Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 30 - Hukuman


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan memegangi tangan Ruby. Dia memberitahukan bahwa keadaannya tidak apa-apa. Ryan mengatakan, kalau dirinya hanya ingin lekas pulang dan beristirahat.


Ruby hanya tersenyum singkat. Sejak tadi, gadis itu sebenarnya berusaha melupakan tembakan yang dilakukan Ryan terhadap Liam. Ruby berupaya bersikap senormal mungkin. Sebab dia tidak mau, dirinya dan Ryan bertengkar lagi. Jika hal tersebut terjadi, maka akan sulit untuk menjalankan pembalasannya terhadap Megan dan Sarah.


Tidak perlu memakan waktu yang lama, helikopter pun tiba di markas Ryan yang ada di Lousiana. Sebuah kota yang letaknya tidak begitu jauh dari laut. Markas Ryan sendiri merupakan sebuah villa yang dekat dengan perairan. Bangunannya tidak sebesar markasnya yang ada di Las Vegas. Hal itu dikarenakan kota Lousiana bukanlah tempat bisnis utama The Shadow Holo.


Megan dan Sarah sudah lebih dahulu tiba di villa. Mereka menyambut kedatangan Ryan. Keduanya sama sekali tidak terkejut melihat kembalinya Ruby. Sebab anak buah Ryan telah memberitahukan segalanya.


Ryan turun dari helikopter. Di iringi oleh Ruby dari belakang. Ryan langsung berjalan menuju villa. Melewati Megan dan Sarah, yang sepertinya berniat berbicara kepadanya.


"Ryan, aku akan jelaskan!" Sarah mencoba menyamakan langkahnya dengan Ryan. Hal serupa juga dilakukan oleh Megan. Namun gadis pirang itu berada di posisi kanan Ryan.


"Ryan, wajahmu kenapa? Apa misimu berjalan lancar?" tanya Megan. Penuh akan kekhawatiran.


Ryan menghentikan langkah sembari mengangkat kedua tangan ke atas. Membuat mulut Megan sekaligus Sarah langsung terdiam seketika.


"Kita bicarakan semuanya, setelah aku istirahat!" ujar Ryan. Kemudian melingus begitu saja memasuki villa.


Megan dan Sarah berhenti di titik yang sama. Berdiri saling berdampingan. Saat itulah Ruby melewati mereka. Tanpa melirik sedikit pun ke arah keduanya. Ruby hanya berjalan lurus menuju villa.


"Ruby, tadi kami sebenarnya ingin kembali menjemputmu. Kau tidak apa-apa kan?" tanya Sarah. Matanya tertuju kepada lengan lebam Ruby.


Ruby sontak berhenti. Kemudian menatap Sarah. Mengukir senyuman tipis. "Aku ada di sini sekarang, Sarah. Itu artinya aku baik-baik saja," tuturnya. Lalu melanjutkan derapnya untuk memasuki villa. Ruby bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia bahkan terkesan seperti melupakan apa yang dilakukan Megan dan Sarah terhadapnya. Padahal semuanya hanya akal-akalannya saja. Agar rencana pembalasannya dapat berjalan sukses.


Sarah mengernyitkan kening. Dia terheran menyaksikan gelagat Ruby yang biasa saja. Terasa aneh, karena biasanya Ruby akan meledakkan amarah ketika diperlakukan semena-mena.


"Bukankah itu aneh? Dia terlihat biasa saja." Sarah memiringkan kepala heran. Masih dalam keadaan ekspresi yang sama.

__ADS_1


"Bukankah itu bagus? Jika dia tidak mau membahas apa yang sudah kita lakukan?" respon Megan. Menyunggingkan mulut ke kanan. Namun Sarah langsung menatapnya sinis.


"Kita?" Sarah menggelengkan kepala. "Pilihan untuk meninggalkan Ruby adalah rencanamu seorang. Dan jika ada sesuatu yang terjadi, kaulah yang harus bertanggung jawab!" tegasnya. Kemudian bergegas masuk ke dalam villa.


Megan memutar bola mata jengah. Dia mengibaskan rambutnya ke belakang. Dirinya merasa agak kesal dengan perkataan Sarah barusan. Meskipun begitu, gadis berambut pirang tersebut tetap ikut masuk ke villa.



Setelah memakan beberapa jam untuk beristirahat. Kini semua orang berkumpul di ruang tamu. Tentu saja dengan tujuan membicarakan misi kapal pesiar yang gagal total.


Ryan duduk menyandar di sofa. Kedua tangannya diletakkan ke pegangan sofa. Indera penglihatannya terus memandangi lautan yang tenang di luar jendela. Cuaca dingin pagi, mengiringi suasana yang juga terasa tegang sedari awal.


Ruby adalah orang paling terakhir yang datang bergabung. Dia berdiri, dan tidak berniat ikut duduk ke sofa.


"Oke, semua orang sudah di sini. Kita akan membahas apa yang terjadi kan?" Sarah memberanikan diri memulai pembicaraan. Semua orang tetap menghening, sebab Ryan tampak mematung dalam posisi yang sama. Lelaki itu sama sekali tidak merespon pernyataan Sarah.


"Katakan kepadaku." Ryan akhirnya bersuara. Lalu menatap Megan dan Sarah. Kedua istrinya tersebut kebetulan duduk bersebelahan di sofa yang sama. "Apa kalian sengaja meninggalkan Ruby? Atau--"


Ruby yang kebetulan berada di sana. Merasa sangat marah. Dia dapat menyaksikan raut wajah Megan dan Sarah, yang terlihat jelas kalau mereka hanya memperdulikan dirinya sendiri. Ruby sangat ingin meledak sejadi-jadinya. Bahkan kalau perlu menjambak rambut Megan dan Sarah sekaligus. Akan tetapi semua itu tidak dilakukannya, karena Ruby punya cara yang lebih efektif.


"Sudahlah, Ryan. Jangan membahasnya lagi. Yang terpenting kita semua sudah kembali dengan selamat," celetuk Ruby. Masuk ke dalam pembicaraan. Dia sontak menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata.


Ryan yang mendengar mengerutkan dahi. "Kau yakin tidak mau membahasnya?" tanya-nya memastikan. Satu alisnya terangkat.


Ruby mengangguk yakin sambil mengatakan kata ya. Dia juga menambahkan senyuman tenangnya. Seakan apa yang dialaminya bukanlah hal besar.


"Ruby, kau yakin? Aku benar-benar minta maaf. Jika Megan tidak memaksa kami--"


"Apa-apaan, Sarah! Kenapa kau terkesan menyalahkanku?" Megan yang merasa dirinya dipojokkan langsung melakukan pembelaan. Dia seegaja memotong penjelasan Sarah.

__ADS_1


"Semuanya memang salahmu!" tukas Sarah dengan nada tinggi. Matanya menyalang kesal ke arah Megan. Terjadi ketegangan di antara keduanya. Perlahan Sarah menatap Max dan bawahan Ryan yang juga ikut dalam misi kapal pesiar. "Frans! Katakan kepada Ryan, kalau Megan mengancam kita dengan todongan pistol!" ujar Sarah. Membuat Megan otomatis mempelototi Frans. Sengaja memberikan ancaman, agar Frans dan anak buah Ryan yang lain tutup mulut.


Ruby menghembuskan nafas kasar dari mulutnya. Semakin lama dirinya mendengar pembicaraan Megan dan Sarah. Maka akan bertambah pula tingkat kemerahannya. Wajahnya tampak sudah memerah padam. Pertanda Ruby sedang berusaha keras menutupi perasaan kesalnya.


"Hentikan!" pekik Ruby. Dia akhirnya kelepasan. Sekali lagi dirinya kembali menjadi pusat perhatian. "Bisakah kita tenang, dan kembali pulang? Keributan yang terjadi di kapal pesiar sudah cukup bagiku. Aku tidak ingin melihat ada keributan lagi," tuturnya, yang perlahan berbicara dengan nada pelan.


Ryan lantas tersenyum tipis. Dia menatap lekat Ruby. Lelaki tersebut merasa senang, menyaksikan sikap bijaksana Ruby. Dia terspesona. Tatapannya tidak teralihkan dari gadis itu.


Semua orang terdiam cukup lama. Ryan yang tadinya sempat terpaku, perlahan mengalihkan pandangan kepada Megan dan Sarah.


"Sarah, Megan, jika ada insiden yang sama terjadi lagi di masa depan, dan kalian mengulanginya, maka aku tidak akan memaafkan kesalahan itu. Kita hidup bersama, jadi harus saling peduli juga! Harusnya kalian berusaha keras untuk menyelamatkan Ruby, bukan meninggalkannya begitu saja sendirian!" Ryan memberikan nasehat kepada kedua istrinya.


Sarah menundukkan kepala. Meskipun begitu mimik wajahnya terlihat kesal. Berbeda dengan Megan, yang tengah sibuk menatap kuku-kukunya yang cantik. Seakan tidak peduli terhadap nasehat Ryan.


"Agar kalian jera, aku akan memberi kalian hukuman!" perkataan Ryan yang selanjutnya, berhasil membuat Megan dan Sarah membulatkan mata. Keduanya tentu tidak terima.


"Ryan, Ruby telah memaafkan kami. Dia baik-baik saja, kenapa kau malah menciptakan masalah lagi?" timpal Megan.


Sarah bergegas berdiri. Dia mencoba melakukan pembelaan untuk yang sekian kalinya. "Ryan, aku sama sekali tidak terlibat! Megan-lah dalang dibalik semua ini, aku dan tim lainnya bahkan tidak tahu dengan rencana gila--"


"DIAMLAH, SARAH! Jangan memperburuk keadaan!" Megan ikut bangkit dari sofa. Dia langsung berdiri menghadap Sarah. Beradu tatapan tajam satu sama lain.


"Megan, aku akan menyita semua akses kartu kredit dan debitmu. Dan Sarah, kau tidak akan terlibat dalam misi apapun selama satu bulan!" Ryan bersikeras. Ucapannya berhasil menghentikan perang pelototan mata di antara Megan dan Sarah.


"Tetapi Ryan, aku harus membeli banyak kostum baru untuk pemotretan minggu depan. Kau tahu kan, acara besar itu sebentar lagi tiba!" Megan memegangi lengan Ryan. Berusaha merubah keputusan suaminya.


Sementara Sarah memilih diam dan duduk. Dia hanya bisa melampiaskan kemarahan dengan mengacak-acak rambutnya.


Ryan sama sekali tidak hirau. Dia bangkit dari sofa, lalu segera bersiap untuk kembali ke markas besar. Hal yang serupa juga dilakukan Ruby, cuman bedanya Ruby merekahkan senyuman ketika berbalik badan.

__ADS_1


"It's just the beginning," gumam Ruby. Semuanya baru permulaan baginya.


__ADS_2