Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 94 - Bertemu Andrew [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan memaksa Ruby untuk duduk di pangkuannya. Mereka duduk di sofa yang ada di depan televisi. Keduanya saling berbincang sambil sesekali tertawa kecil bersama.


Ruby melingkarkan tangannya ke tengkuk Ryan. Keduanya saling memancarkan binaran mata penuh kasih. Pancaran di sorot mata mereka harus berakhir ketika bel pintu berbunyi.


Ruby segera berdiri, lalu beranjak menuju pintu. Sebelum dirinya sempat pergi, Ryan menghentikan pergerakannya.


"Biar aku saja. Kau sebaiknya istirahat," saran Ryan, yang langsung dijawab Ruby dengan anggukan kepala. Ryan lantas melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Tampaklah sosok Andrew yang kebetulan sibuk memperbaiki ikat pinggang. Mendengar pintu terbuka, Andrew spontan mengakhiri kesibukannya.


"Halo?... Kau siapa?" tanya Andrew dengan nada meragu. Keningnya mengernyit heran. Sebab dia belum pernah berhadapan dengan Ryan.


"Aku adalah pemilik rumah ini. Ada perlu apa?" Ryan berusaha bersikap tenang. Kedua tangannya di masukkan ke saku celana. Yang mana dalam salah satu sakunya, terdapat sebuah pisau lipat. Tangan Ryan sudah menggenggamnya. Berjaga-jaga kalau Andrew melakukan serangan.


"Pemilik? Aku pikir pemiliknya Ethan." Andrew masih merasa bingung. "Lalu kau siapanya Ruby?" tanya-nya lagi melanjutkan.


"Kau mengenal istriku?" respon Ryan. Tangannya semakin siaga. Dia tentu merasa aneh, Andrew tiba-tiba menyebut nama Ruby.


"I-istri?" Andrew membulatkan mata. Satu tangannya terlihat menggaruk kepala tanpa alasan. Terlintas dalam benaknya, 'Apakah Ruby mempunyai dua suami?'


Meskipun begitu, Andrew mencoba tidak terlalu cepat menyimpulkan. Dia hanya mencari-cari logika yang tepat.


"Berarti Ruby baru saja bercerai dengan Ethan?" tanya Andrew memastikan.


"Apa?!" mata Ryan menyalang hebat saat mendengar pertanyaan Andrew. "Apa maksudmu?! Aku sarankan kau untuk tidak main-main denganku!" tegasnya, yang tiba-tiba merasa risih dengan kalimat dari Andrew.


Ruby yang mendengar, bergegas menghampiri Ryan. Dia ingin tahu, kenapa suaminya mendadak meninggikan nada suara. Ruby menarik pundak Ryan, dan menyaksikan Andrew berdiri di depan pintu.


"Andrew!" seru Ruby. Selanjutnya dia segera menoleh ke arah Ryan. Kemudian menjelaskan tentang Andrew. Ruby juga tidak lupa bercerita mengenai kunjungannya ke acara amal.


Ryan terpaksa mendengarkan, karena Ruby terlihat bersemangat. Apalagi ketika gadis itu menceritakan perihal anak-anak yang ditemuinya di acara amal.


"Aku bertemu Sean kemarin. Dan dia menanyakan tentang dirimu, Ruby!" Andrew memberitahukan dengan rekahan senyum diwajahnya.

__ADS_1


"Benarkah? Sepertinya aku harus berkunjung ke tempat mereka sesekali," jawab Ruby sembari tersenyum lebar. Ekspresinya membuat Ryan semakin kesal. Ryan ingin sekali mengusir Andrew pergi. Tetapi Ruby terus saja melakukan interaksi.


"Apa kalian sudah selesai? Tidak baik berbicara terlalu lama di depan pintu." Ryan sengaja memutus pembicaraan di antara Ruby dan Andrew.


"Kau benar, Babe. Kalau begitu, lebih baik kita bicara di dalam saja!" ujar Ruby. Menyebabkan rasa kekesalan Ryan kian bertambah. Kini lelaki tersebut hanya bisa menggertakkan gigi dibalik bibirnya yang mengatup. Apalagi ketika Andrew bersedia menerima ajakan Ruby.


Ruby menyuruh Andrew duduk di sofa. Sementara dirinya sendiri berinisiatif membuatkan minuman. Membiarkan Andrew dan Ryan saling bicara berdua.


"Aku tidak tahu dengan maksudmu, mengenai bercerainya Ruby dari Ethan. Sebenarnya apa yang kau bicarakan?" Ryan menimpali pertanyaan kepada Andrew. Jujur saja, sedari tadi dia merasa penasaran.


"Karena aku tahu Ethan adalah suaminya Ruby!" sahut Andrew.


Brak!


"Apa?!!!"


Ryan memukul keras meja yang menjadi penghelat di antara dirinya dan Andrew. Apa yang dilakukannya itu berhasil membuat Andrew sangat kaget. Bahkan Ruby yang kebetulan ada di dapur terperanjat, sampai menumpahkan air ke lantai. Alhasil Ruby memutuskan menghentikan kegiatannya lebih dahulu, lalu lekas-lekas mendatangi Ryan.


"Sial! Kau membuatku tersentak!" ungkap Andrew seraya mengelus dada kirinya beberapa kali. Berharap jantungnya bisa berdetak normal kembali.


Ryan menatap Ruby dengan sebal. Dia berdiri dan menarik tangan Ruby. "Andrew bilang, Ethan adalah suamimu. Apa maksudnya?!" ujarnya, dalam keadaan rahang yang mengerat sebal. Badan Ryan sedikit bergetar akibat pitam yang memuncak.


Ruby memejamkan rapat matanya. Kemudian menggeleng beberapa kali. Dia berupaya menahan tawa agar Ryan tidak terus marah.


"Hentikanlah! Aku tidak bermaksud membuat kalian berdua menjadi ribut begini." Andrew berupaya menenangkan Ryan.


"Menjauhlah, bodoh! Tidak perlu ikut campur urusan kami! Aku sarankan kau untuk--"


"Ryan! Andrew hanya salah paham, oke? Ethan hanya mengaku-ngaku, kalau aku adalah istrinya. Kemungkinan besar dia melakukan itu karena berniat mempermainkan Andrew." Ruby buka suara. Sengaja memotong ucapan Ryan yang hampir melayangkan kalimat pengusiran.


Ruby menatap Andrew, lalu bertanya, "Aku dengar kau dan Ethan pernah satu sekolah. Bukankah begitu?"


"Kau benar." Andrew mengangguk lemah. Sekarang dia yang merasa kesal. Bukan karena Ruby, melainkan karena Ethan. Andrew berjanji jika dirinya bertemu Ethan, maka dia tidak akan segan-segan memukulinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Andrew. Aku tidak sempat menjelaskan yang sebenarnya kepadamu. Sebab aku kira diriku tidak akan lama tingga di sini," tutur Ruby merasa menyesal. Sedangkan Ryan terlihat menghempaskan pantatnya dengan sebal ke sofa. Membuang muka, dan mencoba bertenang diri.


"Tidak apa-apa. Ethan-lah yang salah." Andrew menarik kesimpulan. Dia memandang ke arah Ryan penuh sesal. "Maafkan aku, Ryan. Aku tidak bermaksud membuatmu marah..." ujarnya sambil mengulurkan tangan.


Ryan tak acuh. Tidak menghiraukan sama sekali salam perdamaian dari Andrew. Namun ketika Ruby memanggil namanya, barulah Ryan menyambut tangan Andrew. Keduanya lantas saling bersalaman. Walau Ryan terus saja memancarkan tatapan risihnya terhadap Andrew.


Suara bel pintu terdengar lagi. Ryan, Ruby dan Andrew, sontak mengalihkan perhatian secara bersamaan ke pintu. Ryan bergerak cepat untuk membukanya. Menghentikan Ruby yang tadinya hampir saja beranjak lebih dulu.


"Jika aku melihat lelaki lain lagi, maka aku tidak akan segan-segan menghabisinya!" gerutu Ryan, bertekad. Alasan utama kemarahannya di akibatkan oleh rasa cemburu yang berkobar. Tangannya sekali lagi masuk ke dalam kantong, dimana pisau lipatnya berada.


Ceklek!


Pintu terbuka, ternyata yang datang adalah Frans. Dia tidak sendiri, melainkan bersama seorang perempuan berpakaian rapi. Perempuan tersebut terbilang masih muda. Ryan yakin dialah dokter kandungan yang berhasil ditemukan oleh Frans.


"Dia adalah Dokter Lily. Aku yakin dia bisa sangat membantu." Frans memperkenalkan Lily kepada Ryan.


"Silahkan masuk! Istriku ada di dalam." Ryan membuka lebar pintunya.


Lily merespon dengan senyuman, kemudian melangkah masuk ke rumah Ryan. Dia segera bergabung ke ruang tengah untuk menemui Ruby.


"Ruby, dia adalah dokter kandungan yang aku bicarakan. Namanya adalah Lily!" ucap Ryan.


Ruby langsung bangkit dari tempat duduk. Hal serupa juga dilakukan oleh Andrew. Ruby memberikan sapaan hangat kepada Lily. Akan tetapi tidak untuk Andrew. Dia dan Lily reflek saling bertukar pandang. Sebab keduanya tidak asing dengan satu sama lain.


"Lily? Apa yang kau lakukan di sini?" pungkas Andrew, tak percaya.


Lily hanya meringis canggung. Dia mungkin tidak bersedia menjawab pertanyaan Andrew.


"Kalian saling mengenal?" tanya Ryan. Menatap Andrew dan Lily secara bergantian.


"Tentu saja. Dia adikku!" sahut Andrew sembari mengangguk yakin.


Catatan Author :

__ADS_1


Kalau komennya lebih dari 30, author tambah bab lagi hari ini ya! :v


__ADS_2