Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 89 - Mencuri Sebuah Ciuman [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ethan tertegun kala merasakan pundaknya terasa berat. Perlahan dia menoleh, dan melihat Ruby sudah tertidur nyenyak. Satu tangannya segera melambai cepat ke depan wajah Ruby. Akan tetapi gadis itu sama sekali tak bergeming.


"Lebih baik kau bawa Ruby ke kamar. Dia pasti sangat lelah," saran Mike. Kemudian disetujui Gaby dengan satu anggukan.


"Kau benar!" Ethan segera melingkarkan tangannya ke pinggang Ruby. Lalu mengangkat Ruby dengan ala bridal style. Ethan sama sekali tidak kesulitan. Tubuh Ruby cukup ringan baginya. Bukannya terganggu, Ethan malah menikmati momennya.


Ethan melangkah pelan menaiki tangga. Dia sengaja berjalan melambat karena terpaku menatap wajah cantik Ruby. Dari mulai bulu matanya yang lentik alami, serta bibirnya yang tentu menggoda.


Pemandangan yang dilihat di depan mata, membuat jantung Ethan berdebar. Ia harus menenggak salivanya sendiri. Lalu membasuh bibirnya dengan lidah, agar dirinya tidak sampai lupa diri.


Sampailah Ethan ke kamar Ruby. Salah satu ruangan yang belum pernah dimasukinya. Sebenarnya Ethan melakukannya karena Ryan. Dia memang merasa berhutang budi kepada suami sah dari Ruby tersebut. Namun mengingat bagaimana sikap Ryan terhadap kehamilan Ruby, benar-benar membuat Ethan kesal. Dia tidak menyangka Ryan akan bersikap sangat kurang ajar.


Ethan meletakkan Ruby ke kasur. Dia berdiri mematung. Sebab bisikan setan mulai mempengaruhi pikirannya. Sedari tadi atensinya hanya tertuju ke arah bibir Ruby. Ethan berpikir sekarang adalah kesempatan emas untuk mencium Ruby.


"Aku sangat ingat ciumanmu saat di kapal pesiar. Dan itu terasa sangat candu..." ujar Ethan dengan nada suara yang begitu pelan.


Ethan menggigit bibir bawahnya. Kemudian memutar balik tubuhnya. Dia berniat berjalan menuju pintu. Akan tetapi langkah kakinya terhenti, ketika dirinya merasa harus melakukan sesuatu. Alhasil Ethan kembali mendekati Ruby.


"I'm so sorry... tapi aku tahu kau akan menolakku mentah-mentah saat sadar nanti. Jadi aku akan melakukannya sekarang. Mungkin ini untuk yang terakhir kali. Kecuali kau melupakan Ryan dan jatuh cinta kepadaku," gumam Ethan. Dia reflek menepuk jidatnya sendiri. Sebal dengan mulutnya yang selalu saja berceloteh. Bahkan saat sedang tidak memiliki lawan bicara.


Kini Ethan duduk di ujung kasur. Tepat di samping Ruby. Tanpa pikir panjang, dia segera menempelkan bibirnya ke mulut Ruby.


Jantung Ethan merespon dengan deguban kencang. Awalnya dia hanya ingin melakukan ciuman singkat saja, tetapi saat benar-benar dilakukan, Ethan justru menginginkan lebih. Dia lantas memberanikan diri memagut bibir Ruby dengan lembut.


Terlintas dalam kepala Ethan kalau perlakuannya sekarang memang agak berlebihan. Meskipun begitu dia tetap terbuai dengan ciuman curiannya.

__ADS_1


Saat hendak mengakhiri sentuhannya, tangan Ruby mendadak bergerak, kemudian menangkup wajah Ethan. Gadis tersebut membiarkan bibir Ethan terus bergumul di mulutnya. Ruby bahkan balas memagut bibir Ethan. Mata Ruby tampak masih terpejam rapat.


Ethan yang memang sejak awal telah lupa diri, kini semakin kalap. Dia berani melakukan ciuman yang bergairah. Hingga membuat dirinya sendiri kesulitan mengatur nafas.


Ruby yang sedang terpejam, sebenarnya masih setengah sadar. Dia jatuh ke dalam mimpi tidurnya. Di mimpi tersebut, Ryan datang dan bersedia menerima anak dalam kandungannya. Bersamaan dengan ciuman Ethan, Ryan juga mencium Ruby di dalam mimpi. Jadi kesimpulannya, Ruby mengira sosok yang diciumnya sekarang adalah Ryan.


Selama masih menutup rapat matanya, Ruby terus memainkan indera pengecapnya. Memberikan balasan ciuman yang lebih intens.


Ethan kian bersemangat, hingga akhirnya dia memindahkan cumbuannya ke leher Ruby. Saat itulah mata Ruby reflek terbuka. Sedikit mengangakan mulut akibat jatuh dalam kenikmatan yang diberikan Ethan.


Ruby memegang erat rambut Ethan. Membiarkan tangan Ethan bermain nakal di beberapa titik tubuhnya. Keduanya mulai saling melenguh pelan.


Ruby mendorong Ethan sejenak, karena berniat melepaskan pakaian. Namun yang dilakukannya tersebut, justru membuatnya sadar, kalau sedari tadi sosok lelaki yang mencumbunya bukanlah Ryan.


"E-Ethan..." Mata Ruby membulat sempurna. Dia merasa sangat syok. Ruby kemudian lekas-lekas merubah posisi menjadi duduk. Hal serupa juga dilakukan Ethan.


Ethan yang dapat menyaksikan betapa kagetnya Ruby, sontak merasa panik. Dia segera memberikan penjelasan kepada Ruby.


"Bisakah kau meninggalkanku sendiri?" Ruby bicara sambil membuang muka. Dia merasa sangat malu.


"Baiklah..." lirih Ethan sambil menganggukkan kepala. Dia langsung berlalu pergi meninggalkan Ruby.


Ethan menutup rapat pintu kamar Ruby. Kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding. Mencoba mengatur nafas yang masih bergerak cepat melalui relung paru-parunya. Ethan merasa menyesal. Walaupun begitu, dia masih mengingat jelas tentang apa yang telah dilakukannya bersama Ruby tadi.


Di sisi lain, tepatnya di meja makan. Gaby duduk termenung. Dia tidak dapat berdiskusi dengan sang kakak, karena Mike terlihat telah tidur pulas di sofa.


Perhatian Gaby terus tertuju ke arah gambar di layar ponselnya. Menatap foto Ethan dan Ruby sedang saling berciuman.

__ADS_1


Benar! Gaby berhasil melihat semuanya. Sama halnya seperti Ruby, dia merasa sangat terkejut. Dirinya tidak menyangka Ethan akan berbuat sejauh itu.


Awalnya Gaby hanya berusaha mengambil gambar Ethan sedang menggendong Ruby. Sampai dia rela mengikuti mereka secara diam-diam. Gaby bahkan mendengar semua gumaman Ethan terhadap Ruby. Termasuk mengenai insiden di kapal pesiar.


Gaby menggaruk kepalanya frustasi. Dia memainkan layar ponselnya dengan kesal. Karena merasa bersalah sudah memanfaatkan Ethan sebagai umpan untuk kedatangan Ryan. Jujur saja, Gaby berupaya mencari jalan lain. Namun otaknya benar-benar buntu.


Dengan helaan nafas panjang, Gaby akhirnya tetap memilih rencana utama. Dia segera mengirim gambar selanjutnya kepada Ryan. Tetapi Gaby sengaja menyimpan gambar ciuman Ethan dan Ruby. Dia tidak akan mengirimkan gambar yang satu itu kepada Ryan. Takut kalau-kalau Ryan akan bertindak berlebihan. Apalagi sampai menghabisi nyawa Ethan.


"Maafkan aku, Ethan..." sesal Gaby. Dia memilih setia kepada pimpinannya.



Gambar kiriman Gaby sudah sampai ke ponsel yang dituju. Akan tetapi Ryan belum melihat satu pun gambar tersebut. Dia sedang merasakan pusing yang menyengat, akibat meminum dua botol bir dengan kadar alkohol tinggi. Entah berapa kali Ryan memuntahkan cairan dari mulutnya.


Sekian jam berlalu, Ryan mulai siuman. Dia perlahan duduk bersandar di sofa. Lalu memanggil salah satu bawahannya untuk datang.


"Berikan aku obat pengar dan makanan yang mengenyangkan!" titah Ryan. Bawahannya yang bernama Zac, bergegas melakukan suruhannya.


Apa yang di inginkan Ryan telah tersedia di meja. Ryan langsung menikmati makanan, serta meminum obat pengarnya. Salah satu tangannya tampak terus bertengger dikepala. Terus memijat-mijat dahinya agar rasa pusing dapat semakin berkurang.


Ryan yang sedari tadi tak acuh pada handphone, akhirnya meraih alat komunikasi itu dari atas meja. Membukanya, dan langsung disambut dengan pesan yang dikirim oleh Gaby.


Tanpa basa-basi, Ryan segera membuka pesan Gaby. Matanya seketika terbelalak, saat menyaksikan gambar kedekatan Ethan dan Ruby.


Ryan sontak bangkit dari tempat duduk. Amarahnya tiba-tiba memuncak. Api cemburu berkobar dalam dirinya.


"AAARGGHH!!!" Ryan membanting ponsel ke lantai dengan kuat. Berteriak kesal, sampai membuat para bawahannya yang berada di luar merasa panik.

__ADS_1


"Ada apa, Bos?!" Frans datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Memastikan keadaan Ryan baik-baik saja.


"Cepat siapkan perjalanan menuju Virginia! Kita akan menjemput Ruby!" perintah Ryan sembari mengeratkan rahang.


__ADS_2