
...༻❀༺...
"Tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Ryan kan?" tanya Ruby cemas.
"Ini bukan tentang Ryan. Tetapi mengenai Henry," sahut Gaby. Lalu perlahan menatap ke arah Neil. Pertanda kalau dirinya menyuruh Neil untuk mengambil alih pembicaraan.
"Henry sudah... meninggal," jelas Neil sembari memperbaiki kacamatanya yang sedikit bergeser ke bawah.
Meskipun kabarnya bukan tentang Ryan, Ruby tetap terkejut. Ia langsung berdiri dalam keadaan mata yang membulat.
"Apa?! Jangan bercanda! Bagaimana bisa dia..." Ruby kehilangan kata-kata. Dia tidak mengerti dengan apa yang telah menimpa Henry. Padahal terakhir kali bertemu, Henry terlihat baik-baik saja. Kecuali wajah pucat yang tak pernah pudar diparasnya.
"Semuanya sebenarnya karena kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu. Dia mengalami beberapa kerusakan organ dalam. Penyakitnya kumat kembali dalam beberapa bulan belakangan. Henry jatuh sakit setelah melakukan pergerakan yang terlalu banyak," terang Neil panjang lebar.
Ruby menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia mulai terisak. Membuat Gaby mendekat dan mencoba menenangkan.
"Ini semua gara-gara aku... Akulah yang membuatnya bertarung. Harusnya aku tidak membiarkannya..." ujar Ruby yang sudah meneteskan beberapa cairan bening dari matanya.
"Tidak Ruby, ini bukan salahmu. Henry memang sengaja menutupi penyakit yang dideritanya. Apalagi darimu." Neil memberikan keterangan lebih lanjut." Henry tahu waktunya tidak akan banyak, jadi dia nekat untuk membantumu," tambahnya seraya ikut memasang ekspresi sedih.
"A-apa dia sudah dikuburkan? Katakan kepadaku, kalau dia mendapatkan pemakaman yang layak?" tanya Ruby di sela-sela tangisnya.
"Iya, dia sudah dimakamkan. Kedatanganku ke sini sebenarnya hanya ingin memberikan warisan yang diberikan oleh Henry untukmu." Neil merogoh saku celana. Dia mengeluarkan sebuah kunci, dan memberikannya kepada Ruby.
"Kunci apa ini?" Ruby bertanya sambil menghapus air matanya.
"Henry bilang kunci bunker. Dia mengatakan kalau hanya Ruby yang tahu letak bunker rahasianya," jawab Neil.
"Apa? Dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan bunker kepadaku." Ruby menggelengkan kepala berkali-kali. Dia membantah tegas.
"Henry bilang, jawabannya ada dalam dongeng yang selalu diceritakannya kepadamu. Makanya hanya kaulah yang mengetahuinya," ungkap Neil.
Ruby membisu cukup lama. Dia mengingat dongeng yang pernah diceritakan Henry kepadanya. Jujur saja, Henry hanya pernah menceritakan dongeng tentang kelompok hewan yang menyelamatkan diri sebelum dunia berakhir. Akan tetapi bagi Ruby, itu tidak penting sekarang. Yang terpenting, Ruby harus melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kalau Henry memang telah tiada.
Neil membawa Ruby ke tempat Henry dimakamkan. Henry dikubur di area pemakaman yang ada di kota Arizona. Ruby harus melalui perjalanan jauh bersama Neil dan Gaby.
__ADS_1
Ruby memang tidak terlalu akrab dengan Henry. Terutama dalam beberapa tahun belakangan. Tepat setelah Ruby pergi dari panti asuhan. Ruby bahkan sempat membenci Henry. Namun pada kenyataannya, Henry-lah orang yang pertama kalinya memperlakukan Ruby seperti seorang keluarga. Mengingat hal itu, Ruby tidak mampu menahan tangisnya.
"Kenapa dia menutupi semuanya dariku... Seharusnya aku tidak membiarkannya ikut dalam misi kemarin..." gumam Ruby yang merasa bersalah. Suara tangisnya menyebabkan beberapa orang di pesawat menoleh ke arahnya.
"Sudahlah, Ruby... Mungkin alasan Henry melakukannya, karena dia tidak mau membuatmu khawatir." Gaby mengelus pelan pundak Ruby.
"Sekarang aku tahu, kenapa dia menjadi orang yang satu-satunya tidak muncul... Henry juga tidak pernah menjawab pesan dan teleponku," imbuh Ruby. Meneruskan isak tangisnya. Kini dia sadar alasan utama Henry tidak bisa mendatanginya. Terutama setelah kabar mengenai kehamilannya tersebar. Henry menjadi satu-satunya orang terdekat Ruby, yang tidak pernah hadir. Padahal Ruby sudah menganggapnya seperti ayah kandung.
"I'm so sorry, Ruby..." Gaby membawa Ruby masuk ke dalam pelukannya. "Kau harus tenang, oke? Setidaknya lakukanlah demi janin yang ada di perutmu. Aku yakin dia pasti ikut sedih, jika ibunya sedang merasa sedih," tambahnya.
Ruby tidak menjawab dengan kalimat apapun. Dia hanya mengangguk dan menutup wajahnya yang sudah sembab.
Beberapa saat kemudian, pesawat tiba di kota tujuan. Neil mengantarkan Ruby dan Gaby ke pemakaman. Dia juga tidak lupa memberitahukan lokasi kuburan Henry.
Sekarang Ruby dan Gaby tiba di depan makam Henry. Mereka membawa buket bunga di tangan masing-masing.
"Maafkan aku... Harusnya aku mengatakan bahwa aku menyayangimu. Aku bahkan terlalu malu untuk memelukmu..." tutur Ruby penuh sesal. Ia menatap kosong gundukan tanah yang sudah mengubur badan Henry.
Tanpa Henry, Ruby mungkin tidak akan menjadi gadis yang kuat. Jujur saja, sebelum Henry datang ke kehidupannya, Ruby hanyalah orang lemah yang sering dibully. Andai Henry tidak datang ke dalam hidupnya, Ruby mungkin tidak akan pernah bertemu Ryan. Tawa, benci, canda dan duka, dapat dirasakan Ruby karena Henry. Kemunculan Henry bagaikan secercah cahaya dalam gelapnya hidup Ruby.
Penyesalan, itulah yang kini dirasakan Ruby. Kenapa dia tidak memeluk Henry saat berpisah? Kenapa dirinya tidak mampu mengucapkan tiga kata 'aku menyayangimu' ?
"Ruby, ayo kita berteduh. Jika begini, nanti kau bisa jatuh sakit," mohon Gaby yang merasa gelisah.
"Pergilah, Gabe! Aku masih belum selesai!" hardik Ruby sembari mengernyitkan kening. Dia malah berjongkok dan meneruskan tangisannya. Ruby menenggelamkan wajahnya dalam kedua tangan yang terlipat di atas lutut.
Gaby memutuskan untuk tetap diam di samping Ruby. Sedangkan Neil sudah lebih dahulu pergi berteduh di bangunan terdekat.
Ruby menghabiskan waktu yang panjang berdiri di sisi makam Henry. Dia pergi setelah merasa puas berkabung.
"Neil! Kenapa kau tidak memberitahu kabar Henry sebelum pemakaman dilakukan?" timpal Ruby, setelah masuk ke dalam mobil. Dia membilas rambutnya dengan handuk yang diberikan Gaby.
"Itu atas dasar permintaan Henry," sahut Neil singkat. Membuat Ruby harus mendengus kasar.
"Apa kita akan langsung pulang?" tanya Gaby.
__ADS_1
"Iya, aku tidak mau berlama-lama berada di kota ini!" jawab Ruby sambil menatap keluar jendela.
"Harusnya kau beristirahat dahulu. Nanti kau kelelahan." Gaby memberikan saran. Akan tetapi Ruby lekas menggelengkan kepala. Dia bersikukuh ingin cepat-cepat kembali ke markas.
Ruby dan Gaby mengganti pakaiannya yang basah terlebih dahulu, kemudian berpisah dengan Neil di bandara. Ruby lantas kembali menaiki pesawat bersama Gaby.
Ketika di dalam pesawat, Ruby hanya sibuk melamun. Ia juga tidak mau memakan makanan yang ditawarkan Gaby. Raut wajah Ruby terlihat sembab dan pucat. Menyebabkan Gaby sontak semakin cemas.
"Ruby, kumohon makanlah sesuatu." Gaby mendesak sambil mengguncang pelan badan Ruby. Namun usahanya tetap tidak dihiraukan. Hingga tanpa terasa, pesawat sudah mendarat di kota Chicago.
Sesampainya di markas, Ruby langsung merebahkan dirinya ke kasur. Dia mengingat semua kenangan indahnya saat bersama Henry. Walau tidak banyak, tetapi semuanya terasa begitu berharga.
Akibat berhujan dan tidak makan, Ruby akhirnya jatuh sakit. Selama dua hari dia hanya mau minum air dan makan beberapa gigit roti. Gaby yang tidak tahu harus berbuat apa, langsung memberitahukan kabar tentang Ruby kepada Ryan.
Bruk!
Ethan membanting pintu kamar Ruby. Raut wajahnya tampak masam. Langkahnya dilajukan untuk menghampiri Ruby.
"Aku dengar kau tidak mau makan? Apa kau gila? Katanya kau sayang dengan anak yang ada dalam perutmu!" pungkas Ethan. Dia akhirnya menampakkan diri setelah beberapa hari menghilang. Tidak ada yang tahu mengenai kesibukan Ethan. Entah tentang apa itu. Tidak ada yang bertanya, karena tak ada satu pun anggota The Shadow Holo yang penasaran.
Ruby menatap malas Ethan sejenak. "Aku pikir kau ikut melakukan misi bersama Ryan?" tanya-nya, tanpa sengaja mengubah topik pembicaraan. Ethan terlihat membawa kantong kertas berisi makanan.
"Kau pikir Ryan mau mengajakku ke misi pentingnya? Dia tidak akan mengajakku jika itu berhubungan dengan kerjasama dan bisnis!" ungkap Ethan seraya menarik kursi yang ada di depan meja rias, lalu segera mendudukinya.
"Oh..." tanggap Ruby.
"Ruby, aku membawakan makanan untukmu. Ini adalah sandwich kesukaanmu," ujar Ethan. Dia tidak tahu bagaimana cara merayu Ruby untuk makan.
Tak!
Tak!
Keributan kembali terdengar dari arah pintu. Suara derap langkah yang berhenti, membuat atensi Ruby dan Ethan otomatis tertuju ke pintu. Betapa terkejutnya mereka, saat menyaksikan Ryan datang dalam keadaan bersimbah darah.
Ryan baru saja memaksakan dirinya berlari. Padahal bagian perutnya sedang terluka cukup parah.
__ADS_1
"Ryan!" Ruby yang tadinya dalam posisi tengkurap, bergegas bangkit dari kasur.
"Apa-apaan kau!" seru Ethan tak percaya.