Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 110 - Ngidam Bulan Ketiga [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Hari demi hari terlewati. Tidak terasa usia kehamilan Ruby telah berjalan lebih dari tiga bulan. Perutnya belum cukup besar.


Ruby banyak menghabiskan waktunya untuk berlatih meninju samsak. Dia melakukan latihan secara rutin selama dua bulan lebih. Menyebabkan keahlian memukul Ruby kian membaik.


Ruby menyelingi rasa bosannya dengan berlatih menembak dan memanah. Akhir-akhir ini tidak ada tembakan Ruby yang meleset dari papan sasaran. Hampir 80% semuanya mengenai titik sasaran. Otot yang ada di kedua tangannya mulai semakin kuat. Pertanda bahwa segala latihan yang dilakukannya tidaklah sia-sia.


Kini Ruby berada di ring tinju. Dia bersikeras inging bertarung dengan seseorang. Ruby benar-benar bosan berhadapan dengan samsak hampir setiap hari. Namun sayangnya, tidak ada yang berani melawan Ruby. Bukannya karena takut akan kalah, melainkan karena keadaan Ruby yang sedang hamil.


"Ayolah, Mike. Kita bertarung, kumohon... aku akan baik-baik saja," mohon Ruby. Ia baru selesai berlatih meninju samsak. Ruby mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda. Tangannya sekarang sedang sibuk mengelap keringat di badannya.


"Tidak, Ruby. Aku tidak bisa," Mike menolak secara halus.


Lidah Ruby berdecak kesal. Satu tendangan melayang ke bak sampah yang tak bersalah. Ruby merasa kesal. Apalagi ketika dirinya harus mengingat tentang Ryan. Bagaimana tidak? Ryan telah pergi untuk melakukan misinya selama satu minggu. Padahal suaminya itu mengatakan kalau dia akan pergi satu malam saja. Ryan bahkan mengajak Ethan untuk ikut bersamanya.


Bak sampah yang dipenuhi oleh limbah plastik kemasan itu berhamburan di lantai. Wajah cemberut Ruby bagaikan induk ayam yang kehilangan anaknya. Penuh amarah.


"Ruby, kenapa kau bersikeras ingin bertarung? Itu berbahaya untuk kandunganmu," ujar Gaby sembari menunjukkan jari telunjuknya ke perut Ruby.


"Tapi aku merasa sangat bosan! Aku ingin melakukan sesuatu!" sahut Ruby dengan nada penuh penekanan. Ini bukan pertama kalinya dia membentak Gaby. Semuanya di mulai ketika Gaby sering menemaninya berlatih baru-baru ini. Ruby akhirnya memilih untuk duduk tenang. Kepalanya mendongak sambil memejamkan matanya rapat-rapat.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall? Kau mau shopping?" tawar Gaby. Pancaran matanya berbinar penuh harap. Sepertinya dialah yang sangat ingin berbelanja.


"Cih! Tidak! Tidak! Aku tidak mau!" Ruby menolak mentah-mentah. Raut wajahnya tampak meringis jijik.


Gaby dan Mike lantas saling bertukar pandang. Sikap Ruby berubah drastis saat hamil. Dia lebih keras kepala dan menyebalkan dari biasanya. Ruby terkadang bersikap kasar persis seperti Ryan. Memukul bahkan menendang secara acak anggota The Shadow Holo.


Mike mendekatkan mulut ke telinga Gaby. Ia mencari kesempatan untuk bicara. "Anak Ruby pasti laki-laki. Aku bertaruh," bisiknya. Pandangannya tidak teralihkan dari Ruby. Takut kalau-kalau Ruby bangun dan memergokinya.


"Belum tentu. Bagaimana kalau Ryan versi perempuan yang lahir?" Gaby balas berbisik. Saat itulah Ruby mendadak berdiri. Membuat Gaby dan Mike sontak menghentikan pembicaraan. Dua kakak beradik tersebut tersentak kaget secara bersamaan.


"Aku tahu!" Ruby bertepuk tangan satu kali. Manik hazelnya terlihat membulat penuh semangat. Senyumannya terukir begitu girang. Terlintas ide lain dalam benak Ruby. Semuanya tentu masih berkaitan dengan yang namanya bela diri.


"Bagaimana kalau kita buat pertandingan untuk semua anggota The Shadow Holo? Bukankah itu menyenangkan?" Ruby memegangi pundak Gaby dengan kuat.

__ADS_1


"Sudah kubilang, perkelahian yang sebenarnya bisa membahayakan kandunganmu." Gaby memberitahu sekali lagi.


"Tidak, Gabe. Aku tidak akan ikut bertarung. Aku akan menjadi juri untuk kalian. Bagaimana?" Ruby terus menatap lurus kepada Gaby. Dia juga menyempatkan diri untuk memandangi Mike. Tatapannya seperti sebuah tipu muslihat. Tampak menyenangkan, namun akan membunuh jika mendengar perkataan yang tidak di inginkannya.


Gaby dan Mike merasa, kalau mereka akan dihabisi oleh Ruby jika nekat menolak. Keduanya otomatis tidak punya pilihan selain setuju. Lagi pula sudah lama anggota The Shadow Holo tidak mengadakan pertandingan. Terakhir kali diadakan hanya saat Sarah masih bergabung.


Sebenarnya Gaby merasa tidak percaya Ruby akan serius dengan keinginannya. Sebab sudah beberapa kali Ruby mempermainkan banyak orang dalam dua bulan terakhir. Dia, Mike dan bawahan Ryan yang lainlah yang selalu menjadi korban.


"Kalau begitu, aku akan memanggil semua orang ke sini." Mike berinisiatif untuk memanggil semua orang. Padahal niat Mike yang sebenarnya hanyalah ingin melarikan diri dari Ruby. Namun langkahnya harus terhenti, ketika Gaby tiba-tiba mencegat.


"Biar aku saja!" seru Gaby. Ia ternyata memiliki niat yang sama dengan sang kakak. Untuk yang pertama kalinya Gaby ingin menghindari Ruby.


"Kau harus menjaga Ruby di sini. Biar aku saja!" Mike mendorong Gaby menjauh. Dia melajukan langkahnya ke arah pintu. Sekarang Gaby hanya bisa mengulum bibir, kemudian perlahan duduk di kursi yang ada di seberang Ruby.


"Gabe, bisakah kau memijat kakiku? Tungkaiku terasa pegal sekali," ungkap Ruby seraya menselonjorkan kaki.


"Baiklah." Gaby mendekat. Lalu langsung memijat kaki Ruby.


"Lebih ke bawah, Gabe. Kau memijat di bagian yang salah!" tegur Ruby.


"Bukan di sana, Gabe! Kenapa kau sangat bodoh?!" geram Ruby.


Gaby terpelongo. Fix! sikap Ruby sekarang persis menyerupai Ryan. Untung saja Gaby cukup terbiasa menghadapinya. Jadi dia dapat mengatasinya dengan baik.



Di sisi lain, Mike baru saja memberitahu semua anggota The Shadow Holo mengenai pertandingan yang di inginkan Ruby. Tetapi sayang, sebagian besar dari mereka merasa tidak ada yang mau ikut bertanding.


"Ayolah, Guys! Jika Ruby marah, maka Bos akan lebih marah. Kalian tahu betul kalau Ruby adalah kesayangannya Bos," tutur Mike.


"Pinggangku sedang sakit. Aku tidak bisa bertarung sekarang."


"Tendangan yang dilakukan Ruby kemarin membuat kakiku keselo. Aku tidak bisa bertarung dalam keadaan begini."


"Argh... gadis itu menginginkan apa lagi? Bukankah kemarin dia menyuruh kita untuk bersih-bersih? Dua hari lalu dia juga menyuruhku bolak-balik untuk membeli kue cokelat."

__ADS_1


Berbagai alasan dan keluhan diucapkan oleh para anggota The Shadow Holo. Mike yang mendengar, menghembuskan nafasnya dari mulut. Duduk sejenak sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Mike menenangkan diri, setelah mendengar ocehan dari rekan-rekannya.


"Kumohon teman-teman. Ayo ikutlah denganku. Ini bukanlah tugas yang sulit?" Mike tidak habis pikir dengan semua temannya.


"Justru karena tugas itu tidak menantanglah kami malas melakukannya." Frans memberikan alasan.


"Kalian mau aku melaporkan segalanya kepada Bos? Aku akan katakan kalian tidak menjaga Ruby dengan baik," ancam Mike yang sudah memegang handphone-nya. Bersiap untuk menghubungi Ryan secepat mungkin.


Melihat tindakan Mike, Frans dan yang lain akhirnya terpaksa ikut. Alhasil mereka segera beranjak menuju ruang latihan. Namun setibanya di sana, Ruby sama sekali tidak terlihat. Mike sontak mengerutkan dahi heran.


Dari kejauhan, Gaby tampak berlari kian mendekat. Dia memberitahukan bahwa Ruby telah tertidur di kamar.


"Pertandingan dibatalkan." Gaby memberitahu dalam keadaan nafas tersengal-sengal. Semua orang otomatis berseru kecewa.


"Sialan!"


"Dia melakukannya lagi."


"Benar-benar menyebalkan."


Semua orang mengumpat dan saling mengeluhkan sikap menyebalkan Ruby. Raut wajah mereka terlihat lesu. Beberapa mata dari mereka berkedut-kedut akibat merasa geram.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul di sini?" Ryan mendadak muncul. Di iringi oleh Ethan dari belakang.


"Mungkin mereka sedang melakukan demo," ujar Ethan asal. Kemudian terkekeh sambil menyilangkan tangan di dada.


"Ruby tadi ingin mengadakan pertandingan. Tapi saat kami ke sini, dia malah asyik tertidur di kamarnya." Frans memberikan jawaban.


Keheningan terjadi dalam sejenak. Diteruskan dengan tawa pecah dari Ryan. Dia tergelak bersama Ethan. Keduanya merasa lucu saat menyaksikan wajah-wajah lelah dari orang-orang sangar yang sekarang berkumpul.


"Tertawalah sepuasnya, Bos. Ayo kita kembali main kartu saja!" Frans mengajak rekan-rekannya untuk bubar. Melihat Bosnya dan Ethan terus tertawa, membuat dirinya merasa tidak tahan lagi. Sebenarnya Mike dan yang lain juga merasakan hal sama.


"Aku harap Bos menjadi korban Ruby yang selanjutnya," bisik Frans kepada Gaby.


"Ya, jangan lupakan Ethan. Dia juga mentertawakan kita," balas Gaby seraya menggertakkan giginya.

__ADS_1


__ADS_2