Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 96 - Pembatalan Rencana [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


"Kau harus ikut aku berkunjung menemui Sean dan Erick ke panti asuhan nanti," ucap Ruby, masih dalam keadaan memeluk Ryan. Matanya terpejam sambil mengembangkan senyuman tipis.


Ryan hanya membisu. Dia membiarkan Ruby bicara dan berbuat sesuka hati. Termasuk bersedia memberikan sentuhan yang di inginkan oleh gadis itu.


Setelah menghabiskan waktu di kamar mandi bersama, Ryan dan Ruby memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Kemudian barulah mereka tidur.



Ryan membuka lebar matanya. Telinganya mendengar suara anak kecil yang menangis. Sebelum beranjak, dia melihat keadaan Ruby di sampingnya. Istrinya tersebut terlihat tertidur pulas. Membuat Ryan tidak tega untuk membangunkan.


Ryan beringsut ke ujung kasur. Kemudian berjalan keluar dari kamar. Suasana sangat gelap, karena lampu di beberapa ruangan memang sengaja dimatikan. Ryan mengikuti suara tangisan yang dia duga berada dalam rumahnya sendiri.


Langkah Ryan perlahan menuruni tangga. Hingga suara tangisan yang terdengar semakin nyaring. Pertanda Ryan sudah dekat dengan sumber suara.


Mata Ryan terbelalak saat melihat seorang anak lelaki menangis di ruang tamu. Anak tersebut terlihat basah kuyup. Menangis dalam keadaan menenggelamkan wajah pada lututnya yang terlipat.


Seolah menyadari kehadiran Ryan, si anak kecil tiba-tiba menghentikan tangisnya. Lalu menoleh tepat ke arah Ryan.


"Aku dengar kau akan membunuhku. Kenapa kau berniat melakukan itu? Padahal aku bisa saja menjadi seorang lelaki hebat sepertimu kelak. Tapi kau adalah ayahku, aku akan melakukan apa yang kau mau..." lirih anak lelaki itu dengan suara polosnya.


"A-apa maksudmu?" Ryan menggeleng tak mengerti. Dahinya mengukir kerutan. Saat itulah sang anak lelaki berdiri dari tempatnya.


Anak lelaki tersebut tidak menjawab apapun. Dia membuka pintu, dan berlari ke jalanan beraspal. Bertepatan dengan itu, sebuah truk menghantam si anak lelaki. Dia langsung tergeletak di aspal dengan darah yang berlinang.


"Tidak!" Ryan reflek memekik lantang. Dia segera menghampiri sang anak lelaki yang sudah tidak berdaya.


"A-apa... Da-ddy se-senang sekarang... A-aku a-akan mati..." ucap anak lelaki itu dengan terbata-bata. Tubuhnya menjadi gemetaran akibat terhantam truk.


"Seseorang! Tolong!" teriak Ryan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun tidak ada siapapun yang datang. Hanya ada kabut malam yang menyelimuti gelap gulita.


"Frans! Ruby!" Ryan diserang kepanikan. Meskipun dia membenci anak kecil, tetapi dirinya tidak akan tahan jika melihat salah satunya terluka.

__ADS_1


Ryan segera memeriksa denyut nadi anak lelaki yang tadi tertabrak. Anak itu telah tidak sadarkan diri, namun denyut nadinya masih terasa. Ryan bergegas menggendongnya.


Sebelum sempat masuk ke mobil, Ruby mendadak memanggil Ryan. Gadis itu muncul sambil terus memegangi bagian perutnya.


"Kenapa kau menyelamatkannya?" tanya Ruby.


Ryan yang panik, segera meletakkan anak lelaki ke kursi belakang mobil. Kemudian barulah dia menatap Ruby. Sekali lagi mata Ryan harus membulat sempurna. Sebab dia menyaksikan banyak sekali darah di bawah kaki Ruby.


"Ruby!!" Ryan langsung menghampiri Ruby. Kekhawatirannya kian bertambah.


"Ini yang kau inginkan. Kenapa kau takut, Ryan? Kami mengabulkan apa yang kau inginkan..." tutur Ruby dalam keadaan tersenyum tulus. Tetapi cairan bening terus meleleh dari sudut matanya.


"Tidak! Aku tidak mau melihatmu begini!" Ryan akhirnya ikut menangis. Dia diserang kepanikan luar biasa. Matanya menyisir ke sekitar. Berharap ada seseorang yang bisa menolong. Nihil, tidak ada siapapun yang terlihat.


"Tolong! Seseorang, siapapun itu!!!" ujar Ryan dengan nada berteriak. Dia memeluk erat Ruby. Sampai Ryan merasa, bahwa gadis tersebut mulai melemah.


"Ruby!" Ryan mencoba menyadarkan Ruby yang sudah tidak sadarkan diri.


"Ruby!" Ryan memekikkan nama istrinya. Hingga akhirnya dia benar-benar membuka lebar matanya. Pekikan Ryan yang tak terduga, juga berhasil membuat Ruby terbangun. Ternyata semua tadi hanyalah mimpi buruk.


Ryan mengatur nafasnya yang bergerak cepat. Kedua pelipisnya tampak dialiri dengan keringat dingin. Mimpi yang dialaminya tadi terasa sangat nyata. Ryan duduk, kemudian langsung memeriksa keadaan perut Ruby.


Ryan membuka baju yang menutupi perut Ruby. Memastikan tidak ada luka atau pun darah. Ryan dapat mendengus lega, saat perut Ruby masih dalam keadaan sehat. Tangan besar kuatnya menyentuh lembut perut Ruby yang masih terlihat kecil.


"Ryan, apa kau baik-baik saja? Apa kau bermimpi buruk?" Ruby cemas dengan keadaan Ryan.


"Aku pikir begitu..." jawab Ryan sembari mengusap peluh hasil dari rasa paniknya tadi.


"Tidak apa-apa, Babe. Itu hanyalah mimpi." Ruby mencoba menenangkan Ryan. Dia mengelus pundak suaminya dengan pelan.


Ryan terpaku sejenak pada mimpi yang di alaminya tadi. Itu seperti teguran untuknya. Perasaan Ryan sedang tidak karuan. Dia lantas mendekap Ruby untuk menenangkan diri. Namun tetap saja ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya. Ryan tersadar, kalau dirinya sudah sangat keterlaluan.


"Maafkan aku, Ruby..." Ryan memejamkan rapat matanya. Terlintas dalam pikirannya untuk segera menghubungi Frans. Ryan berniat membatalkan niatnya untuk menggugurkan kandungan Ruby.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kenapa kau meminta maaf?" respon Ruby seraya melepaskan pelukan dari Ryan.


"Tidak apa-apa, hanya terbawa cerita di mimpiku saja." Ryan berdalih. "Aku mau minum sebentar," katanya. Sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Kau mau aku yang ambilkan?" tawar Ruby. Menatap Ryan yang sudah berdiri.


"Tidak perlu. Kau lanjutkan saja tidurmu," sahut Ryan. Dia bicara sambil terus berjalan maju. Sampai sosoknya hilang ditelan pintu.


Ryan mengambil ponsel yang tergeletak di meja makan. Kebetulan dia lupa membawanya saat hendak tidur tadi.


Saat menyalakan layar ponsel, Ryan melihat ada puluhan panggilan tidak terjawab dari Frans. Tanpa pikir panjang dia bergegas melakukan panggilan kepada anak buahnya tersebut. Akan tetapi, Frans sama sekali tidak menjawab panggilan. Kini Ryan tidak punya pilihan selain mengirim pesan teks.


...'Frans batalkan rencana kita! Aku tidak akan menggugurkan kandungan Ruby. Lepaskan Lily, dan biarkan dia bebas. Tapi kau harus pastikan dia tidak akan melaporkan kita kepada polisi!'...


Begitulah bunyi pesan yang dikirim Ryan. Dia berpikir, mungkin saja Frans sedang tidur. Karena waktu masih menunjukkan jam tiga dini hari. Selanjutnya Ryan kembali ke kamar. Melanjutkan tidurnya dalam keadaan memeluk Ruby dari samping.


Malam berganti siang. Untuk pertama kalinya Ruby bangun lebih dahulu dibanding Ryan. Gadis itu bahkan sudah berdandan cantik di pagi hari.


Suasana hati Ruby sedang baik. Dia melakukan percobaan di dapur. Ruby berniat memasakkan sesuatu untuk Ryan. Dirinya hanya belajar otodidak dengan cara melihat tutorial di salah satu video youtube.


Ryan tampak baru saja turun dari tangga. Matanya masih dalam mengantuk. Tetapi kala menyaksikan sang istri memasak di dapur, mata Ryan langsung segar.


"Apa-apaan, Babe. Apa kau sedang melakukan uji coba memasak?" tegur Ryan sembari terkekeh. Menatap lekat Ruby yang gelagapan dengan aktifitas memasaknya.


"Jangan mengejekku, Ryan. Aku akan buktikan, kalau aku juga bisa memasak sepertimu!" balas Ruby. Tanpa menoleh ke arah Ryan. Dia benar-benar sibuk.


Ryan merasa terenyuh melihat ketulusan Ruby. Ia menarik Ruby lebih dekat. Lalu memegang wajahnya. Apalagi niat Ryan kalau bukan mencium bibir milik Ruby. Lidahnya dengan cepat menjelajah ke dalam mulut Ruby. Lu*matan Ryan begitu kuat dan menggebu.


"Mmmphh!" Ruby mengerahkan semua tenaga untuk mendorong Ryan menjauh. Hingga tautan bibirnya terlepas dari mulut Ryan.


"Ryan, ini bukan waktunya!" ujar Ruby. Keningnya mengernyit. Dia segera mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


Ryan memilih mengalah. Dia memperhatikan Ruby dari dekat. Sesekali Ryan akan tergelak kecil, ketika mendengar Ruby menggerutu dan memarahi beberapa alat masak.

__ADS_1


"Sini, biar aku bantu!" Ryan mengambil salah satu alat masak, dan ikut bergabung bersama Ruby.


__ADS_2