
...༻❀༺...
Ryan dan Ruby menghabiskan waktu untuk memasak bersama. Ryan segera unjuk gigi dengan keahlian yang dimilikinya. Lelaki itu memotong sayuran bak seorang chef profesional.
"Apa kau sedang pamer?" sindir Ruby sembari menatap sinis. Bibir bawahnya agak maju karena merasa kalah dengan suaminya.
Ryan memandang Ruby sebentar. Dia merasa gemas saat melihat sang istri. Ruby memang selalu tampak manis jika tengah marah dengan sesuatu hal kecil. Ryan lantas memberikan sebuah ciuman ke pipi Ruby. Tidak sekali, namun beberapa kali.
"Ryan, hentikan!" Ruby terlanjur marah. Raut wajahnya masih cemberut. Akan tetapi dirinya tidak kuasa menahan tawa, ketika Ryan menggelitik perutnya.
"Hentikan, Ryan. Kata Lily aku tidak boleh tertawa terlalu banyak." Ruby memberi teguran sebelum gelitikan Ryan bertambah parah.
"Ah, benarkah?" Ryan sontak berhenti menggelitik. Dia memaksa Ruby untuk berbalik menatapnya.
Kini Ryan dan Ruby saling bertukar pandang. Tatapan mereka tersebut memberikan efek detak jantung yang menggebu. Ruby tersenyum tipis, lalu menempelkan jidatnya ke dahi Ryan. Sementara tangan Ryan sendiri melingkar di pinggul Ruby.
"Akhir-akhir ini aku tidak pernah lagi mendengarmu melakukan misi," celetuk Ruby. Mengibas rambut hazelnya dengan sedikit menggerakkan kepala.
"Sebenarnya aku punya rencana, tetapi karena mendengarmu sendirian di sini, aku langsung membatalkan segalanya. Kau tahu? Kau memang satu-satunya orang yang bisa mengalihkanku dari misi pentingku," jawab Ryan. Membuat Ruby terkekeh, sampai memperlihatkan gigi-giginya yang tersusun rapi.
"Bilang saja, kalau alasan utamamu datang ke sini karena cemburu dengan Ethan. Benar bukan?" Ruby bertanya sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kumohon jangan menyebut nama lelaki lain saat bersamaku. Kau menghancurkan suasana hatiku." Ryan mendengus kasar. Ia membuang muka sejenak dari Ruby. Namun tangan Ruby dengan cepat mengarahkannya lagi ke depan. Bertujuan agar Ryan bisa kembali menatapnya.
"Ethan! Ethan!" Ruby memancing kemarahan Ryan. Kemungkinan maksud dia melakukan itu, hanya karena ingin balas dendam. Ryan awalnya mengalihkan pandangannya ke lain arah. Matanya sudah berkedut akibat mencoba menahan kesabaran.
"Ethan! E--" seruan Ruby terhenti, saat Ryan menyumpal mulutnya dengan kecupan. Ruby tertawa kecil sambil melepas tautan bibirnya sebentar.
"Sebenarnya alasan utamaku memasak, karena aku punya rencana hari ini." Ruby mengungkapkan.
Ryan merespon dengan memiringkan kepala. Disertai dahi yang menampakkan garis-garis penuh tanya.
__ADS_1
"Kita akan ke panti asuhan. Aku ingin memperkenalkanmu dengan Sean dan Erick!" Ruby yang mengerti ekspresi wajah dari Ryan, segera menjelaskan.
Ryan terdiam sejenak. Ia memaksakan diri tersenyum. Meskipun Ryan sekarang telah menerima kehamilan Ruby, maka bukan berarti dirinya akan langsung menyukai anak-anak.
"Apa kau tahu dimana panti asuhannya?" tanya Ryan meragu.
"Itu mudah!" Ruby melambaikan satu tangan ke depan wajah. "Kita tinggal bertanya saja kepada Andrew!" lanjutnya. Sekarang tangannya sibuk membelai rambut Ryan.
"Andrew? Tidak! Aku akan menemukan tempatnya dengan caraku!" bantah Ryan. Dia tidak mau berurusan dengan lelaki seperti Andrew. Ryan tidak akan membiarkan hubungan Ruby dan Andrew menjadi terlalu akrab.
Ruby meringiskan wajah. Dia reflek menampar pelan pipi Ryan. "Dasar tukang cemburu!" kritiknya. Saat itulah bau makanan yang gosong menguar jelas. Alhasil Ryan segera mematikan kompor. Sayangnya, sup daging buatan Ruby sudah kering dan menghitam.
Ruby merasa sangat kecewa. Dia menatap masakannya dengan penuh kesedihan. Sia-sia usaha yang dilakukannya semenjak pagi buta tadi. Dua tetes air mata Ruby berjatuhan tanpa sengaja.
"Kita lebih baik membeli makanan di luar saja, oke? Katakan kepadaku apa makanan yang ingin dimakan. Sup persis seperti ini?" Ryan berupaya menenangkan Ruby. Ia sebenarnya sedang menahan tawa, karena mimik wajah yang diperlihatkan Ruby begitu menggemaskan.
"Iya... hiks! Aku mau sup!" ujar Ruby seraya mengusap cairan bening yang mengalir dipipi.
"Baiklah, aku akan bersiap." Ryan mengusap puncak kepala Ruby. Kemudian mencoba beranjak untuk menaiki tangga. Akan tetapi suara mesin mobil dari luar, mengharuskan Ryan memilih untuk melangkah keluar lebih dahulu. Hal serupa juga dilakukan Ruby.
Sementara itu Ethan, sedang berada di toko mobil. Dia sendirian dan sudah kehabisan uang. Sebenarnya uang yang diambil Ruby saat di acara amal, adalah uang persedian terakhirnya.
"Kau mau membeli yang mana? Lamborghini terbaru?" seorang pramuniaga menghampiri Ethan. Berpakaian rapi, serta memiliki pin nama yang tersemat di bajunya. Namanya adalah Thomas.
"Ah, tidak perlu yang hebat. Aku ingin yang penampilan elegan tapi mahal. Apa lagi kalau bukan Tesla." Ethan mendatangi mobil yang di inginkannya.
"Pilihan yang bagus, Tuan. Tesla memang yang terbaik!" Thomas kegirangan ketika Ethan memilih mobil yang tidak kalah mahal dari mobil Lamborghini.
Seolah berpikir, Ethan sengaja menatap ke arah kaca yang ada di depannya. Kaca tersebut adalah dinding penghelat toko terhadap lingkungan luar. Atensi Ethan mendadak tertuju ke arah kantor polisi yang ada di seberang jalan. Sebab terdapat sosok tidak asing yang tertangkap indera penglihatannya.
__ADS_1
"Frans?" mata Ethan menyipit agar dapat melihat lebih jelas. Kini matanya langsung membulat, kala menyaksikan Andrew mengiringi Frans yang sedang diborgol.
"Ada apa, Tuan? Apa Tuan jadi membeli mobil ini?" tanya Thomas sambil sedikit mencondongkan kepala dari samping Ethan.
"Tentu saja jadi!" tegas Ethan yakin. "Cepat serahkan kuncinya. Aku ingin mengetahui bagus atau tidaknya mesin mobil ini," sambungnya. Salah satu tangannya terbuka lebar. Berharap Thomas dapat menyerahkan kunci mobil secepat mungkin. Padahal niat Ethan adalah mencuri mobil yang di inginkannya sedari awal.
Thomas tersenyum. Dia meminta izin untuk mengambil kunci ke laci yang ada di meja kasir. Sedangkan fokus pandangan Ethan, masih tertuju ke arah kantor polisi. Sosok Andrew dan Frans tidak terlihat lagi. Sebab keduanya telah masuk ke dalam kantor.
Ethan merasa terdesak. Ia yakin semua komplotan Ryan dalam bahaya. Termasuk Ruby. Gadis yang paling dikhawatirkannya sekarang.
Dari halaman depan, sebuah taksi tampak berhenti. Mike keluar dari taksi tersebut. Ethan otomatis berlari menghampirinya. Lelaki itu lupa kalau dirinya sudah berlaku kurang ajar kepada Mike.
"Ethan?! Di sini kau rupanya!" geram Mike seraya mengepalkan tinju di kedua tangan. Lalu segera mencengkeram erat kerah baju Ethan.
"Mike! Dengarkan aku dulu!" ujar Ethan. Dia berusaha keras menahan tangan Mike sekuat tenaga.
"Aku tidak mau mendengar celotehanmu itu!" sahut Mike. Dia sengaja mengguncang badan Ethan. Hingga tubuh Ethan berguncang ke sana kemari mengikut pergerakan.
"Mike! Ini mengenai Frans! Dia dalam bahaya!" ungkap Ethan. Informasi yang diberikannya sukses membuat Mike melepaskan cengkeraman.
"Apa maksudmu?" tanya Mike memastikan.
"Kau lihat kantor polisi itu? Frans dibawa ke sana!" Ryan menunjuk lokasi Frans berada.
"Sial! Bagaimana kau bisa seyakin itu?!" Mike merasa tidak percaya.
"Jika kau tidak percaya. Lebih baik kau periksa saja langsung ke sana!" balas Ethan dengan helaan nafas jengahnya.
Mike mulai didera perasaan cemas. Sebab bila salah satu kawanannya dibawa ke kantor polisi, maka terancam sudah keamanan semua anggota The Shadow Holo. Terutama Ryan, sebagai ketua dan pendiri The Shadow Holo.
Mike lantas berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Terlintas sebuah ide dalam benaknya.
__ADS_1
"Bagaimana aku menyiapkan uang untuk membayar denda. Mungkin saja aku bisa membawa Frans keluar!" ucap Mike.
"Kau pikir Frans menabrakkan mobilnya sepertimu? Aku melihatnya diborgol, Mike! Aku yakin masalahnya lebih serius dari kecelakaan kecil yang kita alami kemarin." Ethan memberikan pendapat, yang seketika membuat Mike bingung.