Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 37 - Tetap Bersamamu


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan tengah duduk di ruang kerja. Dia menunggu kedatangan Megan dan Sarah. Ada sesuatu yang menurutnya harus dibahas.


Ceklek!


Pintu terbuka pelan. Muncullah sosok Sarah dibaliknya. Dia datang lebih dahulu dibanding Megan.


"Hai, lama tidak berjumpa. Kau sepertinya mengabaikanku," sapa Sarah sembari duduk di sofa. Kakinya menyilang santai. Gadis berambut pendek sebahu itu menghela nafas panjang.


"Tentu tidak. Aku hanya sedang sangat sibuk sekarang. Sebentar lagi musim dingin, ada misi yang ingin aku persiapkan," balas Ryan seraya menatap lurus ke arah Sarah.


"Ya, disela-sela kesibukanmu, kau masih sempat bercumbu dengan Ruby tadi malam. Hebat sekali!" Sarah berbicara sambil membuang muka.


"Jangan bilang kau cemburu?" timpal Ryan.


Sarah tertawa kecil, lalu menjawab, "Tidak. Itu hal biasa bagiku. Bahkan semenjak kita menikah. Aku ingat sebelum Ruby datang, kau lebih sering menghabiskan waktu dengan Megan."


"Kau tahu, Sarah. Kau bisa pergi dariku jika kau mau..." kata Ryan dengan mimik wajah serius. Saat itulah Megan datang. Dia terlihat mengenakan gaun ketat berwarna cream, serta memakai sepatu high heels. Megan baru saja kembali dari jadwal pemotretan. Perempuan berambut pirang tersebut memilih duduk di samping Ryan.


"Kau tampak luar biasa," puji Sarah yang disertai senyuman tipis.


"Always," respon Megan percaya diri.


Ryan baru saja mengangakan mulut, karena hendak bicara. Akan tetapi Sarah berhasil lebih dahulu bersuara dibanding dirinya.


"Ryan baru saja menyuruhku memilih, Megan. Sepertinya dia juga akan melemparkan pertanyaan yang sama kepadamu. Pilihannya adalah pergi, atau tetap menjadi istrinya," ungkap Sarah. Kemudian menatap Ryan dengan sudut matanya.


Megan sama sekali tidak terkejut dengan kabar yang diberikan Sarah. Sebenarnya dia dan Sarah sudah menduga, cepat atau lambat Ryan pasti akan memberikan pilihan.


"Biarkan aku menjawab lebih dahulu," ucap Sarah lagi. Seketika dia menjadi pusat perhatian bagi Ryan dan Megan.


"Aku tidak akan pergi, Ryan. Kau tahu, jika aku ingin pergi. Kemungkinan besar aku sudah kabur darimu dari dulu. Melarikan diri adalah hal yang mudah bagiku. Tetapi aku tidak melakukannya hingga sekarang," terang Sarah.

__ADS_1


"Aku juga. Aku sama sekali tidak tertarik pergi darimu. Sedikit pun tidak." Megan mengungkapkan sambil menyilangkan tangan didada.


"Oke, jika itu pilihan kalian." Ryan mengangguk-anggukkan kepala. Entah kenapa dia merasa puas dengan keputusan Megan dan Sarah. Senyuman tipis mengembang dimulutnya.


"Ah benar, dimana Ruby? Apa kau tidak memberikan pilihan kepadanya, seperti yang kau lakukan pada kami?" pungkas Sarah. Pandangannya mengedar ke segala arah. Seolah berusaha mencari-cari keberadaan Ruby.


"Itu tidak akan terjadi. Ryan tidak akan melepaskannya, meski Ruby berusaha lari ke ujung dunia." Megan memberikan jawaban kepada Sarah. Keduanya saling tertawa bersamaan.


"Bagus jika kalian sudah tahu. Dan--"


"Ryan, kami berdua tahu kau mencintai, Ruby. Meskipun begitu, berlakulah adil kepada kami." Sarah sengaja memotong pembicaraan Ryan. "Kau bisa menjadikanku sebagai orang yang mengendalikan misi-misi penting. Lalu Megan, aku tahu dia ahli mengatur hal-hal seperti keuangan dan bisnis yang kau miliki. Sementara Ruby..." Sarah berpikir sejenak. Sebab dirinya berupaya mencari-cari keahlian Ruby, yang menurutnya tidak ada sama sekali.


"Pelayan mungkin... pffft!" Megan menjawab asal. Diakhiri dengan tawa yang berusaha ditahannya.


Menyaksikan Megan tergelak, Ryan langsung melotot tajam. Berhasil membuat Megan seketika menciut. Gadis berambut pirang tersebut lekas-lekas merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Apa-apaan, Megan. Kau seharusnya tidak menghina Ruby seperti itu. Dia bagian dari kita sekarang!" timpal Sarah.


"Bisakah kalian berhenti?!" Ryan sontak mencoba menghentikan perdebatan yang hampir menjadi semakin intens. "Kalian sebaiknya pergi, aku ingin istirahat," sambungnya seraya menyandarkan kepala ke sofa. Kepala Ryan kini dalam keadaan menengadah ke atas.


Sarah segera berdiri dan melangkah menuju ke pintu. Namun tidak untuk Megan, dia masih tetap duduk di tempatnya. Sebelum Sarah sempat keluar, Ryan mendadak memanggil.


"Bersiap-siaplah untuk misi musim dingin, oke?" ujar Ryan. Lalu kembali menyandarkan kepala ke sofa.


Sarah tersenyum lebar. Pernyataan Ryan tadi adalah sinyal, kalau dirinya sudah lepas dari hukuman. Sarah tidak menyangka, ternyata Ryan telah mengampuninya lebih cepat dari yang dia duga.


"Jika Sarah sudah dibiarkan mengikuti misi, maka aku juga--"


"Aku akan mengaktifkan kartu kreditmu lagi." Ryan menyambar untuk berbicara lebih dulu.


"Terima kasih, Ryan. Ah benar, kebetulan sekali aku punya hadiah untukmu," balas Megan. Dia berdiri, lalu melepas resleting gaun yang dikenakannya. Membuat jantung Ryan tiba-tiba berdetak tidak karuan. Jelas sudah, kalau Megan tengah berniat merayunya.


"Megan, aku harus..." Ryan berhenti bicara. Akibat menyaksikan Megan sudah menanggalkan gaunnya. Dia terlihat hanya mengenakan bikini.

__ADS_1


"Katanya ini adalah produk terbaru. Sangat cocok dibadanku, bukan?" Megan memberitahu seraya berjalan menghampiri.


Ryan terdiam seribu bahasa sembari menenggak salivanya sekali. Dia tentu tergoda dengan tubuh indah yang dimiliki Megan. Alhasil Ryan mengalihkan pandangannya dari Megan.


"Aku sudah melihatnya. Kau bisa--"


"Aku belum selesai, Babe." Megan sengaja memotong perkataan Ryan. Dia kini duduk di atas pangkuan suaminya tersebut. "Sebelum pergi, aku ingin melihat tatomu terlebih dahulu." Tangan Megan mulai melepas kancing baju Ryan satu per satu.


"Aku juga istrimu, Ryan. Apa kau takut Ruby akan marah? Ayolah, kita hanya berduaan. Dia tidak akan tahu..." Megan berbisik ke telinga Ryan. Nadanya begitu sensual.


Setelah berhasil membuat semua kancing baju Ryan terbuka, tangan nakal Megan sekarang beralih ke resleting celana sang suami. Namun kali ini Ryan menghentikan pergerakannya.


"Cukup, Megan. Jika kau sedang merasa bergairah, kau sebaiknya melakukannya dengan lelaki lain. Aku tidak akan marah sama sekali," imbuh Ryan sambil bangkit dari sofa. Dia kembali memasang kancing bajunya.


Megan yang merasa sakit hati, bergegas mengenakan pakaiannya kembali. "Kau harus tahu satu hal, Ryan. Aku tidak pernah melakukannya dengan lelaki lain selain dirimu. Bahkan semenjak dua tahun yang lalu. Tepat ketika kau menyuruhku dan Sarah berbuat sesuka hati. Tetapi semenjak itu juga kami tahu, kalau kau sama sekali tidak mencintaiku atau pun Sarah," ungkapnya. Kemudian segera pergi keluar dari ruangan.



Sementara itu, Ruby dan Gaby sedang berada di kamar. Sama-sama menikmati pizza yang masih hangat.


"Ngomong-ngomong, bisakah kau ceritakan bagaimana dirimu dan Ryan bisa menikah? Aku sudah mendengar cerita Sarah dan Megan. Hanya ceritamu yang belum," ujar Gaby sambil mengunyah pelan pizza yang masih ada dimulut.


"Benarkah? Memangnya bagaimana ceritanya?" bukannya bercerita, Ruby malah berbalik tanya.


"Aku akan menceritakannya, tetapi dengan satu syarat. Kau juga akan memberitahu kisah pernikahanmu dengan Ryan." Gaby berucap sembari mengambil gelas berisi teh hangat.


"Baiklah... itu bukan hal besar." Ruby menggedikkan pundaknya.


"Kau mau mendengar cerita siapa dulu? Megan atau Sarah?" Gaby bertanya. Dia berhenti menyantap pizza. Perutnya telah merasa kenyang.


"Megan!" Ruby memilih tanpa harus berpikir lama. Dia memang sangat penasaran dengan Megan dibandingkan Sarah. Ruby yakin, ada alasan dibalik sikap kasar Megan. Bisa jadi kenangan buruk atau tragedi mengerikan.


"Oke, semua orang menyebut cerita Megan sebagai pernikahan berdarah. Ryan datang di waktu yang tepat untuk Megan." Gaby mulai bercerita.

__ADS_1


__ADS_2