Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 106 - Kabar Buruk? [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby mentertawakan Ryan dari dalam kamar mandi. Ia puas bisa mengerjai Ryan dengan sesuka hati. Sudah jelas dirinya telah memaafkan Ryan sepenuhnya.


"Babe, jika kau tidak membuka pintunya. Maka aku akan mendobraknya! Kau dengar itu bukan?" ucap Ryan, yang masih berdiri di depan pintu.


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak bisa menunggu? Bila tidak ingin menunggu, dobrak saja pintunya sampai hancur," tantang Ruby sembari menjauh dari pintu.


Bruk!


Ruby terkejut ketika mendengar keributan dari depan pintu. Ryan ternyata benar-benar mendobrak pintunya. Dia sepertinya tidak mau menunggu. Ryan bak hewan buas yang sedang mencari mangsanya.


"Cepat bukalah, Babe. Sebelum aku berhasil membuka pintu ini dengan caraku sendiri," ujar Ryan sambil terus menghantamkan badannya untuk mendobrak pintu.


Ruby sempat terdiam sebentar. Ia bersembunyi di balik tirai. Dirinya berupaya keras menahan tawa. Namun setelah berpikir lama, Ruby akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.


Bruk!


Ryan sudah bisa membuka pintu dengan caranya sendiri. Bahkan sebelum Ruby sempat membukakan pintu. Alhasil Ruby tetap bersembunyi di balik tirai.


"Ruby..." panggil Ryan pelan seraya berseringai senang. Dia sengaja menggoda Ruby. Ryan tentu tahu tempat dimana Ruby bersembunyi.


Kini Ruby membekap mulutnya dengan kedua tangan. Melangkah mundur untuk menjauhi tirai. Entah kenapa jantungnya berdegub sangat kencang. Permainan yang dilakukannya bersama Ryan terasa begitu nyata.


Sreet!


Ryan membuka tirai dengan tiba-tiba. "Peek-a-boo!" cetusnya. Sukses membuat Ruby kaget sampai reflek berteriak.


Ryan tertawa bersamaan dengan Ruby. Dia segera membawa istrinya masuk ke dalam dekapan. Keduanya saling bertukar pandang sejenak.


Ketika Ryan hampir memberikan ciuman, Ruby justru sengaja menghentikan. Ruby tampak memperhatikan tato yang ada di dada bidang milik Ryan.


"Bolehkah aku membuat tato juga?" tanya Ruby seraya mengusap lembut dada Ryan dengan tangannya.


"Bisakah kita membicarakannya nanti saja?" balas Ryan. Lalu langsung mengecup bibir Ruby dengan penuh gairah. Seperti biasa, pergerakan liar Ryan selalu sukses membuat Ruby kewalahan hingga terpojok ke dinding.

__ADS_1


Tangan Ryan mulai mengacak-acak rambut Ruby. Dia melakukannya sambil mengulum intens mulut Ruby. Sementara tangan Ryan yang satunya bermain-main di organ intim milik sang istri.


Ulah Ryan menyebabkan Ruby melepas tautan bibirnya. Dia harus melakukannya karena tidak kuasa menahan lenguhan yang hendak keluar dari mulutnya.


"Sial!" rutuk Ruby, akibat merasa saking nikmatnya. Dia memukul dada bidang Ryan sekali. Kemudian mengerang kembali.


"Inilah akibatnya jika kau mempermainkanku!" ujar Ryan, yang dilanjutkan dengan menggigit pelan bibir bawah Ruby.


Perbuatan Ryan membuat Ruby merasakan gelitik tajam diperutnya. Selain itu, darah disekujur badannya berdesir untuk yang sekian kalinya.


Menyadari Ruby sudah terangsang, Ryan segera membawa Ruby ke depan wastafel. Di sana mereka melepaskan pakaian yang tersisa, dan menyatu dalam tubuh.


Ruby dalam keadaan membelakangi Ryan. Ia dapat melihat semuanya melalui cermin yang ada di depannya. Pantulan yang diperlihatkan cermin membuat Ruby semakin merasakan kenikmatan tiada tara. Apalagi ketika Ryan melakukan pergerakan semakin cepat, sambil sibuk menciumi punggung Ruby yang mulus dan putih.


Erangan Ruby kian menjadi-jadi. Dia tidak kuasa menahan meski dirinya sangat ingin berhenti mengeluarkan suara berisik. Gila! itulah definisi kenikmatan yang sedang dirasakan Ruby. Ryan memang selalu pandai membuat hasratnya terpuaskan.


Ruby sudah merasa lemas, tetapi dia tidak ingin Ryan berhenti. Dia meletakkan tangan Ryan ke salah satu buah dadanya. Ryan yang paham, lantas mencengkeram benda kenyal tersebut. Lalu menenggelamkan wajahnya ke leher Ruby.


Ryan dan Ruby terus melenguh bersamaan. Di iringi suara tepukan daging yang mengiringi pergerakan intim. Keduanya sama-sama mengeluarkan keringat yang seketika membuat tubuh mereka mengkilap. Ryan dan Ruby terus menyalurkan hasratnya satu sama lain, sampai berhenti di waktu yang tepat.



Ryan dan sebagian anggota The Shadow Holo harus berangkat ke luar negeri. Mereka akan pergi selama beberapa hari.


Karena akan pergi lama, Ryan merasa harus berpamitan dengan istrinya. Dia yang telah mengenakan setelan rapi, segera mendatangi kamar Ruby lagi.


Ruby yang asyik rebahan memainkan ponsel, sontak merubah posisinya menjadi duduk. Perhatiannya tertuju ke arah Ryan yang masuk dengan setelan jas rapi.


"Kau mau kemana?" tanya Ruby.


"Seperti yang kau inginkan, aku akan melakukan misi-ku kembali. Ini berkaitan dengan bisnis untuk menambah pundi-pundi uangku," jelas Ryan seraya duduk di ujung kasur bersama Ruby.


Ruby menghela nafas berat. Dia sekarang tidak mau Ryan pergi meninggalkannya. "Bisakah kau lakukan nanti saja? Aku mau kau terus bersamaku," ungkapnya. Menampakkan ekspresi memohon.


"Ruby, misi ini cukup penting. Ini berkaitan dengan kemajuan The Shadow Holo. Aku harus membuat organisasi mafia ini berjaya seperti dulu," sahut Ryan.

__ADS_1


Ruby menundukkan wajah karena kecewa. "Baiklah..." lirihnya, terpaksa menyetujui.


"Kau tenang saja, aku akan kembali secepat mungkin." Ryan mengusap puncak kepala Ruby. Kemudian beranjak menuju pintu.


"Misinya tidak berbahaya kan?" pertanyaan Ruby mengharuskan langkah kaki Ryan terhenti. Ryan otomatis berbalik menatap Ruby.


"Kau tahu kalau aku ahli dalam apapun. Aku bisa melalui banyak hal berbahaya," jawab Ryan ambigu.


"Itu berarti kau melakukan misi berbahaya!" Ruby menyimpulkan sendiri.


"Aku berjanji akan kembali secepat mungkin. Ajaklah Gaby dan Mike bersenang-senang, mereka sengaja kutinggal untuk menemanimu." Ryan mengatakan sambil melajukan pergerakan kakinya.


"Berhati-hatilah kalau begitu!" seru Ruby yang hanya dibalas Ryan dengan satu kata oke.


Ruby menghempaskan badannya ke kasur. Dia hanya bisa berharap Ryan dapat melakukan misi dengan lancar. Tanpa adanya luka dan halangan apapun yang mengganggu.


Rasa kantuk perlahan menyelimuti Ruby. Gadis itu akhirnya tertidur hampir seharian. Dia terbangun kala seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.


"Masuklah!" perintah Ruby.


Sosok yang ada di depan pintu sontak menurut. Ia ternyata adalah Gaby. Di belakangnya terlihat ada seorang pria asing berkacamata.


"Ruby, ada kabar buruk..." lirih Gaby dengan nada suara yang memelan.


Deg!


Belum mendengar apa yang terjadi, jantung Ruby sudah berdegub kencang. Dia khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Ruby mendadak teringat tentang pembicaraannya tadi bersama Ryan.


Ruby tenggelam dalam kebungkaman. Dia sudah menduga-duga sendiri. Padahal Ruby belum melontarkan pertanyaan apapun kepada Gaby.


"Ruby? Apa kau tidak apa-apa?" tegur Gaby seraya memegangi pundak Ruby.


"Ya, aku tidak apa-apa." Ruby lekas tersadar dan menyahut.


"Kenalkan dia Neil." Gaby memperkenalkan pria berkacamata yang ikut bersamanya.

__ADS_1


"Kau Ruby bukan?" tanya Neil memastikan.


Ruby lantas mengangguk dengan ragu. Ia sebenarnya tidak mau mendengar kabar buruk yang disebutkan Gaby. Tetapi mau bagaimana lagi? Ruby tidak bisa selalu berada di lubang penuh kesenangan. Apapun kabar buruknya, Ruby berharap dia bisa kuat menerimanya.


__ADS_2