Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 92 - Tetap Tinggal [Season 2]


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan dan Ruby baru saja menyelesaikan kegiatan intimnya. Keduanya rehat sejenak untuk mengontrol nafas. Beberapa saat kemudian, Ruby bangkit dan mendekati Ryan. Memposisikan dirinya berada di atas tubuh lelaki itu.


Ruby mengulum bibir Ryan dengan mulutnya. Ia memiringkan kepala beberapa kali, agar bisa lebih leluasa berciuman. Suara kecup mengecup terdengar mengiringi tarikan nafas yang tak teratur. Kedua tangan Ruby berpegangan pada pelipis Ryan. Mereka saling meluma*t cukup lama. Ada waktu Ruby melepaskan pagutannya. Ryan lantas menggunakan kesempatannya untuk bicara.


"Ruby, kau--" Ryan tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya, karena Ruby menyambar bibirnya lagi. Ryan hanya bisa menggumamkan tawa dalam keadaan masih berciuman. Ia sangat senang ketika Ruby bersikap lebih agresif dibanding dirinya.


Setelah puas mengecup bibir suaminya. Ruby perlahan duduk. Dia menyisir rambut panjangnya yang masih agak basah. Lalu beringsut ke ujung kasur. Belum sempat tangannya meraih handuk kimono, Ryan lebih dahulu menghentikan pergerakannya.


Ryan memeluk Ruby dari belakang. Meletakkan dagunya ke pundak Ruby. Sesekali dia akan menciumi kulit putih bersih istrinya.


"Ryan, aku sudah mendapat apa yang aku inginkan darimu. Jadi sekarang aku akan mengatakan, kalau aku tetap tidak mau ikut denganmu pergi ke markas," celetuk Ruby. Menyebabkan Ryan tercengang dalam sesaat.


"Apa? Kumohon jangan bercanda, Babe." Ryan tidak mau mempercayai pernyataan Ruby begitu saja. Tangannya menyingkirkan helaian rambut yang tadinya menutupi area leher Ruby. Tanpa pikir panjang, Ryan segera memberikan sentuhan lembut dengan wajahnya. Perlakuan Ryan sukses membuat badan disekujur Ruby merinding hebat. Hingga mata Ruby terpejam sambil mendongakkan kepala.


"Aku tidak bercanda, Ryan..." lirih Ruby. Di iringi dengan satu kali lenguhannya. Terutama saat Ryan menempelkan mulut ke lehernya. Ryan melakukannya dengan kuat. Hingga meninggalkan jejak merah di leher Ruby.


Ketika Ryan sudah berhenti mencumbu, Ruby bergegas melepaskan pelukan. Dia berdiri dan langsung mengenakan handuk kimononya. Kemudian memutar tubuhnya menghadap Ryan.


"Aku serius dengan perkataanku. Aku tidak mau pergi ke markasmu. Aku bersedia berhubungan intim denganmu, bukan berarti aku memaafkanmu. Aku sudah mencoba mengatakannya sejak awal, tapi kau terus menyumpal mulutku dengan bibirmu!" tegas Ruby.


"Jadi semua yang kau lakukan tadi hanya kebohongan?" timpal Ryan tak percaya.


"Tentu saja tidak! Itu murni keinginanku. Aku pikir tidak apa-apa dilakukan, karena kau juga sangat menginginkannya. Kau pikir aku tidak tahu, kalau tujuan utamamu datang ke sini adalah memainkan burung kebanggaanmu itu?!" Ruby membalas, sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah organ intim Ryan yang tertutup selimut.


"Ruby!!" dahi Ryan mengerut dalam. Matanya reflek menatap bagian tubuh yang ditunjuk Ruby.


"Jika telah selesai dengan urusanmu, pergilah!" hardik Ruby. Lalu melangkah memasuki kamar mandi.


Ryan terperangah. Dia mengusap kasar wajahnya. Dirinya tidak menyangka Ruby masih belum bisa memaafkannya.

__ADS_1


Selang sekian menit, Ruby keluar dari kamar mandi. Dia langsung dikagetkan dengan suaminya sendiri. Ryan berdiri tegak. Satu tangannya menopang ke dinding. Matanya menatap lurus Ruby.


"Apa alasan kau ingin tetap tinggal itu karena Ethan?" tukas Ryan. Ia kebetulan bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana pendek di atas lutut.


"Tentu saja tidak!" sahut Ruby.


"Lalu apa? Katakan kepadaku alasannya!" desak Ryan.


Ruby berjalan melewati Ryan. Lalu berhenti tepat di depan lemari. "Aku hanya malas melakukan perjalanan jauh, oke? Kau tidak tahu betapa lelahnya merasakan mual saat hamil," ujarnya seraya melepaskan handuk kimono. Ruby segera mengenakan pakaian dalam serta bra.


"Kalau kau merasa lelah. Kenapa--"


"Ryan!" Ruby dengan cepat memotong ucapan sang suami. "Aku tidak ingin lagi mendengar kau mengusulkan sesuatu hal gila lagi. Termasuk mendengarkan usulanmu untuk menggugurkan kandunganku!" sambungnya dengan nada penuh penekanan. Ruby kini telah mengenakan dress selutut berwarna toska.


Ryan otomatis terdiam seribu bahasa. Dia kalah telak. Keinginan perempuan memang sulit dimengerti. Apalagi saat mereka sedang hamil.


"Kau terlihat sangat dekat dengan Ethan! Menjauhlah darinya mulai sekarang. Itu syaratku, jika kau ingin aku terus berada disisimu!" kata Ryan, yang melangkah lebih dekat ke arah Ruby.


"Baiklah kalau itu maumu..." Ryan memegang tangan Ruby yang sibuk mengusap pipinya. Kemudian mengecupnya beberapa kali. Alhasil Ruby mengukir senyuman tipis diwajahnya.



Sekarang Ryan merenung sendirian di kamar mandi. Menatap pantulan dirinya di cermin. Segala macam ide bermunculan dalam benaknya. Dari ide gila sampai dengan yang biasa.


Ryan memakai krim cukur ke area bawah hidung serta dagunya. Dilanjutkan dengan menggunakan alat cukurnya. Saat telah selesai, Ryan mengelap wajahnya. Dia memejamkan mata sembari mendengus kasar.


"Maafkan aku, Ruby..." gumam Ryan. Ia segera keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian, lalu beranjak menemui semua bawahannya.


Kebetulan ada lima orang anak buah Ryan yang ikut ke Virginia. Ryan menyuruh semuanya untuk berkumpul di ruang tengah. Termasuk Gaby.


"Aku ingin kalian mencari mansion atau bangunan besar di kota ini. Serahkan apa yang kalian dapat kepadaku. Baru aku bisa memilih!" perintah Ryan. Menyebabkan seluruh bawahannya langsung bergerak.

__ADS_1


"Frans! Gaby! Kemarilah!" seru Ryan. Dua orang yang dipanggilnya, sontak berbalik dan menghampiri.


"Ada apa, Bos?" tanya Frans.


"Apa aku punya tugas khusus?" Gaby merasa penasaran.


Ryan memberikan senyuman kepada Gaby. Kemudian memegangi pundak gadis tersebut. "Aku ingin kau menjaga markas yang ada di Chicago. Bawalah Mike juga ikut bersamamu," titahnya dengan kalimat halus, bernada pelan.


Meskipun Ryan memberitahukan perintah dengan senyuman, Gaby justru merasa lebih terancam. Dia berfirasat kalau Ryan sengaja menyuruhnya pergi meninggalkan Ruby.


"Ta-tapi bagaimana dengan Ruby? Dia menginginkan teman perempuan. Dan aku satu-satunya perempuan di Shadow Holo yang dekat dengannya." Gaby memberanikan diri melakukan keluhan. Secara tidak langsung dirinya menolak perintah Ryan.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Aku bisa menjaga istriku dengan baik!" balas Ryan dengan tatapan tajam yang seketika membuat Gaby tertunduk takut.


Ryan memasang ekspresi curga. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Gaby. "Beritahu aku dimana Mike? Apa dia memang sengaja pergi membawa Ethan?" bisiknya.


"A-aku..." Gaby merasa tertangkap basah. Dia menelan ludahnya akibat takut. "Me-mereka hanya kebetulan pergi bersama..." Gaby menjawab tanpa membalas tatapan Ryan.


"Selama ini? Padahal aku sudah hampir seharian berada di sini, dan mereka berdua belum muncul juga!" timpal Ryan lagi.


Gaby tentu semakin tertohok. Ia hanya bisa menunduk sambil meringiskan wajah. Gadis itu tidak tahu lagi harus berkata apa. Alasan yang ada dalam kepalanya seakan terbakar habis akibat rasa panik.


"Tenang saja, Gabe. Aku tidak akan marah. Terutama jika kau mau menuruti perintahku," ungkap Ryan. Kembali dengan senyuman yang mengganggu.


"Baiklah... aku akan pergi. Tapi izinkan aku terlebih dahulu berpamitan dengan Ruby," ucap Gaby yang pada akhirnya berani menatap Ryan.


"Oh my godness." Ryan memutar bola mata jengah. Dia mengangkat satu tangan, lalu memberikan kode agar Gaby segera pergi menemui Ruby. Alhasil Gaby lekas-lekas berlari menaiki tangga. Sekarang hanya tinggal Ryan dan Frans.


"Frans, carikan aku dokter kandungan. Bawa dia ke sini, oke?" ujar Ryan.


"Baiklah! Itu tugas yang sangat mudah!" jawab Frans seraya membalikkan badan. Lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Ryan mendengus lega. Dia melanjutkan kegiatan dengan menyeduh segelas kopi. Atensinya terus tertuju ke arah tangga. Menunggu Gaby yang tidak kunjung selesai berpamitan dengan Ruby.


__ADS_2