
...༻❀༺...
Ryan dan Ruby baru saja menyatu dalam tubuh. Mengharuskan Ruby sontak mengangakan mulut. Perutnya merasakan gelitikan tajam. Kedua tangannya berpegangan erat dipunggung Ryan.
Tok!
Suara satu ketukan di pintu membuat Ruby yang tadinya terpejam, segera membuka mata. Ryan bahkan berhenti dari pergerakannya. Kemudian menoleh ke pintu.
"Ryan, bisakah kau teruskan?..." Ruby memutar kepala Ryan untuk menghadap ke arahnya.
"Apa kau mendengar--"
"Pssst... Mungkin itu hanya tikus." Ruby sengaja memotong ucapan Ryan. Jari telunjuknya diletakkan di depan mulut Ryan. Selanjutnya, gadis tersebut menggigit bibir bawah Ryan dengan lembut. Ruby berupaya melancarkan rencana.
Akibat ulah Ruby, darah disekujur badan Ryan berdesir hebat. Lelaki itu akhirnya kembali bergerak maju mundur. Bibirnya sekarang merekat erat dimulut Ruby.
Orang yang tadi mengetuk pintu sebenarnya adalah Gaby. Dia hanya melakukan bagian rencana Ruby. Yaitu memberikan sinyal, kalau Megan dan Sarah tengah dalam perjalanan ke kamar Ryan.
"Mereka sudah sampai mana?" tanya Gaby berbicara melalui ponsel. Dia berkomunikasi dengan bawahan Ryan yang bertugas mengawas CCTV. Namanya adalah Jake.
"Aku yakin, Sarah yang akan sampai duluan. Baru Megan," jawab Jake dari seberang telepon. Dia terdiam sejenak. "Gaby, kenapa kau melakukan ini? Aku tidak mengerti? Bisakah kau beritahu aku?" tanya-nya, penasaran.
"Aku akan jelaskan nanti. Aku sudah mendengar derap langkah seseorang mendekat. Thanks for everything, Jake!" Gaby menutup panggilan telepon. Dia bergegas bersembunyi.
Sarah tiba di depan pintu Ryan. Suara sepatunya memang sangat khas. Dia mengenakan sepatu jenis boots hitam yang modis. Entah kenapa atensi Sarah tertuju ke arah setangkai mawar merah yang tergeletak di lantai. Saat itulah Megan datang. Dia terkejut menyaksikan kehadiran Sarah. Apalagi ketika dirinya melihat Sarah memegang setangkai mawar merah yang tidak asing.
"Sarah? Kau juga mendapatkan..." Megan menjeda kalimatnya, karena telinganya mendengar suara yang menarik perhatian. Yaitu suara lenguhan Ruby. Di iringi oleh Ryan yang kapasitas suaranya tentu tidak senyaring Ruby. Namun dapat terdengar dari luar kamar.
"Shi*t!" umpat Sarah, kesal. Tangannya otomatis mematahkan tangkai bunga mawar yang dipegangnya. Kemudian menginjak-injaknya di lantai.
__ADS_1
Megan hanya mematung di tempat. Dia terperangah tak percaya. Dirinya tak bisa berkata-kata lagi. Akibat tidak tahan lagi mendengar lenguhan mesra Ryan dan Ruby, Megan lantas bergegas beranjak kembali ke kamar. Wajahnya memerah padam. Tanpa sepengetahuannya, Sarah mengikuti dari belakang.
Sementara di dalam kamar, Ryan dan Ruby masih melakukan pergerakan. Keduanya mulai bermandikan keringat. Menyebabkan badan mereka mengkilap secara alami.
"Kenapa... de*sahanmu agak berlebihan?..." tanya Ryan disela-sela deru nafasnya yang tak teratur.
Ruby tidak mampu langsung menjawab. Dia masih sibuk terlena dengan kenikmatan yang diberikan suaminya. Selang sekian detik, Ruby akhirnya berupaya untuk berbicara.
"Bukankah..." kalimat Ruby tersendat, karena pergerakan Ryan yang belum berhenti. "Kau... menyukainya..." sambungnya. Melengkapi kalimat yang hendak diucapkannya.
Ryan tiba-tiba berhenti. "Iya, aku menyukainya. Tetapi yang kau lakukan tadi seperti dibuat-buat. Kau tahu aku suka sesuatu yang dilakukan secara natural..." katanya. Menatap Ruby yang sudah tampak melemah.
"Terserah apa katamu, Ryan..." Ruby mendongakkan kepala. Dia menenggak salivanya sendiri beberapa kali. Ruby sebenarnya tidak bisa membantah pendapat Ryan. Sebab dirinya memang sengaja mengerang nyaring, agar Megan dan Sarah dapat mendengar.
Ruby berpikir olahraga intimnya dengan Ryan telah berakhir. Tetapi kenyataannya tidak. Ryan kembali melakukan pergerakan. Lelaki itu bertekad membuat Ruby mengerang nyaring secara alami. Tidak terkesan dibuat-buat seperti beberapa menit lalu. Dia lantas melakukannya lebih cepat dari sebelumnya. Menyebabkan Ruby sontak kembali terangsang.
"Ryan!" Ruby tidak henti mengerang sambil mengelu-elukan nama suaminya. Menyebabkan Ryan merasa kian bersemangat. Mereka terus melakukannya sampai mampu saling memuaskan hasrat satu sama lain.
PRANG!
Di kamar, Megan mengamuk. Dia melampiaskan kemarahan dengan menghempaskan barang-barang tak bersalah ke lantai. Wajahnya masih memerah akibat pitam yang melonjak naik.
"Aku akan membunuhnya!!!" pekik Megan. Kemudian menjatuhkan semua benda yang ada di atas nakas. Gelas yang kebetulan ada di sana, langsung pecah menjadi serpihan-serpihan kaca yang tajam.
Sarah sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Megan. Dia menontoni amukan Megan. Ketika Megan berhenti, barulah Sarah masuk ke dalam kamar. Dia duduk di kursi yang ada di depan lemari rias.
"Ruby sepertinya balas dendam kepada kita. Mungkin dia masih merasa belum cukup dengan hukuman yang diberikan Ryan kepada kita. Gadis itu ternyata gila!" celetuk Sarah. Dia mengambil sebotol bir yang kebetulan ada di lemari rias. Lalu menenggaknya langsung dari botol.
__ADS_1
Megan duduk di ujung kasur. Posisinya berada tepat di hadapan Sarah. Tangannya merebut bir yang dipegang Sarah. Dia ikut-ikutan menenggak cairan beralkohol itu langsung dari botol. Eye liner hitamnya terlihat luntur akibat air mata yang tanpa sengaja menetes. Keadaan Megan tampak lebih menyedihkan dibanding Sarah.
"Apa Ryan akhir-akhir ini juga tidak melakukannya kepadamu?" tanya Megan serius. Dia membicarakan perihal sikap Ryan yang cenderung mengabaikannya akhir-akhir ini.
Sarah menggeleng pelan dan berkata, "Yang membuatku marah bukan itu. Tetapi betapa liciknya rencana Ruby. Aku tidak menyangka dia menggunakan Ryan untuk menyingkirkan posisi kita!"
"Aku pikir Ruby sedang menyatakan perang dengan kita. Sekarang aku tahu, kenapa dia bersikap seperti malaikat kemarin!" ungkap Megan seraya mengeratkan rahang sebal.
"Ya, setidaknya kita sudah tahu alasannya," respon Sarah. Menampakkan mimik wajah masam. "Andai kau tidak meninggalkannya kemarin, mungkin ini tidak akan terjadi," imbuhnya, yang tentu berhasil membuat kemarahan Megan kembali.
"Apa kau menyalahkanku?!" Megan langsung merasa tersindir.
"Tenanglah, Megan. Aku tidak mau berdebat denganmu sekarang!" balas Sarah. Dia mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Kita tidak bisa tinggal diam, Sarah!" Megan menatap Sarah dengan penuh tekad.
"Lebih baik kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya. Jika Ruby masih saja mempojokkan kita, maka barulah kita bertindak!" Sarah memberikan usul.
"Kau saja yang begitu. Tetapi aku tidak! Besok aku akan langsung menjalankan rencanaku sendiri!" Megan bersikeras dengan pilihannya. Rasa cemburu telah membakar semua logika yang ada dalam otaknya.
"Kau mau apa?" tanya Sarah.
"Lihat saja nanti," jawab Megan ambigu. Dia menunjukkan ekspresi datar diparasnya. Lalu meneguk bir lebih banyak lagi.
Sarah segera bangkit dari tempat duduk. Dia melangkah menuju pintu. Akan tetapi panggilan Megan berhasil menghentikan jalannya. Sarah reflek menoleh ke arah Megan yang masih duduk di ujung kasur.
"Apa?" Sarah menuntut jawaban.
"Bila kau sudah membuat keputusan, beritahu aku. Aku yakin kita akan bisa lebih cepat menyingkirkan Ruby, jika kita saling bekerjasama," jelas Megan, memberitahu. Sarah hanya merespon dengan anggukan kepala, lalu benar-benar beranjak pergi.
__ADS_1