
...༻❀༺...
Ruby menatap kosong ke luar jendela. Dia hanya membisu. Sementara Andrew sendiri, sudah beberapa kali melirik ke arah Ruby. Ragu untuk bicara. Sebab Andrew tahu, sepertinya Ruby sedang mengalami masalah rumit.
"Apa kau pernah ke acara amal sebelumnya?" tanya Andrew. Memecah kesunyian yang terjadi di antara dirinya dan Ruby.
"Entahlah. Sepertinya belum." Ruby mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Dia memang tidak peduli dengan tujuannya sekarang. Hal yang paling di inginkannya hanyalah menjauh dari rumah.
"Acara amal hari ini dilakukan oleh anak-anak panti asuhan. Aku yakin pasti akan menyenangkan!" seru Andrew sembari melepas satu tangan dari setir.
"Apa? Anak-anak?" Ruby agak terkejut.
"Ya, kenapa? Apa kau tidak menyukai mereka?" sahut Andrew.
Ruby lekas menggeleng. Senyumnya tampak kecut. "Aku hanya tidak terbiasa berhadapan dengan mereka," ungkapnya memberikan alasan. Satu tangannya perlahan memegangi area perut. Tepat dimana janinnya berada.
Andrew yang mendengar, otomatis mengingat keadaan Ruby. Dia tahu dirinya adalah orang yang pertama mengetahui perihal kehamilan Ruby. Andrew dapat menyimpulkan dari gelagat Ruby, bahwa gadis itu tidak mengharapkan anak dalam kandungannya.
"Kau tahu? Anak-anak itu menyenangkan. Apalagi jika kau mengetahui salah satunya memiliki kesukaan yang sama denganmu," imbuh Andrew. Ia kembali fokus menatap ke depan. "Aku pastikan kau akan tahu sebentar lagi," tambahnya. Kian melajukan kecepatan mobilnya.
Tidak lama kemudian, Andrew menghentikan mobil. Pertanda kalau dirinya dan Ruby sudah sampai di tempat tujuan.
Ruby segera keluar dari mobil. Perhatiannya tertuju ke arah taman yang menjadi lokasi acara amal dilaksanakan. Di sana memang terdapat beberapa tenda yang menawarkan banyak hal-hal unik. Jujur saja Ruby tertarik untuk melihat-lihat.
"Andrew! Gale mencarimu tadi. Dia sekarang ada di tenda milik Luna!" seorang lelaki paruh baya menegur. Atensi Ruby sontak ikut teralih kepadanya.
"Wow! Siapa ini?" lelaki paruh baya itu menatap ke arah Ruby. Namun memberikan pertanyaannya kepada Andrew.
"Ruby, kau duluan saja melihat-lihat. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku akan menyusulmu secepatnya," ujar Andrew, yang langsung direspon Ruby dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Ruby lantas beranjak masuk ke dalam keramaian. Menyusuri orang yang berlalu lalang. Ia berusaha mencari tenda yang menarik dan menyenangkan baginya.
Langkah kaki Ruby terhenti di depan tenda yang bertemakan luar angkasa. Ruby tertarik melihat tenda itu karena tempatnya paling sepi dibanding yang lain. Seorang anak lelaki dengan kostum alien mendadak menghampiri Ruby.
"Aku akan menginvasi bumi ini tanpa disadari oleh para manusia!" kata anak lelaki dengan kostum alien tersebut. Dia mengarahkan pedang plastiknya ke arah Ruby. Berjalan mengitari, seakan benar-benar melakukan serangan. Selanjutnya anak lelaki itu berhenti di hadapan Ruby. Temannya yang mengenakan kostum astronot segera ikut bergabung.
"Halo, kenalkan aku Sean dan dia Erick. Apa kau tertarik mencegah serangan alien ke bumi ini?" Sean menyerahkan sebuah pistol mainan kepada Ruby. Suaranya terdengar sangat menggemaskan.
"Kalian ingin aku menembak boneka alien-alien kecil yang ada di sana?" tanya Ruby sembari menyambut pistol mainan yang diberikan Sean. Tangannya menunjuk ke arah tempat yang telah disiapkan untuk permainan sasaran menembak.
"Ya, please! Please! Please!" Sean dan Erick menjawab bersamaan. Memohon keras kepada Ruby. Sebab tenda mereka memang sangat sepi. Binaran mata kedua anak yang sepertinya berusia sekitar sepuluh tahunan tersebut, sukses meluluhkan hati Ruby.
"Oke, aku akan mencoba!" imbuh Ruby. Ia bersiap memainkan pistol mainannya.
Ruby menghabiskan waktu untuk bermain tembak di tenda dengan tema luar angkasa. Dua anak yang menjaga tenda itu tidak henti-hentinya berteriak kegirangan. Terutama ketika tembakan Ruby berhasil mengenai boneka alien yang ada.
Ruby menembak dengan penuh amarah. Nampaknya dia sedang melampiaskan kekesalannya kepada boneka alien-alien kecil yang ditembakinya. Kemungkinan besar Ruby membayangkan kalau alien-alien kecil tersebut adalah suaminya sendiri.
"Semuanya lima puluh dollar!" Sean membuka lebar salah satu tangannya ke arah Ruby. Berharap dirinya segera mendapatkan bayaran atas pelayanannya tadi.
"Lima puluh dollar? Aku pikir ini acara amal?" Ruby membungkukkan badan. Kedua tangannya bertumpu ke lutut. Hingga posisinya sekarang sejajar dengan tinggi badan Sean dan Erick.
"Ya, acara amal memang selalu begini," sahut Erick.
"I'm so sorry, boys. Tapi aku kebetulan tidak membawa uang..." lirih Ruby seraya menampakkan ekspresi penuh sesal.
"Apa?! Kalau begitu kau harus membayarnya dengan membantu kami!" tukas Sean. Salah satu kakinya menghentak ke tanah. Keningnya mengernyit sebal.
"Tenanglah, Sean. Kau tahu ini sering terjadi!" Erick berusaha menenangkan Sean. Dia melanjutkan dengan berbisik, "Aku pikir dia adalah perundung seperti Billy. Kita harus berhati-hati..."
__ADS_1
Ruby terkekeh geli mendengar celotehan penuh drama dari Sean dan Erick. "Aku bukan seorang perundung!" tegas Ruby, yang dapat mendengar dengan jelas bisikan Erick.
"Oke, maafkan aku. Kalau begitu biarlah aku membantu kalian. Katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan?" Ruby mengajukan dirinya untuk membantu. Ucapannya itu sukses membuat Sean dan Erick saling bertukar pandang.
Sean dan Erick segera memberikan tugas untuk Ruby. Mereka menyuruh Ruby membawakan banyak pengunjung untuk datang ke tenda luar angkasanya.
"Oh my god... kenapa aku mau melakukan ini," keluh Ruby. Meskipun begitu, dia tetap melangkahkan kaki demi membantu Sean dan Erick. Ruby menghabiskan waktu cukup lama. Hingga pada saat tengah hari, barulah gadis itu beristirahat.
"Karena kau sudah bekerja keras, kami membelikan burger spesial untukmu." Erick memberikan sebuah burger kepada Ruby.
"Ah, jangan lupakan milk shake-nya! Ini rasanya sangatlah enak. Buatan Tuan Anthony adalah yang terenak dari semua galaksi!" Sean berucap dengan raut wajah serius. Sedangkan Erick yang duduk di sampingnya mengangguk yakin, seolah setuju dengan perkataan dari temannya.
Ruby tidak kuasa menahan tawa. Apalagi kala menyaksikan Sean dan Erick yang tampak masih mengenakan kostum. Kedua anak tersebut sangat polos dan lucu.
"Aku seharusnya membawakan uang yang banyak untuk kalian!" Ruby mengusap puncak kepala Sean dan Erick secara bersamaan.
"It's ok. Kami tahu betapa rumitnya hubungan orang dewasa dengan yang namanya uang..." sahut Erick. Lalu menggigit burger miliknya dengan gigitan besar. Sekali lagi kalimatnya berhasil membuat Ruby tergelak.
Ruby perlahan menikmati burger miliknya. Dia menatap dua anak yang kini duduk di depannya. Perasaannya tiba-tiba menjadi emosional. Ruby merasa anak kecil tidaklah serumit yang dia bayangkan selama ini.
Sejak awal Ruby sempat menganggap anak kecil sebagai pengganggu. Dia beranggapan begitu karena pengaruh dari Ryan. Tetapi sekarang, Ruby merasa Ryan salah besar.
Terlintas dalam benak Ruby mengenai janin yang ada dalam rahimnya. Dia mendadak khawatir jika dirinya harus menggugurkan kandungan.
'Bila aku menggugurkan kandungan, bukankah itu sama saja dengan pembunuhan?...' batin Ruby. 'Tidak! Aku tidak akan membiarkannya. Persetan dengan keinginan Ryan. Sekarang aku menginginkan anakku untuk hidup!' lanjutnya lagi seraya mengeratkan rahang penuh tekad.
"Ruby, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Sean dengan dahi yang sedikit berkerut. Ia memergoki mimik wajah Ruby yang mendadak berubah serius.
Ruby langsung tersadar dari pikirannya. Kemudian menggeleng sambil mengembangkan senyuman tipis. Salah satu tangannya mengambil ponsel dari saku celana jeans-nya. Ruby bergegas menghubungi Ryan. Namun nomor telepon suaminya itu masih saja tidak aktif.
__ADS_1
Kini Ruby tidak punya pilihan selain menghubungi Ethan. Berniat menyuruh lelaki tersebut untuk membawakan banyak uang.