Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 53 - Si Misterius Henry


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby langsung berdiri. Raut wajahnya masam seketika. Tidak berhenti disitu, ada sosok lelaki lainnya yang berjalan mendekat.


"Henry..." lirih Ruby dengan dahi yang berkerut. Dia menatap lelaki yang ada di hadapannya.


"Bagaimana kabarmu, Ruby?" Henry bertanya seraya mengukir senyuman. Wajahnya terlihat pucat. Namun hal tersebut tidak membuat Ruby iba sama sekali.


"Inikah gadis itu?" lelaki yang datang bersama Henry ikut bergabung dalam pembicaraan. Dia mengamati Ruby dari ujung kaki hingga kepala.


"Benar, Jordan. Dia sudah besar sekarang, right?" Henry merespon perkataan lelaki yang ternyata memiliki nama Jordan itu.


Ruby menilik sosok Jordan baik-baik. Lelaki tersebut nampak sangar. Memiliki kumis yang lumayan tebal. Badannya besar dan tinggi. Serta memiliki iris mata yang warnanya persis seperti Ruby.


"Aku harus pergi. Bukankah kita tidak saling mengenal?" ketus Ruby. Kakinya segera digerakkan untuk beranjak. Dia merasa kesal saat melihat Henry. Mengingatkannya pada penderitaan yang dilaluinya sendirian selama bertahun-tahun.


"Apa kau tahu, sudah berapa lama aku mencari-carimu?" ujar Henry dengan nada suara yang ditinggikan. Sebab Ruby berjalan semakin menjauh. Menembus lebatnya salju yang masih belum mereda.


"Ayolah, Ruby. Kau tidak mau bicara dengan ayah kandungmu sendiri?" pernyataan Jordan berhasil membuat langkah kaki Ruby terhenti. Sekarang dia tahu alasan dibalik kemiripan warna iris mata miliknya dengan milik Jordan.


"Kita harus bicara. Lagi pula, aku yakin kau sedang kedinginan." Henry menghampiri Ruby. Mencoba mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya.


Ruby tentu kaget terhadap perkataan yang diungkapkan Jordan. Dia yang merasa penasaran, akhirnya menurut. Henry dan Jordan mengajaknya pergi ke bar terdekat. Di sana Ruby merasa badannya lebih hangat. Bukan saja karena alat pemanas yang bekerja, tetapi juga karena minuman alkohol yang disuguhkan.


Henry menceritakan semuanya kepada Ruby. Termasuk mengenai alasan dirinya tiba- tiba menghilang dan meninggalkan Ruby. Henry memberitahu kalau dia mengalami insiden kecelakaan yang parah. Menyebabkannya harus mengalami koma selama beberapa waktu.


"Setelah sembuh, aku langsung mencarimu ke panti asuhan. Tetapi kau sudah tidak ada," terang Henry pelan.

__ADS_1


Ruby hanya memasang ekspresi datar. Sorot matanya perlahan beralih ke arah Jordan. Dia penasaran terhadap hubungan Henry dan Jordan.


"Apakah alasan kau sering menemuiku, karena suruhan pria yang mengaku sebagai ayahku ini?" timpal Ruby. Kedua tangannya terlipat didada. Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Melayangkan tatapan penuh selidik.


Jordan terlihat terkekeh mendengar ucapan Ruby. Seakan menganggap pertanyaan Ruby adalah sesuatu yang lucu.


"Kenapa kau malah tertawa?!" geram Ruby. Mimik wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Menurutmu? Bukankah itu sudah jelas, putriku? Kau harus tahu, aku selalu peduli kepadamu." Jordan mengembangkan senyuman tipis. Dia mengira kalau senyuman itu akan membuat Ruby luluh.


Ruby menggelengkan kepala beberapa kali. Dia tentu tidak percaya terhadap segala hal yang diucapkan Jordan. Apalagi dengan ekspresi wajah yang tampak begitu licik.


Berbeda dengan Jordan, Henry terlihat menunduk sendu. Seolah ada sesuatu yang menggangu. Ruby merasa suasana menjadi semakin aneh.


'Apa aku dalam bahaya?' batin Ruby. Dia kini berniat ingin pergi dari hadapan Henry dan Jordan.


"Aku tidak sengaja melihatmu berjalan di trotoar tadi. Dari kejauhan, aku bisa langsung tahu bahwa gadis yang kulihat adalah dirimu," tutur Henry.


"Ah, begitu..." Ruby tersenyum kecut. Dia perlahan berdiri dan kembali berkata, "aku mau ke toilet dulu."


Ruby bergegas melangkahkan kaki. Akan tetapi ketika dia baru berjalan beberapa langkah, Jordan tiba-tiba mencengkeram tangannya. Lelaki itu bangkit dari tempat duduk. Raut wajahnya berubah drastis. Menjadi lebih sangar dan tidak ada keramahan sedikit pun di sana.


"Kenapa aku berfirasat kalau kau mau melarikan diri dari kami. Jujur saja, Sayang. Pergi ke toilet hanya akal-akalanmu saja kan?" tukas Jordan. Masih belum melepas pegangannya dari lengan Ruby.


Kening Ruby mengernyit dalam. Dia berusaha keras melepas cengkeraman Jordan. Dirinya tambah yakin, Jordan pasti mempunyai maksud terselubung. Dan pastinya tidak ada sama sekali kepedulian yang dirasakannya kepada Ruby.


"Katakan kepadaku, Henry! Apa mau lelaki ini sebenarnya!" Ruby menoleh ke arah Henry. Menuntut penjelasan lebih lanjut. Tetapi Henry hanya membisu. Matanya memancarkan binar yang tak dapat di artikan.

__ADS_1


"Kau harus ikut aku, Ruby. Aku akan menperkenalkanmu dengan saudara-saudaramu," ujar Jordan sambil menyeret paksa Ruby. Cengkeramannya begitu kuat. Tenaga Ruby bahkan tidak setara dengannya.


Jordan memaksa Ruby berjalan ke depan mobil. Sebelum masuk ke dalamnya, sebuah tangan mendadak mengarahkan seutas kain ke wajah Ruby. Namun Ruby dengan sigap mencegat pergerakan tangan tersebut. Kain yang sedikit lagi membungkam mulutnya jelas memiliki aroma obat bius. Orang yang ingin membius Ruby, rupanya adalah salah satu anak buah Jordan. Ruby sekarang saling adu kekuatan dengannya.


Jordan yang menyaksikan bergegas turun tangan. Sebelum sempat melakukannya, seorang lelaki tiba-tiba memukul kepalanya dengan alat pemukul bisbol. Dia ternyata adalah Ethan, yang semenjak awal mengekori kemanapun Ruby pergi.


Aksi perkelahian terjadi. Ethan harus berhadapan dengan Jordan. Namun Ethan dapat menggunakan alat pemukul bisbolnya dengan baik. Meskipun begitu, dia terlihat kewalahan dengan serangan Jordan. Lelaki paruh baya tersebut seoalah tidak pernah kehabisan tenaga. Beberapa pukulannya berhasil membuat alat pemukul bisbol Ethan terlepas. Tanpa basa-basi Jordan langsung memukuli Ethan sampai babak belur.


Ruby juga sedang melakukan aksi perlawanan. Dia telah berhasil membuat anak buah Jordan tumbang. Tetapi rintangannya tidak berakhir di sana, sebab ada dua anak buah Jordan lainnya yang berusaha menghentikan perlawanan Ruby.


Buk!


Satu tendangan dari anak buah Jordan, sukses membuat Ruby tersungkur di salju. Tanpa pikir panjang, dua anak buah Jordan lekas-lekas memegangi Ruby.


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga peluru dilepaskan secara beruntun. Serangan timah panas itu langsung membuat Jordan serta dua anak buahnya tumbang. Ruby dan Ethan yang tidak terkena tembakan tersebut sontak terheran. Keduanya otomatis menoleh kepada sang pelaku, yang tidak lain adalah Henry.


Henry membalas tatapan Ruby dan Ethan. Dia hanya menampakkan ekspresi datar. Kemudian mengajak Ruby dan Ethan untuk masuk ke dalam mobil. Mereka segera meninggalkan tempat kejadian.


Jordan yang kebetulan belum kehilangan nyawa, menatap tajam ke arah mobil. Dia mengeratkan rahang penuh amarah. Salah satu tangannya terus menekan perutnya yang terluka. Selanjutnya lelaki itu segera menghubungi salah satu rekannya untuk meminta bantuan.


Di sisi lain, Ruby, Henry dan Ethan telah berada di dalam mobil yang sama. Ruby tampak terus menatap ke arah Henry. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Bukankah Henry berteman dengan Jordan? Apakah Henry adalah orang baik yang bisa dipercaya? Kenapa Henry mendadak menyelamatkannya? Padahal dia sendirilah yang mempertemukannya dengan Jordan. Ruby punya banyak sekali pertanyaan dalam kepala. Dia yang sempat tidak pernah merasa penasaran dengan sosok ayahnya, kini malah ingin mengetahui segalanya.

__ADS_1


Ruby harus menyimpan semua pertanyaannya sejenak, karena dia tahu sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara.


__ADS_2