
...༻❀༺...
Ruby berhasil melarikan diri dari Clara. Dia sekarang beristirahat di sebuah mini market. Menenggak air mineral di sana.
Memang benar Ruby selalu lolos dari pengejaran. Namun dia merasa kalau hidupnya tidak akan tenang, jika harus begitu terus. Ruby mulai memikirkan tentang tawaran Ryan. Tetapi saat membayangkan lelaki tersebut, wajah Megan dan Sarah ikut menghantuinya. Satu-satunya yang mengganggu Ruby untuk tinggal bersama Ryan, adalah dua wanita itu.
"Ughh! Harusnya aku tidak menikahi Ryan! Ini benar-benar memusingkan!" keluh Ruby sembari menekan-nekan bagian kepalanya. Selanjutnya dia bergegas memeriksa uang dalam tas. Mimik wajahnya semakin masam saat melihat uangnya hanya tertinggal dua lembar. Menyewa motel saja tidak akan cukup.
Dengan terpaksa, Ruby akhirnya mengambil ponsel. Lalu segera menghubungi Ryan.
"Ruby?" sambut Ryan dari seberang telepon.
"Bisakah kau menjemputku? Aku tidak tahu harus kemana lagi sekarang..." lirih Ruby yang terdengar putus asa.
"Baiklah, aku akan menjemputmu. Kau sekarang dimana?" balas Ryan. Penuh akan kepura-puraan.
"Aku ada di kota Rio. Masih disekitaran bandara," sahut Ruby memberitahu. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Ryan bergegas untuk menjemput Ruby. Dia ingin menemuinya secara langsung.
Ruby duduk menunggu di sebuah cafe. Menatap sendu ke arah jendela. Dia menunggu Ryan cukup lama. Hingga tidak terasa malam semakin larut. Pemilik cafe yang hendak tutup, menyuruh Ruby untuk pergi.
Dengan helaan nafas berat, Ruby melangkah malas menuju bandara. Dia masuk ke bilik toilet dan tanpa sengaja tertidur di sana.
Dua jam berlalu. Barulah Ryan sampai di Brazil. Dia segera menghubungi Ruby. Kemudian membawanya pergi dengan menggunakan pesawat pribadinya.
"Pesawat ini milikmu?" tanya Ruby. Dia sedari tadi merasa berdecak kagum menyaksikan tampilan nyata pesawat pribadi.
"Tentu saja. Kau menyukainya?" balas Ryan.
__ADS_1
"Sedikit." Ruby menjawab singkat. "Ryan, aku memang kembali bersamamu sekarang. Tetapi bukan berarti aku bersedia menjadi istrimu lagi. Aku tegaskan itu!" sambungnya. Ekspresinya tampak serius.
"Ah... sayang sekali. Padahal aku mau mengajakmu bulan madu ke Italia," sahut Ryan santai. Dia memalingkan wajah dari Ruby, lalu berseringai puas.
Sementara Ruby memutar bola mata jengah, kala mendengar perkataan Ryan yang sedang membahas rencana bulan madu. "Berbulan madu saja dengan istri pertama atau keduamu," ucapnya seraya melipat tangan didada.
Setelahnya, Ruby dan Ryan saling terdiam hingga pesawat tiba di kota tujuan. Kali ini Ryan tidak membawa Ruby ke pulau pribadinya. Melainkan ke markas rahasianya yang ada di Las Vegas. Penampakan kota malam itu membuat Ruby otomatis mengingat kenangannya saat pertama kali bertemu Ryan.
"Apa kau sengaja membawaku ke kota ini? Agar perasaanku muncul lagi untukmu?" pungkas Ruby sinis.
"Tidak juga. Sebenarnya tempatku pertama kali bertemu dengan Sarah, juga di kota ini." Ryan mengungkapkan. Namun Ruby tidak menghiraukan sama sekali ucapannya. Tidak lama kemudian mereka sampai di markas.
Mata Ruby terbelalak saat melihat penampakan tempat yang disebut Ryan sebagai markas. Bagi Ruby tempat itu tidak pantas disebut markas, melainkan hotel bintang lima yang super megah.
"Ini gila! Apa benar ini markasmu? Aku tidak percaya!" Ruby menggeleng tegas. Belum bisa memahami seberapa banyak kekayaan yang dimiliki Ryan.
"Jangan sentuh aku!" tegas Ruby dengan dahi berkerut. Mengharuskan Ryan otomatis mengangkat kedua tangannya ke udara. Selanjutnya mobil akhirnya berhenti tepat di depan hotel.
Ryan berjalan memimpin lebih dahulu. Di iringi oleh Ruby dari belakang. Semua orang di hotel bergegas berkumpul saat menyaksikan kehadiran Ryan. Entah karena mereka memang menghormati, atau takut dengan sosok Ryan.
Ruby dan Ryan memasuki lift bersamaan. Ruby masih saja terus menjaga jarak dari Ryan. Yang di inginkan gadis itu sekarang adalah ketenangan dan istirahat. Sudah beberapa kali Ruby mengangakan mulut lebar akibat menguap.
Pintu lift perlahan terbuka. Ruby dan Ryan tiba di ruang bawah tanah. Untuk yang kesekian kalinya, Ruby terpesona melihat kemewahan di depan matanya. Bagaimana bisa ruang bawah tanah bisa sekeren dan semewah itu?
Ruang utama bawah tanah desainnya tidak kalah megahnya dari lobi hotel. Tema klasik bergaya Eropa dan menggunakan seni rumit yang terbuat dari batu-batu berharga.
"Ryan, apa perlu kau membangun ruang bawah tanah semewah ini? Kalau terjadi gempa bumi, aku yakin bangunan ini akan langsung hilang dalam sekejap," celetuk Ruby asal. Perkataannya menyebabkan Ryan berbalik dan menatap tajam kepadanya.
__ADS_1
"Benar. Tetapi sekarang kau akan tinggal di sini. Jika gempa bumi terjadi, kau mungkin tertimpa reruntuhan bangunan ini," balas Ryan. Kali ini dia tidak ingin kalah dari Ruby. Mungkin segala penolakan yang dilakukan oleh gadis itu, sudah merubah suasana hatinya menjadi buruk.
Ruby sontak terdiam seribu bahasa. Dia berupaya menahan amarahnya. Karena jika dirinya melawan, mungkin Ryan tidak akan mau membantunya. Bisa saja nanti Ruby di usir atau ditenggelamkan ke dalam laut.
Ryan meyuruh salah satu pengawal untuk memanggil semua bawahannya. Dari kejauhan terlihat Megan dan Sarah sedang berjalan berbarengan.
"Apa mereka selalu akur?" tanya Ruby, penasaran.
"Awalnya tidak. Tetapi sekarang, hubungan mereka sudah seperti saudara. Kerjasama mereka bahkan sangat luar biasa. Lain kali kau harus melihat Megan dan Sarah melakukan pekerjaan mereka," jawab Ryan memberikan penjelasan.
"Cih, tidak tertarik!" Ruby tidak ingin peduli.
Bawahan Ryan mulai berkumpul. Terlihat ada puluhan lelaki berbadan kekar. Serta beberapa wanita yang tampak sangar dan kuat. Mereka seperti prajurit-prajurit yang memang dilatih Ryan untuk bertarung. Melakukan tugas legal ataupun ilegal.
"Aku ingin mengenalkan anggota baru kita hari ini. Namanya Ruby, mulai hari ini, dia menjadi bagian The Shadow Holo," ungkap Ryan sembari memaksa Ruby masuk ke dalam rangkulannya.
Mendengar penuturan Ryan, mata Ruby membulat. Hal itu dikarenakan dia sadar, kalau sedari awal dirinya sama sekali tidak berniat bergabung dalam organisasi mafia Ryan. Nampaknya Ryan memang sengaja mengambil keputusan tanpa harus menunggu persetujuannya.
"Ryan! Aku tidak--"
"Tenang saja Ruby, mereka akan membantumu berlatih. Benarkan?" Ryan sengaja memotong ucapan Ruby. Lalu melemparkan pertanyaan kepada bawahannya.
"Siap Bos!" beberapa bawahan Ryan memberikan respon. Ryan lantas mengukir senyuman diwajahnya.
"Ayo, aku akan membawamu beristirahat ke kamar!" ajak Sarah sambil menarik tangan Ruby. Sehingga rangkulan Ryan otomatis terlepas.
"Oh, aku juga. Ada banyak sekali hal yang ingin aku bicarakan dengan Ruby." Megan ikut bersuara. Dia perlahan menatap ke arah Ryan. "Biarkan kami yang mengurus Ruby dari sekarang. Sekalian juga untuk saling mendekatkan diri. Kau lebih baik beristirahat, Sayang," tuturnya dengan senyuman yang menggoda. Hingga membuat Ryan tidak kuasa untuk menolak. Ruby pun dibawa pergi oleh Megan dan Sarah.
__ADS_1