Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 50 - Thinking About You


__ADS_3

...༻❀༺...


Setelah mendapat kabar mengenai pelarian Ruby, Ryan langsung membatalkan misi musim dingin. Dia bergegas kembali ke markas. Dua istri dan semua bawahannya lantas tidak punya pilihan selain mengikuti.


Ketika dalam perjalanan menuju markas, Ryan diliputi perasaan tidak karuan. Dia baru teringat dengan alat pelacak yang dirinya sematkan di dalam tas Ruby. Lelaki itu segera menghubungi salah satu bawahannya yang bernama Andrew. Ryan menyuruh Andrew untuk memeriksa lokasi Ruby melalui alat pelacak tersebut.


Ryan juga tidak lupa menghubungi Ruby melalui telepon. Dan tentu saja, panggilannya tidak akan tersambung. Karena Ruby sudah membuang nomor telepon lamanya.


"Aaarghhh!!!" Ryan membanting ponselnya sendiri saat Ruby tidak kunjung mengangkat panggilan.


Prang!


Ponsel keluaran terbaru milik Ryan seketika hancur berkeping-keping. Nafasnya mulai naik turun, silih berganti melewati relung paru-parunya.


Dahi Ryan mengerut dalam. Raut wajahnya tampak begitu masam. Perasaan marah dan cemas dirasakannya. Marah karena merasa ditinggalkan, serta cemas kalau-kalau dirinya tidak akan lagi menemukan Ruby.


Sesampainya di markas, Ryan segera menerima kabar lain mengenai kaburnya Ethan. Pitam lelaki itu tambah melonjak naik. Dia mencengkeram kerah baju salah satu bawahannya.


"Kenapa kau membiarkan si bodoh itu pergi begitu saja, hah?!!" geram Ryan penuh amarah. Membuat semua bawahannya sontak mematung dan membungkam mulut.


"Ka-kami sudah berusaha, tetapi Ethan menjadikan Ruby sebagai tawanan. Dia mengancam akan membunuh Ruby, jika kami melakukan serangan dan mengikutinya. Ada beberapa orang yang terkena tembakannya..." jawab bawahan Ryan, yang masih dicengkeram kerah bajunya tersebut. Dia pasrah dengan apa yang akan dilakukan bosnya terhadapnya.


Ryan melepas kasar cengkeramannya. Dia melangkahkan kaki memasuki markas. Tujuan utamanya adalah kamar Ruby. Dia hendak memeriksa baik-baik kamar istri ketiganya itu.


Ryan beberapa kali mengusap kasar wajahnya yang tampan. Dia semakin kesal kala mengetahui Ruby pergi bersama Ethan. Sempat terpikir olehnya, bagaimana jika Ethan mengajak Ruby pergi ke kubu mafia yang lain? Apalagi The Black Cindicate, dimana terdapat ayah kandung Ruby yang menjadi pimpinan di sana. Pemikiran Ryan menjadi berlebihan dan berlarian kemana-mana.

__ADS_1


Bruk! Prang!


Ryan mengamuk, dan membanting semua barang-barang yang ada di atas nakas. Tindakannya berhasil membuat kamar Ruby berantakan, dan dipenuhi dengan pecahan kaca.


"Cepat panggil Andrew ke sini!" titah Ryan kepada Max yang kebetulan berdiri menghadang di depan pintu.


Max lekas-lekas menuruti perintah Ryan. Tidak butuh waktu yang lama, Andrew sudah berada di hadapan Ryan. Dia memberitahukan lokasi Ruby.


"Setidaknya dia masih membawa tasnya, Bos. Kita pasti akan menemukannya!" ungkap Max, optimis. Tetapi Ryan sama sekali tidak menghiraukannya. Lelaki tersebut melingus pergi untuk kembali menaiki mobil. Ryan berniat turun tangan untuk menemukan keberadaan Ruby.



Tempat dimana Ruby membuang alat pelacak, tidaklah jauh dari markas Ryan. Sehingga hanya perlu memakan waktu sepuluh menit saja, Ryan sudah tiba di sana.


Ryan menepikan mobil ke pinggir jalan. Lalu keluar dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Hatinya berharap dapat menemukan Ruby. Nihil, seberapa keras dirinya mencari, dia tidak bisa melihat kehadiran istrinya itu di depan mata.


Ryan mengambil salah satu potongan tas yang berhasil dirobek Ruby. Matanya otomatis terbelalak. Sekarang Ryan tahu, kalau Ruby telah mengetahui kedok kebohongannya. Lelaki itu mendengus kasar. Matanya memejam rapat, karena mendadak menyesali perbuatannya. Ryan berpikir, seharusnya dirinya mengatakan kejujuran mengenai alat pelacak yang dia berikan. Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Ruby terlanjur tahu dengan sendirinya.


"Ryan!" Megan baru saja tiba. Ternyata sedari tadi dia dan Sarah mengekori Ryan dari belakang. Gadis berambut pirang tersebut lekas-lekas menghampiri Ryan. Memastikan keadaan suaminya baik-baik saja.


Perlahan tangan Megan memegang lembut lengan Ryan. Dia meragu, namun tetap memaksakan diri untuk berani. "Aku ada di sini untukmu," ucapnya.


Ryan berbalik dan menoleh ke arah Megan. Ada Sarah juga terlihat menunggu di depan mobil.


"Kau tidak bisa memaksa Ruby untuk tinggal. Lagi pula aku masih ada disisimu." Megan bertutur kata lembut. Tersenyum dan memberi Ryan kehangatan dengan pelukan.

__ADS_1


"Dan aku berjanji, aku tidak akan pernah pergi darimu." Megan semakin mengeratkan dekapannya. Dia memejamkan mata, seakan merasa begitu nyaman terhadap posisinya sekarang. Sudah lama dirinya tidak memeluk Ryan, dan Megan sangat merindukannya.


Ryan hanya mematung. Kedua tangannya bahkan tidak bergerak untuk membalas pelukan Megan. Meskipun begitu, Ryan tidak bisa memungkiri, kalau perlakuan Megan memang sedikit membuatnya tenang.


Sarah yang melihat hanya memutar bola mata jengah. Dia tidak paham dengan perilaku Megan, yang terlanjur menjadi budak cinta seorang Ryan.


Ryan melepas pelukan Megan secara perlahan. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Bahkan tidak menatap Megan sama sekali. Lelaki itu beranjak pergi memasuki mobil dan memutuskan kembali ke markas.


Saat melihat Megan dan Sarah, Ryan mendadak teringat dengan pertanyaan terakhir Ruby. Yaitu mengenai keputusannya untuk mengakhiri hubungan dari Megan dan Sarah.


'Apa alasan utama Ruby memilih pergi karena itu?' benak Ryan bertanya-tanya. Dia memikirkan sambil memegang bibirnya tanpa alasan. Ryan tambah dirundung rasa gelisah. Yang ada dalam bayangan dan pikirannya hanyalah sosok Ruby. Parahnya terkadang, dia membayangkan hal berlebihan, seperti mengira Ruby akan menjalin hubungan dengan Ethan. Tidak! Ryan tidak akan pernah membiarkannya. Alhasil dia merasa semakin terdesak ingin menemukan Ruby.


Ryan berniat akan menjelaskan segalanya, dan menuruti apapun keinginan Ruby. Termasuk mengakhiri hubungan dengan Megan dan Sarah. Dia berjanji kepada dirinya sendiri. Persetan dengan karma dan kutukan yang disebut oleh suku Elmika. Ryan tak mau peduli lagi.


Selain mencari Ruby, Ryan juga bertekad menemukan Ethan. Dia mengerahkan semua koneksinya agar ikut bertindak. Semua bawahan Ryan menyebar ke berbagai titik lokasi. Ryan tidak lupa melacak mobil yang telah digunakan Ethan untuk melarikan diri dari markas.


"Aku menemukannya! Mobilnya berada di sebuah toko barang bekas..." Andrew yang awalnya bersemangat, perlahan memelankan nada bicaranya. Sebab dirinya meragu kalau Ethan masih ada di sana.


Tanpa pikir panjang, Ryan segera melakukan pencarian. Kali ini dia pergi bersama Max. Sesampainya di toko barang bekas, Ryan hanya berhasil menemukan mobil yang sempat dipakai Ethan.


"Apa lelaki yang menjual mobil ini baru saja pergi?" tanya Ryan kepada pemilik toko. Namanya adalah Chris. Orang yang bersedia membeli barang apapun. Termasuk mobil tanpa surat-surat kepolisian. Alias barang ilegal. Ryan bahkan tidak begitu asing dengannya.


"Lima belas menit yang lalu, mungkin..." jawab Chris.


Ryan dan Max kembali bergerak. Mereka kini dalam perjalanan menuju stasiun terdekat. Ryan yang tadi sempat kehilangan ponsel akibat amarahnya sendiri, terpaksa meminjam handphone milik Max. Dia hendak memberitahukan Andrew dan bawahannya yang lain tentang sesuatu hal.

__ADS_1


"Datangilah semua pusat transportasi yang ada di kota. Aku yakin keberadaan Ruby dan Ethan masih belum begitu jauh. Dan jangan lupa, periksalah rekaman CCTV!" ujar Ryan. Lalu mengembalikan ponsel kepada Max.


__ADS_2