
...༻❀༺...
Selama satu minggu lebih, Ryan dan Ruby telah bersembunyi dengan baik. Keduanya selalu lolos dari kejaran polisi. Bagi mereka, semua itu terasa menyenangkan. Kebetulan mereka sekarang berada di Hawai. Kepergian mereka ke sana bukan hanya untuk berbaur, tetapi juga menikmati momen kebersamaan.
Setelah menonton konser bersama, Ryan dan Ruby menyewa kamar di sebuah hotel. Keduanya masuk ke kamar sambil tertawa kecil. Lalu langsung memagutkan bibir. Ciuman ganas dan menggebu dilakukan oleh mereka.
Ryan bergegas melepaskan pakaian atasannya. Menanggalkan kemeja bergambar bunga-bunga khas Hawainya. Hingga dada bidangnya yang diberi gambar tato singa bersayap, terpampang nyata di penglihatan Ruby. Selanjutnya, Ryan kembali memadukan mulutnya dengan bibir Ruby.
Ryan menggendong Ruby. Hingga kedua kaki Ruby otomatis mengunci erat dipinggulnya. Mereka masih belum berhenti bergulat dengan indera pengecapnya masing-masing.
Kebetulan Ruby sedang mengenakan dress di atas lutut. Akibat gendongan Ryan, dress itu otomatis menyusut, hingga menampakkan pangkal paha Ruby yang putih dan mulus.
Ryan segera menghempaskan Ruby ke kasur. Mereka kemudian bergegas melepas pakaian yang tersisa. Selanjutnya Ryan dan Ruby langsung menyatu dengan tubuh.
Kasur bergerak senada dengan pergerakan Ryan dan Ruby. Suara lenguhan keduanya saling sahut menyahut. Memecah kesunyian di dalam kamar.
Ryan menuntun Ruby untuk bergerak di atas badannya. Sedangkan dirinya sendiri duduk dan menyandar ke dinding. Dia mengulum ganas bagian dada Ruby. Mendorong tubuh sang istri agar bisa bergerak cepat di atas pangkuannya. Suara tepukan bertemunya daging, mengiringi erangan yang dikeluarkan dari mulut Ryan dan Ruby.
Lenguhan Ruby kian menjadi-jadi. Tangan kanannya mengacak-acak rambutnya sendiri tidak karuan. Sedangkan tangan kirinya menopang ke dinding. Permainan Ryan terasa begitu nikmat baginya. Entah sudah berapa kali Ruby mencapai puncak gairahnya. Wajah gadis itu memerah. Keringat disekitaran pelipisnya mengalir deras, sampai membasahi sedikit rambut cokelatnya.
Suara desa*han Ruby membuat Ryan kian terangsang. Dia memejamkan mata. Mulutnya menempel ke dada istrinya dengan keadaan yang terus menganga. Hingga pada akhirnya Ryan sukses mencapai puncak gairahnya. Dia mengangkat Ruby kembali, lalu merebahkannya ke kasur. Mereka masih dalam keadaan menyatu, sampai cairan yang keluar dari tubuh Ryan menyeberang melalui organ intim istrinya. Ruby sontak merasakan sesuatu yang terasa hangat masuk ke dalam rahimnya.
"Babe, kau tidak memakai pelindung?..." tanya Ruby dengan nada melemah. Dia mendorong Ryan menjauh darinya. Menyebabkannya dan Ryan otomatis saling melepaskan.
"Aku lupa... kau juga tidak mengingatkanku..." jawab Ryan sembari merebahkan diri ke samping Ruby. Dia segera menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya dan Ruby. "Aku akan membelikan kau pil agar tidak hamil..." lanjutnya. Salah satu tangan Ryan tampak bertengger di atas jidatnya.
__ADS_1
Ruby hanya membisu. Dia lebih memilih mengontrol nafasnya. Sensasi kegiatan intimnya tadi, masih membuat seluruh tubuhnya lemas. Menelan ludah sendiri pun terasa begitu janggal. Ruby memeluk Ryan dari samping, kemudian perlahan tertidur.
Satu malam berlalu, Ruby terbangun saat suara bel pintu berbunyi. Kebetulan Ryan memang sengaja menyewa kamar VIP yang cukup mahal harganya.
Dengan helaan nafas panjang, Ruby segera mengenakan pakaian. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Hingga Ruby baru tersadar, kalau suaminya menghilang entah kemana.
"Ryan?" tanya Ruby dengan dahi yang berkerut. Dia bangkit dari kasur, lalu memeriksa kamar mandi. Nihil, Ryan juga tidak terlihat di sana.
Suara bel pintu kembali terdengar. Ruby lantas memilih membukakan pintu terlebih dahulu. Dua orang pelayan wanita tersenyum menyambut Ruby. Keduanya membawa meja trolly serta satu setelan gaun berwarna merah muda. Dua pelayan itu memiliki pin nama yang tersemat di baju mereka masing-masing. Mereka berdua bernama Anne dan Judith.
"Apa Ryan yang mengirim kalian?" tanya Ruby, menebak.
"Makan malam?" sekali lagi kening Ruby mengernyit. Dia segera mengingat rentetan kejadian tadi malam.
Ruby akhirnya tersadar, kalau selama seharian dirinya tertidur. Dia baru ingat kalau kegiatan intimnya bersama Ryan dilakukan saat dini hari. Sebab konser yang mereka tonton baru selesai jam tiga. Pantas saja, Ruby merasa kelelahan dan tidak merasa sudah tertidur seharian. Parahnya Ryan membiarkannya terus terlelap.
"Ini makananmu, Nona Ruby. Setelah menyelesaikannya, Nona harus berganti pakaian." Judith menyodorkan hidangan untuk Ruby. Dia memang bersikap ramah seperti sikap pelayan hotel pada umumnya.
"Ah benar, Nona sudah mandi bukan?" tanya Anne. Menatap Ruby, setelah mengedipkan mata beberapa kali.
Ruby tersenyum kecut. Kemudian menggeleng pelan. "Belum, aku bahkan tidak sempat membasuh wajahku," ujarnya. Duduk menghadap makanan, lalu dilanjutkan dengan melayangkan sepotong steak daging ke mulutnya.
"Kalau begitu, Nona harus mandi sekarang!" Anne memaksa Ruby berdiri. Kemudian mendorong Ruby masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Tapi--" Ruby tidak kuasa menolak, karena Anne terus bersikeras. Padahal dia ingin menghabiskan makanannya terlebih dahulu.
Saat di kamar mandi, Ruby memutar bola mata jengah. Dia ingin menghubungi Ryan. Namun dirinya baru ingat, kalau Ryan belum sempat membelikannya ponsel baru. Hal itu terjadi karena Ryan dan Ruby terlalu terlena dengan kesenangan mereka.
Sepuluh menit lebih berselang, Ruby akhirnya keluar dari kamar mandi. Anne dan Judith bergegas berdiri, dan kembali merekahkan senyuman ramah mereka.
"Kalian tidak usah memaksakan diri berakting. Jadilah diri sendiri," ucap Ruby. Dia sangat tahu bahwa senyuman yang ditunjukkan Anne dan Judith hanya dilakukan demi gajih bulanan.
"Ini pekerjaan kami. Aku dan Judith berusaha memberikan pelayanan yang terbaik." Anne menjawab pelan.
"Apa kalian mendapat bonus, jika ada tamu yang memesan hal khusus begini?" Ruby kembali bergelut dengan hidangannya. Dia masih merasa lapar. Apalagi steak yang sekarang dimakannya, terasa begitu enak.
"Tentu saja. Aku harap Nona bisa bekerjasama dengan baik," imbuh Judith. Dia mengambil gaun yang dibawanya. Gaun tersebut terlihat digantung di sebuah tiang khusus bertrolly. Dilapisi pelastik transparan yang berguna melindungi dari debu dan kotoran lainnya.
"Katakan dahulu, apa yang sedang suamiku rencanakan? Apa dia menyiapkan malam romantis?" tanya Ruby. Menatap Anne dan Judith secara bergantian.
"Lebih baik Nona habiskan dahulu makanannya," saran Anne. Meletakkan gelas yang berisi jus jeruk lebih dekat dengan Ruby.
"Oh, jadi dia menyuruh kalian untuk merahasiakannya? Apa Ryan mengancam atau memberi kalian banyak uang?" pungkas Ruby. Akan tetapi Anne dan Judith lagi-lagi tidak mau membocorkan tentang rencana Ryan.
"Ah... menyebalkan!" gerutu Ruby. Dia akhirnya menghabiskan makanannya. Selanjutnya, Judith membuka pelastik yang menutupi gaun. Lalu memperlihatkannya kepada Ruby.
"Sekarang biarkan kami mendandanimu, Nona Ruby..." kata Anne. Dia mengambil peralatan make up yang disimpannya di dalam laci meja trollynya.
Ruby terkesiap. Dia tidak bisa membantah keindahan gaun yang ada di hadapannya. Berwarna merah muda, dan terlihat gemerlapan seperti bintang di angkasa. Alhasil Ruby bangkit dari tempat duduk, kemudian meraih gaun itu. Dia segera mengganti pakaiannya dengan gaun indah tersebut.
__ADS_1