
...༻❀༺...
Ruby menyaksikan penampilan barunya sendiri di depan cermin. Rambutnya baru saja diberi perawatan. Semakin lurus dan harum. Gadis itu tersenyum tipis kala melihat tampilan barunya. Namun senyumannya langsung pudar saat mengingat keadaannya kini.
"Aku sudah jadi istri ketiga sekarang. Aku benar-benar tidak percaya dengan nasibku!" gumamnya sembari menggelengkan kepala beberapa kali.
"Itu aneh bukan? Di Amerika, ada lelaki yang mau berpoligami. Sementara yang lain bisa melakukan semuanya dengan bebas, bahkan tanpa menikah." Mike yang sedari tadi berdiri di samping Ruby ikut berkomentar.
"Ya, pemikiran Ryan memang aneh." Ruby merespon perkataan Mike.
"Aku dengar, Bos juga tidak berhubungan intim dengan wanita lain selain istrinya," ucap Mike memberitahu. Dia berjalan mengiringi Ruby yang sedang membayar biaya perawatan salon di meja kasir.
"Benarkah?... Apa benar Ryan melakukan semuanya karena kepercayaannya dengan suku... apa namanya..." Ruby mengarahkan bola mata ke kanan atas. Berusaha menemukan jawaban yang serasa sudah di ujung lidah.
"Elmika!" Mike yang tahu bergegas membantu Ruby mengingatkan.
"Ah, benar! Memangnya bagaimana Ryan bisa menemukan suku itu?" tanya Ruby sambil melangkah keluar dari salon.
"Aku dengar di sebuah hutan, aku tidak tahu jelasnya dimana." Mike menjawab berdasarkan dari sepengetahuannya. Ryan memang sangat jarang memberitahukan perihal suku Elmika secara detail. Dia hanya sering bercerita tentang budaya suku tersebut. Tetapi jika mengenai lokasi keberadaan suku Elmika, Ryan tidak pernah menceritakannya kepada siapapun. Bahkan kepada istri-istrinya.
"Pemikiran Ryan ternyata kuno juga," ungkap Ruby. Dia dan Mike sudah berada di dalam mobil. Tetapi Ruby memilih duduk di depan bersama Mike.
"Miss, kenapa kau duduk di depan?" tanya Mike yang merasa tidak peraya.
"Aku tidak nyaman duduk sendirian di belakang. Oh iya Mike, jangan panggil aku Miss. Sebut saja, Ruby. Aku benar-benar tidak nyaman mendengarnya!" jelas Ruby panjang lebar. Kemudian memasang sabuk pengaman.
"Tetapi--"
"Apa?! Kau takut dengan bosmu?" Ruby menyambar perkataan Mike. "Ayolah Mike, lagi pula ini hanya hal kecil," tambahnya yang sontak membuat Mike tidak bisa berkata-kata lagi. Lalu segera menjalankan mobil.
Tempat tujuan Ruby selanjutnya adalah mall. Dia ingin membeli banyak barang di sana. Dari mulai pakaian hingga kalau perlu ponsel baru. Sebab keadaan ponsel yang dimilikinya sekarang benar-benar memprihatinkan.
Lama-kelamaan barang bawaan yang harus dibawa Mike bertambah. Sebenarnya lelaki berbadan kekar itu agak malu dengan banyak pasang mata yang melihatnya. Berbadan besar, tetapi kerjaannya malah membawakan barang pembelian seorang wanita. Pekerjaan yang harusnya dilakukan Mike adalah memukuli para pengganggu.
"Miss..." Mike tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ketika mata Ruby langsung melotot. Dia lantas segera memperbaiki panggilannya terhadap Ruby.
"Ruby... aku rasa kita harus kembali. Ini sudah hampir malam," ujar Mike pelan.
"Sebentar lagi. Aku masih perlu celana jeans!" sahut Ruby. Tanpa menoleh ke arah Mike. Dia asyik memilah-milih celana jeans yang berjejer digantungan.
Setelah satu jam kemudian, barulah Ruby mengakhiri sesi shoppingnya. Dia dan Mike segera kembali ke markas.
__ADS_1
Setibanya di markas, sebuah keributan berhasil menarik perhatian Ruby. Dia yang tadinya hendak melangkah menuju kamar, harus berhenti untuk menyaksikan sumber keributan.
Ryan terlihat memarahi salah satu bawahannya. Wajah lelaki itu memerah padam. Rahangnya mengerat kesal. Semua orang disekelilingnya terdiam seribu bahasa. Tidak berani ada yang bersuara, apalagi melawan untuk sekedar menolong rekannya yang tengah dipukuli.
Bawahan yang dipukuli Ryan adalah Evan. Dia diketahui telah berkhianat. Ryan berhasil mengetahui kedok Evan, saat tidak sengaja melihat bawahannya tersebut berkumpul dengan komplotan mafia musuh bebuyutannya. Yaitu The Black Cindicate.
"Dengarkan aku, Bos. Aku--"
Buk! Dhuak!
Belum sempat Evan bicara, Ryan sudah menghantamkan tinju. Menyebabkan Evan langsung terhuyung ke belakang. Wajahnya kini tidak hanya memar, tetapi juga dipenuhi darah.
Ruby yang kebetulan juga menyaksikan, membelalakkan mata. Dia reflek membekap mulutnya sendiri. Menurutnya Ryan tampak begitu beringas. Ruby semakin miris kala melihat Ryan menendangi bagian perut Evan dengan kakinya.
"Ugh! Ugh! Aaaa..." Evan mengerang kesakitan. Dia menerima tendangan yang lumayan banyak dari Ryan. Darah mulai mengalir keluar dari mulutnya.
Ryan perlahan mengambil pistol yang ada dibalik mantel panjangnya. Dia bersiap menembakkan peluru. Akan tetapi suara panggilan seorang gadis berhasil mengalihkan atensinya.
"Ryan! Hentikan!" Ternyata orang yang memanggil adalah Ruby. Gadis itu berjalan menghampiri Ryan. Dia tentu langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Terutama Megan dan Sarah yang juga sedari tadi ada di sana.
Berbeda dengan Megan, Sarah malah bergegas mendekati Ruby. Dia berupaya membawa Ruby menjauhi Ryan.
"Ruby, ikut aku," ajak Sarah seraya menarik paksa Ruby untuk ikut dengannya.
"Tidak! Aku harus bicara dengan Ryan!" Ruby menolak mentah-mentah ajakan Sarah. Bahkan sampai berani mendorong kasar istri kedua dari Ryan tersebut.
Sarah terperangah, saat Ruby memperlakukan dirinya seenaknya. Alhasil dia berbalik dan meninggalkan Ruby. Sarah merasa kesal dan membuang jauh kepeduliannya.
Sarah melangkah menjauh dari kerumunan. Namun saat dia dalam perjalanan, sebuah tangan dengan sigap memegangi lengannya. Seorang perempuan berambut pirang dan bermata biru. Siapa lagi kalau bukan Megan.
"Untuk apa kau memperlakukan gadis itu dengan baik. Kau harusnya menyadari sejak awal, kalau dia hanyalah pengganggu!" ujar Megan.
"Ya, kau sepertinya benar..." respon Sarah. Lalu benar-benar beranjak pergi.
Sementara Ryan yang tadi sempat tercengang karena cegatan Ruby, kini mengalihkan kembali pandangannya kepada Evan. Dia mengangkat pistolnya lagi. Tepat ke kepala Evan.
"Ryan, aku rasa memukulinya saja sudah cukup. Kau tidak perlu--"
DOR!
__ADS_1
Ryan tidak mendengarkan sama sekali perkataan Ruby. Dia langsung menarik pelatuk pistol, dan meluncurkan timah panas ke kepala Evan. Bawahannya itu sontak tumbang dan terjatuh ke lantai. Mengalirkan cairan merah nan segar dari kepalanya.
Suara tembakan tentu membuat badan Ruby terperanjat. Jantungnya serasa disambar petir. Dia yang berdiri tidak jauh dari posisi Ryan dan Evan, otomatis terkena sedikit cipratan darah.
Ruby sekarang hanya bisa mematung dengan keadaan mata yang membulat sempurna. Karena baru kali ini, dirinya menyaksikan insiden pembunuhan di depan mata. Parahnya semuanya dilakukan oleh suaminya sendiri.
Setelah puas memberikan pelajaran kepada Evan, Ryan melingus begitu saja meninggalkan tempat kejadian. Dia bahkan tidak melirik Ruby sedikit pun. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Ketika Ryan marah, tidak ada orang yang bisa menghentikannya. Lelaki berbadan jangkung dan berparas tampan tersebut memang memiliki sifat keras kepala di luar batas.
Satu per satu orang meninggalkan tempat kejadian. Hanya ada dua hingga tiga orang yang bertugas membawa jasad Evan. Termasuk Mike yang kebetulan berniat untuk membantu rekannya.
"Ruby, kau harus kembali ke kamar." Mike memberi saran kepada Ruby yang masih membeku di tempat.
"Kau memanggilnya dengan sebutan nama? Apa kau tidak akan dimarahi?" tegur rekan Mike dengan nada berbisik.
"Dia malah memarahiku, jika aku memanggilnya dengan sebutan Miss!" balas Mike. Dia melambaikan tangan kepada seorang perempuan di belakang Ruby. Kemudian bergegas membantu temannya mengangkat mayat Evan.
"Kamu tidak apa-apa?" sosok perempuan sudah berdiri di sebelah Ruby. Namanya adalah Gabriella, namun sering dipanggil Gaby. Berkulit hitam dan mempunyai kemiripan dengan Mike. Sudah jelas dia adalah adiknya Mike.
Ruby membisu, dan perlahan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Aku akan membawamu ke kamar," ujar Gaby. Mencoba menenangkan.
...____________________...
...༻ Bonus Visual ༺...
...____________________...
...____________________...
...____________________...
...____________________...
__ADS_1