
...༻❀༺...
Semua orang yang ada di mobil saling membisu. Ruby asyik bergumul dengan puluhan pertanyaan dalam kepala. Sedangkan Ethan mengistirahatkan dirinya dengan merebahkan diri dikursi belakang. Wajahnya yang baru sembuh dari luka, sekarang harus kembali babak belur.
Henry yang fokus menyetir, hanya berusaha mengarahkan mobil ke lokasi aman. Yaitu sebuah tempat yang pastinya jauh dari jangkauan kelompok mafia mana pun. Rumah tua yang berada di komplek perumahan sederhana. Letaknya sendiri berada di kota Utah. Keberadaan Ruby pastinya sudah lumayan jauh dari kota Las Vegas.
"Seharusnya kita tidak pernah bertemu lagi," ungkap Henry. Tiba-tiba berbicara.
"Kau bicara denganku?" Ruby mengarahkan jari telunjuk ke dadanya sendiri. Dia meragu, kalau Henry berbicara kepadanya. Sebab perkataan lelaki itu memanglah ambigu.
"Kau pikir dengan lelaki yang di belakang itu? Mengenalnya pun tidak." Henry menjawab sembari menghentikan mobil dengan pelan. Dia mengajak Ruby dan Ethan untuk memasuki rumah.
"Aku butuh penjelasan, Henry. Kau harus tahu itu." Ruby memasang mimik wajah serius. Menegaskan bahwa dirinya tidak main-main.
"Aku tahu. Tetapi kita butuh istirahat dan tempat yang aman lebih dahulu. Memangnya kau mau Jordan dan anak buahnya menemukan kita saat asyik mengobrol?" timpal Henry tanpa menoleh ke arah Ruby. Dia sibuk membuka pintu dengan kunci yang kebetulan dibawanya.
Ruby hanya mendengus kasar. Dia menatap Ethan yang sudah berdiri di sebelahnya. Lelaki itu membalas dengan tatapan malas.
"Apa kau mengikutiku sejak awal?" tanya Ruby ketus.
"Tidak juga. Aku sempat kehilanganmu beberapa saat. Tetapi aku berhasil menemukanmu di waktu yang tepat. Anggap saja sebagai permintaan maafku terhadap kejadian yang ada di kapal pesiar." Ethan menjelaskan panjang lebar.
Ruby menghela nafas panjang dan berkata, "Kumohon, jangan membahas perihal apa yang terjadi di kapal pesiar." Salah satu tangannya terangkat ke udara. Kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Henry menyiapkan makanan untuk Ruby dan Ethan. Berupa makanan instan yang menggunakan kemasan kaleng. Tentu saja, seorang lelaki sepertinya sangat asing dengan yang namanya memasak.
__ADS_1
"Bisakah kau membantuku, Ruby? Mungkin kau bisa memasakan sesuatu untukku dan dia." Henry menunjukkan tangannya ke arah Ethan yang tengah rebahan di sofa lusuh.
Ruby berjalan mendekat. Dia mendadak mengusap tengkuk tanpa alasan. Senyuman yang ditampakkannya bahkan terlihat kecut. Gadis tersebut berucap, "Aku tidak bisa memasak."
Dahi Henry berkerut. Tatapannya penuh selidik. "Benarkah? Bukankah kau katanya sudah bersuami?" tukasnya tak percaya.
"Dia seorang mafia. Lagi pula saat kami hidup berdua, di-dialah yang memasak untukku..." Ruby berbicara dengan enggan. Semburat diparasnya tiba-tiba memerah malu.
"Apa?! Ryan memasak? Apa aku tidak salah dengar?!" Ethan segera merubah posisi menjadi duduk. Ucapannya yang lumayan nyaring sukses membuat Ruby dan Henry menoleh.
"Pantas saja kau tergila-gila kepadanya. Ternyata dia begitu memanjakanmu," komentar Ethan yang kemudian terkekeh. Menyebabkan Ruby sontak melayangkan tatapan sinisnya. Sedangkan Henry memilih menyibukkan diri dengan rebusan air dan makanan kalengnya.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, hidangan pun jadi. Henry langsung menyajikannya di meja makan. Meja berbentuk persegi, yang mana hanya terdapat empat kursi di sekitarannya. Ethan segera ikut bergabung. Dia duduk di samping kiri Henry.
Ruby orang yang terakhir duduk. Dia menghempaskan pantatnya ke kursi dengan terpaksa. Sebab Ethan belum berhenti membual.
"Bisakah kau diam..." Ruby menyuruh dengan nada pelan. Kedua alisnya terangkat, akibat berupaya menahan amarah.
"Ayo, lebih baik isi perut kalian terlebih dahulu." Henry menyarankan Ruby dan Ethan untuk makan. Sementara dia memilih mengamati dua tamunya tersebut. Henry mulai mempersiapkan diri untuk bicara. Dia mencoba menyusun rentetan kejadian serta kalimat yang tepat.
"Semuanya berawal dari cinta. Atau begitulah yang aku dengar dari cerita orang-orang," celetuk Henry. Membuat Ruby otomatis berhenti menikmati makanan. Dia memfokuskan perhatiannya kepada Henry.
Henry lanjut bercerita. Dia mengatakan kalau Lucy dan Jordan adalah pasangan penjahat yang hebat. Jika mereka bekerja sama, maka tidak akan ada yang bisa mengalahkan. Tetapi Jordan hanya memanfaatkan Lucy. Dia menginginkan seorang anak dari rahim perempuan itu.
"Kenapa?" Ruby semakin penasaran.
__ADS_1
"Aku pernah mendengarnya. Katanya Jordan membuat prajuritnya dengan cara melatih semua anak-anaknya. Dia lebih gila dibandingkan Ryan. Tidak pernah menikahi wanita mana pun, dan fokus menggauli mereka sampai hamil. Psikopat!" Ethan masuk ke dalam pembicaraan. Dia memberitahukan apa yang dia tahu.
"Itu benar-benar gila!" ungkap Ruby, merasa bergidik ngeri. Dia berpikir untuk sesaat. Sekarang dirinya tahu, alasan dibalik kenapa sang ibu mencoba menyelamatkannya dari Jordan. "Berarti Lucy selama ini memang berniat menyelamatkanku..." lirihnya. Mendadak merasa bersalah.
"Benar, sama halnya dengan Ryan." Henry melahap semua makanannya dalam sekejap. Setelah minum, dia mengambil cerutu yang tersimpan di dalam laci.
"Berarti di sini kaulah yang jahat. Kaulah orang yang membawaku masuk ke dunia kejahatan!" pungkas Ruby sembari memukulkan kedua tangan ke atas meja. Menyebakan Ethan yang duduk di dekatnya tersentak kaget.
Henry kembali duduk di hadapan Ruby. Dimulutnya sudah menempel cerutu yang telah dinyalakan. Lelaki itu menghisapnya, lalu mengeluarkan kepulan asap melalui bibirnya.
Ruby terpaksa ikut duduk. Dia mengibaskan tangan ke depan hidung. Mencoba menjauhkan asap yang terus bersemayam di jalur pernafasannya.
"Benar, aku memang jahat. Tapi, saat itu aku benar-benar tidak tahu keinginan Jordan yang sebenarnya. Hingga di suatu hari, aku menyaksikan puluhan anak dilatih sangat keras oleh Jordan dan orang-orangnya. Jika ada yang meninggal, maka Jordan akan menganggapnya kegagalan. Membuang dan bahkan menjual mereka melalui laman dark web." Henry bercerita dengan wajah masamnya. Dia merasa miris terhadap apa yang telah terjadi pada anak-anak malang tersebut. Andai memori buruknya dapat dihapus, Henry akan melakukannya sedari dulu.
Ruby sudah mengangakan mulut karena hendak bicara. Namun Henry berbicara lebih dahulu. Melanjutkan ceritanya yang belum selesai.
"Awalnya aku memang berniat melatihmu, kemudian membawamu ke hadapan Jordan saat kau berusia lima belas tahun. Tetapi..." Henry menjeda ucapannya. Dia memancarkan binar nanar melalui sorot matanya. Irisnya yang berwarna ke-abu-abuan menatap dalam manik hazel milik Ruby. Jelas Henry merasa mempunyai ikatan erat terhadap gadis itu. Jujur saja, semenjak sering menghabiskan waktu dengan Ruby, tanpa sengaja Henry merasa ada ikatan batin. Henry benar-benar menganggap Ruby seperti putrinya sendiri. Apalagi baginya, Ruby adalah anak yang ceria dan cepat belajar. Padahal sebelum bertemu Ruby, Henry tidak pernah suka dengan yang namanya anak-anak.
Henry lekas-lekas mengalihkan pandangannya dari Ruby. Lalu kembali menghisap cerutunya.
"Tetapi apa? Kecelakaan harus menimpamu?" tanya Ruby, menerka.
"Benar, aku tidak tahu alasan Jordan menyuruh anak buahnya mengejarku. Kala itu, aku tidak sengaja menghantam sebuah mobil sedan. Kecelakaan yang terjadi, membuatku koma selama satu tahun lebih. Selama perawatan, orang kepercayaanku menjagaku dengan baik. Terutama dari Jordan dan komplotannya." Jordan menjelaskan panjang lebar. Ada sesuatu yang disembunyikannya dalam hati. Yaitu kasih sayangnya untuk Ruby. Seorang lelaki memang cenderung sulit menunjukkan kepeduliannya. Terutama mengungkapkannya secara langsung lewat mulut.
Hal yang tidak diketahui Ruby adalah, Henry berkhianat dari Jordan. Dia melakukannya karena lebih memilih menyelamatkan Ruby. Namun sebelum dirinya sempat membawa Ruby kabur bersamanya, sebuah insiden kecelakaan harus menimpanya. Untung saja, ketika utusan Jordan melakukan pencarian ke panti asuhan, Ruby sudah terlanjur pergi.
__ADS_1
Catatan Author :
Penjelasan Henry akan berlanjut di bab seanjutnya ya guys...