Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 120 - Berusaha Keras [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan tidak menyangka, gadis yang mengujunginya sekarang adalah Megan. Dia berjalan pelan, lalu duduk sembari mengambil telepon khusus. Sebab kaca penghelat yang ada di depannya kedap suara.


Megan terpaku menatap Ryan. Dia tidak bergerak atau mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan saat Ryan sudah meletakkan telepon ke telinga.


"Megan?" akibat tidak kunjung bersuara, Ryan akhirnya memanggil Megan lebih dulu. Panggilan Ryan langsung membuat Megan tersadar dari lamunan.


"Maaf... aku hanya..." lirih Megan tak kuasa bicara. Matanya malah menampakkan pendar cairan bening.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ryan dengan dahi berkerut.


Bukannya menjawab Megan justru memecahkan tangis. Ryan benar-benar tidak mengerti maksud dari gadis berambut pirang tersebut. Apakah dia cuma berakting atau bersungguh-sungguh?


"Megan, kumohon... kita tidak punya waktu banyak untuk bicara," ujar Ryan. Dia tidak bisa marah jika melihat seorang perempuan menangis.


"Aku tahu..." Megan menghapus air matanya sambil berusaha menenangkan diri. Dia yang tadinya tertunduk perlahan mendongak untuk menatap Ryan. Raut wajah Megan seketika berubah menjadi serius.


"Aku bisa membantumu keluar dari sini," ungkap Megan.


Ryan menggeleng lemah. "Benarkah? Aku pikir kau tidak akan menawarkan hal itu secara cuma-cuma," tebaknya. Ryan yang sudah mengenal Megan cukup lama, tahu betul bagaimana perangai gadis tersebut.


"Kau benar... Aku akan membantumu, jika kau mau kembali bersamaku. Ayo kita memulai kembali, Ryan! Aku tidak masalah menjadi orang kedua!" kata Megan.


"Kau gila!" hardik Ryan. "Adalah kesalahan besar kau menemuiku sekarang! Seharusnya kita tidak perlu bertemu lagi, kecuali kau sudah menemukan lelaki lain," sambungnya.


Bruk!


"Aku sudah mencoba, oke?! Tapi tidak bisa!" Megan memukul meja dengan kedua tangan. Gagang telepon langsung terlepas dari genggamannya.


Ryan mendengus kasar, kemudian meninggalkan Megan begitu saja. Dia sebenarnya tidak tega, karena dirinya tahu Megan sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tetapi Ryan merasa harus memberikan ketegasan. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu.


Megan lantas pergi dengan perasaan kecewa. Sebelum keluar dari ruangan, dia menghapus air mata terlebih dahulu. Memasang ekspresi datar, seolah tidak ada yang terjadi.

__ADS_1



Satu minggu berlalu, Gaby masih saja tidak memperbolehkan Ruby keluar rumah. Dia terpaksa melakukannya, karena sudah tiga kali lebih Ruby mencoba untuk kabur.


Perut Ruby sepenuhnya telah membesar. Usia kandungannya berjalan menuju enam bulan. Untung saja dia masih mau makan, karena perasaan lapar saat hamil tidak tertahankan.


"Ini sudah dua bulan lebih. Tapi Ryan belum juga berhasil keluar dari penjara!" Ruby menatap Mike dan Gaby secara bergantian.


"Maafkan aku, tapi--"


"Kau benar. Aku rasa kita harus melakukan sesuatu." Mike sependapat dengan Ruby. Dia memotong perkataan adiknya tanpa sengaja.


"Kau yakin?" Gaby menatap dengan rasa keragu-raguan.


"Kumohon... lakukanlah sesuatu. Setidaknya dengan begitu, aku merasa lebih tenang," tutur Ruby penuh harap.


"Aku akan mendiskusikan semuanya dengan yang lain. Kami akan berusaha sebisa mungkin membantu Ryan keluar dari penjara." Mike bangkit dari tempat duduk. Lalu beranjak menemui rekan-rekannya.


Mike berdiskusi kepada anggota The Shadow Holo yang lain. Termasuk anggota yang kebetulan berada di markas. Mereka akan melakukan pertemuan darurat. Mike terpaksa harus meninggalkan Ruby dalam penjagaan Gaby.


"Semoga berhasil. Kau juga harus mengutamakan keselamatanmu, oke?" ujar Ruby. Tersenyum seraya menggantikan posisi Gaby untuk memeluk Mike. Setelahnya, Mike beranjak pergi dengan lima rekannya. Sedangkan lima bawahan Ryan yang lain, dibiarkan tinggal untuk menjaga Ruby dan Gaby.


Hari berganti hari. Semuanya terasa seperti bertahun-tahun bagi Ruby. Apalagi kabar mengenai Mike dan yang lain semakin membuatnya cemas. Bagaimana tidak? Ternyata Mike terjebak di bandara. Dia dan yang lain harus menunda pertemuan darurat sampai waktunya tepat.


Sayangnya, Mike dan Frans malah menjadi target seanjutnya untuk polisi. Beruntung mereka berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Waktu kembali harus berjalan hingga berselang selama dua bulan.


Keadaan yang sepi serta siksaan dari rasa rindu, benar-benar membuat Ruby merasa kalut. Dia tidak menyangka telah melewati beberapa bulan tanpa Ryan di sampingnya. Sekarang Ruby menatap ke arah jendela kaca dengan tatapan kosong.


"Bagaimana jika aku melahirkan tanpa adanya Ryan di sisiku? Aku tidak mau itu terjadi... hiks..." Ruby perlahan merasa emosional. Dia sangat merindukan suaminya. Tangisannya terdengar terisak.


"Setidaknya semua orang masih dalam keadaan sehat. Tidak apa-apa, Ruby. Aku sangat yakin Ryan akan menemuimu secepat mungkin!" Gaby mendekap lembut Ruby dari samping.


"Ya, aku berharap begitu. Dia pokoknya harus ada di sini sebelum anaknya lahir ke dunia..." harap Ruby disela-sela tangis yang masih belum berhenti.

__ADS_1


Di waktu yang sama, Ryan dan John baru saja dimasukkan ke dalam ruang interograsi. Di sana ruang hanya bersinarkan lampu pijar.


Ryan dipukuli habis-habisan oleh dua orang polisi. Sebab dia sudah melakukan upaya melarikan diri beberapa kali. Sayangnya, tidak ada satu pun usahanya yang berhasil.


Hal serupa juga harus diterima oleh John dan Ethan. Mereka bersekongkol untuk membantu Ryan melakukan percobaan pelarian.


Ryan, Ethan, dan John tidak bisa melakukan perlawanan, karena tangan dan kaki mereka dalam keadaan terikat.


"Akibat percobaan pelarian kalian itu, aku pastikan kalian akan semakin lama berada di sini! Kalian dengar itu, hah?!" timpal Sebastian. Dia kebetulan menjadi salah satu polisi yang memukuli Ryan.


Bukannya meminta ampun, Ryan justru menyemburkan salivanya ke arah Sebastian. Air ludahnya tersebut langsung mengenai sepatu hitam milik Sebastian.


"Kurang ajar!" geram Sebastian. Dia memberikan tendangan kepada Ryan beberapa kali.


"Ugh!" Ryan berusaha keras bertahan. Hingga Sebastian dan rekannya beranjak keluar dari ruangan.


Sekarang Ryan, Ethan dan John hanya bisa telentang di ubin yang dingin. Mereka mencoba meredakan rasa sakit yang ada disekujur badan.


"Aku harus menemui Ruby secepatnya... Pasti sebentar lagi dia akan melahirkan..." lirih Ryan sambil mengontrol nafasnya yang ngos-ngosan. Wajah tampannya itu terlihat babak belur.


"Harusnya kau menerima bantuan Megan tempo hari... Kau sebenarnya bisa menipu gadis itu. Dia sepertinya mau melakukan apapun untuk kembali kepadamu," tanggap John.


"Ya, John ada benarnya. Tidak ada salanya menerima bantuan gadis gila itu." Ethan setuju dengan pendapat John.


"Aku tidak mau berurusan lagi dengannya... Jika aku menipunya, percayalah... aku akan melahirkan seorang monster pada diri Megan." Ryan yang tahu betul sikap bar-bar Megan, merasa pilihannya merupakan keputusan yang tepat.


"Terserah apa katamu, tapi sepertinya kita akan berada di sini selamanya..." John merasa putus asa.


Perlahan Ryan, Ethan dan John tertidur sejenak. Ketiganya terbangun saat seseorang membuka pintu. Sekitar lima orang polisi membawa Ryan, Ethan dan John kembali ke dalam sel.


Sebelum pergi, seorang polisi sempat berkata, "Karena sikap kalian yang keterlaluan, kami memutuskan akan memindahkan kalian ke penjara Alcatraz. Kalian pasti tahu itu tempat apa bukan?" Polisi tersebut mengangkat dagu sembari berseringai. Seakan puas dengan apa yang akan menimpa tiga tahanan bebalnya.


"Alcatraz..." Ethan merasa getir ketika mengingat nama penjara yang disebut oleh polisi tadi. Dia tahu, kalau Alcatraz terkenal sebagai penjara terkejam di dunia.

__ADS_1


"Sial!" John menghempaskan tubuh kesal ke kasur lusuhnya.


Berbeda dengan Ethan dan John, Ryan malah mengembangkan senyuman. Mendadak muncul ide cemerlang dalam benaknya. Orang cerdik sepertinya tidak pernah kehabisan akal.


__ADS_2