
...༻❀༺...
Ethan segera membantu Ryan untuk menarik Ruby. Kedua lelaki tersebut menyatukan kekuatan. Hingga Ruby bisa diselamatkan dengan mudah. Kini Ryan mendongakkan kepala ke atas. Dan ada jalan keluar di sana. Pantas saja tempat tersebut terlihat bercahaya.
"Lihat, tangganya ada di sana!" Ethan menunjuk ke arah tangga yang tertempel di dinding. Terletak persis di samping kanannya. Tangga itu dapat membantunya dan yang lain naik ke atas.
Secara bergantian, Ryan, Ruby dan Ethan, menaiki tangga. Mereka memanjat dengan sangat hati-hati. Hingga akhirnya sampai ke pintu selokan yang berbentuk jeruji besi. Ryan yang berada paling depan segera membukanya. Kemudian menggeser jeruji berbentuk bundar itu. Selanjutnya barulah dia dapat keluar dari selokan.
Ryan segera menyambut tangan Ruby. Sementara Ethan keluar dengan usahanya sendiri. Jalan keluar yang mereka lewati, kebetulan berada di sebuah gang kumuh. Ada seorang Tunawisma tua yang sukses memergoki. Tunawisma tersebut hanya bisa mengerutkan dahi heran. Dia otomatis menutup hidungnya rapat-rapat. Bau Ruby, Ryan dan Ethan, lebih parah dari bau badannya yang tidak mandi berhari-hari.
"Aku akan menghubungi seseorang untuk menjemput kita!" ujar Ryan seraya melangkahkan kakinya cepat. Sebab dia merasa mengenali lokasi dimana dirinya berada sekarang. Tidak begitu jauh dari markasnya yang telah runtuh.
"Ugh! aku benar-benar bau." Ruby membaui pakaian dan tubuhnya sambil menggerakkan kaki.
"Ya, ini sangat memalukan," sahut Ethan, yang juga frustasi dengan keadaannya sekarang. Semua orang yang berlalu lalang menutup hidung dan menatap heran ke arahnya dan Ruby. Sedangkan Ryan sibuk melajukan langkahnya ke depan. Dia berhenti saat bisa menyaksikan bangunan hotel yang berkedok markas rahasianya telah tiada. Berubah menjadi puing-puing bangunan yang menumpuk berantakan.
"Aku dan Ruby baik-baik saja. Kami ada di seberang jalan sebelah utara." Ryan berbicara melalui ponselnya. Tangannya perlahan mengambil alih briefcase yang sedari tadi dipegang oleh Ruby. Gadis itu bahkan mempertahankannya saat hampir terjatuh tadi. Tidak lama kemudian Max, Mike dan Gaby mendatanginya. Begitu pula dengan Sarah.
Ryan memilih diam. Dia tidak mau menimpali orang-orang yang dicurigainya. Terutama ketika berada di tempat umum. Dirinya lebih memilih mengumpulkan semua bawahannya di sebuah gedung terbengkalai yang letaknya tidak begitu jauh.
"Pergilah! Aku hendak membersihkan diri terlebih dahulu," titah Ryan kepada Mike. Dia kali ini mengabaikan Max, yang biasanya menjadi pesuruh utamanya. Atau bisa disebut sebagai tangan kanan. Namun sekarang sudah tidak lagi.
Ruby, Ryan dan Ethan akan pergi ke hotel terdekat untuk membersihkan diri. Ruby sekarang berada di kamarnya. Entah kenapa kali ini Ryan tidak memilih sekamar dengannya.
'Ryan pasti kesulitan sekarang. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri,' batin Ruby sembari memejamkan mata. Air hangat yang keluar dari shower berhasil menenangkan pikirannya. Bau sabun dan air yang mengalir meluruhkan segala lelahnya sejenak.
Setelah selesai membersihkan diri, Ruby segera mengenakan handuk kimononya. Mengeringkan rambut sambil duduk. Tanpa sengaja gadis itu tertidur sangat lelap. Mungkin akibat penat yang telah dilaluinya seharian. Dari mulai berolahraga, berlari, dan berjalan membungkuk.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
Suara ketukan dari pintu sukses membangunkan Ruby dari tidur. Dia segera duduk, lalu beranjak untuk membuka pintu. Nampaklah Gaby berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ruby, aku membawakan pakaian baru untukmu. Selain itu, kita harus bersiap untuk ke markas Shadow Holo yang ada di pulau pribadi Ryan," ujar Gaby. Dia menyerahkan sebuah tas karton berisi pakaian kepada Ruby.
"Apa?! Pulau pribadi? Maksudmu yang ada di Hawai itu?" tebak Ruby. Terlintas dalam kepalanya mengenai segala kenangan yang pernah terjadi di pulau tersebut. Ruby sangat ingat, kalau di sanalah tempat dirinya mengetahui identitas Megan dan Sarah sebagai istri Ryan. Dia sebenarnya merasa enggan pergi ke sana. Tetapi setidaknya, posisi Ruby berbeda sekarang. Kini ia adalah istri Ryan yang satu-satunya. Megan dan Sarah tidak akan ikut bergabung lagi.
Gaby menunggu Ruby berpakaian. Dia mengatakan bahwa Ryan diam-diam pergi sendirian untuk menemui bawahannya di gedung terbengkalai. Lokasi dimana Ryan dan anggota The Shadow Holo sering berkumpul dalam keadaan genting.
"Pantas saja Ryan tidak mencariku. Ternyata dia memang berniat pergi ke sana tanpa diriku," gumam Ruby sambil menghela nafas kasar. Dia tentu bisa memahami kenapa Ryan berbuat begitu.
"Aku dengar Max sudah mati. Begitu juga dua orang lainnya. Ryan sendiri yang mengeksekusi mereka..." Gaby memberitahu dengan nada yang memelan.
"Dua orang itu adalah Alfred dan Tom," ungkap Gaby.
Ruby mengangguk pertanda bahwa dirinya mengerti. Dia dan Gaby bersiap untuk pergi ke bandara. Menaiki pesawat jet pribadi milik Ryan. Akan tetapi, Ruby sama sekali tidak menyaksikan kemunculan Ryan di sana. Hanya ada Mike dan Henry yang baru saja memasuki pesawat.
Ruby langsung berdiri ketika melihat Henry. Dia ingin sekali memberikan pelukan. Namun gadis itu merasa ragu dan enggan. Hal serupa juga dirasakan oleh Henry. Keduanya saling peduli satu sama lain. Tetapi sama-sama mempunyai gengsi untuk mengungkapkan kepedulian yang dirasakan. Kemungkinan hal tersebut terjadi, karena mereka sudah lama tidak bertemu. Alhasil Henry dan Ruby hanya bisa melemparkan senyuman, kemudian duduk dikursi pesawatnya masing-masing.
"Ryan tidak ikut dengan kita?" tanya Ruby, kepada Gaby yang duduk di sebelah.
"Dia sudah pergi lebih dulu beberapa jam sebelumnya," jawab Gaby dengan senyuman kecut.
Ruby merogoh saku celana. Dia mencoba menghubungi Ryan selagi pesawat belum lepas landas. Nihil, sama sekali tidak ada jawaban dari lelaki itu. Ruby sebenarnya sudah berusaha menelepon semenjak berada di hotel. Tetapi hingga sekarang suaminya itu belum ada memberinya kabar apapun. Ryan hanya mengutus Gaby sebagai penyampai pesan, serta Mike dan Henry untuk menjaganya.
"Aku rasa, Ryan memang selalu begitu saat memiliki masalah. Dia sering merenung dan butuh waktu sendirian. Aku pikir kau sudah tahu itu," tutur Gaby memberitahu.
__ADS_1
"Benarkah? Tetapi saat bersamaku dia tidak pernah..." Ruby enggan melanjutkan kalimatnya. Dia memutuskan untuk memikirkannya saja. Menelusuri kenangannya bersama Ryan. Suaminya tersebut benar-benar selalu terlihat bahagia. Apa Ryan masih menutupi segalanya darinya? Benak Ruby sontak bertanya-tanya. Dia ingin lekas-lekas bertemu, dan menanyakan semuanya kepada Ryan.
Sesampainya di markas yang ada di pulau pribadi Ryan, atensi Ruby langsung tertuju ke arah Megan dan Sarah. Dua gadis itu lagi. Parahnya mereka sedang duduk berhadapan dengan Ryan di pavilion.
Ryan yang dapat melihat Ruby dari kejauhan, segera berdiri. Dia bergegas melangkahkan kaki untuk menghampiri. Meninggalkan Megan dan Sarah di pavilion.
"Ryan, kenapa mereka di sini juga?!" timpal Ruby dengan dahi yang mengerut kesal.
"Bisakah kau mengendalikan amarahmu?! Sebab sekarang aku berusaha mengendalikannya demi dirimu." Ryan agak kelepasan. Nampaknya masalah yang sedang menerpanya membuatnya menjadi frustasi dan emosional.
"Aku tidak suka dengan keberadaan mereka berdua! Hanya itu!" tegas Ruby.
Ryan mengusap wajahnya kasar. "Mereka hanya ingin membantu!" balasnya. Tak kalah tegas. Tangannya mengarah ke tempat Megan dan Sarah berada.
Sementara itu di pavilion, Megan tersenyum senang melihat adanya perdebatan di antara Ryan dan Ruby. Dia lantas bergumam, "Aku harap mereka berpisah saja."
Sarah terkekeh. "Jangan bermimpi, Megan. Ryan sangat mencintai Ruby. Kau sudah tidak punya harapan," ujarnya tak acuh. Megan pun merespon dengan tatapan sinisnya.
...______...
*Catatan Author :
Guys aku mau promosi dulu. Hehe... Kali aja ada yang tertarik sama karya baruku.
Buat yang tertarik silahkan cek di profilku ya!
Btw aku juga mau menegaskan. Meskipun punya novel baru, aku nggak bakalan ngelupain novel ini kok. Ya sudah itu aja ya. Salam cinta, Auraliv ♡
__ADS_1