
...༻❀༺...
Bertepatan dengan Ruby meletakkan ponsel ke meja, saat itulah Ryan turun dari tangga. Ruby segera berbalik sambil mengambil bantal kecil yang berwarna senada dengan sofa.
"Babe, kenapa kau menangis? Apa yang--"
Buk!
Belum sempat Ryan menyelesaikan kalimat, Ruby sudah melayangkan sebuah bantal dengan kuat. Tidak hanya sampai di situ, Ruby mengambil bantal lainnya sembari terus menitikkan air mata.
"Ruby! Ada apa?! Setidaknya beritahu aku apa kesalahanku?!" tanya Ryan seraya menangkis serangan bantal Ruby yang beruntun.
Saking kesalnya, Ruby merasa tidak mampu lagi bicara. Wajahnya memerah padam. Dia butuh berpikir jernih terlebih dahulu.
Setelah puas melemparkan bantal, Ruby mengambil barang yang ada di atas nakas. Tanpa pikir panjang, dia langsung melemparkannya ke arah Ryan. Dari barang-barang berat sampai ringan, semua diambilnya.
Awalnya Ryan dapat menghindari serangan Ruby dengan baik. Namun dia harus terkena pukulan vas bunga saat kebetulan terpaku memikirkan kesalahannya. Ryan berpikir, apalagi hal yang membuat Ruby marah selain mengetahui rencana mengenai pengguguran kandungan.
"Oke, kau bisa melempariku dengan apapun. Aku tahu diriku memang pantas menerimanya. Aku memang kurang ajar, Ruby." Ryan bicara sambil berusaha bertahan dari serangan Ruby.
"Tapi aku sudah membatalkan rencana itu sekarang. Aku pastikan kepadamu, kalau aku sudah menerima kehamilanmu sepenuhnya. Apalagi setelah kau membawaku ke panti asuhan tadi." Ryan memberikan penjelasan.
Ruby akhirnya lelah mengamuk. Dia perlahan duduk ke sofa. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kemudian terisak.
"Kenapa kau tega sekali, Ryan..." lirih Ruby. Ia mengusap air mata dengan punggung tangan. Selanjutnya Ruby menatap tajam ke arah Ryan. "Kau membohongiku!!!" pekik Ruby lantang.
Ryan berlari dan duduk bersimpuh di bawah kaki Ruby. Kedua tangannya berpegangan pada lutut Ruby. Ryan memasang mimik wajah penuh penyesalan.
"Maafkan aku... Ruby, berilah aku kesempatan..." mohon Ryan. Akan tetapi Ruby membuang muka dengan ekspresi yang masih masam.
"Setidaknya kau beritahu aku. Terjadi atau pun tidak terjadi, tetap saja kau membohongiku. Kau pasti menganggapku sebagai gadis yang bodoh! Apa yang terjadi jika aku tidak mengetahui kedokmu sampai sekarang?!" timpal Ruby.
__ADS_1
"Ruby... aku--"
"Ryan, jika kau ingin aku memaafkanmu. Aku butuh waktu, oke? Aku tidak mau melihat wajahmu untuk sementara. Kau membuat hatiku sakit. Kau membuat anak kita kecewa..." Ruby kembali terlihat sedih. Sebenarnya tidak seperti biasanya dia begitu. Kemungkinan kehamilanlah yang membuatnya sangat emosional. Ruby sedari tadi tidak berminat menatap suaminya.
"Kau tahu semua cerita masa laluku, Ruby. Kau tahu alasan aku tidak menyukai anak kecil. Menerima kehamilanmu sangat berat bagiku," ungkap Ryan. Dia masih dalam keadaan posisi yang sama.
"Aku tahu... tapi, kau tetap membohongiku. Entah apa yang akan terjadi jika kau tidak membatalkan rencanamu. Mungkin aku sudah keguguran!" sahut Ruby.
"Itu tidak penting! Yang terpenting aku sudah menerima anakku sekarang!" Ryan meninggikan nada suaranya. Ia hanya bermaksud memberikan ketegasan.
"Penting untukku, Ryan!" balas Ruby sembari mendorong Ryan menjauh. Lalu berderap menuju pintu keluar. Ruby berjalan dengan langkah cepat.
"Kau mau kemana?! Ruby!" Ryan bergegas mengejar. Tetapi Ruby terlanjur sudah membuka pintu.
Ryan memegangi tangan Ruby dengan erat. Dia tidak mau istrinya pergi kemana-mana.
"Ruby, kau boleh marah kepadaku. Tapi kumohon jangan pergi kemana-mana!" cegah Ryan. Namun Ruby hanya diam, dan segera melepas paksa pegangan Ryan.
Setelah mobil berhenti, Ruby buru-buru masuk. Lalu menyuruh orang yang menyetir untuk menjalankan mobil.
"Ruby!!" Ryan hanya bisa memanggil dengan putus asa. Tetapi dia tidak menyerah begitu saja. Sebab Ryan langsung masuk ke dalam mobil untuk melakukan pengejaran.
Sementara di dalam mobil, Ruby masih bergumul dengan air mata. Hatinya masih terasa sesak. Dia butuh waktu untuk bisa menerima Ryan lagi. Kesedihan yang dirasakannya, sampai membuat Ruby tidak memperhatikan sosok lelaki yang menyetir.
"Andai aku orang jahat, celakalah sudah dirimu!" celetuk lelaki yang menyetir. Dia tidak lain adalah Andrew.
Ruby sontak menoleh. "A-andrew... maafkan aku. Aku hanya..." ujarnya, yang tidak kuasa meneruskan perkataannya lebih lanjut.
"Lily sudah menceritakan semuanya kepadaku. Apa kau selama ini terjebak dengan lelaki itu?" tanya Andrew. Menatap Ruby selintas. Lalu kembali fokus mengemudi kembali.
"Maksudmu Ryan?" tebak Ruby dengan dahi yang berkerut. Sekali lagi dia harus mengusap air matanya lebih dahulu. "Awalnya aku memang terjebak dengannya, tapi--"
__ADS_1
"Sudah kuduga! Kau tenang saja, aku akan membawamu ke tempat aman! Aku juga sudah melaporkan kesalahan Ryan ke polisi. Apa kau tahu? Setelah melakukan penyelidikan, ternyata selama ini Ryan adalah penjahat kelas kakap yang dicari-cari polisi!" Andrew memberitahukan panjang lebar.
Ruby membulatkan mata. Ia tentu mencemaskan Ryan. Bodohnya Ruby, malah terjebak dengan musuh yang sebenarnya. Itulah akibat yang diterimanya, ketika memilih pergi tanpa berpikir lebih dulu.
"Andrew, bisakah kau menghentikan mobilnya?!" ujar Ruby seraya menengok ke belakang sesekali. Dia dapat menyaksikan mobil Ryan dari kejauhan.
"Aku tidak akan menghentikan mobil, sebelum bisa membawamu ke tempat aman. Kau tenang saja, Ruby!" sahut Andrew. Menyebabkan Ruby semakin didera rasa panik.
"Kumohon hentikan! Aku ingin turun dari mobil ini sekarang!" desak Ruby.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi," ucap Andrew. Satu tangannya dengan cepat mengambil borgol yang ada dalam saku celana. Tanpa pikir panjang, Andrew langsung memasangkannya ke salah satu tangan Ruby. Kemudian menjeratnya ke pegangan yang ada di bagian langit-langit mobil. Ruby tidak sempat melakukan perlawanan, karena serangan Andrew begitu tiba-tiba. Apalagi kini dirinya dalam keadaan linglung dan lemah. Ruby tidak terpikir sama sekali kalau Andrew akan memborgolnya.
Keadaan mobil sempat tidak terkendali, karena Andrew terlalu sibuk mengurus Ruby. Akan tetapi dia langsung mengendalikan mobil, setelah selesai memborgol Ruby.
"Aku tahu kalau kau adalah kuncinya! Jika aku membawamu, maka polisi bisa menangkap komplotan penjahat kelas kakap itu!" kata Andrew sembari melajukan mobilnya. Dia sudah menyadari kehadiran Ryan dari belakang.
"Dasar bedebah!!" umpat Ruby kepada Andrew.
"Aku sebenarnya sedang menolongmu, Ruby!" tegas Andrew.
Ruby berusaha melepas borgol yang menjeratnya. Namun seberapa keras dia berusaha, dirinya tidak akan bisa mematahkan jerat besi itu tanpa kunci.
"Jika kau ingin menolongku, maka cepat lepaskan aku!" seru Ruby.
"Aku berjanji akan membuatmu aman. Terutama dari lelaki gila yang sekarang mengejar kita!" Andrew teguh dengan pendiriannya.
"Kaulah yang gila! Aku ingin bersamanya, Andrew! Dulu aku memang merasa terjebak dengan Ryan, tapi tidak untuk sekarang! Aku mencintainya!" Ruby berusaha memberikan keterangan yang meyakinkan. Tetapi Andrew sama sekali tidak hirau.
"Dia berbahaya, Ruby! Ryan mencoba menggugurkan kandunganmu dengan cara memanfaatkan adikku! Dia bahkan mengancam akan membunuh keponakanku! Apa kau dengar itu?!" kata Andrew dengan suara nyaring.
Ruby terdiam dalam sesaat. Ia baru menyadari perihal ancaman yang dilakukan Ryan. Namun dia lekas sadar, karena sekarang bukan itu yang perlu dikhawatirkan.
__ADS_1
Ruby mencoba membuang jauh segala kesalahan Ryan. Lagi pula Ryan sudah bulat membatalkan rencana. Yang harus dipikirkan sekarang adalah bagaimana cara pergi dari Andrew, serta kejaran polisi. Ruby yakin polisi lokal Virginia telah mengetahui jati diri Ryan yang sebenarnya.