Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 58 - Tak Mau Jadi Pembohong


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan dan Ruby sempat saling terpaku untuk menatap. Ruby mendekatkan wajahnya lebih dahulu. Membidik bibir Ryan yang begitu menggoda. Namun Ryan malah menjaga jarak darinya. Menyebabkan dahi Ruby sontak berkerut heran.


"Ada yang harus aku katakan kepadamu. Sebelum bicara ke topik utama, aku ingin menegaskan bahwa, niatku membicarakan ini karena aku tidak mau kau mendengarnya dari mulut orang lain. Apalagi Ethan," ucap Ryan sembari memegangi pundak Ruby. Dia menghela nafasnya sejenak.


"Katakan saja," sahut Ruby. Menunggu jawaban.


"Tadi aku dan Megan berciuman, itulah alasan kenapa Henry memukul wajah--"


"Apa?! Berciuman?!" Ruby tercengang tak percaya. Dia segera menjauhkan tangan Ryan dari pundaknya.


"Dengarkan aku dahulu..." Ryan bersikeras memegang tangan Ruby. Tetapi gadis itu menunjukkan raut wajah masam, dan malah ingin lekas-lekas beranjak.


"Dia sudah pergi, Ruby! Aku pastikan itu!" tegas Ryan. Mencengkeram kuat pergelangan tangan Ruby.


"Lalu kenapa kau menciumnya! Bukankah itu akan memberinya sedikit harapan untuk kembali?!" geram Ruby. Nafasnya sudah tersengal-sengal.


"Kau tidak mengerti. Tenanglah!" Ryan menarik Ruby untuk mendekat. Kini keduanya kembali saling berhadapan.


"Itu adalah yang terakhir, Ruby. Salah satu keinginan Megan. Dia dan Sarah memiliki satu syarat sebelum pergi. Mengertilah..." ujar Ryan memohon. Dia membalas tatapan kesal Ruby dengan keteduhan.


"Tidak, aku tidak mengerti." Ruby menggeleng pelan. Dia perlahan melepas cengkeraman Ryan. Kemudian berjalan menuju pintu.


"Kau harus tahu, Ruby. Aku mengatakan semuanya, karena aku tidak mau lagi membohongimu!" Ryan berucap sebelum Ruby benar-benar beranjak keluar ruangan.


Ruby melajukan langkahnya. Menyusuri koridor yang mengarah menuju kamarnya. Dari kejauhan, dirinya dapat menyaksikan Gaby dan Mike semakin mendekat. Ruby reflek menghentikan pergerakan kakinya.


"Ruby!" Gaby langsung berlari ke dalam pelukan Ruby. Sedangkan Mike hanya tersenyum untuk memberikan sapaan. Kedua kakak beradik itu sangat merindukan Ruby.

__ADS_1


"Aku senang kau baik-baik saja." Gaby perlahan melepaskan dekapannya. Saat itulah Mike bergerak satu langkah lebih dekat pada Ruby.


"Maafkan aku untuk..."


"Aku sudah memaafkanmu, Mike. Lagi pula Gaby sudah menjelaskan semuanya kepadaku," potong Ruby. Dia tahu Mike berniat meminta maaf perihal insiden kue red velvet.


Keheningan terjadi dalam sesaat. Hingga terlintas satu pertanyaan dalam benak Ruby. "Aku dengar Ryan tadi berciuman dengan Megan, apa itu benar?" tanya-nya, menatap Gaby dan Mike secara bergantian. "Aku hanya ingin tahu bagaimana cara mereka berciuman, itu menunjukkan..."


Tepukan dadakan Gaby ke pundak, otomatis membuat kalimat Ruby terhenti. Gadis keturunan negro tersebut tersenyum lebar dan berkata, "Kau tidak perlu khawatir. Gadis jahat itu mendapat balasan setimpal. Ciuman yang dilakukannya dengan Ryan bahkan tidak sampai lima detik. Kau harus melihat, bagaimana Ryan mendorongnya menjauh. Sangat lucu dan juga tragis."


"Gaby, stop it." Mike menyuruh sang adik berhenti berceloteh. Baginya Gaby cenderung bicara terlalu berlebihan.


"Ryan mendorongnya?" Ruby penasaran.


Gaby mengangguk yakin. Tidak peduli dengan teguran kakaknya. "Dia hampir terduduk ke lantai," ungkapnya.


"Aku harus pergi. Sepertinya pembicaraan ini hanya diperuntukkan untuk para wanita." Mike tersenyum singkat, kemudian berjalan menjauh.


"Keputusan apa?" Ruby yang tidak paham, menuntut jawaban. Tangannya balas merangkul Gaby.


"Tentu saja keputusannya tentang mempertahankan satu istri saja. Yaitu kau!" Gaby mengembangkan senyuman yang menular kepada Ruby. "Saat dia punya banyak istri, semua bawahannya sangat kewalahan. Karena orang yang berkuasa terlalu banyak. Orang yang pastinya memiliki banyak kesulitan adalah Max," sambungnya bercerita.


"Max? Karena dia adalah anggota yang paling kuat?" tebak Ruby.


Gaby mengangguk. "Dan karena dia juga anggota favorit semua orang. Ryan, Sarah, bahkan Megan. Wajar jika Max sering kelelahan ketika melakukan tugasnya. Meskipun begitu, dia tetap mampu menjalani semuanya," lanjutnya. Menghentikan langkah kakinya saat berada di depan pintu kamar Ruby.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Gaby." Ruby membuka pintu kamar sambil menoleh ke arah Gaby.


"Me too. Beristirahatlah!" balas Gaby. Satu tangannya melambai, lalu segera pergi dari pandangan Ruby.

__ADS_1


Ruby menjatuhkan diri ke atas kasur. Kamarnya yang sempat berantakan akibat amukan Ryan, telah rapi seperti semula. Hal itu karena Ryan memang sudah menyuruh pekerjanya untuk merapikan, tepat sebelum Ruby kembali.


Otak Ruby lagi-lagi memikirkan Ryan. Dia yang tadi hampir meragukan lelaki tersebut, kembali memantapkan hatinya. 'Lagi pula itu hanya sebuah ciuman. Ryan bahkan mengatakannya sendiri kepadaku. Sementara aku, tidak pernah bercerita mengenai ciuman yang kulakukan dengan Ethan,' batinnya. Tanpa sengaja membayangkan adegan ciumannya ketika bersama Ethan. Ruby lekas-lekas menggeleng tegas. Dia benar-benar merasa jijik saat mengingatnya.


'Tapi aku melakukannya karena terpaksa. Jika dulu aku tidak berbuat begitu pada Ethan, mungkin Megan dan Sarah sudah tenggelam di dasar laut.' Ruby kembali berbicara dari hatinya. Dia merubah posisi menjadi duduk sejenak. Lalu merebahkan dirinya lagi ke kasur. "Aah! Harusnya aku biarkan saja Megan dan Sarah mati saat itu!" gerutunya yang kini berbicara melalui mulut.


Setelah bergumul dengan pikirannya sendiri, Ruby perlahan terlelap. Rasa lelah yang menggerogoti membuat tidurnya begitu pulas semalaman.



Ceklek!


Suara pintu yang terbuka terdengar samar ditelinga Ruby. Gadis itu masih dalam keadaan setengah sadar.


"Bangunlah, Babe. Hari ini aku akan membantumu berlatih!" Ryan sudah berdiri di samping Ruby. Memasang pose melipat tangan didada. Dia tampak mengenakan setelan olahraga.


Ruby mengerjapkan mata. Mengamati sosok yang sedang mengajaknya untuk bangun. Setelah memastikan sosok tersebut adalah Ryan, Ruby segera bangkit dan duduk bersila.


"Ayo! Kita tidak punya waktu. Tiga jam lagi aku harus pergi," imbuh Ryan seraya membungkukkan badan ke arah Ruby. Menopang tubuhnya dengan satu tangan.


"Kalau begitu pergilah... aku akan latihan bersama Mike saja," jawab Ruby dengan nada suara malas. Akan tetapi Ryan malah memegangi tangannya, kemudian memaksanya untuk berdiri.


"Ryan!" protes Ruby. Dia agak sempoyongan akibat masih mengantuk.


"Ayo bersihkan diri dan ganti bajumu!" saran Ryan. Dia masih bertahan memegangi Ruby yang sibuk memejamkan mata.


"Aah... nanti saja. Bukankah ini terlalu pagi?..." balas Ruby. Akhirnya matanya terbuka, demi menoleh ke arah jam dinding. Benar dugaannya, hari masih terlalu pagi. Jarum jam terlihat masih menunjuk ke angka empat.


"Justru yang terlalu pagi itu bagus untuk berolahraga," terang Ryan. Memperhatikan Ruby yang tengah asyik mengusap salah satu matanya.

__ADS_1


"Jika kau menolak, maka aku akan turun tangan untuk membersihkan dan menggantikan baju untukmu," pungkas Ryan yang seketika berhasil membuat mata Ruby terbuka lebar. Gadis itu langsung menjaga jarak dari Ryan.


"Aku bisa melakukannya sendiri!" tolak Ruby sembari berdecak kesal. Dia akhirnya berjalan memasuki kamar mandi. Sementara Ryan duduk sejenak untuk menunggu. Lelaki tersebut sempat terkekeh karena melihat tingkah laku Ruby.


__ADS_2