Istri Muda Tuan Mafia

Istri Muda Tuan Mafia
Bab 56 - Mengetahui Keputusannya


__ADS_3

...༻❀༺...


Ryan mematung saat Megan mendadak memeluknya. Lelaki itu hanya menepuk pelan pundak Megan. Tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya.


"Kau tidak usah takut, Megan. Jika kau masih ingin berada di Shadow Holo, kau tetap mendapatkan fasilitas seperti biasa," ujar Ryan.


Megan segera menghentikan rengekannya. Berhenti memeluk, lalu menatap Ryan. "Benarkah? Maksudmu kau ingin aku tetap menjadi istri--"


"Tentu saja tidak! Maksudku, sebagai anggota." Ryan sengaja memotong ucapan Megan. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Semuanya terlihat jelas dari dahi Ryan yang menampakkan garis-garis tegas.


Megan medengus kasar, rasa kecewanya kembali menyelimuti. Saat itulah ponsel Ryan tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal membuat salah satu alisnya terangkat. Tetapi dia memutuskan menyahut panggilan tersebut.


"Halo?" Ryan menjawab.


"Ryan, ini aku Ruby."


Deg!


Jantung Ryan seketika berdegub kencang. Mengetahui Megan masih berada di samping, Ryan bergegas keluar dari mobil. Kemudian berbicara di tempat yang sepi.


"Kemana saja kau! Aku mencari-carimu kemana-mana. Kenapa kau lakukan ini kepadaku?!" timpal Ryan. Mencurahkan segala keluhan.


"Kenapa kau bilang?! Harusnya kau pikirkan baik-baik, apa alasan kuatku untuk kabur darimu! Ayolah, apa dirimu sebodoh itu?!" balas Ruby tak ingin kalah.


Ryan membisu untuk sesaat. Meskipun begitu, otaknya sudah memberi jawaban. Namun ketika hendak bicara, Ruby malah lebih dahulu bersuara.


"Ryan, aku tidak sengaja bertemu Jordan tadi. Dan aku mengetahui--"


"Apa?! Jangan bercanda, Ruby! Apa kau terluka? Kau baik-baik saja kan?" Ryan langsung menyambar berbicara lebih dulu, tanpa memberikan Ruby kesempatan untuk menyelesaikan penjelasan.


"Aku baik-baik saja. Bisakah kau biarkan aku selesai bicara?!" geram Ruby dengan nada penuh penekanan. Ryan lantas terdiam.


"Hahaha, apa kalian memang selalu bertengkar begitu?..." suara samar lelaki tertangkap di pendengaran Ryan. Dia sekarang tahu, Ruby sedang tidak sendirian.


"Hentikan!" ucap Ruby.


"Siapa itu? Jangan bilang dia adalah Ethan?" tanya Ryan dengan rahang yang mengerat kesal.


"Jangan pedulikan dia. Sekarang dengarkan aku baik-baik, Ryan. Ada salah satu anggotamu yang berkhianat. Dia memberitahukan Jordan mengenai hubunganku denganmu. Aku yakin pengkhianat itu memberitahukan apa saja kelemahanmu kepada Jordan," ungkap Ruby dari seberang telepon.

__ADS_1


"Benarkah? Jika begitu, harusnya kau kembali kepadaku, Ruby. Kau tahu, aku akan selalu membuatmu merasa aman." Ryan berucap dengan penuh harapan. Sebab dirinya tahu, satu-satunya kelemahan yang dia miliki adalah Ruby.


"Tidak aman! Jika Megan dan Sarah--"


"Aku sudah mengakhiri hubungan dengan mereka. Megan dan Sarah sudah bukan istriku lagi. Aku melakukannya karena aku lebih memilihmu. Kumohon kembalilah..." imbuh Ryan, meminta. Ucapannya langsung berhasil membuat Ruby terdiam seribu bahasa.


"Ja-jangan bercanda. Kau berbohong bukan?" sahut Ruby, tak percaya.


"Tanyakan saja kepada Mike. Aku tidak berbohong!" tegas Ryan. "Beritahu aku, kau ada dimana?" tanya-nya, tanpa sengaja merubah topik pembicaraan.


"Kau tidak perlu tahu." Ruby segera mematikan panggilan telepon. Menyebabkan Ryan panik, lalu mencoba untuk menghubungi lagi. Akan tetapi, nomor telepon Ruby sudah tidak diaktifkan.


Ryan berbalik ke arah mobil. Dia dapat melihat Megan sudah menunggu dengan tatapan penuh tanya. Tidak lama kemudian satu buah mobil ikut menepi ke dekat mobil Ryan yang terparkir. Ternyata yang datang adalah anggota The Shadow Holo.


"Jadi alasan kau berhenti di sini, hanya karena ingin menunggunya?" tanya Megan, memastikan. Ryan pun menjawab dengan anggukan kepala. Ternyata sedari awal, Megan sudah salah menyimpulkan.


Setelah berbicara panjang lebar dengan bawahannya, Ryan kembali masuk ke mobil. Hal serupa juga dilakukan Megan.


Ponsel Ryan berdering lagi. Dia lekas-lekas mengangkat, karena nomor yang menghubunginya tidak asing. Ryan yakin nomor itu adalah yang tadi dipakai Ruby untuk meneleponnya.


"Ruby!" panggil Ryan antusias. Megan yang sudah duduk di sebelahnya, sontak menoleh.


"Aku akan kembali besok." Ruby langsung berbicara langsung ke intinya.


"Benar. Tetapi, aku tidak sendiri. Tidak apa-apa kan?" ujar Ruby dengan nada suara yang melemah.


"Tidak! Tentu saja tidak. Jika kau percaya dengan orang itu, maka aku juga akan mempercayainya!" jawab Ryan. Sekarang senyumannya menampakkan gigi atasnya yang putih. Selanjutnya Ruby lantas mematikan panggilan telepon lebih dahulu.


Megan bisa menebak apa yang terjadi. Mimik wajahnya menjadi semakin kusut. Dia tentu bisa mengetahui, bahwa Ruby akan kembali kepada Ryan.


"Apa kau tidak pernah terpikir Ruby akan berkhianat kepadamu? Kenapa kau langsung menerimanya begitu saja? Sebesar itukah kau mencintainya?" Megan menimpali Ryan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Saat dia memikirkan Ruby, rasa cemburu dan sinis langsung muncul dalam dirinya.


"Ruby tidak akan berkhianat kepadaku. Aku yakin itu. Kau tidak perlu berbicara seolah mengenalnya, karena aku lebih mengenal Ruby dibandingkan dirimu!" pungkas Ryan sembari fokus mengendalikan setir mobil. Dia berbicara tanpa menengok ke arah Megan.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga akan kembali ke markas yang ada di Las Vegas." Megan memantapkan ucapannya.


Ryan menoleh selintas. "Aku kira kau akan menetap di markasku yang ada di kota ini," ungkapnya.


"Memang benar. Tapi, banyak barangku yang tertinggal di sana. Aku ingin membawanya ikut bersamaku." Megan memberikan alasan. Dia sepenuhnya tidak berbohong. Dirinya sama sekali tidak berniat menemui Ruby. Megan hanya mau cepar-cepat mengambil barang, dan langsung pergi dari markas yang ada di Las Vegas nanti.

__ADS_1



Sementara itu Ruby, sedang merebahkan dirinya di kasur kumal milik Henry. Dia beristirahat sejenak. Gadis tersebut tidak dapat tidur, karena terus memikirkan keputusan yang Ryan lakukan untuknya. Dari lubuk hatinya berharap, kali ini Ryan tidak akan lagi membohonginya.


Terlintas dalam benak Ruby mengenai kebohongan yang pernah Ryan lakukan. Yaitu mengenai alat pelacak yang diam-diam disematkan ke dalam tas.


'Ryan rela membayar banyak orang hanya demi membuatku kembali kepadanya. Sekarang dia memutuskan hubungan dengan Megan dan Sarah. Jika itu benar, aku tidak akan lagi meragukan cintanya,' batin Ruby. Bibirnya secara alami melengkung untuk membentuk sebuah senyuman.


"Aku tidak menyangka, secepat itu kau memaafkan Ryan." Suara Ethan sukses membuat lamunan Ruby buyar. Gadis itu langsung berbalik dan duduk. Menatap Ethan yang tampak menyandar di pintu.


"Kau tidak perlu ikut campur," sahut Ruby.


"Aku akan--"


"Kau lebih baik ikut aku dan Henry pergi ke markas Ryan. Bukankah berbahaya, jika Jordan berhasil menemukanmu dalam keadaan seorang diri?" Ruby berbicara dengan eskpresi serius disemburat parasnya.


Ethan bingung harus berkata apa. Sebab dirinya membenarkan apa yang baru saja dikatakan Ruby. Apalagi sekarang Ethan sama sekali tidak memiliki rekan yang dapat dipercaya. Di sisi lain, Ethan tidak mau lagi bertemu Ryan. Dirinya tahu, Ryan akan marah besar kepadanya.


"Kau tidak perlu takut dengan Ryan. Aku akan berbicara kepadanya. Setidaknya Ryan lebih baik dibanding Jordan, bukankah begitu?" Ruby mengedipkan kelopak mata beberapa kali.


"Aku akan memutuskan besok pagi." Ethan beranjak meninggalkan Ruby. Pembicaraan seketika berakhir.


Keesokan harinya, Ruby dan Henry segera bersiap untuk pergi. Jarak markas Ryan yang ada di Las Vegas tidak begitu jauh dari rumah tuanya. Hanya memerlukan waktu sekitar dua jam lebih.


"Apa Ethan tidak ikut?" tanya Henry. Dia dan Ruby telah masuk ke dalam mobil.


Ruby menggeleng pelan. Dia menoleh ke arah rumah sejenak, berharap Ethan segera muncul. Namun lelaki tersebut tidak kunjung keluar. Henry lantas menjalankan mobilnya.


Ketika sudah keluar dari halaman rumah, barulah Ethan mengejar. "Wait!" pekiknya. Mengharuskan Henry reflek menginjak rem. Tidak butuh waktu lama, Ethan pun masuk ke dalam mobil.


"Aku memutuskan percaya kepadamu, Ruby." Ethan memberi alasan, meski tidak ada yang bertanya. Ruby dan Henry hanya saling tersenyum. Keduanya merasa lega, sebab Ethan memilih untuk ikut.


Dua jam lebih berlalu, Henry menghentikan mobil di parkiran. Pupil mata Ruby membesar ketika menyaksikan Ryan sedang berdiri di pintu masuk.


"Apa dia lelaki yang bernama Ryan?" Henry menunjukkan tangannya ke arah Ryan.


"Benar, itu dia!" jawab Ruby. Dia, Henry dan Ethan bergegas keluar dari mobil.


Tali sepatu yang terlepas, mengalihkan Ruby sejenak. Dari pada terjatuh dan menanggung malu di depan lelaki yang dicintai, lebih baik mengencangkan tali sepatunya terlebih dahulu. Saat itulah Megan keluar dan berdiri di hadapan Ryan. Henry dan Ethan dapat melihatnya dari kejauhan. Hanya Ruby yang belum tahu.

__ADS_1


Mata Henry dan Ethan membulat secara bersamaan. Bagaimana tidak? Ryan terlihat asyik berciuman dengan Megan. Henry dan Ethan otomatis saling bertukar pandang. Keduanya tentu tidak mau melihat Ruby marah. Apalagi mereka sudah terlanjur datang ke markas Ryan.


"Shi*t!" umpat Ethan. Dia semakin panik saat Ruby hampir menoleh ke arah Ryan. Ethan lekas-lekas menghentikan pergerakan Ruby. Dia berusaha keras mencuri perhatian Ruby. Sedangkan Henry, memutuskan melangkahkan kakinya menghampiri Ryan. Kedua tangannya mengepalkan tinju. Henry berniat memberikan Ryan pelajaran demi Ruby.


__ADS_2