Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 39 - Runaway Girl [The Story Of Sarah]


__ADS_3

...༻❀༺...


Gaby mengangguk dan kembali bercerita. Dia memberitahu bahwa Sarah adalah sosok yang tangguh dan pemberani. Katanya Sarah dan Ryan bertemu di kota Las Vegas.


"Benar, Ryan pernah mengatakannya kepadaku. Kalau pertemuan pertamanya dengan Sarah memang di kota ini. Sama persis seperti pertemuanku dengannya," terang Ruby.


"Tidak heran. Ryan memang paling sering menghabiskan waktunya di sini. Bisnisnya berjalan sangat baik," ucap Gaby seraya berdiri. Kemudian duduk di kasur. Dia tentu tidak lupa untuk mengajak Ruby. Sekarang keduanya memilih bercerita sambil rebahan. Menatap langit pelafon berwarna putih.


"Sarah dahulu adalah seorang buronan. Bukan saja polisi yang mencarinya, tetapi juga penjahat. Ada kalanya orang tangguh sepertinya merasa lelah dan putus asa." Gaby mengisahkan dengan posisi santai. Menjadikan satu tangannya sebagai bantalan. "Aku dengar Ryan dan Sarah bertemu, karena sebuah perkelahian," sambungnya.


...___________...


...[Flashback Dua Tahun Lalu]...


Di ruangan kasino yang dipenuhi banyaknya orang, Sarah berlari dari kejaran seorang pria. Sebuah benda antik dengan permata murni tergenggam erat ditangannya. Dahulu rambut Sarah masih panjang. Dia mengikatnya dengan gaya ekor kuda.


Sosok pria yang mengejar Sarah tidak lain adalah Ryan. Benar, penjahat mana yang tertarik dengan benda antik selain dari pada lelaki itu. Dia bahkan punya ruangan rahasia untuk koleksinya.


Sarah berupaya sebisa mungkin menjauh dari capaian Ryan. Dia tidak segan-segan mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya. Sama halnya dengan Ryan, dirinya tidak akan menyerah untuk melakukan pengejaran.


Tiba saatnya Sarah berhasil keluar dari kasino. Dia melanjutkan larinya ke jalanan trotoar. Ketika dirinya menoleh ke belakang, Ryan masih terlihat berada di belakang.


Lari Sarah terhenti, karena tidak sengaja menabrak dua orang yang sedang membawa furniture. Gadis itu sontak terjatuh ke tanah. Furniture yang ditabraknya seketika menjadi berantakan. Sarah juga mengaduh karena badannya terasa sakit.


Ryan langsung mencoba merebut benda antik yang masih ada dalam genggaman Sarah. Akan tetapi Sarah tidak mau mengalah begitu saja. Dia bangkit lagi dan melayangkan tinjunya.


Ryan dengan sigap menangkis serangan Sarah. Salah satu kakinya segera bergerak untuk menendang betis lawannya. Usahanya membuat Sarah sedikit terhuyung. Meskipun begitu, gadis tersebut tetap melanjutkan perlawanan.


Buk!


Satu tendangan dari Sarah berhasil menghantam rongga dada Ryan. Lelaki itu lantas membalas dengan memukulkan tangannya ke leher Sarah.


Suasana ramai yang ada di jalanan trotoar menjadi riuh. Ada yang berlari menjauh, bahkan ada yang sengaja berdiri untuk menonton perkelahian Ryan dan Sarah.

__ADS_1


Akibat serangan Ryan, Sarah merasakan tenggorokannya tercekat. Tangannya otomatis memegangi leher. Saat itulah Ryan memanfaatkan kesempatan untuk merampas benda antik yang di inginkannya. Namun Sarah masih belum menyerah. Tangannya tetap menggenggam erat benda antik yang sedari tadi dibawa. Aksi saling tarik-menarik pun terjadi. Baik Ryan dan Sarah, tidak ada yang mau mengalah.


Ryan sebenarnya tidak berkelahi secara maksimal. Dia bisa saja menyakiti Sarah dengan beringas. Tetapi karena dirinya dan Sarah sedang berada di keramaian, maka Ryan berusaha menahan diri.


"Lepaskan, atau--"


"Aku tahu letak pasangan benda antik ini. Kau pasti tertarik untuk mencarinya juga kan?!" Sarah sengaja memotong pembicaraan Ryan. Keduanya masih dalam keadaan memperebutkan benda antik.


Ryan membisu. Dia tentu tertarik dengan informasi yang diberikan Sarah. Binar matanya memancarkan aura penasaran. Seolah menuntut Sarah untuk segera melanjutkan perkataannya. Namun Ryan tidak mau percaya semudah itu.


"Jangan membohongiku!" Ryan menarik paksa benda antik. Dia berhasil merebut barang tersebut dari tangan Sarah. Namun ketika Ryan hendak berbalik untuk pergi, Sarah mendadak mencegat pergerakannya.


"Aku tidak berbohong!" ujar Sarah, menegaskan. Raut wajahnya memang tampak meyakinkan.


Dua orang polisi tiba-tiba berdatangan. Mereka menunjukkan tangan ke arah Ryan dan Sarah. Sepertinya ada salah satu orang yang melaporkan perkelahian Ryan dan Sarah kepada polisi.


"Sial!" rutuk Ryan. Dia lekas-lekas berlari. Hal serupa juga dilakukan Sarah. Entah kenapa gadis tersbeut berlari mengekori Ryan. Keduanya berlari cukup lama. Sampai bersembunyi ke dalam sebuah bangunan sepi tak berpenghuni.


"Kau mengikutiku?!" timpal Ryan, saat menyadari Sarah ada bersama dengan dirinya.


Ryan memutar bola mata jengah. Dia mendudukkan dirinya di tumpukan kayu. Dirinya memandangi benda antik yang kini sudah berada digenggamannya.


"Ngomong-ngomong, aku benar-benar tahu letak pasangan benda antik itu. Aku akan tunjukkan tempatnya kepadamu," ujar Sarah memberitahu.


Ryan perlahan menoleh. Dua alisnya terngkat. Dia memperhatikan wajah Sarah baik-baik. Lelaki tersebut merasa tidak asing dengan wajah Sarah. Sekarang dia mencoba mengingat dimana dirinya pernah bertemu Sarah sebelumnya.


"Apa kita pernah bertemu?" tanya Ryan, yang sudah menyerah dengan ingatannya.


Sarah terkekeh. "Sepertinya tidak. Wajahku memang tersebar dimana-mana. Karena aku buronan untuk para penjahat dan polisi," tuturnya sembari duduk tepat di samping Ryan.


Sarah mendengus kasar. Dia merasa lelah dengan kehidupannya. Dikejar-kejar oleh bahaya, dan hidup berpindah-pindah tempat layaknya binatang yang melakukan migrasi.


"Sepertinya kau hobi membuat masalah, sampai-sampai ada banyak orang yang mengejarmu," komentar Ryan seraya berdiri.

__ADS_1


"Ya, aku pikir lebih baik mati saja. Aku sudah menyiapkan kematianku beberapa tahun ke depan. Saat di umurku yang ketiga puluh tahun, aku akan melompat ke dalam jurang. Swedia, sepertinya tempat yang tepat untuk mengakhiri hidup." Sarah bicara dengan tatapan kosong.


Ryan yang tadinya berniat pergi meninggalkan Sarah, otomatis menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap gadis itu. "Biar aku bertanya kepadamu. Kenapa kau mencuri benda antik ini dariku?" Ryan menatap lurus ke arah Sarah.


"Sederhana, karena aku tahu benda itu lumayan mahal dijual. Cukup untuk membiayai kehidupanku selama beberapa bulan. Dari pada mencuri uang di bank, lebih baik aku mengambil benda itu darimu. Dan tadi saat kau lengah, adalah kesempatan emas bagiku," jelas Sarah panjang lebar.


Ryan menghening dalam sesaat. Dia sedikit tertarik untuk membawa Sarah ikut bersamanya. Apalagi setelah mendengar niat gila Sarah yang ingin bunuh diri beberapa tahun ke depan.


"Baiklah... aku berminat dengan tawaranmu. Tunjukkan kepadaku dimana pasangan benda antik ini disembunyikan," ujar Ryan.


Sarah yang mendengar langsung berdiri. Senyuman lebar terpatri diwajahnya. Gadis tersebut memang selalu bersemangat dengan sebuah misi. Tidak heran hidupnya selaku dikejar-kejar bahaya.


Setelah melakukan misi pencarian benda antik bersama Sarah. Ryan memutuskan untuk menyuruh Sarah bergabung di organisasi mafianya. Dia bahkan mempertemukan Sarah dengan Megan.


Sama seperti Megan, Sarah juga bukanlah nama aslinya. Ryan juga memberikan identitas baru kepada gadis tersebut. Sarah bahkan sengaja merubah drastis penampilannya. Yaitu dengan cara memotong rambutnya menjadi pendek. Penampilan barunya memberikan kehidupan baru dan juga keselamatan untuk Sarah sendiri.


Ryan dan Sarah juga melaksanakan acara pernikahan di markas. Di tempat yang serupa dengan Megan sebelumnya. Pernikahan yang terjadi juga didasarkan alasan kekuasaan dan keuntungan.


...[Flashback Off]...


...___________...


"Sarah dan Ryan selalu melakukan kerjasama yang sangat baik. Mereka tidak terkalahkan," kata Gaby. Kemudian mengeluarkan karbon dioksida dari mulut.


Ruby memutar bola mata jengah. Tentu dia merasa iri. Dirinya sengaja tidak merespon ucapan Gaby.


"Apa kau tahu? Megan dan Sarah langsung dekat semenjak pertama kali bertemu. Itu karena, Sarah orang yang ramah dan menyenangkan. Dia orang yang mengajari Megan berlatih bela diri. Aku rasa itulah alasan, kenapa Megan dengan mudahnya menerima Sarah menjadi istri kedua Ryan. Dan juga, aku dengar Sarah pernah menyelamatkan nyawa Megan dalam sebuah misi." Gaby melanjutkan ceritanya.


"Apa-apaan itu! Aku juga pernah menyelamatkannya juga. Tetapi baik Megan dan Sarah, mereka sama sekali tidak menghargaiku sedikit pun. Sialan!" Ruby merubah posisi menjadi duduk. Perasaan kesal langsung menyelimutinya.


"I'm sorry, Ruby. Mungkin alasan mereka melakukannya, karena merasa sangat iri kepadamu. Semua orang tahu, Ryan lebih peduli kepadamu dibanding Megan dan Sarah." Gaby ikut duduk. Dia memegang pelan pundak Ruby.


Ruby memutar bola mata sebal. Wajahnya sedikit memerah padam. "Kau tahu, Gaby. Aku tidak akan kalah dengan mereka!" imbuhnya.

__ADS_1


"Aku tahu, aku dan Mike akan selalu membantumu." Gaby tersenyum tulus. "Sekarang..." Gaby berpindah duduk menjadi ke hadapan Ruby. "Beritahu aku cerita pertemuan dan pernikahanmu dengan Ryan," tanya-nya. Satu tangannya menopang dagunya sendiri.


"Setelah mendengar cerita Megan dan Sarah. Aku merasa sikap Ryan agak berbeda kepadaku. Bahkan di pertemuan pertama..." Ruby tersipu saat mengingat kenangannya bersama Ryan. Baginya itu sangat menyenangkan. Ruby ingin momen tersebut kembali lagi.


__ADS_2