
...༻❀༺...
Ruby sudah mencengkeram kerah baju si lelaki bermata sipit. Melontarkan tatapan tajam melalui manik cokelatnya. Perlahan dirinya mampu menarik lelaki bermata sipit itu untuk berdiri.
"Ruby, hentikan! Dia bukan tawanan yang jahat. Bisa dibilang dia adalah tawanan yang terhormat. Itulah alasan kami tidak memukulinya sejak tadi," ujar Mike. Mencoba menghentikan Ruby yang sepertinya berniat memukuli.
"Aku tidak peduli! Dia tadi sudah berani masuk ke kamarku!" ungkap Ruby. Rahangnya tampak menegang.
Ethan tercengang menyaksikan perubahan sikap Ruby. Ternyata itulah sikap yang sering dikeluhkan oleh The Shadow Holo akhir-akhir ini. Informasi yang tersebar sepertinya bukanlah kabar burung.
"Ruby, sebaiknya kau beristirahat. Oke?" Ethan memegangi lengan Ruby dengan lembut. Namun Ruby langsung mendorongnya menjauh.
"Ma-maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau dan kekasihmu ada di dalam..." gagap lelaki bermata sipit yang masih berada dalam cengkeraman Ruby. Ia berusaha meminta belas kasih.
"Enak saja!" Ruby menghempaskan lelaki bermata sipit itu ke lantai. Salah satu kakinya sudah terangkat karena berniat memberikan tendangan. Tetapi belum sempat Ruby melakukannya, Ryan sudah lebih dahulu menahan dari belakang.
"Kau harus kembali ke kamar," saran Ryan sembari memeluk Ruby dari belakang. Dia tetap bertahan, walau Ruby terus melakukan perlawanan.
"Tidak mau!" pekik Ruby seraya berupaya meraih lelaki bermata sipit yang terduduk di lantai. Dia terus mencoba melepaskan diri dari Ryan. Ruby melakukan berbagai cara. Sampai salah satu tangan gadis itu tidak sengaja menampar wajahnya. Saat itulah Ryan mulai tidak tahan lagi.
"Aku bilang, kembalilah ke kamarmu!!" geram Ryan. Lalu memaksa Ruby berbalik untuk menghadapnya. Nada suaranya yang nyaring, sukses membuat Ruby langsung terdiam.
Ruby langsung cemberut. Dia menatap kesal suaminya. Kemudian melingus pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ryan mendengus kasar. Ia menenangkan dirinya sejenak. Atensinya segera diarahkan kepada si lelaki bermata sipit. Ryan kembali meraih alat pemukul bisbol yang sempat diletakkannya ke lantai.
"Bos, apa aku harus kembali mengurungnya?" tanya Zac.
Ryan hanya diam. Dia justru sibuk meregangkan tulang lehernya. Selanjutnya, Ryan mengayunkan alat pemukul bisbol tepat ke kepala sang lelaki bermata sipit.
Buk!
Lelaki bermata sipit yang dipukul Ryan sontak tumbang. Dia langsung tidak sadarkan diri. Dengan sedikit darah yang menetes di kepala.
"Sial!" rutuk Ethan. Ia tak menduga Ryan akan melayangkan sebuah pukulan. Kepalanya menggeleng tak percaya. "Sekarang aku tahu kenapa Ruby tadi bersikap begitu," komentarnya. Lalu berbalik dan melenggang santai kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Sementara itu Ruby, baru masuk ke dalam kamar. Dia membanting pintu kamar dengan perasaan kesal. Menjatuhkan barang-barang yang ada di atas nakas. Hingga beberapa yang terbuat dari kaca, pecah menjadi serpihan-serpihan tajam.
Ruby mengacak-acak rambutnya frustasi. Ketika dia melihat ke cermin, barulah Ruby tersadar dengan perasaan aneh yang menimpanya sekarang.
"Kenapa aku merasa sangat marah?!" gumam Ruby. Ia dapat menyaksikan wajahnya yang memerah padam.
Perlahan Ruby memejamkan mata. Mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Dia tidak mau dirinya kehilangan kendali.
Ceklek!
Ryan muncul dari balik pintu. Kedatangannya disambut Ruby dengan pelototan tajam.
"Aku sudah memberikan pelajaran untuknya. Kau tidak perlu--"
"Keluarlah, Ryan!!!" pekik Ruby. Dia berusaha menjaga jarak sambil membuang muka dari Ryan. Ujarannya membuat perkataan Ryan otomatis terpotong.
"Ruby, dengarkan aku..." Ryan berjalan mendekat. Tangannya hendak menyentuh pundak istrinya. Namun Ruby terus saja menghindar.
"Aku sedang tidak mau melihat wajahmu!" ungkap Ruby. Mimik wajahnya masih cemberut.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan memanggil beberapa orang untuk membersihkan keributan ini," imbuh Ryan sembari menunjuk lantai yang telah dipenuhi dengan pecahan kaca. Dia akhirnya menuruti kehendak Ruby. Yaitu segera beranjak dari kamar.
Tiga hari berlalu, Ruby masih saja mengabaikan suaminya. Dia justru lebih dekat dengan para anggota The Shadow Holo. Sampai menghabiskan waktu untuk berlatih dan makan bersama.
"Pizza dengan paperoni adalah yang terbaik." Ruby memuji makanan yang sedang disantapnya bersama Gaby dan Mike.
"Kau menyukainya? Akulah tadi yang membelikan." Ryan tiba-tiba datang. Ia segera mengambil posisi duduk di sebelah Ruby.
Mendengar perkataan Ryan, Ruby langsung berdiri dan membuang pizzanya ke bak sampah. Dia pergi meninggalkan semua orang tanpa mengucapkan apapun.
Pitam Ryan sempat memuncak. Rasanya dia ingin meledak. Sikap menyebalkan Ruby benar-benar bukan main.
"Aaaaaarghhhhh!!!" Ryan membentuk bogem di kedua tangannya. Dia mengerang kesal sampai seluruh badannya gemetar. Ryan sempat bertenang diri dengan cara menyandarkan badan ke kursi. Kemudian barulah dapat beranjak dengan tenang.
Gaby dan semua anggota The Shadow Holo saling tergelak. Mereka puas dapat melihat Ryan sudah menjadi korban Ruby yang selanjutnya.
__ADS_1
Ryan berniat kembali menemui Ruby. Dia menelusuri beberapa tempat di markas. Setelah mencari-cari, Ryan akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. Ruby tampak sibuk mengobrol di balkon bersama Ethan.
"Ruby, aku ingin bicara. Bisakah kau mendengarkanku sebentar saja?" Ryan mendatangi sambil memegangi tangan Ruby. Dia melakukannya agar Ruby tidak bisa kabur lagi.
Ethan menilik ekspresi wajah yang ditunjukkan Ryan. Terlihat jelas ada keputus asaan yang tergambar di sana. Lagi pula Ethan merasa Ruby terlalu keras kepala dibanding biasanya. Menyebalkan, itulah kata yang tepat untuk menjelaskan sikap Ruby dalam beberapa hari terakhir.
"Ethan, bisakah kau menyuruhnya pergi?!" kata Ruby. Menatap Ethan dengan sudut matanya.
Ethan menoleh ke arah Ryan sejenak dan berucap, "Aku sarankan kau berbaikan saja dengan Ryan. Kenapa kau marah hanya karena masalah sepele?"
"Oh, jadi kalian berdua bersekongkol sekarang?" Ruby memandang malas Ryan dan Ethan secara bergantian. Lalu pergi seraya mengangkat dagunya.
"Oh my god!" Ryan menarik rambut hitamnya dengan perasaan sebal.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadianya anakmu nanti. Bukankah dia akan menjadi lebih mengerikan darimu dan Ruby?" Ethan geleng-geleng kepala. "Ruby yang keras kepala dan kau yang kejam. Ah, dia pasti langsung terlahir menjadi penjahat kelas kakap yang tak terkalahkan. Kau sebaiknya menjaganya dengan baik jika sudah lahir," lanjutnya lagi.
"Aku harus pergi!" Ryan berlalu begitu saja. Mengabaikan ucapan Ethan yang terdengar panjang lebar. Ethan kini hanya bisa mengulurkan kedua tangan ke depan. Mencoba memaklumi sikap Ryan.
Satu hari terlewati. Ryan berusaha melakukan berbagai cara untuk membuat Ruby luluh. Dari mulai membelikan perhiasan mahal, makanan kesukaan, bahkan mobil baru. Akan tetapi Ruby masih bersikukuh tidak mau peduli.
Ruby cepat-cepat masuk ke kamar. Dia menyandar di depan pintu. Dirinya baru saja mendapatkan hadiah lain dari Ryan.
Ruby cekikian sendiri. Dia sebenarnya sudah lama memaafkan Ryan. Tepatnya semenjak Ryan membelikannya pizza beberapa hari lalu. Menyaksikan wajah Ryan yang sendu membuat Ruby merasa gemas. Dirinya senang melihat Ryan tunduk seperti seekor kucing.
Di sisi lain, Ryan sudah tidak tahan. Ia melampiaskannya dengan meminum bir di ruangan pribadi. Saat itulah sebuah ide cemerlang terlintas dalam benaknya. Ryan segera mengambil handphone, dan menghubungi Frans.
"Ada apa, Bos?" tanya Frans, yang baru saja datang dari balik pintu.
"Ayo kita melakukan misi selanjutnya. Aku sudah lelah menghadapi Ruby. Mungkin dia akan mencariku bila aku tidak ada," ujar Ryan. Lalu menghabiskan satu gelas bir yang ada dalam genggamannya.
"Baik, Bos. Kita akan melakukan misi apa?" balas Frans.
"Mencuri permata milik suku kanibal," ungkap Ryan santai. Seolah apa yang dikatakannya bukan apa-apa.
__ADS_1
"A-apa?!" Frans tercengang.