Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 43 - Tentang Henry


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan meneruskan ceritanya. Dia mengatakan bagaimana cara Lucy bisa meninggal. Ryan memberitahu kalau Lucy kehilangan nyawanya, akibat kecelakaan mobil.


"Ibumu tidak berhasil selamat. Tetapi sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia menyuruhku untuk mencarimu," kata Ryan. Terlintas jelas dalam ingatannya bagaimana semua insiden buruk tersebut terjadi. Dia benar-benar ingin melupakannya, namun otaknya menolak. Ryan sangat benci ketika dirinya harus kehilangan rekan kepercayaannya. Apalagi seseorang seperti Lucy.


"Jadi, pertemuanku denganmu bukanlah kebetulan?" Ruby menyimpulkan.


"Entahlah. Aku rasa memang kebetulan. Sebenarnya aku sangat kesulitan menemukanmu. Karena kau sering hidup berpindah-pindah tempat. Lucy tidak memberikan aku fotomu. Bahkan pihak panti asuhan juga hanya memiliki foto dirimu saat masih kecil. Butuh waktu satu tahun lebih untuk menemukanmu," ungkap Ryan sambil geleng kepala.


"Lalu, bagaimana kau bisa menemukanku?" Ruby beringsut mendekati Ryan. Rasa penasarannya memuncak.


"Aku rasa pertemuan kita memang hanya kebetulan. Jujur aku sudah tertarik kepadamu, saat pertama kali melihatmu. Ketika dirimu duduk di salah satu meja yang ada di kasino, aku bergegas menghampirimu karena hendak memastikan sesuatu. Rupamu begitu mirip dengan ibumu. Sementara matamu..." Ryan tidak menyelesaikan kalimat akhirnya.


"Mataku? Apa kau juga mengetahui tentang ayahku?" tanya Ruby, menebak.


"Dia hanya orang jahat yang sama sekali tidak peduli kepadamu. Lebih baik kau tidak perlu mengetahuinya," jawab Ryan.


Ruby membisu sesaat. Dia berpikir perkataan Ryan ada benarnya. Untuk apa dia mengetahui seseorang yang tidak peduli kepadanya. Menemuinya pun tidak pernah.


"Kau benar. Kepedulian Lucy saja sekecil itu kepadaku, apalagi dirinya. Dia mungkin tidak pernah menganggapku sebagai anak!" balas Ruby. Mendengus kasar. Sebenarnya dia merasa lebih penasaran dengan sosok Henry. Jujur saja, Henry salah satu orang yang berjasa merubah hidup Ruby menjadi lebih baik. Meski yang diajarkannya adalah perbuatan tercela, tetapi setidaknya hal itu memberikan Ruby gairah untuk hidup.


"Aku ingin sekali menemukan Henry. Kau tahu, setelah dia menghilang, aku berusaha mencarinya kemana-mana. Sebenarnya alasan utamaku pergi dari panti asuhan adalah karena Henry..." ujar Ruby yang diakhiri dengan lirih.


Ryan menatap selidik Ruby. Gadis itu masih sibuk menjelaskan tentang sosok jati diri Henry. Ryan tambah penasaran ketika Ruby bercerita panjang lebar. Henry itulah, Henry inilah.


"Ruby!" panggil Ryan, yang tentu berhasil menjeda penjelasan Ruby. Gadis tersebut terheran.

__ADS_1


"Apa Henry cinta pertamamu? Kau sepertinya dulu sangat menyukainya..." tanya Ryan dengan raut wajah seriusnya. Dia mengira Henry adalah pangeran tampan yang telah berhasil menyelamatkan hidup Ruby.


Bukannya menjawab, Ruby malah memecahkan tawa. Dia tidak bisa menghentikan gelitikan yang tiba-tiba muncul diperutnya. Baginya pertanyaan dan ekspresi Ryan sangatlah lucu. Ruby yang tadinya sempat menangis, kini tergelak lepas. Satu tangannya bahkan beberapakali memukul-mukul pahanya sendiri.


Ryan meringis bingung. Dia sama sekali tidak mengerti terhadap respon yang ditunjukkan Ruby. Apanya yang lucu? Sudah jelas dirinya bertanya dalam keadaan serius? Bukankah tidak salah menanyakan perihal perasaan Ruby kepada Henry?


"Kenapa kau malah tertawa. Aku menanyakan hal serius," protes Ryan sembari memegangi pundak Ruby. Mencoba menyadarkan istrinya tersebut.


Ruby lantas menenangkan diri. Dia menghela nafas panjang, lalu berkata, "Ryan, saat aku kecil Henry adalah seorang lelaki paruh baya. Bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadanya? Aku menganggapnya seperti seorang ayah."


Ryan lekas membuang muka. Dia berusaha menutupi wajahnya yang memerah malu. Meskipun begitu, dirinya merasa lega saat mengetahui kalau Henry hanyalah seorang lelaki paruh baya. Sekarang kemungkinan usia Henry bisa diperkirakan mencapai setengah abad.


Ruby tiba-tiba menatap lekat Ryan. Dia merasa kembali melihat sosok Ryan yang dulu. Tepat kala dirinya dan Ryan hidup berduaan dan saling melengkapi satu sama lain.


Tangan Ruby memegangi kemeja yang dikenakan suaminya. Dia perlahan mendekatkan diri kepada Ryan. Suaminya itu lantas membalas tatapannya.


"Maksudmu... kau ingin aku memutuskan Megan dan Sarah?" Ryan menyimpulkan penuturan Ruby.


"Kumohon, jangan sebut nama mereka. Membuatku tidak berminat lagi untuk menciummu," tukas Ruby. Dia otomatis menjauhkan diri dari Ryan. Keningnya mengernyit sebal.


"Aku hanya bertanya. Kenapa kau marah sekali?" Ryan terkekeh kala menyaksikan mimik wajah Ruby yang kesal.


"Sekarang katakan kepadaku, darah siapa yang ada di bajumu?" tanya Ruby, yang mendadak terfokus pada bercak merah dibaju Ryan. "Apa kau tadi memukuli Ethan?" tebaknya memastikan.


"Bagaimana kau tahu?... Aku hanya memberinya sedikit pelajaran." Ryan terlihat kembali menyandarkan dirinya ke sofa.


"Harusnya kau obati dia. Bukankah kau mau mengajaknya bekerjasama?" Ruby tidak paham terhadap sikap berlebihan Ryan.

__ADS_1


"Aku harus memberinya banyak pelajaran, agar dia tidak coba-coba berkhianat lagi." Ryan memberi penjelasan seraya memejamkan mata. Kedua tangannya terlipat didada. Ruby hanya menyunggingkan mulutnya ke kanan. Kemudian beranjak dari sofa. Dia berniat membersihkan diri ke kamar mandi.


Kala mendengar derap langkah Ruby, Ryan perlahan membuka mata. Dia segera menoleh ke arah Ruby yang sudah melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Tanpa pikir panjang, Ryan lekas-lekas menghampiri. Dia langsung memeluk Ruby dari belakang, dan berbisik, "Boleh aku ikut?"


"Mandi?!" Ruby meringiskan wajah.


"Ryan, sebaiknya kita jangan terlalu sering melakukannya. Bagaimana jika aku hamil? Aku dengar kau tidak mau memiliki anak?!" Ruby melepaskan paksa pelukan Ryan.


"Benar, tetapi itu tidak akan terjadi. Ayolah Ruby, zaman sekarang banyak sekali beragam alat kontrasepsi yang dijual!" Ryan tergelak kecil. Dia kembali mendekap Ruby. Sekarang lelaki tersebut menambahkan kecupannya ke beberapa titik tubuh Ruby.


"Jika aku hamil, mati kau, Ryan..." rutuk Ruby. Dia pasrah dengan perlakuan Ryan terhadapnya.


Ryan memutar tubuh Ruby untuk menghadapnya. Dia menyumpal bibir Ruby dengan mulutnya. Karena gairah yang menggebu, Ryan tidak melakukan ciuman yang lembut. Akan tetapi ciuman liar yang seketika berhasil membuat Ruby kewalahan. Kaki Ruby terpaksa melangkah mundur, karena gerakan Ryan yang penuh semangat.


Ruby tidak kuasa menolak, karena dia selalu menikmati sentuhan Ryan yang begitu candu. Terutama ciumannya. Tubuhnya otomatis merespon dengan beragam cara. Dari mulai jantung yang berpacu lebih cepat. Hingga darah disekujur badannya berdesir secara alami.


Bunyi deru nafas memecah keheningan suasana di kamar Ruby. Entah sudah berapa lama indera pengecap Ryan dan Ruby saling bergulat. Menghasilkan suara berdecap yang akan membuat naf*su ingin meminta lebih.


Tangan Ryan menjelajahi setiap jengkal tubuh Ruby. Menyentuh intens bagian yang menonjol dibadan sang istri. Keduanya melenguh secara bergantian. Tampaknya gairah Ryan malam itu sedang berada dipuncak.


Suara ponsel Ruby tiba-tiba berdering. Menyebabkan Ruby sontak melepaskan tautan bibirnya dari Ryan.


"Aku harus--" belum sempat bicara, Ryan malah kembali menyambar bibir Ruby. Tangannya dengan cepat melepas baju yang dikenakan istrinya itu. Tenaga kuat Ryan berhasil membuat semua kancing baju Ruby berjatuhan ke lantai.


Ponsel yang berdering terus menggema. Menyebabkan Ruby tidak fokus lagi dengan kegiatan intimnya. Merasakan hal tersebut Ryan terpaksa mengakhiri sentuhannya. Lalu membiarkan Ruby mengangkat panggilan telepon. Dengan hanya mengenakan bra yang belum sempat dilepas, Ruby segera mengambil ponsel di atas nakas.

__ADS_1


Sementara Ryan hanya bisa mengatur nafas yang tersisa. Dia menatap Ruby dengan sudut matanya. Gairahnya masih belum pudar.


__ADS_2