
...༻❀༺...
Ruby berdiri untuk menghampiri Ryan. Hal serupa juga dilakukan oleh Ethan. Keduanya segera membawa Ryan duduk terlebih dahulu.
Beberapa bawahan Ryan tampak berdatangan. Mereka semua berdiri di depan pintu. Memastikan Ryan baik-baik saja.
"Bos, apa yang terjadi?"
"Tidak ada yang menyerang kita ke sini kan?"
"Apa perlu kami memanggil dokter? Ah benar, kita belum punya dokter khusus di sini."
"Bukankah yang terakhir mati gara-gara ledakan bom?"
Sebagian anggota Ryan menimpali banyak pertanyaan akibat merasa khawatir. Mereka bahkan sempat bicara ke lain arah.
Ryan melambaikan tangannya beberapa kali ke arah pintu dan berucap, "Aku pikir luka di perutku terbuka saat sedang berlari tadi. Aku tidak apa-apa, ini lukanya tidak begitu dalam."
"Kau yakin?" tanya Ethan.
Ryan lekas mengangguk. "Ruby bahkan bisa mengobatiku, karena ini memang bukan luka besar!" jelasnya. Dia segera mengalihkan pandangan ke para anggota The Shadow Holo. Ryan menyuruh mereka untuk pergi.
Setelah melihat semua bawahannya pergi, Ryan segera menatap Ethan. Sebab Ethan tidak kunjung beranjak pergi. Ryan terpaksa menendang salah satu betis Ethan dengan pelan.
"Apa?!" respon Ethan spontan. Ia yang agak kaget, harus menyalangkan mata kepada Ryan. Namun Ruby langsung turun tangan. Karena dia tidak mau Ryan dan Ethan bertengkar lagi.
"Pergilah Ethan, aku akan mengurus Ryan." Ruby memposisikan diri duduk di samping Ryan.
"Tapi kau juga sakit!" ujar Ethan yang tak mau pergi.
"Apa kau mau menontoni adegan mesra kami berdua? Jika iya, silahkan duduk dengan tenang." Ryan mengatakan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah kursi. Namun karena berucap begitu, dia harus kena pukulan dari Ruby.
"Jangan dengarkan dia, Ethan. Kau lebih baik carikan aku kotak P3K. Apa benda itu ada di markas?" ujar Ruby. Dia menatap Ethan dan Ryan secara bergantian.
"Entahlah..." lirih Ryan.
__ADS_1
"Aku pergi!" kata Ethan, yang akhirnya beranjak keluar dari kamar. Dia mendengus kasar. Mimik wajahnya cemberut dan tidak ceria seperti biasanya. Kini hanya tinggal Ryan dan Ruby yang ada di kamar.
"Bisakah kau tidak bersikap begitu dengan Ethan?" timpal Ruby seraya membuka kancing baju Ryan satu per satu.
"Aku harus begitu agar dia bisa cepat pergi." Ryan menjawab jujur.
"Maksudmu pergi dari markas?!" Ruby bertanya dengan dahi yang berkerut.
"Tidak! Maksudku dari kamar ini," Ryan membantah sambil membuang muka dari Ruby. Dia jelas berbohong, karena Ryan memang sangat ingin Ethan pergi dari markasnya. Bagaimana tidak? Ethan selalu terlihat mencuri-curi kesempatan untuk mendekati istrinya.
"Tapi kau tidak perlu berlaku kasar seperti tadi. Aku tidak habis pikir kenapa kau begitu membencinya. Padahal dia sudah banyak membantumu!" omel Ruby. Dia telah sepenuhnya melepas pakaian atas Ryan. Sekarang terlihat luka yang ada di perut suaminya. Lukanya memang tidak besar. Akan tetapi cukup banyak mengeluarkan darah.
"Aku tahu. Tapi dia selalu saja mendekatimu. Aku tidak suka!" Ryan meringiskan wajah saat Ruby mengelap luka yang ada di perutnya.
Ceklek!
"Kau tidak usah berlebihan, Ryan!" pintu mendadak terbuka. Orang yang sedang dibicarakan muncul tepat di depan mata. Ethan membawakan kotak P3K untuk Ruby.
Ryan menatap malas Ethan. Selanjutnya dia perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Ruby. "Aku bersikap berlebihan, karena aku yakin, kalau sesuatu pasti pernah terjadi di antara kalian berdua," celetuk Ryan. Menyebabkan Ruby dan Ethan sontak merasa tertangkap basah. Keduanya menatap Ryan di waktu yang bersamaan.
"Ja-jangan mengada-ngada." Ruby gelagapan. Dia langsung mengoles salep ke luka Ryan. Salep itu tentu membuat Ryan mengerang kesakitan.
Ryan perlahan tenang, karena rasa sakit akibat salep tadi telah mereda. Selanjutnya, dia bertukar pandangan serius dengan Ethan.
"Aku dan Ruby memang pernah berciuman!" Ethan memutuskan mengaku. Entah apa yang ada dalam pikirannya, hingga sengaja menyulut kemarahan Ryan.
"ETHAN!!" seru Ruby tidak terima. Dia sama marahnya dengan Ryan.
"Kurang ajar!!" Ryan berdiri dan langsung mencengkeram kerah baju Ethan. Mendorongnya sampai terpojok ke dinding. Sikunya dengan sigap menghimpit leher Ethan sekuat tenaga.
"Ryan, hentikan!" Ruby mencoba menghentikan perbuatan suaminya. Namun dia tidak mampu. Apalagi dalam keadaan badan yang kebetulan sedang kekurangan tenaga.
Ethan mendorong siku Ryan menjauh dari lehernya. Ia akhirnya bisa mendapat peluang untuk bicara. "Tapi kau harus tahu, Ryan! Alasan Ruby menyentuhku, selalu saja karena dirimu..." imbuhnya dengan ekspresi serius.
"Ruby tidak pernah memikirkanku. Aku bisa lihat dari matanya..." ucap Ethan lagi.
__ADS_1
Ryan terdiam dalam selang beberapa detik. Ia perlahan melepaskan Ethan. Karena dirinya bisa menyaksikan kekecewaan yang jelas diwajah Ethan. Alhasil Ryan kembali duduk ke ujung kasur.
"Ethan, lebih baik kau pergi!" titah Ruby yang merasa kesal. Ia harus berbuat begitu, karena takut Ryan akan marah besar. Ethan lantas menurut saja, dan langsung menghilang ditelan pintu.
Ruby bergegas kembali mengobati luka Ryan. Dia hanya tinggal menutupi luka Ryan dengan perban.
"Kau kenapa tidak pernah cerita?" tanya Ryan. Membicarakan perihal yang pernah terjadi di antara Ruby dan Ethan.
"Aku tidak membicarakannya, karena semuanya memang tidak berarti apa-apa bagiku." Ruby memberikan penjelasan.
"Its ok, tapi berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi." Ryan menggenggam jari-jemari istrinya. Dia memutuskan mengalah saja. Lagi pula Ryan tidak mau dirinya bertengkar kembali dengan Ruby.
"Aku berjanji. Asal mulai sekarang kau selalu ada di sampingku," ujar Ruby. Ryan lantas merespon dengan anggukan kepala. Lalu memberikan kecupan lembut ke bibir Ruby.
"Sekarang katakan kepadaku, apa makanan yang ingin kau makan?" tanya Ryan.
Ruby membisu sejenak. Dia sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba terlintas dalam benaknya mengenai sikap Ethan tadi. Ruby tersadar kalau tindakannya terhadap Ethan sudah berlebihan. Dia tiba-tiba khawatir Ethan akan benar-benar pergi.
"Ryan, kau harus bicara kepada Ethan. Aku tahu kau membencinya, tapi dia tidak punya siapapun selain kita sekarang. Alasan utamaku menyuruhnya tinggal, karena aku tahu Ethan membutuhkan seorang teman. Dia mendekatiku, karena akulah satu-satunya orang yang bisa membuatnya nyaman," ungkap Ruby.
"Aku akan mencoba," sahut Ryan sembari mendengus kasar. Namun dia justru merebahkan dirinya ke kasur.
"Ryan!" desak Ruby.
"Apa aku harus melakukannya sekarang?" Ryan akhirnya duduk kembali ketika mendengar desakan sang istri. "Aku akan melakukannya saat melihat kau makan dulu, oke?" lanjutnya.
Ryan tidak perlu melakukan permohonan mati-matian seperti Gaby dan Ethan. Sebab Ruby dengan mudah langsung menuruti ajakannya.
"Aku mau makan di luar saja. Sekalian mencari udara segar," seru Ruby. Atensinya mendadak tertuju ke luka yang ada di perut Ryan. "Tapi apa tidak apa-apa, jika kau keluar dalam keadaan masih begitu?" tanya-nya cemas.
"Kau tenang saja. Lukanya tidak akan parah jika aku tidak berlari," jawab Ryan tenang. Dia dan Ruby segera bersiap-siap untuk pergi.
Saat keluar dari markas, Ryan dan Ruby berjalan sambil saling merangkul satu sama lain. Penglihatan keduanya harus tertuju ke arah Ethan yang tengah duduk sendirian di atas kap mobil.
"Aku sudah bilang kepadamu!" Ruby memukul pelan bahu Ryan. Dia hendak melangkah mendekati Ethan. Tetapi pergerakannya harus terhenti, karena Ryan dengan sigap mencegatnya.
__ADS_1
"Biar aku saja!" kata Ryan.
Ruby lantas tersenyum tipis. Membiarkan Ryan dan Ethan berbicara berdua. Ruby berharap hubungan dua lelaki itu bisa membaik.