
...༻❀༺...
Ryan menginjak pedal gasnya dengan kuat. Hingga mobilnya dapat melaju. Dia bertekad, tidak akan membiarkan Ruby pergi. Kali ini Ryan tidak menyuruh anak buahnya. Ia turun tangan sendiri karena segala hal yang berkaitan dengan Ruby, memang adalah masalah pribadinya.
Mobil Ryan sudah berhasil mengambil posisi ke samping mobil Ruby berada. Dia langsung kaget, tatkala melihat orang yang menyetir adalah Andrew. Tidak hanya sampai di sana, Ryan juga dikejutkan dengan keadaan Ruby yang diborgol.
"Shi*t!" rutuk Ryan sembari menabrakan mobilnya ke pinggir. Perbuatannya sukses membuat mobil Andrew terhimpit. Suara besi yang bergesekan dengan semen, memperdengarkan decitan nyaring dan memekakkan telinga. Terutama Ruby yang kebetulan duduk di kursi sebelah kanan.
"Ryan!" Ruby berteriak cemas. Dia menegur suaminya agar bisa berhenti membuat mobil Andrew terhimpit ke pinggiran jalan.
Sementara Andrew lebih sibuk melajukan mobil. Dia melakukannya agar dapat lepas dari serangan Ryan. Andrew bahkan mencoba menyerang balik.
Suara klakson mobil terdengar saling bersahut-sahutan. Sebab mobil Ryan dan Andrew sangat mengganggu jalur transportasi. Saat itulah Andrew merasa terdesak. Akhirnya dia mengerahkan semua tenaga untuk menjalankan mobil lebih laju dari Ryan.
Kini mobil Andrew mulai menjauh. Namun Ryan tidak tinggal diam, kemudian melakukan pengejaran kembali. Ryan sekarang bertekad ingin menghentikan pergerakan mobil Andrew.
Di waktu yang tepat Ryan memutar setirnya sekuat tenaga. Dia berhenti tepat di depan mobil Andrew yang melaju.
Andrew yang tak menduga kemunculan mobil di depannya, agak terlambat menginjak rem. Hingga mobilnya harus menabrak.
Mobil Ryan otomatis tergeser. Memperdengarkan suara gesekan ban dan aspal, serta rem yang berdecit. Sebelum mobilnya menabrak gundukan proyek jalanan, Ryan keluar lebih dulu dari mobil.
Ryan keluar di waktu yang tepat. Andai dia memilih tetap berdiam di tempat, badannya mungkin akan ikut penyok seperti mobilnya.
Andrew yang juga sukses dari kecelakaan maut, sedang sibuk mengatur nafas. Dia merasa sangat syok dengan nasib malang yang nyaris saja terjadi.
"Lepaskan aku, Andrew!" desak Ruby. Ia sebenarnya merasa takut seperti halnya Andrew. Tetapi membebaskan diri dari jerat borgol, adalah yang utama baginya.
Ryan bergegas membuka pintu mobil Andrew. Kemudian mencengkeram kerah baju Andrew tanpa ampun. Tangannya dengan cekatan mencari-cari kunci borgol yang dapat melepaskan Ruby.
"Kau akan segera tertangkap! Aku akan--"
__ADS_1
Buk!
Sebelum mendengar kalimat yang hanya akan membuat jengkel, Ryan memukulkan kepalanya ke wajah Andrew. Serangannya menyebabkan hidung Andrew mengeluarkan darah.
Sayangnya Ryan tidak berhasil menemukan kunci di semua kantong pakaian Andrew. Ruby yang menyadarinya, segera berinisiatif mencari kunci di laci dashboard mobil. Benar saja, kuncinya memang ada di sana.
Ruby menggertakkan gigi kesal. Kenapa dia tidak terpikir sejak tadi? Andrew ternyata menyembunyikan kunci borgol tepat di depan matanya.
"Cepat, Ruby! Kita tidak punya waktu!" ujar Ryan. Dia memukuli Andrew sekali lagi. Usahanya sukses membuat Andrew tidak sadarkan diri. Ryan lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Ruby menghampiri Ryan, nafasnya masih tersengal-sengal. Gadis itu terlihat kebingungan dan juga panik.
Ryan berusaha menenangkan Ruby dengan cara berpegangan tangan. Akan tetapi usahanya ditolak mentah-mentah. Ruby tidak bersedia Ryan menyentuh tangannya. Ryan sekarang hanya mencoba fokus membawa Ruby menjauh dari tempat kejadian. Lalu menghubungi salah satu bawahannya untuk menjemput.
"Jemputlah kami di dekat jalan E. Yellow Street di cafe bernama Barney!" begitulah kalimat yang dikatakan Ryan, sebelum mematikan panggilan telepon.
Ryan berbalik untuk menatap Ruby yang berjalan di belakang. Ruby tampak melenggang dengan raut wajah lesu. Dia melingkarkan tangannya ke badan sendiri. Tatapannya tertuju ke pergerakan kaki.
Ruby tidak menjawab apapun. Dia hanya menganggukkan kepala. Dirinya bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
Ryan mendengus kasar. Ia akhirnya memutuskan untuk ikut diam, hingga berhenti di depan sebuah cafe yang bernama Barney.
"Kau mau minum sesuatu yang hangat?" tawar Ryan.
"Tidak perlu." Ruby menjawab tak acuh. Dia bersikap begitu dingin terhadap Ryan.
Dari kejauhan, sebuah mobil hitam perlahan mendekat. Ryan yang merasa waspada, segera memposisikan dirinya ke depan Ruby. Berupaya melindungi sang istri dari sesuatu hal tak terduga.
Kini mobil hitam sudah berhenti tepat di depan Ruby dan Ryan. Mike langsung keluar dari mobil. Di iringi oleh Ethan setelahnya. Belum sempat mereka mengatakan apapun, Ruby sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Hal serupa juga dilakukan Ryan.
Mike dan Ethan sontak saling bertukar pandang heran. Mereka tidak punya pilihan lain selain kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil begitu hening. Hanya ada suara mesin mobil yang memecah kesunyian. Ryan dan Ruby duduk berdampingan di kursi belakang, tetapi keduanya sama-sama saling terdiam.
Ethan yang awalnya mengira Ryan akan memarahinya, padahal sudah siap untuk berkelahi. Namun Ryan terlihat sangat pendiam. Seolah tidak ada apapun yang terjadi. Benak Ethan bertanya-tanya, apa dirinya melewatkan sesuatu?
Semuanya gara-gara Mike. Seandainya Mike tidak mencoba membawanya pergi, mungkin Ethan sekarang tahu masalah yang terjadi pada Ruby dan Ryan.
"Kita langsung saja ke bandara!" titah Ryan. Kepada Mike yang kebetulan menyetir.
"Sepertinya informasi mengenai Frans sudah tersebar!" celetuk Ethan. Dia lebih dahulu merespon, sebelum Mike sempat menjawab perintah dari bosnya.
Ryan mengerutkan dahi. Sebab dirinya belum mengetahui apa-apa mengenai kabar Frans yang sebenarnya. "Apa maksudmu?" tanya-nya.
Ethan otomatis menoleh ke belakang. Ia menjelaskan segala hal yang dilihatnya mengenai nasib Frans. Ryan tentu merasa kaget. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ruby.
"Kita harus lakukan sesuatu untuk menyelamatkannya." Ruby merasa cemas.
Berbeda dengan Ruby, Ryan memilih diam. Ia tahu kalau semua yang terjadi kepada Frans adalah kesalahannya. Ryan jadi teringat dengan apa yang dilakukan Andrew terhadap Ruby tadi.
"Pokoknya kita harus segera pergi ke tempat yang aman!" perintah Ryan. Dia berusaha memasang sikap tenang.
"Ini semua salahmu!" timpal Ruby kepada suaminya. Tetapi Ryan lagi-lagi membisu. Dirinya tidak mau memancing kemarahan Ruby.
"Ruby, tenanglah." Ethan merasa khawatir melihat Ruby yang mendadak naik pitam.
"Ryan! Kau harus lakukan sesuatu kepada Frans. Dia terjebak karena dirimu! Sekarang semua orang dalam bahaya karenamu!" Ruby mengarahkan jari telunjuknya ke dada Ryan. Berbicara dengan nada penuh penekanan.
Ryan menghela nafasnya. Dia ingin marah, namun berusaha keras menahannya. Ryan tahu bila dirinya melawan Ruby dengan amarah, maka pupus sudah harapannya untuk mendapat belas kasih.
"Ruby, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi. Aku berjanji, kau tidak perlu memikirkan apapun. Biar aku yang mengatasi segalanya," tutur Ryan seraya memegangi lengan Ruby dengan lembut. Akan tetapi Ruby langsung menjauhkan tangannya dengan cepat. Seakan merasa risih terhadap sentuhan Ryan. Untung saja perkataan Ryan sukses membuat Ruby bungkam. Lalu menenangkan diri dengan menatap ke luar jendela.
Catatan Author :
__ADS_1
Maaf hari ini upnya telat ya guys. Author harus menyelesaikan pekerjaan di dunia nyata dahulu. love you guys... 😘