
...[Sebelum membaca, disarankan mendengarkan lagu A World Witout Love dari Peter and Gordon, agar bisa merasakan suasana romantis yang terjadi.]...
...༻❀༺...
Alasan Ruby sangat ingin mengangkat telepon, karena dia ingat dengan janji Mike dan Max. Dirinya belum memberitahu dua orang tersebut, kalau rencana harus dibatalkan. Semuanya karena Ryan sudah memberitahukan Ruby segalanya.
"Rencana dibatalkan!" ucap Ruby.
"Tetapi--" belum sempat mendengar respon Mike dari seberang telepon, Ruby sudah lebih dahulu memutuskan panggilan. Meletakkan ponselnya, kemudian menoleh ke arah Ryan.
Pintu kamar mandi terlihat terbuka lebar. Jujur saja, nafas Ruby masih belum bisa di atur akibat aktifitas intimnya satu menit lalu. Ruby menyaksikan Ryan baru saja melepaskan kemeja. Lelaki tersebut segera membalas tatapan Ruby. Keduanya saling bertukar tatapan nakal. Ruby lantas berjalan mendekat. Pintu kamar mandi perlahan tertutup rapat.
Setelah puas menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi, Ryan memasang piringan hitam ke alat vinyl. Terputarlah salah satu lagu favoritnya dan Ruby. Judulnya adalah A World Without Love, yang dipopulerkan oleh penyanyi 1960-an, Peter and Gordon.
...🎶...
...Please lock me away...
...[Kumohon, penjara aku]...
...And don't allow the day...
...[Dan jangan biarkan aku keluar hari ini]...
...Here inside where I hide, with my loneliness...
...[Di sinilah aku bersembunyi dengan kesepianku]...
...I don't care what they say I won't stay, In a world without love......
__ADS_1
...[Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan, aku tidak akan tinggal di dunia tanpa cinta...]...
...🎶...
Musik terus berdendang menemani larutnya malam. Ruby terlihat baru keluar dari kamar mandi. Ryan segera menghampirinya, lalu mengajak Ruby menari bersamanya. Tangan Ryan memegang erat jari-jemarinya. Mereka sama-sama sedang mengenakan handuk kimono berwarna putih.
Ruby hanya tertawa melihat kepercayaan diri Ryan. Menampakkan deretan gigi putihnya yang rapih. Kedua pipinya menjadi merah merona. Sesekali Ryan akan membuat Ruby berputar. Menyebabkan rambut basah gadis itu beterbangan ke udara. Selanjutnya, Ryan membawa Ruby masuk ke dalam pelukan. Mereka kembali bergerak bersama mengikuti irama musik.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Ryan dan Ruby menari bersama. Mereka dulu sering melakukannya saat tinggal berdua. Dengan adanya selera musik yang sama, maka sebuah hubungan dapat diselimuti suasana harmonis.
Baik mata Ryan atau pun Ruby, keduanya sama-sama memancarkan binar penuh cinta. Tidak teralihkan dan hanya terpaku satu sama lain. Senyuman lebar terpatri diwajah mereka tanpa alasan. Segalanya terjadi karena rasa cinta yang menggebu.
Ruby ingin momennya sekarang tidak berlalu. Dia berharap Ryan tidak pernah keluar dari kamarnya. Sedih rasanya ketika menyaksikan jarum jam terus bergerak maju.
Sesekali Ryan akan mengangkat tubuh ramping Ruby ke udara. Ketika hal itu terjadi, Ruby akan tergelak geli. Dia takut dirinya akan terjatuh. Namun Ryan pasti tidak akan membiarkan istrinya lepas dari genggamannya.
Ryan merasa berbeda saat bersama Ruby. Gadis itu satu-satunya orang yang mampu memberinya kesenangan. Tidak! Bukan kesenangan tepatnya, melainkan kebahagiaan. Perangai dingin yang dahulu melekat pada reputasinya, perlahan pupus karena kehadiran Ruby dalam hidupnya. Meski Pertemuan dan perkenalannya begitu singkat, Ryan merasa menemukan sesuatu yang lebih hebat dari benda antik favoritnya. Bahkan dirinya sudah hampir tidak memikirkan benda antik dan suku Elmika lagi, gara-gara lebih banyak memikirkan Ruby.
Kini tangan Ruby melingkar di pundak Ryan. Menyebabkan tangan Ryan otomatis memegang pinggul Ruby. Mereka menempelkan jidatnya satu sama lain.
Jarum jam sudah menunjukkan ke angka tiga. Malam benar-benar kelewat larut. Namun sepertinya hal tersebut bukan masalah bagi Ryan dan Ruby.
"Ryan, kau mencintaiku bukan?" Ruby bertanya sambil memejamkan mata. Jidatnya masih bersentuhan dengan dahi Ryan.
"Tentu saja. Kau harus tahu, awalnya aku tidak pernah berniat menjadikanmu seorang istri. Tetapi semuanya berubah ketika aku mengenalmu lebih dalam. Aku tidak pernah bertemu dengan gadis sepertimu sebelumnya," tutur Ryan lembut. Tidak seperti Ruby, matanya terbuka lebar. Menatap lekat paras cantik yang tengah berada tepat di hadapannya.
Ruby mendongakkan kepala. Dia segera menyorot Ryan dengan tatapan yang berbinar kagum. "Jika begitu, bisakah kau menjadikanku sebagai satu-satunya?" kedua tangan Ruby sekarang menangkup wajah Ryan.
Ryan mengerti betul maksud dari Ruby. Dia tahu gadis itu ingin dirinya memutuskan hubungan dari Megan dan Sarah. Sebenarnya Ryan telah menangkap kode dari Ruby sejak tadi. Hanya saja, Ruby tidak langsung bicara ke intinya.
Lagu berganti menjadi musik yang lebih melankolis dan romantis. Seakan mendukung pembicaraan serius yang terjadi. Ryan menggendong Ruby dengan ala bridal style. Merebahkan gadis tersebut ke kasur, di ikuti oleh dirinya setelahnya.
__ADS_1
Dalam keadaan telentang, Ruby memeluk suaminya dari samping. Dia menjadikan dada Ryan sebagai bantalan kepala. Mereka sama-sama tenggelam dalam alunan lagu Love Like Ghost dari Lord Huron yang terputar.
"Aku sudah mencoba memberi pilihan kepada Megan dan Sarah, tetapi mereka memilih tetap tinggal bersamaku." Ryan tiba-tiba bersuara. Dia menjawab pertanyaan Ruby yang tadi sempat didiamkannya.
"Kau bisa lebih tegas lagi kepada mereka. Bukankah mereka akan ketakutan saat melihatmu marah?" Ruby mendongakkan kepala agar dapat melihat mimik wajah yang ditunjukkan Ryan.
"Kau benar. Tetapi aku merasa kasihan kepada mereka. Megan dan Sarah tidak mempunyai keluarga dalam hidup mereka. Persis seperti kita berdua..." ungkap Ryan yang diakhiri dengan lirih.
"Kau tidak harus mengusir mereka dari Shadow Holo, Bukan itu yang aku maksud, Ryan. Aku hanya ingin mereka tidak lagi menjadi istrimu," jelas Ruby. Dia berhenti memandangi Ryan. Lalu merebahkan kembali kepalanya ke dada bidang sang suami.
"Jangan bilang kau masih ragu, karena kepercayaanmu terhadap suku bernama Eramika itu," ujar Ruby. Memasang ekspresi cemberut diparasnya. Dia tidak sengaja salah menyebut nama suku panutan Ryan.
"Elmika!" Ryan segera mengoreksi perkataan Ruby yang salah.
"Benar, itu maksudku. Apakah dalam budaya mereka juga ada ritual perceraian?" tanya Ruby. Tangannya masih melingkar di pinggul Ryan.
"Tidak ada, sebenarnya. Tetapi mereka memberitahuku mengenai hukum karma. Aku tidak tahu apa lebih tepatnya, mereka hanya mengucapkan kalimat semboyan yang berbunyi, 'Yang membiarkan pergi, akan merasakan kehilangan.' Begitulah kira-kira," balas Ryan yang disertai dengan penjalasan panjang lebar.
"Apa kau menakutkan hal itu?" Ruby kembali bertanya. Dia hanya ingin kepastian dari Ryan.
"Ryan, kau harus tahu... ketika dirimu mempercayai sesuatu hal, maka apa yang kau percayai itu bisa menjadi nyata. Aku yakin semua suku di penjuru dunia memiliki tekad yang sama. Tetapi, kau tidak seharusnya hanya terpaku kepada satu hal kepercayaan saja." Ruby mencoba mengemukakan pendapatnya.
Ryan terdiam seribu bahasa dalam sekian detik. Pernyataan Ruby benar-benar menohoknya. Akhir-akhir ini dirinya memang mulai kekurangan minat terhadap barang antik. Bahkan suku Elmika sendiri. Ryan tidak tahu kenapa, namun semuanya terjadi saat dia memikirkan bagaimana cara dirinya bisa membuat Ruby terus tinggal disisinya. Ryan segera menatap wajah Ruby. Dia tidak butuh waktu untuk berpikir terlalu lama.
"Aku akan berusaha bicara lagi kepada Megan dan Sarah." Ryan sendiri agak terkejut dengan kalimat yang diucapkannya. Dia merasa seolah terhipnotis. Hingga kalimat yang akan dapat membuat Ruby berharap dututurkannya begitu saja.
"Benarkah? Kau tidak bercanda kan?" Ruby sontak mengubah posisi menjadi duduk.
Ryan mengangguk sambil tersenyum singkat. "Tetapi, aku akan melakukannya ketika misi musim dingin sudah selesai. Jika aku mengatakannya sebelum misi dilakukan, semua rencana yang sudah disusun akan menjadi kacau," ucapnya.
"Kau tidak berbohong kan? Jangan membuatku berharap. Aku akan menganggap ini janji, oke?" pungkas Ruby. Lalu kembali merebahkan diri ke dalam dekapan.
__ADS_1
Musik masih bergema dengan lagu melambat. Ruby mulai terbawa ke dalam lelap. Akan tetapi tidak untuk Ryan, dia serius mendengarkan lirik lagu yang terputar. Lelaki tersebut bersenandung kecil akibat hanyut ke dalam lagu. Jujur saja, Ryan mencoba memikirkan matang-matang apa yang dikatakannya barusan kepada Ruby. Salahkah dirinya memberi harapan? Di sisi lain, Ryan takut kutukan yang disebutkan suku Elmika akan terjadi kepadanya. Yaitu sebuah kehancuran, jika dirinya nekat melepas salah satu istrinya.