
...༻❀༺...
Tiga tahun berlalu. Samuel tetap tinggal di mansion bersama Ryan dan Ruby. Dia menjadi anak yang sangat aktif. Malah bisa dibilang super aktif. Merepotkan banyak para anggota Shadow Holo yang ada di mansion.
Sam, begitulah panggilan semua orang terhadap buah hati Ryan dan Ruby. Dia selalu membuat keributan setiap hari. Sekarang Sam tengah berada di ruang latihan tembak. Memegang sebuah pistol revolver. Semua orang begitu dibuat panik akibat ulahnya
"Sam, serahkan senjata itu kepadaku. Oke?" Gaby mencoba membujuk. Namun bukannya mendengarkan Sam justru semakin tertarik dengan senjata yang dipegangnya. Dia tanpa sengaja mengarahkan pistol ke arah lima orang yang ada di depannya.
"Hentikan, Sam! Cepat serahkan pistolnya kepadaku!" desak Gaby. Dalam keadaan tangan yang gemetaran.
Kini Sam memegangi pistol dengan dua tangan. Ia menodongkan pistol ke arah Gaby. Mulutnya mengembangkan senyuman seolah tidak bersalah.
Gaby dan yang lain sontak mengangkat tangan ke udara. Mereka tentu diserang rasa panik.
"Cepat panggil Ayah dan Ibunya!" bisik Zac yang wajahnya telah dibanjiri oleh keringat.
Gaby mengangguk. Lalu mencoba menggerakkan kaki untuk pergi. Akan tetapi Sam malah berteriak lantang. Sepertinya dia tidak mau melihat ada satu orang pun yang pergi.
"Aku hanya... bermain," ungkap Sam dengan suara polosnya. Dia sedikit memanyunkan mulutnya.
"Tapi, tidak dengan pistol. Itu berbahaya, Sam. Belum saatnya kau menyentuhnya. Kumohon..." ujar Gaby sambil menyatukan dua telapak tangan.
Sam menundukkan kepala. Perlahan dia meletakkan pistol ke atas meja. Membuat semua orang otomatis merasa lebih lega.
Di saat yang tak terduga, Sam dengan cepat mengambil pistol kembali. Kemudian mengarahkannya lagi kepada lima orang yang ada di depannya. Sam bahkan melakukannya sembari tertawa senang. Seakan apa yang dilakukannya memang adalah rencananya sejak awal.
Gaby dan empat orang lainnya reflek merunduk. Apalagi ketika Sam mengarahkan pistolnya ke arah orang-orang secara bergantian. Selanjutnya, dia berlari keluar dari ruangan.
"Sial! Sam keluar!" Zac bergegas mengejar Sam. Sedangkan Gaby berinisiatif untuk mencari Ruby.
Kini keributan yang di akibatkan Sam menjalar ke seluruh anggota Shadow Holo lainnya. Anak itu berlari memasuki tempat parkir. Berlari dengan cara melawati mobil-mobil milik ayahnya yang berjejer.
Di saat semua orang panik karena keributan yang dibuat Sam, Ryan dan Ruby justru asyik bercumbu. Keduanya baru menyelesaikan kegiatan inti. Meskipun begitu mereka belum mengenakan pakaian sama sekali.
Ryan dalam posisi duduk. Sementara Ruby duduk di atas pangkuan Ryan. Tangan Ruby melingkar ke tengkuk suaminya. Dia dan Ryan tengah sibuk berciuman.
Musik yang terputar di kamar, menyebabkan keributan tidak terdengar. Ryan dan Ruby malah sedang dalam proses menuju ronde kedua.
Ryan kebetulan baru datang dari misi penting. Jadi tidak heran dia begitu merindukan sentuhan dari Ruby.
__ADS_1
"Kau ingin melakukannya lagi?" desis Ryan. Hembusan nafasnya yang hangat menghantam kulit leher Ruby. Membuat Ruby otomatis menenggelamkan kepala Ryan ke bagian dada. Mata gadis tersebut memejam lemah. Jujur saja, dia masih agak lemas karena kegiatan intim sebelumnya.
"Lakukan saja apa maumu..." lirih Ruby sembari mendongakkan kepala. Dua tangannya berpegangan erat ke punggung Ryan.
Ryan lantas merebahkan Ruby ke kasur. Lalu memberikan kecupan ganas ke setiap jengkal tubuh Ruby. Dia tentu memulai dari ceruk leher, dada, sampai ke bagian bawah perut.
Ruby kian terangsang. Tubuhnya menggeliat tidak karuan. Satu tangannya mencengkeram kepala Ryan yang tengah berada di antara dua kakinya. Ruby harus melenguh akibat merasa saking nikmatnya.
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Tetapi Ryan masih urung berhenti.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ruby! Ini aku Gaby. Sam melakukan sesuatu yang berbahaya!" ujar Gaby. Pemberitahuannya terdengar samar karena lantunan musik yang ada di kamar cukup nyaring.
"Ryan... aakhh!" Ruby berusaha menghentikan Ryan. Namun suaminya itu malah semakin nakal. Menyebabkan Ruby tidak kuasa lagi menahan erangannya.
Ryan akhirnya merubah posisi menjadi duduk. Ruby sekarang bisa lebih tenang. Gadis itu mengatur nafas sejenak.
"Aku belum selesai, Babe!" Ryan mendorong Ruby kembali ke kasur. Kemudian langsung menyatukan tubuh.
Ruby yang dari awal sudah lemas, hanya bisa pasrah. Terutama ketika Ryan mulai bergerak maju mundur dengan cepat. Ruby berpegangan erat ke sprei kasurnya. Kini dia tidak hanya kesusahan mengontrol nafas, tetapi juga sulit menghentikan lenguhannya yang terus menguar dari mulut.
"Ruby! Bos?! Kalian mendengarku?!" Gaby berupaya keras memanggil. Tetapi tidak kunjung mendapatkan tanggapan. Gaby tidak bisa mendengar keributan yang dilakukan Ryan dan Ruby akibat suara musik. Dia terus memanggil dengan hasil yang sia-sia.
Gaby tidak lupa untuk menghubungi Ryan serta Ruby melalui ponsel, dan hasilnya tetap nihil. Tidak ada jawaban.
"Mereka pasti sedang bercinta," gumam Gaby menyimpulkan. Lalu terpaksa beranjak untuk menemui Mike dan yang lain.
Setelah memakan waktu beberapa menit, Ryan akhirnya melepaskan Ruby. Dia telantang sambil mencoba menenangkan deru nafasnya.
"Kau gila, Ryan. Apa kau tidak dengar ada yang mengetuk pintu kita tadi?" tanya Ruby. Ia perlahan duduk. Lalu segera mengenakan setelan kimononya yang terbuat dari kain satin. Ruby berjalan untuk mematikan musik.
"Aku mendengarnya. Hanya saja, aku ingin menyelesaikan masalah denganmu lebih dahulu." Ryan menjawab santai. Dia masih rebahan dalam keadaan ditutupi oleh selimut.
Ruby membuka pintu kamar. Gaby yang duduk di sofa, segera memberitahukan perihal kelakuan Sam. Ruby sontak terkejut. Dia tidak lupa mengajak Ryan untuk ikut.
__ADS_1
"Ryan! Sam bermain-main dengan sebuah pistol!" seru Ruby cemas.
"Dia sedang belajar. Biarkan saja." Ryan terkesan biasa saja. Dia langsung mendapat pelototan dari Ruby. Setelah itu, barulah Ryan bergerak dan mengenakan pakaian.
Ryan dan Ruby bersama-sama menuju parkiran. Sam terlihat duduk di atas truk besar. Senjata api masih ada dalam genggamannya.
"Apa dia sudah menembak sesuatu?" tanya Ryan memastikan.
"Untungnya tidak ada, Bos. Kami berusaha membujuk Sam, tapi dia terus mengarahkan pistol ketika ada yang mendekat," jelas Mike.
"Sam, bisakah kau turun? Jangan membuat ibu dan ayahmu khawatir, oke?" ujar Ruby sembari menatap penuh harap.
"Aku akan turun. Jika benda ini menjadi milikku," jawab Sam membicarakan pistolnya.
"Tapi, sayang. Benda itu--"
"Tentu saja, Sam. Kau bisa memilikinya. Aku juga akan mengajarimu cara menggunakannya nanti. Sekarang turunlah dari sana!" Ryan sengaja memotong ucapan Ruby. Ucapannya membuat Sam langsung turun dari truk. Bahkan dengan senyuman girang.
"Ryan! kau kenapa--"
"Percayalah kepadaku." Ryan sekali lagi menjeda kalimat Ruby. Dia sepertinya merencanakan sesuatu.
Sam berlari ke pelukan ibunya. Ruby otomatis membawanya masuk ke dalam gendongan.
"Serahkan dahulu pistolnya kepadaku. Biarkan aku membuatnya menjadi lebih hebat," kata Ryan, yang tentu saja langsung dipercayai oleh Sam tanpa pikir panjang.
Semua orang kembali dengan aktifitas masing-masing. Termasuk Ruby yang harus membawa Sam ke mansion. Di iringi oleh Ryan yang berjalan dari belakang. Ryan sibuk mengeluarkan peluru dari pistol yang tadi dipegang oleh Sam.
"Mike, mulai sekarang sembunyikan semua senjata ke tempat aman!" titah Ryan.
"Baik, Bos!" sahut Mike.
"Aku akan mengajari Sam saat dia berusia tujuh tahun." Ryan berucap sambil terus melangkah maju.
..._____...
...Bonus Visual Samuel Martin...
__ADS_1