
...༻❀༺...
Setelah memperkenalkan Mike, Ryan mengambil sebuah kartu dari dompetnya. Kemudian memberikannya kepada Ruby.
"Kau memberikanku kartu kredit?" Ruby melebarkan kelopak matanya.
"Iya, gunakanlah baik-baik. Kau bisa keluar dari markas bersama Mike. Aku yakin kau pasti sudah bosan setengah mati, karena terus-menerus mengurung diri," ujar Ryan menyarankan.
"Benarkah? Aku bisa keluar?" Ruby kian bersemangat. Dia mendekat satu langkah menghampiri Ryan.
"Ya! Tetapi jangan pergi ke kasino. Di sana berbahaya!" sahut Ryan. Kemudian beranjak pergi keluar dari ruangan.
"Lagi pula bagaimana aku bisa bermain judi dengan kartu kredit!" ucap Ruby, sebelum Ryan benar-benar menghilang dari pandangannya. Namun suaminya tersebut sama sekali tidak merespon, dan terus melangkah maju.
Sekarang hanya tinggal Ruby dan Mike. Ruby tentu merasa agak canggung. Dia yang terbiasa kemana-mana sendiri, kini harus pergi didampingi oleh seorang pengawal pribadi.
"Miss, katakan saja kau mau kemana. Aku akan menyiapkan mobil dan mengantarmu," imbuh Mike santai. Mimik wajahnya tidak sesangar badannya. Entah kenapa Ruby dapat melihat garis-garis kesedihan di sana.
"Oke..." Ruby mendengus sambil berpikir sejenak. "Antarkan aku ke salon terlebih dahulu," lanjutnya, memberitahu. Mike lantas berderap lebih dahulu untuk memimpin jalan. Tepatnya menuju parkiran khusus, dimana mobil-mobil mewah Ryan tersusun rapi.
"Ini semua milik Ryan?" tanya Ruby tak percaya. Dia terperangah karena merasa berdecak kagum.
"Benar, Miss. Percayalah, Ryan memiliki harta lebih banyak dibanding Presiden Amerika," sahut Mike. Membuat Ruby memanggut-manggutkan kepala. Dengan semua bukti yang terlihat, gadis itu memang tidak bisa membantah kekayaan fantastis yang dimiliki Ryan.
"Ya, aku yakin Ryan juga telah banyak membuat orang menderita, agar dirinya dapat mendapat banyak uang!" sinis Ruby.
Mike tersenyum tipis. Dia tidak bisa membantah pernyataan Ruby. Sebab pekerjaan penjahat memang cenderung selalu merugikan orang lain.
Mike segera melajukan mobil. Membawa tuan barunya ke salon. Tanpa sengaja mobilnya berpapasan dengan sebuah mobil mewah berwarna merah. Di dalamnya ada Megan, yang juga tengah bersama pengawal pribadinya.
Di sisi lain, tepatnya dari balik jendela sebuah kamar hotel, Ryan memperhatikan kepergian Ruby dari jauh. Mulutnya mengembangkan senyum. Dia merasa sangat puas, karena semua rencananya berjalan begitu mulus.
__ADS_1
Bruk!
Bunyi hempasan pintu menyebabkan tubuh Ryan terperanjat. Dia segera menoleh ke arah sumber suara. Tampaklah Megan di hadapannya. Mengukir ekspresi marah. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Aku dengar Ruby sudah bisa menerima untuk menjadi istrimu. Apa kau bercanda, Ryan? Dia hanya gadis bodoh yang tidak berguna!" timpal Megan.
"Dia akan berguna jika terus dilatih! Aku yakin itu." Ryan menjawab dengan tenang. Dia tidak ingin Megan semakin terpancing amarah.
"Persetan dengan itu! Bukankah latihan akan memerlukan waktu yang lama?! Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!" balas Megan menatap sebal Ryan.
"Kamu lebih baik beristirahat, Megan. Aku dengar kau melakukan banyak pemotretan." Ryan sengaja mengubah topik pembicaraan.
Megan memilih mengalah. Dia lantas duduk di sofa. Mengambil botol bir kecil dari tas bahu yang sedari tadi dibawanya. Tanpa pikir panjang gadis tersebut menenggak minuman langsung dari botol. Sesekali matanya akan tertuju ke arah Ryan.
Sementara Ryan masih berdiri di depan jendela. Dia terpaku cukup lama. Melihat pemandangan yang ada. Perlahan sepasang tangan ramping melingkar diperutnya. Dilihat dari kotek yang menghiasi kuku-kukunya, Ryan tahu kalau tangan itu adalah milik Megan. Istri pertamanya itu memeluknya dari belakang. Megan mendekatkan mulut ke telinga Ryan.
"Setidaknya, kau tetap tidak melupakanku karena gadis bodoh itu..." bisik Megan. Bibirnya yang dipoles dengan lipstik merah, menciumi leher hingga pipi Ryan.
"Megan..." panggil Ryan lirih. Dia perlahan menjauhkan Megan darinya. Perlakuannya sontak membuat dahi Megan mengerut dalam.
"Aku harus pergi." Ryan menepuk pelan pundak Megan. Lalu mencoba beranjak meninggalkan.
"RYAN!!!" pekik Megan sambil mengepalkan tinju di kedua tangan. Akan tetapi panggilannya sama sekali tidak dihiraukan oleh sang suami. Menyebabkan Megan semakin merasa tidak habis pikir. Bagaimana tidak? Semenjak dirinya memutuskan menikah dengan Ryan, baru kali ini suaminya itu menolak untuk berhubungan intim. Padahal selama ini semua orang tahu, kalau Ryan lebih sering melakukannya bersama Megan dibanding Sarah. Setidaknya itulah yang terjadi, sebelum Ruby hadir.
Megan kini menggigit jari telunjuknya. Matanya melotot ke arah jendela. Dia segera memanggil pengawal pribadinya yang bernama James.
"Ada apa, Miss? Apa Bos menyakitimu?" tanya James sembari menilik mimik wajah yang ditunjukkan oleh paras Megan.
"Tidak. Tetapi gadis itu." Megan berbicara tanpa menoleh ke arah James. Tatapannya terpaku pada luar jendela.
"Gadis?" James berusaha berpikir keras. Sebab Megan tidak memberitahu secara spesifik.
__ADS_1
"Maksudku, Ruby." Megan akhirnya berbalik dan menatap James.
"Oh, dia... Aku dengar Bos dan Ruby berduaan semalaman di kamar VIP," ungkap James seraya menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal.
"Apa? Benarkah?!" Megan merasa penasaran. Matanya otomatis terbelalak. Pertanyaannya langsung dijawab dengan anggukan oleh James.
"Sial!" umpat Megan sembari menghentakkan sebelah kaki ke lantai. Wajahnya tampak begitu masam. Dia pasti bisa menyimpulkan apa yang dilakukan Ryan dan Ruby semalaman.
Megan segera mendudukkan dirinya ke sofa. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Giginya menggertak kesal. Terlihat sekali kalau gadis tersebut sedang dirundung perasaan kesal yang luar biasa. Rasanya dia ingin sekali memberi pelajaran untuk Ruby. Api cemburu membara besar dihatinya.
Megan memang awalnya hanya menyukai uang dan wewenang yang diberikan Ryan. Tetapi lama-kelamaan, Megan tak bisa membendung perasaannya untuk tidak jatuh cinta kepada lelaki semenawan Ryan. Entah sejak kapan rasa cintanya tumbuh, namun itulah salah satu alasan Megan tetap setia disisi Ryan. Jujur saja, banyak sekali pengusaha hingga aktor ternama yang ditolak cintanya oleh Megan. Sebagai wanita yang bergelut di dunia permodelan, Megan tentu tidak asing dengan banyaknya lelaki tampan yang mencoba mendekatinya.
"James!" panggil Megan tiba-tiba. Dia perlahan mendongakkan kepala.
"Yes, Miss?" James yang masih berdiri di samping Megan segera merespon.
"Bisakah kau mencari tahu latar belakang Ruby? Aku sangat penasaran dengan gadis itu. Aku merasa tidak percaya kalau dia hanya gadis biasa, seperti yang Ryan sebutkan kepadaku," ucap Megan.
"Sekarang?" James bertanya untuk memastikan.
"TENTU SAJA! Kau pikir tahun depan, HAH?!" Megan membalas dengan memekik. James yang dibuat kaget sontak bergegas melaksanakan tugasnya. Lalu keluar dari ruangan.
James berjalan dengan langkah cepat. Melewati koridor hotel yang menuju ke parkiran. Tanpa diduga sebuah tangan mendadak melingkar dileher James. Membuat tenggorokannya seketika tercekat. Ternyata pemilik tangan itu adalah Ryan. James bisa mengetahuinya dari bau cologne Ryan yang sangat khas.
"Aku akan menendangmu dari The Shadow Holo, jika kau berani mencari tahu tentang Ruby." Ryan semakin mengeratkan cekikan yang dilakukannya.
"Kkkkkkk... Kkkkkkk..." James ingin bicara, tetapi tak mampu. Sebab dia sudah kehilangan nafas akibat perlakuan Bosnya sendiri.
Merasa sadar James sudah hampir sekarat, Ryan segera melepaskan tangannya. James pun langsung terbatuk.
"Kau mengerti perintahku bukan?!" tegas Ryan dengan pelototan tajam.
__ADS_1
"I-iya Bos!" sahut James seraya memegangi area lehernya yang terasa sakit.
"Kau berpura-pura saja dahulu melakukan pencarian untuk Megan. Dan jika dia bertanya mengenai apa yang sudah kau dapat, bilang saja Ruby memang gadis biasa. Seperti yang pernah aku sebutkan!" Ryan kembali menegaskan. James tentu lebih menurut kepadanya dibanding Megan.