Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 59 - Berolahraga Bersama


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan dan Ruby sudah berada di ruang latihan. Ryan terlebih dahulu menuntun Ruby untuk melakukan olahraga yang menurutnya benar. Menggunakan beberapa peralatan gym yang tersedia. Terakhir Ruby dan Ryan berlari bersamaan di treadmill.


"Bila musim dingin telah berakhir, kita bisa menghabiskan waktu berlari di taman," celetuk Ryan sembari terus berlari. Dia terlihat bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek.


"Kau yakin? Apa tidak berbahaya? Bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba menyerang kita?" balas Ruby. Dia juga tengah sibuk berlari senada dengan Ryan. Gadis itu kebetulan mengenakan sport bra dan celana leging.


Ryan terkekeh. "Kau tidak perlu takut. Aku pastikan, kau akan selalu aman saat bersamaku," ucapnya.


"Cih! Berhentilah merayu." Ruby memutar bola mata jengah.


Ryan yang mendengar hanya tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah Ruby yang baru saja mengatur kecepatan treadmill menjadi lebih lambat. Dia paham kalau istrinya itu sudah mulai kelelahan.


"Kau bisa istirahat," suruh Ryan pelan.


"Sebentar lagi. Aku hanya ingin berjalan santai," sahut Ruby.


Setelah memakan waktu satu jam lebih, Ruby menyelesaikan latihannya. Selanjutnya dia beristirahat sejenak. Ruby tampak duduk di salah satu alat gym yang ada. Ditangannya terdapat sebotol air mineral yang telah diminum setengah bagian. Memandangi Ryan yang masih asyik berolahraga.


Ryan bermandikan keringat. Menyebabkan badan atletisnya secara alami mengkilap. Nafasnya terdengar menderu-deru akibat aktifitas fisik yang sedang ia lakukan.


Ruby menelan salivanya. Pipinya mendadak bersemu merah. Entah kenapa hal tersebut selalu saja terjadi. Padahal ini bukan pertama kali dirinya menyaksikan tubuh atletis sang suami. Ruby lekas-lekas membuang muka. Dia tidak mau Ryan berhasil memergoki wajahnya yang memerah.


Demi mengalihkan perhatian, Ruby memilih bermain dengan ponselnya. Dia menjelajahi dunia internet sejenak. Melihat-lihat berita terkini. Terutama mengenai artikel kriminalitas yang akhir-akhir ini terjadi. Ketika kebetulan menemukan iklan yang bergambar suku etnik tertentu, Ruby langsung terpikir untuk mencari tahu tentang suku Elmika. Dia melakukan pencarian cukup lama, sampai menghabiskan waktu setengah jam. Namun seberapa keras dirinya mencari, Ruby tidak menemukan informasi apapun mengenai suku Elmika.


"Kau tahu, di internet tidak ada data ataupun info yang tertulis tentang suku Elmika. Jangan bilang suku Elmika tidak nyata. Apa dia hanya khayalanmu? Jujurlah kepadaku." Ruby mendadak menimpali Ryan dengan pertanyaan.


Ryan segera menghentikan kegiatannya. Kemudian menatap lurus ke arah Ruby. Dahinya sedikit mengerut. Nampaknya Ryan agak tersinggung dengan ucapan Ruby.

__ADS_1


"Apa?! Kau menyebutku berkhayal? Jika begitu, bagaimana kalau aku membawamu berkunjung ke tempat dimana suku Elmika bersembunyi?" Ryan balas menimpali.


"Memangnya itu dimana?! Bila mudah digapai, aku bersedia ke sana. Aku ingin melihat seberapa suksesnya ketua suku, akibat memiliki istri yang banyak." Ruby bertekad dengan ucapannya.


"Kita bisa ke sana, sekalian menjalani ritual pemutusan hubungan," imbuh Ryan. Dia mengambil handuk kecil, lalu mengelap keringat yang ada dibadannya.


"Ritual?" Ruby mengedipkan kelopak mata sekitar dua kali. Menunggu Ryan menjelaskan lebih lanjut.


"Benar, mereka akan memotong jariku sesuai dengan jumlah istri yang pergi." Ryan memposisikan diri ke hadapan Ruby. Dia menyandarkan punggung ke salah satu tiang alat gym.


"Jangan bercanda! Itu ekstrem sekali!" respon Ruby tak percaya.


"Bukankah setiap suku etnik selalu mempunyai budaya yang ekstrem. Aku pernah mendengar suku kanibal di Afrika. Itu lebih mengerikan, kupikir. Tetapi jujur saja, aku sedang mengincar batu permata yang mereka miliki." Ryan dengan santainya memberi keterangan.


"Sial! Jangan coba-coba ke sana hanya demi batu permata bodoh. Bukankah kau sudah kaya raya. Untuk apa melakukan misi yang hanya akan membahayakan nyawa?" Ruby memandang sebal Ryan.


Ryan lagi-lagi tersenyum. Dia perlahan berjongkok ke arah Ruby. Hingga jarak wajah di antara keduanya menjadi sangat dekat. Ryan berkata pelan, "Lupakan itu. Jadi, apa kau masih berniat berkunjung ke tempat suku Elmika?"


"Karma yang pernah aku katakan kepadamu. Kehancuran dan juga kehilangan. Sebenarnya aku berniat mau pergi, tapi--"


"Tidak! Jangan lakukan itu. Jangan percayai apapun yang mereka sebutkan kepadamu. Kau bisa berjaya tanpa harus mengikuti ritual bodoh semacam itu. Lagi pula, hubunganmu telah benar-benar berakhir, terutama setelah Megan dan Sarah pergi. Pernikahanmu juga tidak terdaftar secara hukum," tutur Ruby panjang lebar.


"Kau tidak perlu cemas. Aku bahkan sudah berpikir matang sebelum mengakhiri hubungan dengan Megan dan Sarah. Aku memilih apa yang kau sarankan kepadaku." Ryan menegakkan badan sembari meregangkan lehernya.


"Aku akan membantumu untuk menjadikan The Shadow Holo lebih baik. Kita juga punya Ethan dan Henry. Mereka bisa ikut membantu." usul Ruby.


Ryan terdiam dalam sesaat. Dia mengangguk dan mencoba mempercayai Ruby. Selain memutuskan hubungan dari Megan dan Sarah, dirinya juga bertekad mengakhiri segala hal yang berkaitan dengan suku Elmika. Ryan memang sudah memantapkannya sebelum Ruby kembali kepadanya. Lelaki tersebut berniat akan memulai lagi, tanpa adanya kepercayaan kuno yang mempengaruhi pergerakan mafia The Shadow Holo.


"Kita lanjutkan latihannya saat aku pulang. Aku akan mengajarimu cara menembak!" ujar Ryan. Melajukan langkahnya ke arah Ruby. Lalu memberikan kecupan singkat dibibir.

__ADS_1


Ruby terkesiap. Tubuhnya mematung dan membiarkan Ryan beranjak beberapa langkah. Dia tidak menyangka Ryan akan menyentuhnya secara mendadak begitu.


"Apa-apaan itu!" protes Ruby. Sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. Perkataannya sukses membuat Ryan berhenti dan menghampiri.


"Kenapa kau malah marah. Jangan bilang karena itu terlalu singkat. Mau yang ala Perancis?" Ryan bermaksud menggoda.


"Enak saja. Sana, cepatlah pergi!" hardik Ruby sembari berdiri. Wajahnya sekali lagi memerah malu. Gadis itu kemudian melingus melewati Ryan. Akan tetapi tangan Ryan dengan sigap menariknya untuk berbalik.


"Aku sangat suka saat melihat wajahmu memerah begitu. Kau tahu? Itu menjalar sampai ke kedua telingamu," kata Ryan dengan senyuman nakalnya.


Ruby otomatis menyentuh bagian telinganya. Berusaha menyembunyikannya dengan rambut hazel panjangnya. Namun Ryan menghentikan pergerakannya. Lelaki tersebut tidak membiarkan Ruby menutupi kedua kupingnya yang merah.


"Ry-ryan, aku mau kembali ke kamar. Badanku sedang bau keringat, kau tahu bukan?" ungkap Ruby terbata-bata. Ia berusaha melepaskan pegangan Ryan. Tetapi dirinya sama sekali tidak mampu.


"Aku tidak peduli..." bisik Ryan, yang perlahan mendekatkan mulut ke salah satu telinga Ruby. Dia lantas menggigitnya lembut. Hingga membuat sekujur badan Ruby seketika merinding hebat.



Suara derap langkah kaki menggema. Seorang perempuan dengan rambut pendek sebahu baru keluar dari lift. Kepalanya segera bergerak ke kanan dan kiri. Mencari-cari sosok yang ingin ditemuinya. Siapa lagi kalau bukan Ryan. Lelaki yang sudah bisa dibilang sebagai mantan suaminya.


"Miss, senang bertemu denganmu lagi." Max yang dapat mengenali Sarah dari jauh, berjalan mendekat.


"Hai, Max." Sarah tersenyum sambil menepuk pelan pundak Max. "Apa Ryan sibuk sekarang?" tanya-nya serius.


"Dia sedang berlatih," jawab Max. Memasang raut wajah tidak enak. Jujur saja, dari tiga istri Ryan, Max merasa paling dekat dengan Sarah. Selain karena sering bekerjasama, Sarah juga selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan lebih baik dari Ruby.


"Tidak biasanya dia berlatih..." Sarah melakukan tatapan menyelidik.


"Mungkin bos ingin mengisi waktunya bersama Ruby," ujar Max asal. Hingga membuat kedua alis Sarah terangkat.

__ADS_1


"Hmmm... menarik!" komentar Sarah.


__ADS_2