Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 32 - Tato & Lingerie


__ADS_3

...༻❀༺...


Ruby sudah berdiri di depan pintu kamar Ryan. Dia mengenakan pakaian kimono berbahan kain katun, ukurannya sepanjang mata kaki. Gadis itu menyempatkan menata rambutnya menjadi bergelombang. Dia melakukannya, saat tadi pergi keluar markas bersama Gaby.


Setangkai bunga mawar merah disembunyikannya dari balik punggung. Dia sebenarnya agak ragu memberikan bunga itu untuk Ryan. Menjadi romantis bukanlah gayanya. Hingga pada akhirnya Ruby berniat membuang bunga mawar yang dipegangnya. Namun belum sempat dirinya melemparkan bunga ke bak sampah, Ryan mendadak membuka pintu. Ruby sontak mematung dalam keadaan mata yang membulat. Dia segera membuang asal bunga yang dipegangnya. Entah terjatuh kemana, Ruby tak peduli.


Dahi Ryan mengerut dalam ketika menyaksikan kehadiran Ruby. Apalagi dengan penampilan yang menurutnya berbeda dari biasanya. Ryan tidak tahu harus berkata apa, selain bergumam, "Wow..." Matanya menilik tampilan Ruby dari ujung kaki hingga kepala.


"Apa yang terjadi kepadamu?" Ryan benar-benar terheran dengan tampilan tidak biasa Ruby.


"Tidak ada. Apa tidak boleh seorang istri mendatangi kamar suaminya?" Ruby mengaitkan anak rambut ke daun telinga. Menampakkan bagian rahangnya yang cantik.


"Ah, bukan begitu. Hanya saja..." Ryan menggelengkan kepala dan meneruskan, "lupakan, masuklah!" suruhnya sembari membuka lebar pintu.


Pupil mata Ruby langsung membesar tatkala menyaksikan kasur dan meja yang ada di kamar Ryan. Bagaimana tidak? Uang bernilai ratusan dollar berhamburan dimana-mana. Seperti dedaunan kering di musim gugur.


"Apa kau Tuan Krab? Kau pasti menganggap semua orang selain dirimu sebodoh Spongebob," sarkas Ruby. Berbalik dan menatap Ryan dengan ujung mata.


"Apa-apaan, Ruby. Aku hanya sedang mencari benda antik yang tersimpan di dalam koper berisi uang. Makanya aku ragu untuk mengajakmu masuk. Keadaan kamarku sekarang sangat berantakan." Ryan menjelaskan seraya mengambil koper besar. Di dalamnya masih terdapat lembaran uang dollar yang lain. Menyebabkan Ruby otomatis menenggak ludahnya sendiri.


"Tidak apa-apa jika berantakan karena uang. Aku malah menyukainya, semua orang suka uang," respon Ruby sambil memegangi tali baju kimononya. Matanya segera melirik ke arah jam dinding. Dia harus menjalankan rencananya tepat waktu.


Ryan terkekeh. Pandangannya dialihkan ke arah Ruby. Dia tiba-tiba penasaran akan suatu hal.


"Apa yang ada dibalik kimono itu? Sepertinya kau ingin menunjukkan sesuatu." Ryan berjalan mendekat. Menunjukkan jari telunjuk ke pakaian yang dikenakan Ruby.


"Apa maksudmu. Bisakah kita bicara sambil minum?" Ruby berusaha menjauh dari Ryan. Menggerakkan kaki ke arah sofa. Namun tangan Ryan dengan cekatan mencegat pergerakannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau kau melakukannya saat mabuk. Tidak menyenangkan!" ujar Ryan. Mulai memasang tatapan nakalnya. Lalu menarik paksa Ruby untuk mendekat. Gadis tersebut seketika berada dalam dekapannya. Ryan mendorong Ruby sedikit menjauh, karena dia berniat membuka setelan kimono Ruby.


"Ryan!" tangan Ruby menghentikan kegiatan jari-jemari Ryan. Bola matanya sekali lagi diarahkan ke jam dinding. Waktu masih terlalu cepat baginya.


Menyadari Ruby terus melirik ke jam dinding, Ryan lantas curiga. "Apa ada sesuatu yang kau tunggu?"


Ruby langsung membantah. "Tidak ada. Aku hanya memastikan jam tidurku," kilahnya. Matanya reflek memejam rapat. Ruby sadar kalau dirinya mengatakan alasan yang tidak masuk akal.


"Hahaha! Sejak kapan kau punya jam tidur? Seperti anak kecil saja," komentar Ryan, yang diawali dengan gelak tawa.


Pipi Ruby memerah malu. Dia memang tidak bisa mengelak terhadap pernyataan Ryan. Gadis tersebut membuang muka sejenak dari sang suami. Saat ituah Ryan mengambil kesempatan untuk membuka ikatan tali kimono Ruby.


Ruby yang tidak sempat lagi mencegah, memilih pasrah. Toh mau ditunda sampai kapanpun, penampilan yang dipakainya tetap akan dilihat Ryan. Karena semuanya merupakan bagian dari rencananya.


Kimono yang dikenakan Ruby kini dijatuhkan Ryan ke lantai. Tampaklah Ruby yang mengenakan setelan lingerie hitam nan seksi. Menampakkan belahan dada dan hanya sependek pangkal paha.


"Tato?" Ruby memperhatikan tato milik Ryan. Sebuah gambar dua sayap lebar yang terukir di dada bidang suaminya. Di tengah sayap tersebut terdapat gambar singa yang tampak perkasa.


"Seminggu yang lalu, sebelum melakukan misi, aku kebetulan bertemu dengan seorang seniman tato jalanan. Karyanya sangat luar biasa." Ryan menceritakan asal-usul tatonya.


"Ya, this is amazing. Aku tidak meragukannya," sahut Ruby. Tanpa sadar tangannya menyentuh dada Ryan. Tepat dimana tato sang suami berada.


Ryan membiarkan Ruby berbuat sesuka hati. Dia hanya sibuk menatap lekat gadis itu.


Perlahan insting Ruby memberitahu, kalau Ryan sedang asyik memandanginya. Dia lantas membalas tatapan Ryan. Saat itulah Ryan memadukan mulutnya dengan bibir Ruby.


Tangan Ryan segera melingkar ke pinggang Ruby. Ciuman yang awalnya lembut, perlahan semakin penuh gairah. Menyebabkan Ryan atau pun Ruby, beberapa kali harus memiringkan kepala.

__ADS_1


Jantung yang kian berdetak cepat, perlahan mempengaruhi nafas menjadi menderu-deru. Ruby dan Ryan mulai meliar. Ryan yang mendominasi segera menggendong Ruby. Kemudian kembali lanjut berciuman.


Ruby mengunci kakinya dipinggul Ryan. Kedua tangannya melingkar erat ditengkuk suaminya. Ciuman panas berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Ryan menghempaskan Ruby ke kasur. Uang yang kebetulan berhamburan di sekitar, sama sekali tidak dipedulikan oleh dua insan itu.


Ryan bergegas melepaskan celana. Ruby yang mengerti, segera menanggalkan lingerie dari badannya. Selanjutnya, Ryan langsung memposisikan diri berada di atas badan Ruby. Memainkan kecupannya di leher hingga ke beberapa titik sensitif Ruby. Perbuatannya berhasil menyisakan noda merah dikulit putih gadis tersebut.


Ruby hanya bisa menggeliatkan badan tidak karuan. Dia semakin terangsang dengan sentuhan Ryan. Matanya memejam rapat dengan dahi yang mengerut dalam. Sesekali lenguhan keluar dari mulut gadis itu.



Di sisi lain, Gaby baru saja memberikan buket bunga kepada Megan. Dia mengatakan kalau buket bunga yang diberikannya merupakan kiriman dari Ryan.


"Benarkah? Kau tidak bercanda kan?" tanya Megan, tak percaya. Dia menghirup aroma mawar merah yang telah berada di genggaman tangannya. Sebuah senyuman tercipta diparasnya.


"Iya, tentu saja tidak." Gaby menjawab sambil menyatukan kedua tangan di balik punggung. Kemudian beranjak pergi.


Megan masuk ke dalam kamar. Atensinya tertuju kepada secarik kertas yang terselip di buket bunga. Megan segera membaca tulisan yang ada di sana.


...'Babe, aku minta maaf karena sudah menghukummu. Ayo kita bicarakan semuanya baik-baik. Aku menunggumu di kamar tepat jam 10.00 pm. Jangan coba-coba datang terlambat.'...


Begitulah bunyi tulisan yang ada dalam secarik kertas. Megan yang merasa sangat girang langsung bersiap-siap. Dia membuka lemari dan mengenakan pakaian terbaiknya.


Sementara itu Sarah. Dia baru saja menerima buket bunga serupa dari Gaby. Secarik kertas dengan tulisan yang sama telah dibacanya.


Sarah merasa ada yang aneh. Sebab dirinya sangat tahu bagaimana tulisan tangan Ryan. Tetapi ketika membaca kalimat dalam secarik kertas itu, Sarah menjadi sedikit bingung. Bunyi kalimat yang ada di dalam tulisan, memang sesuai dengan gaya Ryan seperti biasanya. Wajar saja, Ruby tentu tidak menulis asal kalimat tersebut.


Keputusan Sarah ambigu. Meskipun begitu, dia tetap memutuskan akan pergi ke kamar Ryan.

__ADS_1


__ADS_2