
...༻❀༺...
Keheningan di dalam mobil kembali terjadi. Ryan baru tersadar, kalau sejak awal dia tidak ada menghubungi Mike atau Ethan untuk menjemputnya.
"Mike, dari mana kau tahu aku sedang menunggu jemputan? Aku padahal tadi hanya menelepon Zac." Ryan berujar sambil sedikit memiringkan kepala.
"Kami kebetulan melihat kalian di pinggir jalan. Aku dan Mike langsung berhenti karena ingin tahu keadaan kalian." Sekali lagi Ethan menjawab lebih dahulu dibanding Mike. Jujur, sedari tadi mata Mike berkedut akibat sambaran dari mulut Ethan yang selalu ingin berkoar.
"Kalian memangnya dari mana?!" timpal Ryan sembari melipat tangan di depan dada.
"Mike sebenarnya--"
"Kami awalnya mau membeli bahan makanan, tapi insiden kecelakaan kecil harus terjadi tadi. Syukur saja, aku bisa mengurus semua masalahnya dengan baik!" Mike akhirnya angkat bicara. Dia sengaja memotong ucapan dari Ethan. Perlahan dia melirik selintas ke arah Ethan. "Tidak seperti lelaki yang duduk di sebelahku ini, dia sengaja meninggalkanku sendirian untuk berhadapan dengan polisi," lanjutnya, melengkapi penjelasan.
"Apa? Aku?! Kenapa kau menyalahkanku? Jelas-jelas kau yang bersikeras tidak mau menurunkanku dari mobil?!" balas Ethan dengan tatapan tajamnya.
"Kau saja yang tidak sabaran! Jadi--"
"Bisakah kalian diam?!" bentak Ruby. Dia tidak tahan lagi mendengar perdebatan yang terjadi. Mike dan Ethan sontak terdiam. Semua orang otomatis kembali menyepi.
Ryan baru saja menghubungi semua bawahannya untuk ikut ke Chicago. Demi keamanan, dirinya mengajak semua orang menaiki pesawat pribadinya.
Ketika menggunakan pesawat pribadi, privasi adalah hal paling utama bagi pihak maskapai. Jadi siapapun pemiliknya, mereka akan menjaga rahasia sebaik mungkin. Bahkan penjahat buron sekali pun. Yang terpenting orang tersebut mampu membayar semua biaya. Jadi Ryan tidak perlu khawatir, polisi akan mencegatnya di bandara. Sebab dia menggunakan jalur khusus yang memisah jauh dari jalur umum.
Ruby merebahkan dirinya ke kasur yang tersedia di pesawat pribadi. Pikiran beserta badannya terasa begitu lelah. Rasanya Ruby ingin melampiaskan segalanya dengan meninju samsak sebanyak mungkin. Entah kenapa hal itu mendadak terlintas dalam benaknya.
Sesampainya di kota Chicago, Ruby dan yang lain langsung pergi ke markas baru The Shadow Holo. Gaby yang kebetulan ada di sana, sangat senang menyaksikan kedatangan semua orang. Terutama Ruby.
Gaby memeluk erat Ruby, lalu mengajaknya untuk beristirahat. Gaby mengantarkan Ruby ke sebuah kamar mewah dengan suguhan pemandangan kota Chicago di balik jendela. Ryan kali ini memberikan Ruby kamar yang lebih bagus dari sebelumnya.
__ADS_1
Ryan sengaja memperlambat langkah kakinya. Hingga ketika Ethan lewat di hadapannya, dia dengan sigap mencegat. Jalan Ethan terhenti sebelum dirinya sempat memasuki pintu menuju markas.
"Aku rasa, ada banyak urusan yang harus kita selesaikan!" seru Ryan. Mendekatkan wajahnya lebih dekat kepada Ethan. Tatapannya begitu mengancam, namun sama sekali tidak berhasil membuat Ethan takut.
"Ya, kau benar. Aku banyak melewatkan banyak hal saat kepergianku. Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tiba-tiba menerima kehamilan Ruby? Apa kau hanya berpura-pura?" Ethan menjawab dengan santai.
Ryan memutar bola mata jengah. Ia mencengkeram erat kerah baju Ethan. "Apa pedulimu?! Apa yang terjadi kepadaku dan Ruby adalah masalah pribadi. Orang sepertimu tidak perlu ikut campur!" tegasnya seraya melepas kasar cengkeraman. Ulahnya menyebabkan Ethan sedikit terhuyung ke belakang.
"Jadi, kau tidak akan membiarkanku tinggal di sini? Apa kau takut aku akan merebut Ruby darimu?" tukas Ethan. Kedua tangannya tampak dimasukkan ke dalam saku celana.
Ryan tersenyum remeh. "Untuk apa aku takut dengan keparat sepertimu!" balasnya tak acuh.
"Benarkah? Aku meragukannya. Sebab akhir-akhir ini Ruby mulai luluh kepadaku," ucap Ethan sembari menarik kerah jaketnya untuk memberikan penegasan.
Ryan berdecak kesal. "Pergilah sejauh mungkin Ethan! Aku sudah terlalu banyak berbelas kasih kepadamu!" usirnya dengan nada penuh penekanan.
"Kau mengusir Ethan?" Ruby tiba-tiba muncul dari balik pintu. Dahinya mengerut dalam. Tatapannya tentu tertuju ke arah Ryan.
"Ethan tidak akan pergi kemana-mana! Aku ingin dia tinggal di sini!" tegas Ruby. Perlahan mengarahkan bola matanya untuk menatap Ethan. "Masuklah Ethan! Kau juga harus istirahat!" ajak Ruby sambil membalikkan badan ke arah pintu. Berniat meninggalkan Ryan sendirian.
"Ruby, dengarkan aku!" Ryan memegangi pergelangan tangan Ruby. Mengharuskan Ruby menoleh kembali.
"Ethan sudah banyak menolong kita, Ryan. Jika kau mengusirnya hanya atas dasar rasa cemburu, kau benar-benar egois! Lebih baik kau urus saja cara untuk membebaskan Frans dari penjara!" ujar Ruby. Lalu melepaskan paksa tangan Ryan darinya. Dia beranjak memasuki markas bersamaan dengan Ethan.
"AAARGHHH!" Ryan membanting topinya ke tanah. Dia merasa sangat kesal. Usahanya untuk mengusir Ethan tidak berjalan lancar. Baginya Ethan hanyalah benalu yang pantas untuk disingkirkan.
Ruby berjalan memimpin di depan. Menuntun Ethan menuju kamar yang nyaman. Jujur saja, sedari tadi Ruby hanya membisu dan tidak mengucapkan satu patah kata pun.
"Aku dengar Ryan sudah menerima kehamilanmu, tapi kenapa kalian masih saja bertengkar?" tanya Ethan yang sudah memposisikan diri berjalan di samping Ruby.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin membahas tentang apapun, Ethan." Ruby menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu kamar. "Beristirahatlah! Jika Ryan melakukan sesuatu kepadamu, hubungi saja aku," tuturnya dengan raut wajah datar.
"Apa-apaan! Kau bersikap seolah memiliki kekuatan yang lebih dari diriku," imbuh Ethan. Tergelak kecil dalam sesaat.
"Untuk sekarang memang benar. Hanya aku yang bisa menolongmu!" Ruby tersenyum singkat. Memasang pose berkacak pinggangnya, kemudian segera pergi dari hadapan Ethan.
Ruby kembali ke kamar, dan langsung telentang ke kasur. Rasanya begitu hampa, saat menyadari kalau dirinya tidur sendirian. Ruby tidak bisa menbantah bahwa dia merindukan keberadaan Ryan di sisinya. Namun bagi Ruby, Ryan pantas dihukum terhadap kesalahannya. Dia hendak melihat seberapa keras perjuangan Ryan untuknya.
Tanpa terasa, Ruby terlelap saat terlalu berkalut memikirkan Ryan. Dia tidur sangat nyenyak. Detik berganti menit. Hingga akhirnya Ruby dapat beristirahat dengan baik.
Keesokan harinya, tepat jam empat pagi. Ruby telah berada di ruangan olahraga. Dia sibuk meninju samsak dengan sekuat tenaga. Ruby melakukannya sangat lama. Tenaganya seolah tidak pernah habis.
Ruby kebetulan mengikat rambut dengan gaya ekor kuda. Anak rambut yang ada di sekitaran pelipis, sudah dibasahi oleh keringatnya.
Orang yang pertama memergoki kesibukan Ruby adalah Gaby. Gadis itu langsung mendatangi Ruby dengan perasaan cemas.
"Ruby, kenapa kau berlatih meninju! Apakah tidak apa-apa jika dilakukan dalam keadaan hamil begitu?" tanya Gaby seraya mencoba menghentikan aktifitas berat Ruby.
"Aku justru sedang sangat bersemangat, Gabe. Aku tidak tahu kenapa, tapi ini membuatku lega dan sedikit bahagia... hah... hah..." sahut Ruby. Di sela-sela pengaturan nafasnya. Gaby lantas mengangguk saja. Dia duduk di kursi sambil menontoni Ruby berlatih.
Sementara Ryan, sedang berada di ruang pribadinya. Ia tidak tidur semalaman. Dirinya duduk menghadap meja kerjanya. Memikirkan sesuatu sembari memainkan sebuah benda antik kecil ditangannya.
Setelah berpikir keras, Ryan akhirnya menemukan ide untuk membebaskan Frans dari penjara. Yaitu dengan cara melakukan penyamaran besar-besaran.
Tanpa pikir panjang, Ryan langsung memanggil semua bawahannya. Dia ingin mencari salah satu anggota The Shadow Holo yang ahli berbicara. Sayangnya, semua bawahan Ryan hanya memiliki kekuatan untuk bertarung, meng-hacking, dan menyelinap. Sebenarnya itu semua memang adalah pilihan Ryan sendiri. Dia tidak suka bekerjasama dengan orang yang banyak bicara.
Ryan mendengus kasar. Dia memijat-mijat area kepala dengan pelan. Ryan mencoba mencari cara lain, namun otaknya terasa buntu. Pikiran untuk membiarkan Frans di penjara, sempat terpikir dalam benaknya.
__ADS_1
Mike yang dapat melihat kegelisahan Ryan berjalan mendekat. Karena dia mengetahui orang yang pandai berbicara. Meskipun sosok tersebut begitu dibenci oleh Ryan. Tetapi apa salahnya mencoba? Lagi pula Mike tidak terpikirkan orang lain lagi.
"Bos, bagaimana dengan Ethan? Aku pikir dia adalah orang yang tepat, jika kau memang menginginkan orang yang pandai bicara." Mike memberanikan diri untuk bersuara. Ucapannya sukses membuat Ryan berhenti memijit-mijit kepala.