
...༻❀༺...
Ruby yang sudah lama pingsan, perlahan membuka mata. Penglihatannya di awali dengan samar-samar. Setelah dikerjapkan beberapa kali, barulah terlihat tampilan ruangan asing baginya. Dia segera merubah posisi menjadi duduk. Lalu memindai tempat dirinya berada.
Deg!
Ruby sangat kaget, saat melihat salah satu tangannya sudah diborgol ke pegangan hospital bed yang terbuat dari besi. Dia berusaha melepas jerat borgol tersebut. Namun usahanya sia-sia.
Akibat keributan yang ditimbulkan oleh Ruby, Andrew akhirnya datang. Lelaki itu muncul dari balik pintu.
"Kau!" geram Ruby dengan tatapan tajam yang membunuh.
"Tenanglah, Ruby. Kau harus memikirkan janin yang ada di perutmu. Kumohon jangan terlalu emosi," ujar Andrew sembari mengambil sesuatu dari atas nakas.
"Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Aku pikir kau orang baik!" pungkas Ruby dengan dahi yang berkerut dalam.
"Aku hanya berusaha memenuhi kewajibanku sebagai polisi," sahut Andrew.
"Bisakah kau melepaskanku? Kau tahu aku sedang mengandung." Ruby menatap Andrew penuh harap.
"Aku tidak bisa." Andrew menolak dengan gelengan kepala. Selanjutnya, dia beranjak keluar dari ruangan.
Kini Ruby sendirian. Ia memanfaatkan waktunya untuk mencari benda yang dapat membantunya melepaskan borgol. Bola matanya memperhatikan baik-baik barang-barang yang ada di sekitar. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan pisau bedah milik Lily.
Ruby perlahan turun dari hospital bed-nya. Dia mencoba menjangkau pisau bedah yang letaknya agak jauh dari posisinya.
"Aaaa..." Ruby reflek mengerang pelan, saat dirinya menjejakkan kaki ke lantai. Luka tembak yang ada di bagian betisnya belum sepenuhnya pulih. Meskipun begitu, Ruby memaksakan diri untuk memanfaatkan peluangnya untuk kabur. Gadis itu memang sangat ahli dalam urusan melarikan diri.
Sekarang Ruby berdiri tegak. Dia merentangkan tangan yang satunya sejauh mungkin. Ruby berupaya keras meraih pisau bedah milik Lily.
"Come on..." Ruby menyemangati dirinya sendiri. Terutama ketika hanya jari tengahnya yang mampu menyentuh pisau bedah.
Ruby mengulum kuat bibirnya. Beberapa tetes keringat bahkan sudah membasahi kedua pelipis. Menandakan bahwa Ruby belumlah menyerah. Dengan konsentrasi serta tekad yang tinggi, akhirnya jari telunjuknya sukses meraih pisau bedah. Tanpa ba bi bu, Ruby langsung membawa pisau bedah ke dalam genggamannya. Kemudian memasukkan pisau berukuran kecil tersebut ke lubang kunci borgol yang menjeratnya.
Ruby mulai mengutak-atik lubang kunci borgol. Dia mencoba menemukan posisi tepat, agar borgolnya bisa cepat terbuka.
"Pihak militer akan membantu. Kita akan membawa Ruby ke New York dengan menggunakan pesawat mereka. Jadi kita tidak perlu melewati bandara umum!" suara Carl terdengar dari luar ruangan.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Ryan dan komplotannya tidak akan berani menerobos ke markas militer!" Andrew terdengar menyahut.
__ADS_1
Ruby yang dapat mendengar pembicaraan tersebut, semakin merasa didesak. Jantungnya menjadi berdetak lebih cepat. Apalagi kala suara derap langkah seseorang terdengar kian mendekat.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba terbuka. Ruby dengan cepat duduk tenang dan menyembunyikan pisau bedah ke bawah selimut.
"Aku membawakan makanan untukmu. Kau harus mengisi perut sebelum melakukan perjalanan jauh." Andrew terlihat membawa nampan berisi makanan dan minuman. Ia segera duduk di kursi yang ada di dekat Ruby.
Ruby tersenyum sinis sambil menatap sebal Andrew. Otaknya sedang bekerja untuk menemukan cara agar Andrew pergi dari ruangan. Ruby tidak punya waktu banyak untuk melarikan diri.
Atensi Ruby tertuju ke arah makanan yang ada di piring. Dia mendapatkan alasan tepat untuk membuat Andrew keluar dari ruangan.
"Bisakah kau menambahkan sedikit lagi sayurannya?" pinta Ruby.
"Sayuran?" Andrew menatap Ruby sejenak. Kala menyaksikan ekspresi memohon Ruby, dia langsung luluh. Andrew lantas menuruti keinginan Ruby.
Sayangnya Andrew tidak beranjak dari tempatnya. Dia justru menyuruh Carl untuk mengambilkannya. Rencana Ruby berakhir gagal total.
"Kau bisa makan yang ada saja dahulu. Carl sedang mengambilkan sayurannya untukmu," tutur Andrew. Dia menyiapkan meja kecil di hadapan Ruby. Kemudian meletakkan nampan berisi makanan ke atas meja itu.
Ruby berdecak kesal. Dia menatap makanannya dengan perasaan kecewa. Ruby perlahan menoleh ke arah Andrew.
Andrew terkekeh geli. Sebagai seorang polisi, dia tentu sering mendengar ribuan alasan manusia yang pernah berhadapan dengannya. Salah satunya adalah seperti Ruby sekarang. Andrew tahu betul, kalau Ruby sedang memiliki niat tersembunyi.
"Aku akan menyuapimu." Andrew mulai memotong daging yang ada di piring. Ruby langsung menanggapinya dengan raut wajah cemberut.
"Aku tidak habis pikir denganmu. Kenapa gadis baik sepertimu mau menikahi penjahat seperti Ryan." Andrew berucap sambil menyuapi Ruby dengan sepotong daging.
Ruby memutar bola mata jengah. Dia yang merasa lapar, akhirnya memakan potongan daging dari Andrew.
"Bagaimana kau yakin kalau aku gadis baik?" Ruby merespon setelah selesai menelan kunyahan daging.
"Aku hanya menyimpulkannya sendiri..." balas Andrew. Dia kembali memberikan potongan daging selanjutnya untuk Ruby.
Andrew tampak terdiam dalam selang beberapa detik. Seakan ada sesuatu yang terlintas dalam ingatannya. Dia lalu memandangi Ruby dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Kau kenapa menatapku begitu?" timpal Ruby sembari sedikit menjaga jarak dari Andrew.
"Kau mengingatkanku dengan seorang gadis dari masa laluku," imbuh Andrew.
__ADS_1
"Jika begitu, harusnya kau melepaskanku sekarang!" desak Ruby.
"Justru aku sedang berusaha menyelamatkanmu. Kau akan tertimpa bahaya jika terus bersama komplotan mafia itu," pungkas Andrew.
"Kau--"
"Andrew!" Carl mendadak datang. Tanpa sengaja dia memotong perkataan yang hendak dilontarkan Ruby. Carl terlihat melambaikan tangan, agar Andrew segera ikut bersamanya.
"Mana sayurannya?" tanya Andrew.
"Ah! Untuk apa kau terlalu memperhatikan gadis itu. Dia terlihat sangat sehat sekarang! Lebih baik ikut aku sebentar. Aku mendapatkan informasi baru!" seru Carl. Andrew lantas terpaksa mengikutinya
"Aku akan kembali!" ucap Andrew. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Ruby.
Ruby yang tertinggal tentu merasa senang. Dia kembali mencoba membuka kunci borgol dengan pisau bedah.
Klik!
Setelah beberapa kali mencoba, usaha Ruby akhirnya berhasil. Kini tangannya bisa lepas dari borgol yang menjerat. Tanpa pikir panjang, Ruby segera kabur lewat jendela. Untungnya, jendela yang di lalui Ruby tidak jauh dari tanah. Sehingga Ruby bisa keluar dengan hati-hati. Gadis itu melangkah dalam keadaan kaki yang pincang. Dia berharap cabang bayinya bisa bertahan sekuat dirinya.
Ryan telah kembali ke markas. Dia memerintahkan semua bawahannya untuk mencari Ruby. Ryan juga tidak lupa memanggil salah satu hacker andalannya yang sering dipanggil dengan sebutan Dave.
"Dave, bisakah kau mencari hacker hebat dari dark web? Aku ingin kalian mengirimkan virus berbahaya ke komputer yang ada di seluruh negeri ini!" ujar Ryan. Perintahnya membuat Dave membulatkan mata.
Bukannya kaget ataupun cemas, Dave justru merasa kagum. Sebab dia paham betul alasan dibalik perintah Ryan. Dengan menghilangnya data-data penting akibat virus perangkat lunak, maka data-data mengenai penjahat buronan juga akan menghilang dalam data milik kepolisian. Begitulah cara Ryan melindungi semua anggotanya sekaligus Ruby.
"Tapi, Bos. Meskipun data yang kau inginkan sudah menghilang, bukan berarti polisi akan berhenti mengejar kita." Dave mengungkapkan pendapatnya.
"Kau tenang saja. Aku sedang berusaha mengatasi hal itu. Kebetulan aku mengenal salah satu petinggi negara. Tapi aku butuh waktu untuk membuat kesepakatan dengannya. Yang terpenting kita harus bisa secepatnya menemukan Ruby! Ayo kita bergerark sekarang!" Ryan berlari memasuki mobil. Dia menjadi salah satu orang yang ikut untuk mencari Ruby.
Catatan Author :
Nggak kerasa udah masuk konflik akhir aja guys. Menandakan kalau sebentar lagi novel ini tamat.
Aku sebenarnya sedang mempersiapkan novel baru yang akan menceritakan karakter Megan dan Ethan. Yang mana kemungkinan ceritanya akan memiliki genre serupa dengan novel ini. Cuman bedanya, nggak bakalan ada poligami di sana. wkwkwk...
Ya udah gitu aja... makasih buat yang masih setia nongki di sini... ♡♡♡
__ADS_1