
...༻❀༺...
Ruby melajukan langkahnya. Dia nekat menyusul Ryan. Gadis itu hanya meringiskan wajah ketika gedung kembali menimbulkan getaran. Jantungnya berdetak cepat akibat perasaan panik yang ia rasakan. Meskipun begitu, Ruby tetap memaksakan diri.
Ruang pribadi Ryan ada tiga. Pertama ruang untuk tidur, kedua digunakan untuk bekerja, Sementara yang ketiga sebagai menyimpan benda-benda berharga. Ruby memeriksa ruangan tersebut satu per satu. Hingga akhirnya dia berhasil menemukan Ryan saat di ruangan ketiga. Suaminya tersebut terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
"Ryan, apa kau bercanda? Kau mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengambil barang-barang berhargamu?!" Ruby menatap tak percaya. Dia berdiri di dekat pintu.
"Sial! Kau kenapa belum keluar?!" Ryan dibuat begitu kaget dengan kehadiran Ruby. Matanya membelalak dan bergegas menghampiri istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" geram Ryan. Perasaan cemasnya bertambah parah. Dia memegang erat pundak Ruby. Kemudian memperhatikan keadaan di sekitar. Memastikan segalanya masih aman.
"Ya ampun, kau belum sempat mengganti pakaianmu..." lirih Ryan seraya menggeleng iba. Hal itu dikarenakan Ruby masih mengenakan setelan olahraga. Masih dengan sport bra dan celana legingnya. Ryan lantas mengambil salah satu mantel panjangnya yang menggantung, lalu memakaikannya kepada Ruby.
"Aku yang harusnya berkata begitu! Kau tahu, aku kembali ke sini untukmu!" ujar Ruby dengan dahi yang mengukir garis-garis tajam. Membiarkan Ryan menyematkan kancing mantelnya dibadan Ruby.
Ryan memejamkan mata sembari mendengus kasar. Dia berusaha menenangkan diri. Agar amarahnya tidak meledak dan memperparah keadaan. Selanjutnya Ryan segera meraih sebuah tas briefcase yang ada di atas meja. Tangannya kini menggenggam erat jari-jemari Ruby.
"Aku tidak berhasil menemukan satu briefcase-ku yang lain. Sepertinya ada seseorang yang sudah mencurinya," ungkap Ryan. Bergandengan tangan dengan Ruby, sambil melangkah bersamaan menuju pintu keluar. Ruby hanya geleng kepala untuk merespon ucapan suaminya.
Dari kejauhan Ryan dan Ruby dapat melihat Ethan berdiri di depan pintu. Dia tampak frustasi. Namun ketika menyaksikan kehadiran Ryan dan Ruby, ekspresinya seketika berubah. Lelaki tersebut langsung berlari mendekat.
"Ryan, tolong katakan kepadaku kalau ada jalan keluar lain selain ini?!" timpal Ethan gelagapan. Jari telunjuknya di arahkan ke pintu keluar yang masih tertutup.
"Memangnya kenapa? Apa jalan keluarnya bermasalah?" Ryan berjalan melingus melewati Ethan. Menurutnya Ethan terlalu berlebihan. Tetapi setelah dirinya membuka pintu, Ryan sekarang tahu kalau jalan keluar telah tertutup dengan ruruntuhan.
"Dimana Henry? Dia berhasil keluar kan?" tanya Ruby kepada Ethan.
"Kenapa kau menanyakannya kepadaku? Aku bahkan tidak bertemu dengannya lagi semenjak tertidur di kamarku yang nyaman!" kata Ethan yang dilanjutkan dengan helaan nafas panjangnya.
__ADS_1
Ruby yang mendengar bergegas memastikan keadaan jalan keluar. Dia ingin cepat-cepat keluar sesegera mungkin. Namun sayangnya matanya malah disambut dengan reruntuhan yang menghalangi jalan. Mustahil seseorang bisa menyingkirkan reruntuhan semen dan campuran barang lainnya itu dalam waktu cepat.
Untuk yang sekian kalinya, gedung kembali bergetar. Ruby dapat menyaksikan atap yang ada di atas kepalanya mulai retak. Dia reflek menggenggam tangan Ryan dan menariknya untuk menjauh dari area jalan keluar.
"Ayo, Ryan. Cepat tunjukkan alternatif jalan keluar yang lain! Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Gedung ini akan runtuh!" desak Ethan histeris.
Ryan mencengkeram erat rambutnya. Dia berupaya menggali ingatan. Namun dirinya tetap tidak ingat ada jalan keluar yang lain, selain melewati tangga darurat dan lift.
"Bagaimana dengan lift? Bukankah kita bisa memanjat lewat sana?" usul Ruby. Menatap Ryan dan Ethan secara bergantian.
"Itu terlalu beresiko. Lagi pula itu akan memakan waktu yang lama. Kita keburu terkena reruntuhan saat sibuk memanjat," sahut Ethan.
"Kita tidak bisa terus berdiam terus di sini. Lebih baik berpencar, mungkin kita bisa menemukan sesuatu," ujar Ryan. Dia tidak mau menyerah.
"Apa?! Tapi--"
Ethan tidak jadi memprotes, ketika Ryan dan Ruby tiba-tiba berciuman. Dia tidak ingin melihat adegan tersebut terlalu lama. Alhasil Ethan beranjak lebih dahulu untuk mencari jalan keluar.
Ruby mengangguk dan membalas, "Kau juga." Selanjutnya dia dan Ryan memisahkan diri. Menelusuri beberapa tempat untuk menemukan sesuatu.
Ryan sebenarnya berfirasat dalam hati, bahwa ada jalan keluar lain yang bisa membantunya selamat. Akan tetapi, nampaknya dia sudah lupa dimana lokasinya. Ryan terlalu banyak memiliki markas. Sehingga dia sering lupa beberapa titik penting di beberapa markasnya.
Kini Ryan masuk ke dalam salah satu ruangannya. Dia berniat memeriksa sesuatu yang tersimpan di dalam laci. Yaitu rancangan bangunan hotel beserta markas bawah tanah yang sekarang sebentar lagi akan runtuh.
Di sisi lain, Ruby mengedarkan segala pandangannya ke berbagai penjuru. Dia terus menggerakkan kakinya maju. Satu per satu ruangan bahkan diperiksanya dengan baik.
Tanpa diduga, suara langkah kaki terdengar dari belakang. Ruby segera menoleh, dan dirinya melihat Ethan berjalan kian mendekat.
"Ryan membiarkanmu sendirian? Dia keterlaluan sekali. Gadis sepertimu harusnya dijaga dengan baik," tukasnya yang kini berjalan berbarengan dengan Ruby.
__ADS_1
"Dia begitu, karena percaya kepadaku. Lagi pula, aku tidak mau diperlakukan seperti anak kecil!" sinis Ruby. "Pergilah, sana! Lebih banyak yang berpencar, semakin cepat kita menemukan jalan keluar!" hardiknya sembari melambaikan pose mengusir ke arah Ethan.
"Entahlah, aku tidak yakin ada jalan keluar dari sini. Kau tahu, Ryan saja terlihat ragu tadi. Bukankah begitu?" Ethan tetap tidak pergi. Dia menatap Ruby dengan sudut matanya. "Aku rasa hanya kita bertiga yang tertinggal di markas ini." Ethan lanjut bergumam.
"Kenapa kau--"
Dentuman terdengar lagi. Kali ini lebih keras dari yang sebelumnya. Beberapa serpihan sukses berjatuhan. Lemari loker yang ada di samping Ruby terlihat hendak jatuh.
Ethan dengan cepat menarik Ruby menjauh. Tanpa sengaja lelaki itu membawa Ruby masuk ke dalam pelukannya.
Bruk!
Lemari loker benar-benar terjatuh ke lantai. Ruby berhasil selamat dari tindihan benda berat tersebut. Sekarang yang tersisa hanya deru nafas Ruby dan Ethan saling bersahut-sahutan. Keduanya sama-sama dirundung perasaan takut serta gelisah.
Sebuah tangan muncul. Lalu menarik kuat Ethan menjauh dari Ruby. Siapa lagi kalau bukan Ryan. Dia mendorong Ethan tanpa ampun, bahkan sampai menubruk dinding. Semburat diwajahnya tampak cemberut.
Sementara Ethan hanya bisa memutar bola mata jengah sembari mengukir seringai sinis.
"Ethan hanya bermaksud menolongku," Ruby merasa dirinya harus menjelaskan. Namun Ryan membuang muka darinya.
"Aku pikir, aku tahu dimana jalan keluar yang lain. Ikuti aku." Ryan memimpin jalan lebih dahulu. Di ikuti Ruby dan Ethan setelahnya. Mereka masuk ke area paling belakang ruang bawah tanah.
Keadaan di sana begitu lembab dan agak berbau. Terlihat ada beberapa serpihan semen jatuh di lantai. Atap yang ada sudah ada yang bolong. Lampunya bahkan terlihat mati menyala berulang-ulang, akibat mengalami malafungsi.
"Kau yakin ini tempat yang benar?" tanya Ruby meragu.
"Percayalah kepadaku." Ryan menyahut tanpa menoleh ke arah lawan bicara.
Dari arah belakang terdengar samar suara gemuruh. Ryan, Ruby dan Ethan sontak menengok ke belakang sejenak. Namun tidak ada yang terjadi. Dahi mereka mengerut dalam, kemudian meneruskan langkahnya kembali. Meskipun begitu, bunyi gemuruh yang terdengar semakin mendekat.
__ADS_1
Ethan yang berjalan paling belakang, menyadari satu hal. Sesuatu yang langsung membuat matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak? di belakangnya bangunan terlihat runtuh dan menyebar tepat ke arahnya. Reruntuhan yang terjadi seakan berjalan dan mencoba mengejar keberadaan Ryan, Ruby dan Ethan.
"Lari!!!" pekik Ethan sambil berlari sekuat tenaga. Hal serupa juga dilakukan oleh Ryan dan Ruby. Apalagi setelah menyaksikan apa yang ada di belakang.