
...༻❀༺...
Liana memaksa Ruby masuk ke dalam helikopter. Selanjutnya, helikopter perlahan naik dan melayang di udara. Saat itulah Ryan baru keluar dari pintu atap. Dia menembakkan peluru ke arah Liana yang masih berada di area pintu helikopter.
Dor!
Dor!
Dor!
Tembakan dari machine gun yang digunakan Ryan berhasil mengenai Liana. Gadis tangguh itu sontak melepaskan pegangannya. Dia terjatuh begitu saja mengikuti gravitasi.
"Shi*t!" umpat Liana. Sebelum dirinya jatuh dan kehilangan nyawa.
"LIANA!" pekik Jordan sembari mencoba meraih tangan Liana. Namun usahanya terlambat, karena Ruby dengan sigap menghalanginya. Alhasil Liana terjatuh, dia menghantam pagar di atap lebih dulu, lalu benar-benar jatuh ke bawah. Gadis tersebut harus melewati ketinggian sekitar tiga puluh meter lebih.
Jordan menyalangkan mata kepada Ruby. Kemudian menoleh sejenak ke arah Ryan. "Cepat! Pergi dari sini!" perintahnya kepada pilot. Helikopter lantas dilajukan oleh pilot.
Ryan yang menyaksikan helikopter semakin terbang menjauh, tidak mau membuang waktu. Dia berlari dengan kecepatan maksimal. Hingga akhirnya dirinya nekat melompat ke udara dan sukses berpegangan di kaki helikopter. Dia terpaksa membuang machine gun-nya ke bawah.
Posisi Ryan sekarang bergelantungan di udara. Angin yang berhembus kencang tidak melumpuhkan tekadnya. Ryan berusaha keras mengangkat tubuhnya agar bisa masuk ke dalam helikopter.
Jordan bergegas melakukan tindakan. Dia berdiri di ambang pintu helikopter. Mantel yang dipakainya beterbangan akibat terpaan angin. Apalagi ketika pilot mulai menerbangkan helikopter semakin tinggi.
"Enyahlah!" cerca Jordan. Dia menginjak tangan Ryan dengan kakinya.
"Aargghh!!" Ryan hanya mengerang sambil menggertakkan gigi.
Ruby yang sedang berada di belakang Jordan, tidak akan tinggal diam. Dia mengerahkan semua tenaganya untuk mendorong Jordan. Namun sayangnya usahanya tidak berhasil. Jordan berpegangan erat di pegangan pintu. Meskipun begitu, dia sempat terhuyung karena serangan tak terduga dari Ruby.
Sekarang Jordan memilih mengurus Ruby sebentar. Dia berbalik dan mencengkeram leher Ruby. "Dasar kurang ajar! Harusnya kau berterima kasih kepadaku. Aku adalah orang yang telah membawamu ke dunia ini!" ujarnya dengan wajah yang memerah padam. Jordan marah besar terhadap perlakuan Ruby tadi.
"Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan..." balas Ruby dengan suara seadanya. Tenggorokannya tercekat. Dia mulai kesulitan bernafas. Oksigen yang seharusnya berjalan lancar melewati tenggorokan, kini tidak mampu menggapai paru-paru.
Sementar Ryan, yang telah diabaikan Jordan untuk sejenak. Perlahan mengangkat tubuhnya sekuat tenaga. Ryan sekarang menjenjakkan kakinya ke kaki helikopter, kemudian melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
"Boss! Dia masuk!" pilot yang bertugas memberitahu Jordan dengan suara nyaringnya.
Mendengar hal itu, Ryan langsung bergerak sebelum Jordan menyerangnya lebih dahulu. Ryan melingkarkan lengannya ke leher Jordan. Sehingga tangan Jordan otomatis terlepas dari Ruby.
"Hey bodoh! Lakukan sesuatu!" Jordan menyuruh pilotnya untuk membantunya.
Sang pilot yang bernama Andrew itu, segera melepaskan penutup telinganya, serta mengaktifkan mode autopilot. Dia ingin lekas-lekas membantu. Akan tetapi Ruby dengan cekatan menodongkan pistol ke kepala Andrew. Dia kebetulan mendapatkan pistol dari kantong kursi.
"Fokus saja menerbangkan helikopter ini!" ancam Ruby. Bukannya takut, Andrew malah melakukan perlawanan. Tangannya mencoba merebut pistol yang ada digenggaman Ruby.
Andrew dan Ruby saling berebut pistol. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya Andrew menjedotkan dahinya dengan kuat ke wajah Ruby. Akibat pukulan tersebut, Andrew sukses mengambil pistol dari tangan Ruby.
Di sisi lain, terjadi perkelahian sengit di antara Ryan dan Jordan. Jordan berupaya keras menghantamkan sikunya ke perut Ryan. Dia menggunakan punggungnya untuk melepaskan diri. Jordan menghimpit Ryan ke dinding, lalu melayangkan beberapa tinjunya.
Ryan tidak ingin kalah dengan mudah. Dia semakin mengeratkan lengannya ke leher Jordan. Memutarnya, kemudian menjatuhkannya keluar dari helikopter. Alhasil Jordan melayang di udara. Matanya membuncah hebat sembari menatap ke atas. Berharap dirinya masih bisa diselamatkan. Namun sayang, tanah yang beraspal harus menghancurkan beberapa bagian tubuhnya. Menyebabkan cairan merah nan segar bersimbah begitu banyak.
Kini hanya tinggal Andrew. Dia yang awalnya hendak membatu Jordan, mematung di tempat. Sebab pimpinan yang akan dibantunya sudah tiada. Andrew menatap Ryan dan Ruby secara bergantian. Pistol yang ada ditangannya sengaja diberikannya kembali kepada Ruby.
"I don't wanna die!" Andrew mengangkat kedua tangannya ke udara. Kemudian segera duduk ke kursi pilot lagi.
"Oke!" sahut Andrew. Entah apa yang membuatnya langsung mengalah begitu saja. Sepertinya naluri bertahan hidup yang dimiliki Andrew lebih tinggi dari pada kesetiaannya.
Ryan dan Ruby sekarang bisa mendengus lega. Ryan segera membawa Ruby masuk ke dalam pelukannya. Keduanya duduk dengan tenang. Menatap keluar jendela.
Sebuah dentuman besar tiba-tiba terdengar. Ryan dan Ruby reflek mencari sumber suara tersebut. Mereka bisa melihat, kalau tempat yang baru saja meledak adalah markas milik Jordan. Posisi helikopter yang keduanya naiki, belumlah jauh dari lokasi markas Jordan berada.
"Sepertinya Henry dan rekannya yang melakukan itu," ucap Ryan.
"Henry? Ah benar, aku tidak melihatnya saat misi utama dilakukan. Kau menyuruhnya melakukan apa?" tanya Ruby.
"Aku hanya menyuruhnya melakukan rencana cadangan. Awalnya aku hanya berjaga-jaga. Tapi tidak kusangka, ternyata rencana cadangan terpaksa dilakukan. Setelah ini, kita harus pergi bersembunyi, Ruby. Polisi dan FBI akan mencari kita," ujar Ryan panjang lebar.
"Ya, tentu saja. Jordan, kau, dan ketua mafia lainnya telah banyak menghancurkan properti umum. Kenapa kalian sangat suka memakai bom. Bukankah itu akan menarik perhatian semua orang? Aku melihat--"
Ruby berhenti berceloteh ketika Ryan mengecup pipinya cukup lama. Ryan merasa bersyukur Ruby masih ada disisinya, dan dia akan mempertahankan itu hingga akhir.
__ADS_1
"Aku bau, bukan?" imbuh Ruby, setelah Ryan menyelesaikan ciuman dipipinya.
"Ya. Sangat!" ungkap Ryan yang tak kuasa menahan senyuman diwajahnya.
"Kau juga bau!" Ruby membalas seraya tergelak kecil. Dia menyandarkan kepalanya ke pundak Ryan. Candaan kecilnya bersama Ryan tadi, setidaknya membuat perasaannya tenang dalam sesaat. Ruby terdiam sejenak. Pikirannya tiba-tiba mengingat perihal Megan.
"Ah benar! Ryan, apa Megan baik-baik saja?" Ruby mengangkat kepalanya untuk menatap Ryan.
"Kami berhasil menemukannya. Ethan pasti sudah membawanya ke rumah sakit sekarang," jawab Ryan.
"Syukurlah..." Ruby menghela nafas leganya. Gadis itu kembali menyandar di pundak suaminya.
Sepuluh menit berlalu. Andrew akhirnya menemukan tempat yang tepat untuk menurunkan helikopter. Yaitu di sebuah tanah lapang yang dipenuhi oleh pasir dan beberapa pohon kaktus. Tempatnya sendiri berada tidak jauh dari pom bensin dan minimarket.
Ryan dan Ruby segera keluar dari helikopter. Ryan mengambil pistol yang ada ditangan Ruby. Kemudian menyuruh istrinya untuk menunggu sebentar.
"Kau mau apa?" tanya Ruby, penasaran. Ryan tampak berjalan menghampiri Andrew.
Dor!
Ruby tersentak kaget saat Ryan meluncurkan sebuah tembakan dengan tiba-tiba. Andrew terlihat terhempas ke tanah. Dalam keadaan kepala yang berlumuran darah.
"Apa-apaan itu! Bukankah dia orang baik?!" timpal Ruby tak percaya.
Ryan hanya terdiam. Kemudian menggendong Ruby ke atas salah satu bahunya. Dia membawa Ruby bak sebuah karung beras.
"Ryan!!!" Ruby terperangah. Dia akhirnya memilih mengalah dan diam. Setidaknya kakinya tidak terasa sakit lagi, karena harus memaksakan diri untuk berjalan.
"Kenapa kau menggendongku seperti ini... kepalaku jadi terbalik, Ryan..." keluh Ruby lirih.
...______...
Catatan kaki :
Autopilot : Adalah sebuah sistem mekanikal, elektrikal, atau hidraulis yang memandu sebuah kendaraan tanpa campur tangan dari manusia.
__ADS_1
FBI : Biro Investigasi Federal, adalah badan investigasi utama dari Departemen Keadilan Amerika Serikat.