
...༻❀༺...
Ruby berjalan dengan kaki menghentak. Dahinya berkerut kesal. Dia berniat pergi keluar dari markas sejenak. Kemana saja, yang jelas ke tempat dimana dirinya bisa tenang. Namun ketika Ruby hampir melangkah keluar dari pintu utama, tanpa disangka dia malah bertemu dengan Ryan.
Ryan terlihat muncul dari lift. Dengan gaya kedua tangan yang dimasukkan ke dalam mantel panjangnya. Melihat sosok Ryan, Ruby bergegas melangkah lebih dahulu.
"Ruby! Aku melihatmu," tegur Ryan yang tentu saja berhasil menghentikan langkah kaki Ruby.
"Kau mau kemana? Berniat kabur dariku?" timpal Ryan sembari membawa paksa Ruby masuk ke dalam rangkulannya. "Kamu ingin pergi keluar bukan? Ayo biar aku ajak ke tempat yang menyenangkan!" tambahnya, yang kini menyeret Ruby keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobilnya.
"Ryan! Aku tidak mau. Kau tidak bisa memaksaku!" Ruby berusaha keras melepaskan rangkulan Ryan. Namun usahanya sama sekali tidak berhasil. Sebab Ryan memang bersikeras untuk membawanya. Hingga lelaki tersebut mendorong Ruby untuk masuk ke mobil.
Ryan bergegas menjalankan mobil, sebelum Ruby sempat melarikan diri. Kini keduanya sama-sama berada di dalam mobil. Pergi menjauh dari markas entah kemana.
"Kenapa kau tampak sangat membenciku?! Kau membuatku semakin kesal, Ruby!" ungkap Ryan dengan nada serius.
"Aku memang membencimu! Kau harus tahu itu! Aku benar-benar menyesal sudah mau menerimamu lagi!" balas Ruby, menegaskan.
"Apa kau marah karena aku mengabaikanmu, atau karena perlakuanku kepada pengkhianat itu?" tanya Ryan masih dengan wajah cemberut. Meskipun begitu, matanya tetap fokus ke depan untuk mengemudi.
"Tentu saja keduanya!" geram Ruby. Menatap tak percaya. "Aku tidak habis pikir denganmu, kenapa kau begitu mudahnya membunuh seseorang. Apa kau pernah melihat kehidupan semua bawahanmu di ruang belakang?" sambungnya mengomel.
"Hentikan, Ruby..." Ryan memberi peringatan. Dia ingin Ruby berhenti mengomel.
"Mereka terlihat memprihatinkan, Ryan. Sementara kau sangat nyaman tidur di kamar VIP-mu itu! Tidak salah jika Evan memilih berkhianat. Mungkin kau tidak memberinya uang yang cukup!" ucap Ruby lagi. Tidak hirau dengan teguran Ryan.
"Bisakah kau hentikan?!" pekik Ryan sembari menatap Ruby selintas. Rahangnya mengerat kesal.
"Kau mau aku berhenti?! Kalau begitu, biarkan aku keluar dari mobil ini!" Ruby tetap tidak ingin kalah.
__ADS_1
"TIDAK!" tegas Ryan. Dia malah semakin menekan pedal gasnya. Menyebabkan mobil melaju dalam kecepatan tinggi. Meskipun begitu, Ryan mengendarainya dengan lihai. Melewati mobil-mobil yang ada di depannya begitu mulus.
Sementara Ruby yang awalnya sempat tersentak kaget dengan kelajuan mobil Ryan, malah berucap, "Lebih cepat, Ryan! Lebih cepat! Kau ingin kita berdua mati bukan?!" Ruby berteriak ke arah Ryan. Dia sebenarnya bermaksud sarkas.
"Ya! Itu benar! Kita akan mati sebentar lagi!" balas Ryan yang tak kalah nyaring. Dia menuruti perintah Ruby. Tidak peduli dengan teguran sarkas terselubung istrinya.
Mobil melaju sangat cepat. Bahkan telah melewati batas yang sudah ditentukan. Dari belakang terdengar suara sirine mobil polisi.
"Oh astaga, lihat apa yang kau lakukan? Sekarang kita dikejar oleh polisi!" ujar Ruby yang baru saja memastikan keberadaan polisi di belakang. Dia menyalangkan mata ke arah Ryan.
"Benarkah? Bukankah itu bagus?! Itulah yang kau inginkan!" bukannya khawatir, Ryan malah mengukir seringai diwajahnya. Dia yang tadinya menatap Ruby sejenak, perlahan mengalihkan pandangannya. Matanya langsung membulat, karena di depannya ada lampu merah yang menyala. Sebuah bus besar lewat dari jalan arah kanan.
"Sial! Ryaaaan!" Ruby reflek memekik. Memanggil nama sopir yang harus bertanggung jawab terhadap insiden tak terduganya. Dia segera menutup mata. Tidak mau menyaksikan momen berbahaya, yang mungkin saja akan membuat nyawanya melayang.
Ryan sontak menginjak rem, sekaligus memutar setir sekuat tenaga. Mencoba menghindari mobilnya bertabrakan dengan bus di hadapannya.
Mobil yang dinaiki Ryan dan Ruby berputar seratus delapan puluh derajat. Tanpa sengaja menabrak dua mobil yang ada di kiri dan kanannya. Walaupun begitu, Ryan dan Ruby tidak mendapat luka sedikit pun dari insiden tersebut.
Kini mobil berhenti. Hanya ada suara teriakan protes dan bunyi klakson mobil, yang saling bersahut-sahutan.
Ruby mematung dikursinya. Dia berusaha mengatur deru nafas, akibat adrenalinnya yang tadi sempat melonjak naik. Hal serupa juga dilakukan oleh Ryan, dia perlahan memastikan keadaan Ruby.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ryan. Sekarang nada bicaranya terdengar pelan dari pada sebelumnya.
"Ya..." lirih Ruby. Dia sepertinya sudah bisa tenang. Mungkin kilas kematian yang membuatnya enggan untuk kembali memarahi Ryan.
Polisi segera berdatangan. Baik Ryan dan Ruby, keduanya harus dibawa ke kantor polisi. Ryan dan Ruby harus menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri.
"Tunggulah di sini, aku akan mengurus semuanya dengan cepat!" ujar Ryan. Lalu pergi masuk ke dalam kantor polisi. Meninggalkan Ruby duduk sendirian di sebuah bangku panjang dekat parkiran.
__ADS_1
Ruby menyaksikan Ryan yang sudah hampir membuka pintu kantor polisi. Gadis itu memeluk badannya sendiri karena merasa kedinginan. Dia hanya memakai kemeja kotak-kotak tangan panjang dan celana jeans.
Sekarang sudah masuk bulan November, berarti sebentar lagi musim dingin akan tiba. Hawa dingin sepenuhnya telah menyelimuti musim gugur yang sedang terjadi.
Belum sempat masuk ke kantor polisi, Ryan tampak kembali lagi. Dia berlari kecil menghampiri Ruby. Tanpa basa basi, Ryan melepaskan mantelnya dan memakaikannya kepada Ruby.
"Pergilah ke cafe itu. Kau bisa menunggu di sana saja. Aku sempat lupa, kalau cuaca sedang dingin," saran Ryan. Menunjuk ke arah cafe yang letaknya tidak begitu jauh.
Ruby menganggukkan kepala. Selanjutnya Ryan pun kembali beranjak masuk ke kantor polisi. Akan tetapi Ruby memilih untuk diam di tempat. Dia terlalu malas menggerakkan kakinya pergi ke cafe.
Beberapa saat kemudian, Ryan sudah keluar dari kantor polisi. Dia sepenuhnya telah menyelesaikan urusannya. Waktu bahkan belum memakan satu jam. Ruby pun agak kaget dengan begitu cepatnya Ryan kembali.
"Ayo kita pergi ke cafe. Aku yakin kau belum pergi ke sana," ucap Ryan.
"Bagaimana kau tahu?" balas Ruby sambil mendongakkan kepala. Sebab Ryan berdiri tegak di hadapannya. Badan jangkung lelaki itu memaksanya harus melakukan hal tersebut.
"Kau masih duduk di area sama dengan yang tadi. Jadi kesimpulannya, sejak aku pergi kau belum beranjak dari tempat dudukmu," terang Ryan percaya diri.
Ruby lantas berdiri. Dia berniat mengembalikan mantel Ryan. "Ini pakailah kembali. Aku sudah merasa hangat. Thanks!" katanya dengan nada tak acuh. Menatap Ryan pun enggan.
Ryan menyambut mantel yang diberikan Ruby. Membiarkan gadis tersebut berderap lebih dahulu darinya.
Tanpa pikir panjang, Ryan mengejar Ruby sambil membuka lebar mantelnya. Dia memakaikan mantel kepada Ruby sekaligus dirinya sendiri. Satu mantel untuk berdua. Menyebabkan wajah Ruby seketika memerah malu. Lagi-lagi gadis tersebut terbuai akan sikap manis Ryan.
"Ryan, apa-apaan!" ujar Ruby menatap Ryan dengan ujung matanya.
"Ini bukan karena aku romantis. Tetapi karena kita sama-sama kedinginan," tutur Ryan. Memaksa Ruby untuk ikut memegang mantel. Alhasil gadis itu pun melakukannya. Benar saja, rasa hangat dari mantel dan dekatnya tubuh Ryan, seketika mengurangi rasa dingin dibadan Ruby. Hidup bersama tuan mafia, benar-benar seperti roller coaster.
__ADS_1