
...༻❀༺...
Ethan menghentikan mobil dengan pelan ke parkiran. Atensinya terfokus ke arah tempat acara amal dilaksanakan. Bola matanya bergerak mencari-cari keberadaan Ruby. Apalagi ketika dirinya telah keluar dari mobil. Kemudian berderap memasuki area acara amal.
"Ethan! Apa kau mencari Ruby?" Andrew muncul dari arah samping. Ia segera melangkah menghampiri Ethan.
"Ya, dimana dia? Apa kau menculiknya dariku?" pungkas Ethan sembari berkacak pinggang. Menatap Andrew dengan dahi yang berkerut.
"Tadinya begitu. Tapi Ruby lebih tertarik menghabiskan waktunya dengan anak-anak!" sahut Andrew seraya memandangi tempat dimana Ruby berada. Dia dan Ethan perlahan melangkah secara bersamaan. Mendatangi Ruby yang tampak sibuk bermain dengan Sean dan Erick.
"Apa ada masalah yang terjadi di antaramu dan Ruby? Kalian sepertinya sedang bertengkar serius," ujar Andrew. Ia masih menganggap Ethan sebagai suami dari Ruby.
"Biasa, masalah rumah tangga." Ethan menjawab dengan asal. Dia sama sekali tidak peduli terhadap segala ucapan Andrew. Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di tempat Ruby menikmati waktu santainya.
"Ruby, apa yang kau lakukan?" tanya Ethan. Dia duduk tepat di samping Ruby. Menggeser paksa Erick untuk menjauh.
Erick hanya cemberut saat posisi duduknya digeser oleh Ethan. Dia bahkan tidak mengatakan satu patah kata pun.
Ruby segera mendekatkan mulut ke telinga Ethan. Lalu berbisik, "Apa kau membawa uangnya?"
"Ya, ada di dalam dompetku!" sahut Ethan. Ia reflek menatap ke arah Ruby. Sehingga jarak wajah di antaranya dan Ruby terlihat begitu dekat.
"Jangan berciuman di hadapan kami!" tegur Sean. Dia memekik dengan suara menggemaskan. Ethan dan Ruby otomatis menoleh ke arah Sean secara bersamaan.
"Apa kalian berpacaran?" tanya Erick.
"Ayolah, kids! Mereka berdua adalah pasangan suami istri!" Andrew menjawab lebih dahulu. Sebelum Ruby dan Ethan sempat menyahut.
"Apa? Suami?" kening Ruby mengernyit. Menatap tajam kepada Ethan.
"Aku akan jelaskan nanti. I'm sorry..." ucap Ethan kepada Ruby. Bernada begitu pelan.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu cepat serahkan dompetmu!" Ruby membuka lebar telapak tangannya. Mendesak Ethan untuk memberikan apa yang dirinya mau.
Ethan melirik malas. Meskipun begitu, dia tetap menyerahkan dompetnya kepada Ruby. "Kumohon jangan--"
"Ini bayaran untuk kalian. Aku harap kalian senang!" Ruby segera mengambil semua lembaran uang yang ada dalam dompet. Lalu memberikannya kepada Sean dan Erick.
"Thank you so much, Ruby!" Sean melompat-lompat kegirangan. Hal serupa juga tampak dilakukan oleh Erick.
"Berkunjunglah sesekali nanti. Kami tinggal di panti asuhan Santa Maria!" kata Erick dengan penuh semangat.
"Tentu saja!" Ruby mengusap puncak kepala Erick dengan pelan. Mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman tulus.
Ethan berdiri, lalu segera melangkah keluar dari tenda. Perlahan Andrew mendekat ke sebelahnya. Lelaki berseragam polisi tersebut melipat tangan didada sambil memperhatikan kegiatan Ruby. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ethan.
"Ternyata dia juga mencopet dompet suaminya," komentar Andrew. Berhasil membuat Ethan menoleh.
"Ya, dia juga mencopet hal lain dari bagian tubuhku!" sahut Ethan. Dia kembali memusatkan perhatian kepada Ruby.
Andrew yang tak mengerti ucapan Ethan, mengerutkan dahi. Menuntut penjelasan seterusnya.
"Kau harusnya mengatakan hal itu kepada istrimu," balas Andrew. Menggeleng maklum.
"Ya, maka dia akan langsung menampar wajahku." Ethan memegangi salah satu pipinya. Mengingat tamparan Ruby beberapa waktu lalu. Sedangkan Andrew, lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Ethan dan Ruby segera pergi meninggalkan lokasi acara amal.
Ryan memaksa John untuk mengantarkannya ke sebuah tempat. Bangunan yang sangat bagus untuk dijadikan markas rahasia. Letaknya sendiri berada di kota Chicago. Ryan pergi lumayan jauh meninggalkan Ruby.
Setelah melihat-lihat dan melakukan transaksi pembayaran. Ryan langsung memberitahukan semua bawahannya untuk datang ke markas baru.
"Kau tahu, Ryan. Hal yang harus kau pikirkan sekarang adalah istrimu," ujar John, yang baru saja duduk di hadapan Ryan. Tangannya memegangi sebuah gelas yang berisi kopi.
__ADS_1
"Dia bersama Ethan sekarang!" sahut Ryan. Dia duduk sambil meletakkan kedua sikunya ke atas lutut. Tatapannya lurus ke arah lantai yang dipijak.
"Kalau begitu, sekarang harusnya kau tahu perasaan Ruby saat melihatmu bersama Sarah atau Megan. Itu menyakitkan bukan?" John menatap serius Ryan. Kemudian meletakkan gelasnya ke meja. "Ayolah, Ryan! Ruby sedang hamil. Dan ini adalah kehamilan pertamanya!" lanjutnya. Keningnya telah mengernyit. Pertanda John mulai merasa kesal dengan sikap rekannya.
"Aku tidak pernah mengerti kau bisa sangat membenci anak kecil?!" ucap John lagi.
"Itu karena kau tidak pernah tahu apa yang sudah aku alami saat kecil?!" geram Ryan dalam keadaan mata yang menyalang. "Tinggalkan aku sendiri, John..." lirihnya seraya mengalihkan pandangan dari John.
"Kalau begitu beritahu aku. Ceritakan saja apa yang sudah terjadi, sampai kau bisa begitu membenci anak kecil." John memilih tetap diam di tempat. Mencoba berbicara baik-baik kepada Ryan.
"Aku selalu sendirian. Setiap hari, ayahku selalu memukuliku. Sedangkan ibuku... dia menikmati waktunya berselingkuh. Teman-teman seumuranku tidak ada satu pun yang baik. Mereka hanyalah para perundung gila." Tanpa sadar Ryan bercerita. Benaknya kembali mengingat kenangan-kenangan buruk tersebut.
"Kau tahu, hanya satu orang yang peduli kepadaku. Dia adalah seorang wanita tua penjual roti. Tapi suatu hari, dia meninggal karena dibunuh oleh cucunya sendiri. Kau tahu berapa umur cucunya itu?" Ryan menggerakkan bola mata untuk menatap John. Lalu meneruskan, "sembilan tahun. Dia membunuh seseorang sekaligus menghancurkan harapanku."
"Ryan, kau--"
"Aku pikir kita tidak butuh banyak anak kecil di dunia ini bukan? Apalagi diriku? Aku tidak berniat menjadi salah satu orang yang menambah populasi mereka!" Ryan sengaja memotong perkataan John.
"Tapi Ryan, tidak semua anak-anak seperti itu. Ada anak-anak lainnya yang memiliki sikap baik. Bukankah kau juga menjadi salah satunya saat kecil?" timpal John. Berusaha merubah sudut pandang Ryan.
"Bagaimana kau bisa yakin kalau aku anak yang baik? Kau bahkan tidak tahu apa yang sudah aku lakukan kepada ayahku." Ryan mengungkapkan. Dirinya kini duduk bersandar ke sofa. Meletakkan salah satu kakinya ke atas lutut.
"Kau membunuh ayahmu?..." tebak John dengan nada yang meragu.
"Aku pikir begitu," jawab Ryan. Menyebabkan John seketika terdiam seribu bahasa.
Otak Ryan mengingat jelas bagaimana cara ayahnya terbunuh. Kala itu sedang musim dingin. Dia dan ayahnya sedang berada di pinggir jalan. Melangkah dengan cara beriringan. Ryan yang masih berusia delapan tahun, mendadak terfokus dengan seekor burung yang ada di seberang jalan.
Sebagai seorang anak kecil, Ryan bergegas melajukan kakinya untuk menyebrangi jalan raya. Saat itulah sang ayah menyadari kepergiannya. Ayahnya Ryan tampak kesal. Semuanya dapat terlihat jelas dari semburat penuh amarah diwajahnya.
Ayahnya Ryan sangat marah dengan kelakuan sang putra yang bertindak sesuka hati. Sama halnya seperti Ryan, dia berjalan tanpa menoleh ke kanan dan kiri. Berniat menyusul Ryan yang sudah berada di seberang.
__ADS_1
"Ryan!" pekik ayahnya Ryan.
Ryan yang mendengar lekas-lekas berlari. Berupaya melarikan diri dari kejaran ayahnya. Namun baru beberapa langkah menjauh, telinga Ryan mendengar suara rem mobil serta tubrukan yang nyaring. Dia sontak menoleh ke belakang. Mata Ryan langsung membelalak. Bagaimana tidak? Ayahnya tampak sudah bersimbah darah. Jatuh dalam keadaan tengkurap, di atas tanah dingin berselimutkan salju.