sifat dingin dan kasarnya sangat sulit dihilangkan.
Ryan sangat membenci anak-anak. Sampai pada suatu hari, dia harus menerima kenyataan kalau Ruby sedang mengandung anak miliknya.
Ryan awalnya syok. Tetapi lama-kelamaan dia menerima anak yang sedang dikandung Ruby. Ryan bahkan kembali mengumpulkan semua anggota The Shadow Holo, hanya demi buah hatinya. Kira-kira apa rencana mereka selanjutnya?
...***...
Btw, masalah di season dua tidak akan serumit season satu. Konfliknya lebih ringan dan santai. Meskipun begitu, adegan action dan deg-degannya nggak bakalan aku hilangin. Terus satu lagi, kalau misalnya season dua banyak yang mau, aku bakalan lanjutin seasonnya di sini aja. Maksudnya, tidak dibuat menjadi novel baru.
Pokoknya kalau kalian berharap cerita ini lanjut lagi, komen di bawah yaa... love youu!
__ADS_1