
...༻❀༺...
Ruby melangkah ke hadapan Henry. Keduanya hanya saling melemparkan senyuman. Padahal mereka sama-sama ingin memeluk.
"Selamat atas peresmian pernikahanmu," ucap Henry. Memamerkan segelas sampanye yang dipegang oleh tangan kanannya.
"Terima kasih. Aku senang kau bisa hadir di sini. Apa benar kau bersembunyi bersama Ethan dan Megan?" balas Ruby. Bola matanya bergerak mengamati Ryan. Suaminya itu tampak bercengkerama dengan beberapa bawahannya.
"Ya, mereka berdua sangat merepotkan. Aku hanya bertahan selama tiga hari. Setelahnya, aku pergi memisah dari mereka," tutur Henry. Dia memejamkan mata rapat sambil menggelengkan kepala. Mengingat momen ketika Ethan dan Megan membuatnya sangat kerepotan.
Ruby terkekeh. Dia kini mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan Ruby hanya berhasil menemukan Ethan. Sementara Megan tidak terlihat sama sekali.
"Apa Megan tidak ikut?" tanya Ruby.
"Apa kau berharap dia akan datang? Ayolah, Ruby. Jika Megan datang, mungkin dia akan menghancurkan pesta pernikahanmu ini. Megan membuat pilihan yang brilian, dan juga agak menyedihkan..." Henry menghela nafas setelah meneguk sampanye-nya.
Ruby tersenyum kecut. Atensinya lagi-lagi teralihkan ke arah sang suami. Ryan terlihat berjalan mendekat. Dalam selang beberapa detik, dia telah berdiri di samping Ruby. Tangannya langsung melingkar ke pinggul istrinya tersebut.
"Apa rencanamu setelah ini Ryan? Kau akan membawa Ruby kemana? Ke salah satu markasmu yang tersisa?" tanya Henry.
"Entahlah, aku dengar beberapa markasku berhasil diketahui polisi. Aku rasa itu bukan opsi yang aman untuk sekarang," jawab Ryan.
Ruby yang mendengar menatap ke arah Ryan. Tiba-tiba saja muncul sebuah ide dalam kepalanya. "Ryan, aku punya ide untuk rencana kita selanjutnya. Bagaimana kalau kita berbaur ke perumahan yang dipenuhi oleh keluarga harmonis. Kita bisa berpura-pura menjadi bagian dari mereka," usul Ruby dengan keadaan kedua alis yang terangkat.
Kebetulan saat itu seorang pelayan lelaki paruh baya mendekat. Henry lantas meletakkan gelas kosong ke atas nampannya. Kemudian berupaya mengambil minuman yang lain.
"Ide yang bagus, Nona." Pelayan itu tiba-tiba ikut bergabung dalam pembicaraan. Ryan dan Henry otomatis mengerutkan dahi. Insting curiga keduanya langsung dalam mode aktif. Sebab biasanya seorang pelayan tidak akan berani ikut masuk ke dalam pembicaraan para tamunya.
__ADS_1
"Thanks!" Ruby merespon seruan sang pelayan. Dia sama sekali tidak berpikir yang tidak-tidak terhadap pelayan tersebut.
"Apa Nona sudah--" ucapan si pelayan terjeda ketika Ryan memegangi lengannya.
"Aku tidak melihatmu sejak awal. Apa benar kau pelayan asli di hotel ini?" tanya Ryan sembari memasang tatapan yang mengancam.
"Tentu saja." Pelayan paruh baya itu menjawab yakin.
"Kalau begitu, bisakah kau tunjukkan kartu identitasmu." Ryan membuka lebar telapak tangannya. Mendesak sang pelayan untuk memberikan apa yang di inginkannya.
Pelayan paruh baya itu mulai tampak gugup. Salah satu tangannya terlihat bergerak masuk ke dalam saku celana. Sebelum pelayan tersebut sempat mengambil benda berbahaya dari sakunya, Ryan segera melemparkan tinju nan kuat ke wajahnya. Sang pelayan sontak terhuyung, lalu terjatuh ke lantai. Dia langsung tidak sadarkan diri.
Dalam sekejap, Ryan sukses menjadi pusat perhatian. Semua orang bergerombol mendekatinya. Terutama saat Ryan memeriksa kantong celana pelayan yang sudah dipukulnya tadi. Benar saja, Ryan berhasil menemukan kartu identitas asli pelayan itu.
"Apa dia agen rahasia?" tanya Ruby. Dia ikut berjongkok memperhatikan si pelayan paruh baya yang masih pingsan.
"Lebih baik kita apakan dia?" tanya Mike. Dia tampak mengepalkan tinju di kedua tangannya. Menunjukkan ekspresi serius. Seakan sudah siap dengan segala perintah dari Ryan.
"Entahlah, mungkin lebih baik dibuang ke laut. Dan sekarang..." Ryan menatap semua orang yang ada di sekelilingnya. Tatapannya berakhir ke wajah cantik Ruby, yang masih berdiri dekat di sampingnya. "Aku rasa kita semua harus bubar. Aku yakin komplotannya akan berdatangan ke sini." Ryan melanjutkan ucapannya.
"Kalau begitu... pestanya sudah berakhir sampai di sini?" tanya Gaby, meragu.
"Jangan mengucapkan sesuatu yang akan membuat Ruby semakin sedih, Gaby." Ethan merespon pertanyaan Gaby.
Ketika semua orang sibuk berdiskusi mengelilingi Leon yang masih telentang di lantai. Leon terlihat mulai tersadar dari pingsannya. Pelayan yang ternyata berkedok sebagai mata-mata FBI tersebut, menegakkan badannya kembali. Namun, belum sempat Leon melakukan perlawanan, Ryan sudah menendangnya lebih dahulu. Sehingga lelaki paruh baya itu otomatis kembali tidak sadarkan diri.
"Ugh... Double kill!" seru Ethan. Kagum dengan serangan yang dilakukan Ryan.
__ADS_1
"Ikat dia dan buanglah ke tengah laut. Frans, Mike, kalian yang bertugas melakukannya!" titah Ryan. Mengabaikan seruan Ethan yang lebih terdengar seperti omong kosong baginya.
Semua orang terpaksa harus berpisah kembali. Sebelum FBI dan polisi berhasil menemukan mereka. Ruby tidak lupa untuk mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang terdekatnya. Terutama kepada Henry, Gaby, dan Mike.
"Aku harap kau bisa selalu ikut denganku, Gabe!" ungkap Ruby seraya membawa Gaby masuk ke dalam dekapannya.
"Kau tahu, aku tidak bisa melakukan itu. Aku bisa mati jika terus-terusan menyaksikan orang bermesraan. Kau bisa membawaku, bila aku telah punya pasangan nanti, oke?" balas Gaby. Perlahan Ruby mulai melepaskan pelukan darinya.
Ethan sengaja berjalan menghampiri Ruby. Kemudian merentangkan kedua tangannya. Berharap Ruby juga mau memberikannya sebuah pelukan.
"Cepat! Sebelum suamimu melihat!" ujar Ethan sambil melirik ke arah Ryan yang tengah sibuk mengurus Leon.
Plak!
"Terima kasih untuk semua bantuanmu, Ethan. Tetapi aku tidak mau memelukmu sekarang!" tukas Ruby. Setelah melayangkan cap lima jarinya ke pipi Ethan.
Gaby sontak tergelak lepas. Dia merasa sangat senang melihat penderitaan Ethan. Lelaki yang ditertawakannya itu hanya bisa mengelus-elus pipinya beberapa kali. Ethan menatap nanar ke arah Ruby.
"Tamparanmu lumayan juga. Apa kekuatan Ryan sudah tersalur ke badanmu?" ujar Ethan.
Ruby menggeleng sambil tertawa kecil bersama Gaby. Selanjutnya, mereka berpisah. Kembali ke tempat persembunyian masing-masing, atau berupaya mencari lokasi persembunyian yang baru. Seperti yang dilakukan Ryan dan Ruby misalnya. Kedua pasangan tersebut sedang berada di dalam mobil. Melanjutkan perjalanan tak tentu arah.
"Apakah kita akan melakukan ide yang aku berikan tadi? Bisakah kita menjadi pasangan suami istri normal pada umumnya? Tinggal di perumahan yang harmonis dan tenang?" Ruby menatap Ryan dengan ekor matanya. Berharap Ryan menyetujui usulannya.
Ryan terdiam seribu bahasa. Dia sebenarnya tengah berpikir mengenai usulan Ruby. Menurutnya rencana itu cukup cemerlang. Sebab FBI dan polisi pasti tidak akan terpikir ke sana. Lagi pula, menyamar menjadi orang biasa bukanlah perkara yang sulit.
"Baiklah, kalau begitu." Ryan tersenyum tipis seraya membalas tatapan Ruby sejenak. Lalu fokus lagi dengan kemudinya.
__ADS_1
"Benarkah?" Ruby tersenyum lebar. Dia merasa sangat senang. Sebuah kecupan segera diberikannya ke pipi Ryan. Gadis tersebut lantas mengambil ponsel miliknya. Kebetulan Ryan sudah membelikannya, sebelum benar-benar jauh dari hotel. Ruby berniat mencari kota yang tepat untuk ditinggali.